Thursday, August 17, 2017

[Cerbung] Infinity #16










* * *


Enam Belas


Jumat pagi, Olivia berdandan cantik lagi. Ia mengenakan salah satu gaun batik yang dibelikan Arlena beberapa waktu lalu. Dipilihnya yang bermotif parang berwarna putih-coklat. Terlihat klasik dan elegan. Sesuai betul dengan gayanya. Dilengkapinya penampilan itu dengan seuntai kalung etnik terbuat dari batok kelapa. Sengaja ia memilih wedges dari bahan karung goni dengan aksen tali rami yang terlihat sederhana tapi sangat cantik. Satu setel dengan hobo bag yang terbuat dari bahan sama dengan sepatunya. Rambutnya dikepang rapi, dan wajahnya terias lengkap dalam nuansa natural. Pagi ini ia mengganti giwang yang biasa dipakainya dengan giwang panjang berbentuk bunga rumput yang dibelikan Prima. Tak lupa ia menyelipkan sebuah bungkusan ke dalam tas laptop.

“Tuh, Pa, cakep banget, kan, pilihan Papa,” Arlena mencolek lengan Prima begitu Olivia muncul di ruang makan.

Laki-laki itu mengikuti arah tatapan istrinya. Segera saja senyum lebarnya terkembang di bibir. Olivia mendekatinya untuk menyodorkan kening. Ia pun mendapatkan keinginannya. Sebuah kecupan hangat. Gadis itu duduk di sebelah ayahnya.

Tak lama kemudian muncul Maxi dan Carmela. Maxi masih mengenakan kaus oblong dan celana pendek. Sedangkan Carmela sudah terlihat rapi mengenakan blus pendek berwarna biru gelap, celana jeans, dan sneakers putih. Rambut bob pendeknya hanya dihiasi bando berwarna putih.

Hari ini Carmela memang tidak memakai seragam sekolah karena akan menerima raport. Setelah mengantar Olivia dan Prima ke kantor masing-masing, Arlena dan Carmela akan meluncur ke sekolah untuk mengambil raport, dan akan langsung ke rumah Minarti.

Menjelang pukul enam, kesibukan di sekeliling meja makan itu berakhir. Carmela membantu Olivia membawakan tas laptop, kemudian masuk ke mobil Prima, mengambil tempat di jok kiri depan. Prima dan Olivia bersisian di jok belakang. Arlena memundurkan city car itu keluar dari garasi bertepatan dengan kedatangan Muntik. Arlena berhenti sejenak, membuka kaca jendela kanan depan.

“Tik, semua catatan pekerjaan ada di Maxi,” ujarnya.

“Baik, Bu,” angguk Muntik.

Mobil itu kembali mundur dan segera meluncur di jalanan. Keluar dari kompleks, Arlena langsung mengambil jalur ke arah Tebet.

“Kira-kira raportmu bagus, nggak, Mel?” usik Prima.

“Baguslah,” jawab Carmela dengan nada yakin.

“Masa tutornya calon mahasiswa yang lolos tanpa tes masuk UI, muridnya memble?” sahut Olivia.

Mereka semua tertawa.

Setelah dihadang beberapa kali macet kecil, sampailah mereka di Raya Tebet. Pelan-pelan Arlena menepikan mobil di depan kantor Olivia. Sekali lagi gadis itu mendapat kecupan hangat di kening dari sang ayah sebelum keluar dari mobil.

* * *

Langkah Olivia sudah menjejak lantai lobi ketika Luken membelokkan mobilnya masuk ke area parkir Coffee Storage. Sekilas dilihatnya sosok gadis itu dari belakang.

Hm... Dandan cantik lagi kelihatannya.

Secepatnya ia parkir, keluar, dan mengunci mobil. Dengan langkah lebar, dilampauinya anak-anak tangga. Di atas, ia menemui kedua sekretarisnya tengah berbincang. Sandra sudah duduk manis di kursinya, sedangkan Olivia berdiri di depan lemari berkas yang terbuka lebar.

“Selamat pagi, Bu Sandra, Livi,” ucapnya dengan tak lupa mengulas senyum di bibir.

Kedua perempuan berbeda generasi itu menjawab serempak. Masih pukul tujuh lewat sekian belas menit. Luken berjalan ke arah ruangannya.

Meeting dengan Pak Harun jam setengah sepuluh, ya, Pak,” dengan halus Sandra mengingatkan.

“Oh, iya.” Laki-laki itu kemudian menoleh ke arah Olivia. “Liv, itu kamu lagi siapin berkas untuk Pak Harun?” tanya Luken.

“Iya, Pak,” angguk Olivia. “Bapak mau berangkat jam berapa?”

“Setengah delapan, ya? Serpong, kan, lumayan jauh,” Luken menghilang ke dalam ruang kerjanya.

Olivia kembali mengangguk. Ia sengaja tidak meletakkan piranti kerjanya di atas meja. Laptopnya pun masih ada di dalam tas. Tapi setelah selesai memeriksa berkas yang akan dibawa, dikeluarkannya juga laptop itu. Ia menoleh kepada Sandra.

“Bu, kalau butuh data di laptopku, buka saja. Soalnya flashdisk-nya aku bawa.”

“Oke,” Sandra mengacungkan jempol.

* * *

Luken duduk di kursinya. Bersandar menatap langit pagi di luar jendela. Berusaha melepaskan rasa sesak di dada. Rasa sesak yang muncul setiap kali melihat Olivia berdandan cantik. Sesuatu yang ‘bukan untuknya’.

Menikahlah denganku, Liv...

Ingin sekali ia mengucapkan itu. Pada banyak kesempatan. Tapi semuanya hanya berhenti sampai di ujung lidah saja. Membuat ia selalu merasa jengkel pada diri sendiri. Sering ia memikirkan soal ‘waktu yang tepat’. Sering pula ia kemudian mendapati bahwa waktu yang tepat itu sudah terlewat begitu saja.

Dan yang bisa ia lakukan adalah menghela napas berkali-kali. Mencoba untuk melonggarkan tekanan di dadanya.

* * *

“Hm... Bajumu keren,” celetuk Luken sambil mulai melajukan SUV-nya meninggalkan halaman kantor.

Olivia tertegun sejenak sebelum tersadar dan tersenyum.

“Makasih, Pak,” jawabnya sopan. “Ini pilihan Papa.”

“Oh...,” sahut Luken tanpa suara.

Luken kemudian berbicara soal James dan rencana laki-laki itu. James rupanya menginginkan Olivia untuk mengendalikan coffee shop yang akan ia dirikan nanti. Seharusnya ia sudah mengatakan hal itu saat terakhir bertemu Olivia Senin lalu dalam perjalanan ke bandara. Tapi James lupa. Ia kemudian berpesan agar Luken menyampaikan hal itu pada Olivia.

“Jujur, aku merasa berat banget kalau kamu harus pindah ke coffee shop Om James,” ucap Luken di ujung ceritanya. “Tapi di sisi lain, aku paham pertimbangan Om James. Dia percaya sama kamu. Percaya kamu bisa. Makanya dia ingin kamu yang pegang coffee shop itu. Dan secara objektif, aku setuju dengan pemikiran Om James. Tapi secara subjektif, berat, Liv.”

“Wah...,” Olivia jadi kehilangan kata.

Sejujurnya ia kaget juga dengan keinginan James. Selama membantu James, ia tak pernah berpikir sampai ke sana. Ia selalu mengira James sendiri yang akan mengendalikan coffee shop itu.

Lha, kenapa jadi begini?

“Nggak ada orang lain memangnya, Pak?”

Luken menoleh sekilas. “Mungkin tahun-tahun awal akan dipegang sendiri oleh Om, sambil membimbing kamu. Kalau kamu sudah bisa dilepas sendiri, ya, kamu yang kendalikan.”

Olivia terdiam lagi. Sesungguhnya, ia sangat senang mengetahui James bisa mempercayainya seperti itu. Tapi di sisi lain, ia sangat menyukai pekerjaannya. Mungkin ada faktor ‘pribadi’, bukan lagi murni ‘profesional’. Tapi tetap saja, ia merasa di situlah dunianya.

“Pikirkan lagi, ya, Liv,” ucap Luken lembut. “Kesempatan emas jarang datang dua kali. Terkadang ketika kita melewatkan kesempatan yang sudah terbuka lebar, kita berharap masih ada pintu di sisi lain yang terbuka. Tapi lebih sering kenyataan bicara lain. Pintu samping itu telanjur tertutup juga. Pada akhirnya yang ada cuma penyesalan.”

“Mm... Coba nanti kalau saya bertemu dengan Pak James, saya akan bicarakan dulu dengan beliau,” Olivia menanggapinya dengan nada halus.

Luken mengangguk.

“Oh, ya, semalam Mela WA aku, katanya besok itu Bu Arlena ulang tahun. Benar?” celetuknya tiba-tiba.

“Iya, Pak,” angguk Olivia. “Sebenarnya Papa, Maxi, Mela, dan saya sudah merencanakan kejutan buat Mama. Kami sudah pesan kue ulang tahun khusus. Besok akan diambilkan oleh Mas Gandhi. Karena yang bisa bebas keluar-masuk tanpa tugas khusus, kan, cuma Mas Gandhi.”

“Aku juga bisa, sekalian berangkat ke rumahmu,” Luken menoleh sekilas.

“Wah, makasih banyak, Pak. Tapi sudah telanjur didelegasikan ke Mas Gandhi,” senyum Olivia.

“Oh, oke... Kalau begitu selesai meeting nanti, tolong, kamu temani aku cari kado buat Bu Arlena.”

“Aduh! Nggak usah repot, Pak...,” sergah Olivia cepat. “Bapak sudah bersedia datang saja kami sudah senang sekali.”

“Liv...,” suara Luken mulai terdengar serius. “Ini perintah boss, ya. Jangan membantah.”

Diam-diam Olivia mengulum senyum. Ada nada canda dalam ucapan Luken. Ia selalu menyukai cara laki-laki itu menggunakan ‘hak veto’-nya sebagai seorang atasan. Serius, tapi tetap santai.

“Kalau memang perintah boss, ya..., saya bisa apa?” Olivia menahan senyumnya. “Mobil saja masih nyicil ke Pak Boss.”

Luken tergelak. Tiba-tiba saja hatinya diliputi kehangatan yang ‘lebih’.

* * *

Olivia mengangguk dengan ringan ketika Sandra berpamitan. Luken tidak keluar dari ruangannya saat Sandra keluar dari sana. Olivia berusaha untuk meneruskan pekerjaannya. Masih ada waktu cukup panjang hingga Allen menjemputnya nanti. Jam kantor laki-laki itu usai pada pukul empat sore, sama dengannya. Dan perlu waktu untuk mencapai kantor ini dari bilangan Sudirman.

Sulit untuk berkonsentrasi pada pekerjaan itu. Sekuat tenaga ia berusaha mengabaikan ucapan Luken di pengujung acara makan siang mereka tadi. Ucapan yang masih terus terngiang di telinga. Ucapan yang sebetulnya sungguh-sungguh mengguncang perasaan dan seluruh dunianya.

Hingga pesan WA dari Allen masuk ke ponselnya, menyatakan bahwa laki-laki itu sudah tiba, belum ada tanda-tanda Luken keluar dari ruang kerja. Olivia ragu. Dibalasnya pesan Allen, agar laki-laki itu menunggu sejenak.

Setelah menghela napas panjang, ia berdiri dan memantapkan langkah menghampiri pintu yang tertutup rapat. Dengan halus, diketuknya pintu itu.

“Ya, masuk!”

Tangannya menjangkau handle begitu didengarnya jawaban itu. Ia kemudian menyelinap masuk.

“Maaf, Pak, sudah hampir jam setengah enam,” suara Olivia terdengar ragu-ragu. “Apa saya sudah boleh pulang?”

“Oh?” Luken kini benar-benar mengalihkan tatapannya dari layar laptop. “Tentu saja boleh,” angguknya. “Bahkan seharusnya sejak jam empat tadi. Sudah dijemput?”

Olivia mengangguk. “Kalau begitu, saya pamit pulang, Pak. Permisi, selamat sore.”

“Ya, selamat sore.”

Olivia menutup kembali pintu itu dan segera membereskan mejanya. Lima menit kemudian ia sudah berada di bawah. Melangkah cepat menghampiri Allen yang sudah berdiri di samping crossover birunya.

“Maaf, harus membuatmu menunggu,” ucap Olivia.

“Tenang saja, Liv,” Allen tersenyum sambil membuka pintu kiri depan untuk Olivia.

Allen masuk melalui pintu kanan. Olivia menyambutnya dengan sebuah bungkusan.

“Ini kausmu.”

“Oh!” Allen menerimanya dengan mata berbinar.

Tanpa menunggu lama ia membuka bungkusan itu. Tersenyum lebar sambil membentangkannya.

“Aku suka warnanya!” serunya antusias. “Tulisannya juga pas.”

Olivia tersenyum lega.

“Kamu tinggal memakainya saja besok. Sudah kucuci. Kumasukkan ke laundry kilat.”

Allen tertawa ringan. Setelah melipat dan meletakkan kaus itu baik-baik di jok belakang, ia mulai meluncurkan mobilnya.

“Kita jadi menjemput bibimu?” laki-laki itu menoleh sekilas.

“Ya,” angguk Olivia. “Kalau kamu tidak keberatan.”

“Tentu saja tidak, Liv,” Allen menggeleng tegas. “Kalau aku keberatan, sudah dari kemarin aku katakan padamu.”

“Ya, terima kasih banyak.”

“Sama-sama.”

Olivia mengulum senyum. Ia baru kali ini berteman dekat dengan laki-laki yang berasal dari negeri dan budaya asing. Tapi keterusterangan laki-laki itu justru membuatnya nyaman. Arah pertemanan mereka jelas, sehingga ia bisa bersikap lebih baik karena tidak perlu lagi menduga-duga.

Seharusnya Minarti sekalian ikut Arlena pulang ke rumah siang tadi. Tapi perempuan itu masih harus menerima pesanan kue untuk jam empat sore. Maka Olivia berjanji untuk menjemputnya sepulang kerja walaupun agak sore, sehingga Gandhi tak perlu memutar terlalu jauh setelah menjemput Navita dan Prima.

Allen pun sudah tahu bahwa mereka tidak akan makan di luar, melainkan di rumah Olivia. Walaupun kemungkinan besar menunya bukan rawon lagi, tapi ia tetap merasa bersemangat.

“Allen...”

“Ya?” Allen menoleh sekilas mendengar suara lirih Olivia.

“Dia tadi... melamarku...”

Sebuah bisikan yang membuat mobil Allen hampir saja menyeruduk sebuah mobil box di depan.

* * *

Begitu pintu tertutup, Luken bangkit dari duduknya. Ia menghampiri jendela. Langit masih terang. Secara tersamar ia menatap ke bawah, ke arah area parkir tamu. Seorang laki-laki yang berdiri di samping sebuah mobil crossover terlihat sabar hingga yang ditunggunya muncul.

Lalu dilihatnya Olivia melangkah cepat menghampiri laki-laki itu. Entah apa yang mereka bicarakan. Yang jelas, wajah laki-laki itu terlihat cerah. Dengan gerakan cepat ia membuka pintu kiri depan mobil, menyilakan Olivia masuk, menutupnya baik-baik, melangkah memutari mobil, kemudian menghilang ke dalamnya. Mobil berwarna biru itu pun meluncur pergi.

Luken menghela napas panjang. Menggeleng samar. Ia kemudian kembali ke kursinya. Kembali menatap layar laptop. Pada laman Instagramnya yang masih terbuka lebar.

Beberapa menit lalu, ia iseng melihat-lihat akun Instagramnya yang sudah lama sekali tidak tersentuh. Ada banyak foto yang terlewatkan. Termasuk beberapa foto yang semalam diunggah oleh Sandra, dengan hashtag #PernikahanKiaDanEdo. Dalam keterangan foto itu, ia tahu bahwa mempelai perempuan adalah keponakan Sandra.

Lalu tatapannya jatuh pada sebuah foto. Di situ kedua mempelai berpose dengan teman-temannya. Dan salah satu sosok dalam foto itu membuat matanya terbelalak.

Livi? Livi!

Walaupun penampilan gadis itu berbeda 180 derajat dari biasanya, tapi ia masih sangat mengenalnya. Dan laki-laki berkemeja batik biru yang berada tepat di sebelah kanan gadis itu, yang menempel dengan begitu ketat, membuat perutnya terasa mulas seketika.

Itu, kan, laki-laki yang menjemputnya Jumat lalu? Laki-laki yang sama dengan yang menjemputnya baru saja! Pantas saja jawabannya tadi seperti itu...

Ia mengerjapkan mata.



Seusai meeting, Luken melajukan mobilnya ke mall terdekat. Setelah berputar-putar sejenak sambil memikirkan hadiah apa yang cocok untuk Arlena, Luken akhirnya membawa Olivia masuk ke sebuah toko tas.

Luken tahu selera Arlena tentunya tidak sembarangan. Maka ia memilih untuk membelikan Arlena sebuah tas kecil yang ia tak tahu apa namanya.

“Itu, Liv, tas tangan yang kecil itu,” bisiknya pada Olivia.

“Oh...,” gadis itu berpikir sejenak. “Clutch?”

“Nah, apalah itu namanya. Tolong, kamu pilihkan yang bagus. Nggak ada batasan budget.”

Sebetulnya Olivia segan. Yang akan diberi kado, kan, ibunya sendiri. Tapi kemudian ia ingat harga tas yang tempo hari Luken jadikan kado untuk Sandra. Maka ia mencoba untuk memilih yang di bawahnya. Tapi Luken menggeleng terhadap semua pilihannya. Akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk memilih sendiri. Kali ini ia memang agak tidak memercayai Olivia.

Ujung telunjuknya jatuh pada sebuah clutch unik bermodel amplop berwarna cokelat agak gelap dengan aksen hitam dan emas yang sangat elegan. Sebetulnya, sejak awal mata Olivia sudah melirik clutch itu. Tapi harganya yang mencapai angka tujuh digit membuatnya melirik clutch yang lain. Nyaris dua kali lipat harga tas untuk Sandra dulu.

“Saya ambil ini, Mbak,” ucap Luken mantap pada pramuniaga yang melayaninya.

Setelah urusan itu selesai, Luken mengajak Olivia makan. Sudah lewat pukul dua belas siang. Sekali lagi, acara makan berdua itu diselingi dengan pembicaraan soal pekerjaan. Tentu saja Olivia menanggapinya dengan baik. Bukankah sekarang masih jam kerja?

“Lemburanmu masih banyak, Liv?” tanya Luken.

“Tinggal sedikit lagi, Pak. Yang pekerjaan minggu ini, kan, sudah Bapak ACC kemarin. Yang bagian minggu depan hanya tinggal cek ulang saja. Mungkin nggak bisa selesai hari ini.”

“Nggak apa-apa, Liv,” senyum Luken. “Toh, minggu depan kamu nggak akan full dipinjam Om James. Masih bisa ngantor dan bekerja seperti biasa. Om James sudah janji untuk nggak akan terlalu banyak menghabiskan waktumu, kok.”

“Iya, Pak,” angguk Olivia.

Sejenak kemudian Luken menatap Olivia. Agak lama. Membuat gadis itu sedikit rikuh dan mengalihkan tatapan ke arah lain.

“Aku senang melihatmu sudah bisa tersenyum lepas lagi, Liv,” gumam Luken. “Melihatmu ceria lagi.”

Kali ini Olivia terpaksa balas menatap Luken.

“Semua karena Bapak juga,” ujar Olivia, halus. “Bapak ada ketika saya membutuhkan tempat untuk bersandar. Terima kasih banyak, Pak. Saya tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikan Bapak.”

“Menikahlah denganku, Liv...”

Olivia seketika ternganga.



Perasaannya?

Entahlah...

Luken mengerjapkan mata. Jawaban singkat Olivia atas ‘lamaran’-nya tadi siang sesungguhnya cukup memukul perasaaannya.

“Kita lihat besok, ya, Pak.”

Hanya itu. Tidak menolak. Tapi hanya memberikan harapan dalam kadar yang sangat tipis. Dengan lesu Luken membereskan meja. Lima menit kemudian ia sudah turun dan meluncur pergi dengan mobilnya.

* * *

Sedikit catatan :
Pre order pertama novel Eternal Forseti sudah ditutup. Pesanan melalui saya sudah masuk ke Penerbit Jentera Pustaka kemarin siang. Terima kasih banyak bagi yang sudah memesan secara langsung ke Penerbit JP, melalui Mbak Sri Subekti Astadi dari FC, maupun melalui saya. Oh iya, yang sudah pesan langsung ke JP, email order akan dibalas mulai hari ini (Kamis) sampai Sabtu akhir minggu ini. Bila lewat hari Sabtu belum ada balasan, mohon informasikan ulang ke JP.
Bagi yang masih berkeinginan untuk memesan, PO kedua melalui saya sudah dibuka kembali. Silakan mampir ke SINI untuk mengetahui info selengkapnya. Pemesanan langsung ke Penerbit JP maupun Mbak Sri Subekti Astadi dari FC masih tetap dibuka. Silakan memilih cara mana yang paling baik. Sekali lagi, terima kasih... 😘

Selanjutnya : Infinity #17

Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)



4 comments:

  1. Mengenteni dino senen...... Nglamare Pak Luken nggak ada romantis romantisnya...

    ReplyDelete
  2. Luken carae nglamar rek gada kembang"e blas wakwakwakwak (guyu kambek lirik" sebelah)

    ReplyDelete