Thursday, July 6, 2017

[Cerbung] Infinity #4




Empat


Bunyi alarm ponsel membuat Olivia nyaris melompat dari atas ranjangnya. Sambil mengerjapkan mata ia meraih ponsel untuk melihat jam berapa sekarang. Tepat pukul enam pagi. Ia buru-buru menelepon Minarti.

Kemarin menjelang malam, James mengirim pesan padanya. Laki-laki itu minta diantar Olivia bertemu Minarti hari ini, kalau tidak merepotkan. Tapi karena ponsel Olivia ada di dalam tas dan ditinggalkannya di dalam kamar, maka pesan itu baru ia baca menjelang pukul sebelas malam. Ia membalasnya dengan permohonan maaf karena terlambat menanggapi, dan janji akan menghubungi James kembali pagi ini setelah memastikan Minarti ada di rumah.

Setelah nada sambung kelima, barulah ada jawaban dari seberang sana.

“Halo, selamat pagi...”

“Met pagi, Budhe. Ini Livi.”

“Oh, Liv? Ini Vita. Ibu lagi layani pembeli.”

“Oh, Mbak Vit... Ini, Mbak, aku mau tanya, hari ini Budhe repot, nggak, ya? Kalau nggak repot, aku mau ke sana. Ada yang mau ketemu Budhe, mau ngomongin soal bisnis.”

“Hah? Bisnis apa, Liv?”

“Soal kue buatan Budhe, Mbak. Ada yang tertarik. Jadi gimana?”

“Sebentar, aku tanya Ibu dulu, ya?”

“Makasih, Mbak.”

Dan jawabannya ia peroleh kurang dari satu menit kemudian. Minarti senggang di atas jam sembilan pagi. Akan menerima dengan senang hati kapan saja Olivia datang berkunjung.

Gadis itu kemudian segera menghubungi James. Ia bermaksud menjemput James di hotel, tapi laki-laki itu menolak. Lebih memilih untuk datang ke rumah Olivia, untuk kemudian bersama berangkat ke rumah Minarti. Sia-sia Olivia memaksa. James tetap kukuh dengan pendiriannya.

“Paling lambat jam sepuluh aku sampai rumahmu, Liv,” tegas James sebelum mengakhiri pembicaraan.

Olivia menyerah. Ia kemudian beranjak ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi. Ketika ia turun menjelang pukul setengah tujuh, ternyata Carmela sudah ada di dapur bersama Arlena. Duduk berdua di depan island, menikmati teh hangat dan satu stoples kecil kacang telur. Gadis remaja itu sudah memakai seragamnya, tapi belum bersepatu.

“Lho, nggak ada sarapan ini?” Olivia mengerutkan kening melihat island yang sepi.

“Tenang saja...,” Carmela nyengir. “Sebentar lagi juga siap.”

Olivia beralih menatap Arlena. Perempuan itu hanya mengangkat bahu sambil tersenyum. Olivia menggeleng, kemudian ke sudut untuk membuat secangkir kopi. Tak berapa lama, Prima juga muncul. Menerima sodoran semug teh hijau tawar hangat dari Arlena sambil mengucapkan terima kasih.

“Ecieee... Papa tumben Sabtu pagi gini sudah cakep?” ledek Carmela

Prima memang kelihatan segar dan gagah dalam balutan celana bermuda jeans dan kaus oblong lengan panjang berwarna putih dengan tulisan hitam ‘Beware, boys! I’m his father!' di bagian dada dan punggung. Semburat samar warna keperakan di sela-sela rambutnya tak mengurangi kharisma laki-laki itu. Justru menambah tingkatannya hingga maksimal.

“Lho, kan, mau antar kamu ekskul,” jawab Prima sambil duduk di depan island.

“Biasanya Mas Maxi,” gumam Carmela.

“Mas Maxi biar istirahat dulu,” Prima menyesap isi cangkirnya.

“Iya,” sahut Arlena. “Kemarin pagi sampai siang, kan, pinggangnya sempat sakit.”

“Ngomong-ngomong, kita sarapan apa, nih?” Prima celingukan, seolah mencari sesuatu di atas island.

Bersamaan dengan itu, terdengar bel berbunyi. Carmela buru-buru beranjak keluar. Pertanyaan Prima segera terjawab. Luzar berjalan di belakang Olivia sambil menenteng sebuah tas katun tebal.

“Selamat pagi, Om, Tante, Mbak Livi,” ucapnya sopan sambil menjabat dan mencium punggung tangan Arlena dan Prima.

“Iya, met pagi...,” jawab Arlena dan Prima serempak.

Sementara itu Olivia menyambut pemuda itu dengan toss-nya. Kemudian Luzar meletakkan tas katun yang dibawanya di atas island, dan duduk di sebelah Prima.

“Ini ada kiriman dari Bu Min,” ucapnya.

“Makasih banyak, lho, Zar,” guman Arlena sambil mengeluarkan isi tas itu.

“Ah, saya, kan, cuma tinggal bawa saja, Tante,” kilah Luzar.

“Memang rumahmu dekat banget sama Bu Min?” Prima menoleh ke samping.

“Beda satu gang, Om,” Luzar menjelaskan. “Tadi pagi-pagi saya beli sarapan di tempat Bu Min. Terus Bu Min tanya, kapan saya ke sini lagi. Saya bilang, pagi ini. Bu Min pesan supaya saya mampir dulu kalau mau berangkat. Ternyata Bu Min titip itu, nasi uduk.”

“Oh...”

Ada enam bungkus nasi uduk yang terhidang di island. Olivia segera mengambil piring dan sendok. Mereka berempat, minus Luzar segera menikmati sarapan itu sambil mengobrol santai. Luzar menolak untuk sarapan bersama dengan alasan tadi sudah sarapan bersama ayahnya.

Nasi uduk itu benar-benar lezat. Berpadu sempurna dengan pelengkapnya yang berupa bihun goreng, orek tempe, tumis buncis, telur balado, semur tahu, dan kerupuk kanji.

“Pa, aku berangkat ekskul sama Kak Luzar, ya?” celetuk Carmela pada suatu detik.

Hening sejenak. Prima menatap gadis bungsunya. Ada pendar-pendar yang melompat-lompat keluar dari dalam mata Carmela. Prima tak ingin memudarkan pendar itu. Ia kemudian mengangguk.

“Boleh,” jawabnya. “Tapi Luzar hati-hati di jalan, ya? Jangan ngebut.”

“Iya, Om,” Luzar mengangguk takzim. “Terima kasih.”

“Sudah punya SIM, belum?” celetuk Olivia. Mengangkat alisnya dengan ekspresi jenaka.

“Sudah, dong, Mbak,” Luzar tersenyum lebar.

Lewat beberapa menit dari pukul tujuh, Carmela beranjak untuk memakai sepatunya, kemudian berpamitan untuk berangkat ekskul diantar Luzar. Olivia tak lupa berpesan agar Carmela mampir ke rumah Minarti seusai ekskul agar mereka nanti bisa pulang bersama.

“Hm... Sudah telanjur pakai kaus keren begini,” gerutu Prima sambil menunduk menatap tulisan di kausnya.

Seketika Arlena dan Olivia tergelak. Ekspresi wajah Prima sungguh sangat menggelikan.

“Sebagai obat kecewa, Papa mau ikut aku ke rumah Budhe Min?” ledek Olivia. “Biar kausnya nggak sia-sia.”

Prima mengangkat wajah dengan ekspresi memelas. Olivia tertawa lagi.

“Kamu mau ke rumah Budhe?” tanya Arlena sambil memasukkan bekas bungkusan sarapan mereka ke kantung sampah.

“Iya,” angguk Olivia.

Gadis itu kemudian bercerita tentang rencana James. Laki-laki itu tertarik pada rasa dan penampilan kue-kue buatan Minarti, sekaligus punya keinginan untuk menggandeng Minarti jadi pemasok kue basah ke coffee shop-nya kelak.

“Wuh! Kesempatan emas, itu!” gumam Arlena.

“Ya, semoga saja Budhe mau,” Olivia berdiri dan beranjak.

“Kamu mau ke mana?” celetuk Prima.

“Ya, mandi lah, Pa,” sahut Olivia. “Masa mau jadi centeng Pak James penampilanku kusut dan bau iler begini?”

“Oh, hehehe...,” Prima terkekeh.

“Eh, Liv!”

Olivia berbalik, menatap Arlena dengan sorot mata bertanya.

“Tolong, sekalian bawakan sarapan buat adikmu.”

Olivia mengangguk sambil menerima piring berisi bungkusan nasi uduk dan sendok yang disodorkan Arlena. Jatah buat Maxi.

* * *

Olivia meluncurkan mobilnya keluar dari carport diiringi lambaian tangan Prima dan Arlena. James sudah muncul di rumah itu menjelang pukul sembilan, menggunakan jasa ojek online. Setelah mengobrol sejenak, Olivia pun mengajak James berangkat. Begitu mobil itu menghilang dari pandangan, Prima dan Arlena pun beriringan masuk ke dalam rumah.

“Nggak belanja, Ma?” celetuk Prima.

“Mm... Sebetulnya iya, sih. Banyak yang harus dibeli,” gumam Arlena. “Sabun, deterjen, apa segala macem sudah menipis.”

“Ayo, aku antar.”

Seketika Arlena menatap Prima dengan sorot mata tak percaya. Tapi laki-laki itu kelihatannya serius.

“Ayo!” ulang Prima. “Kok, malah bengong?”

“Oh, oke, oke,” Arlena mengangguk cepat.

Keduanya kemudian beriringan menapaki tangga. Prima mampir sebentar ke kamar Maxi untuk melihat keadaan jejakanya. Dari depan pintu yang terbuka lebar, tampak Maxi tengah sibuk di depan layar laptop. Jendela kamarnya terbuka lebar, dan kipas angin yang tergantung di langit-langit berputar cukup kencang.

“Kamu ini, lho, disuruh istirahat saja, kok, susah amat?” gerutu Prima.

Maxi memutar kursinya. Tersenyum lebar menghadap Prima.

“Aku cuma ngetik sedikit, Pa,” elaknya. “Nanti kalau mulai nggak nyaman, aku bakal rebahan lagi. Lagian nggak akan keluyuran, kok. Janji.”

Prima menghela napas panjang. Mengalah.

“Ya, sudah... Nanti kalau butuh apa-apa, kamu minta ke Muntik, ya? Papa mau antar Mama ke hypermarket.”

“Eaaa... Kencan siang-siang,” ledek Maxi, tertawa lebar.

Prima tersenyum dan berlalu. Ia kemudian masuk ke kamar dan mendapati Arlena hampir selesai berdandan. Tampak jauh lebih polos daripada biasanya. Wajahnya hanya dilapis bedak dan lipstik berwarna merah marun. Tapi secara keseluruhan terlihat tetap cantik dan segar. Apalagi kulitnya benar-benar mulus tanpa noda sedikit pun. Alisnya yang tidak pernah dicukur ataupun dipelakukan aneh-aneh karena bentuknya sudah bagus, kali ini hanya dirapikan dengan sikat alis. Perempuan itu mengerutkan kening ketika Prima mengganti kaus yang tadi dipakainya dengan sehelai kaus polo polos berwarna biru muda.

“Bukannya kaus yang tadi itu cakep, Pa?” celetuknya.

“Nggak cocoklah,” sahut Prima, kalem. “Cocoknya dipakai kalau keluar sama Livi atau Mela.”

“Oh, hehehe...”

Arlena kemudian mengganti celana pendeknya dengan celana bermuda jeans serupa dengan yang dikenakan Prima, dan mengganti tank top-nya dengan sehelai kaus putih lengan pendek berpayet warna perak. Terlihat begitu manis. Membuat Prima ingin mengulumnya bagai sebutir permen susu.

“Aku tadi sebetulnya mau pakai kaus ini,” Prima membentangkan sehelai kaus oblong berwarna putih yang diambilnya dari dalam lemari.

Arlena ternganga sejenak. Dibacanya tulisan pada kaus oblong lengan pendek itu. ‘Beware, guys! I’m her hubby!’ Di baliknya, di bagian punggung, ada kalimat yang sama. Ia kemudian tergelak. Prima meringis.

“Ganti lagi!” seru Arlena dengan mata bersinar-sinar. “Pakai saja yang itu!”

“Hah?” Prima mengangkat alisnya. “Nggak malu?”

Kening Arlena mengernyit. “Kenapa harus malu?”

Setelah berpikir sejenak, Prima pun mengganti lagi kaus polonya dengan kaus oblong itu. Ketika Prima menyisir lagi rambutnya yang agar berantakan, Arlena menatap pantulannya dari cermin. Sedetik tatapan mereka bertemu sebelum ia mengalihkannya dengan menunduk. Memasukkan ponsel dan dompetnya ke dalam sebuah sling bag yang berbahan sama dengan celana bermudanya.

Beberapa menit kemudian, Prima sudah meluncurkan mobilnya keluar dari garasi. Arlena duduk manis di sebelah kirinya. Wajah keduanya terlihat berseri-seri. Prima senang sekali ketika merasakan bahwa keadaan keluarga mereka sudah jauh lebih baik daripada beberapa bulan lalu. Sedangkan Arlena tak berhenti bersyukur karena Prima bersedia memberinya kesempatan kedua. Juga anak-anak yang sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya.

“Mm... Akhir bulan depan aku sertijab,” gumam Prima sambil terus menyetir.

“Oh? Pindah divisi?” Arlena menoleh.

“Enggak,” geleng Prima. “Mm... Aku... menggantikan Pak Hendrik. Dia dipindah ke Sidoarjo, jadi boss di sana.”

“Hah?” seketika Arlena tercengang. Menggantikan Pak Hendrik? Berarti... “Papa naik jabatan?”

“Ya... begitulah,” senyum Prima. “Tanggung jawabnya makin besar. Aku hanya bisa berharap nggak kekurangan waktu buat anak-anak.”

“Mm... Menurutku...,” Arlena terlihat berpikir-pikir. “Begini... Ya, anak-anak pasti masih butuh Papa. Butuh banget. Tapi aku yakin Papa masih bisa sisihkan waktu untuk anak-anak. Hanya saja, ada hal yang lebih penting. Kesehatan Papa. Jangan sampai terabaikan.”

“Ya, aku paham,” Prima mengangguk. “Pak Krisno juga memahami betul kondisiku. Makanya dia bermaksud untuk menarik Vita jadi sekretarisku. Pak Krisno sudah tahu kalau Vita keponakanku. Pasti bisa membantu mengurusku dengan lebih baik. Dan ini bukan semata nepotisme, tapi Pak Krisno sudah mengamati cara kerja dan kemampuan Vita. Anak itu cukup profesional. Menurut Mama, bagaimana?”

“Oh, begitu?” Arlena manggut-manggut. “Aku, sih, mendukung, Pa. Yang paling tahu kondisi Papa, kan, memang keluarga sendiri. Dan Vita sudah memahami itu. Nanti kalau aku ada pesan apa-apa buat Papa, kan, lebih enak kalau Vita yang menangani.”

“Hm... Oke, kalau begitu. Nanti coba kubilang Vita untuk belajar dari Livi. Ngomong-ngomong... Livi dan Pak Luken itu...”

Prima kemudian secara ringkas bercerita tentang Livi, Luken, dan Allen Byrne. Arlena mendengarkannya baik-baik. Tak menyela sedikit pun.

“Ya, aku bercerita begini, supaya Mama tahu. Kalau ada yang aneh sama Livi, yang nggak biasa, yang mungkin terluput dari mataku, setidaknya Mama sudah tahu latar belakangnya," Prima mengakhiri ceritanya.

“Ya, coba nanti aku lebih perhatikan lagi,” angguk Arlena. “Mm... Soal Maxi... Yang aku tangkap, Keke sepertinya ada hati sama dia. Cuma Maxi adem ayem saja selama ini. Kelihatannya juga suka, tapi... yah, begitulah. Coba Papa bicara padanya kalau ada waktu.”

“Oh... Ya, coba nanti sore aku ajak dia ngobrol. Eh, aku juga punya kaus yang bisa dipakai untuk keluar sama dia,” Prima tertawa ringan.

“Oh, ya?” Arlena melebarkan matanya dengan antusias. “Memangnya beli di mana kaus-kaus lucu begitu?”

“Dagangan anak Nando. Aku lihat di IG.”

“Wah, aku mau, dong!”

“Coba saja nanti Mama lihat-lihat sendiri,” senyum Prima.

Laki-laki itu kemudian membelokkan mobilnya masuk ke basement sebuah hypermarket. Setelah memarkir baik-baik mobil itu, keduanya bergandengan tangan menyeberang untuk mencapai pintu masuk hypermarket. Terlihat begitu dekat, hangat, dan mesra. Seolah pernikahan mereka tak pernah dilanda badai.

* * *

Perlu lebih banyak upaya untuk meyakinkan Minarti tentang mutu tinggi kue-kue buatannya. James sabar sekali membujuk perempuan sederhana itu. Pada akhirnya Minarti menyerah. Ia setuju, tanpa berharap lebih banyak, karena semua yang dipaparkan James baru berupa wacana, belum jadi rencana yang matang. Tapi seandainya jadi, ia sudah siap untuk mempertahankan rasa dan kualitas kue-kue buatannya.

Mulut James nyaris tak berhenti mengunyah keripik singkong balado yang disuguhkan Minarti. Pada satu detik tatapannya jatuh ke arah Olivia.

“Keripik beginian ada prospek juga, kukira,” gumam James.

Olivia mengangguk. “Dan cemilan kriuk yang lain.”

James menyipitkan mata. Pada saat seperti ini, Olivia tahu bahwa otak laki-laki itu tengah bekerja lebih keras untuk mengolah ide-ide yang muncul dan berlompatan keluar begitu saja.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)

3 comments:

  1. Waaaa kudu siap kaos koyok ngunu rek! Duwe baby girl hareeeee wkkkkkkk
    Yokpo? Wes krasan ta?

    ReplyDelete
  2. waah ..ketinggalan aku Mbak Lis...udah 4...kebut aah

    ReplyDelete
  3. Aq rapelan mb Lis.
    Is ! Lope" kambek pa Prima pokoke.

    ReplyDelete