Senin, 17 Juli 2017

[Cerbung] Infinity #7


Tujuh


Sabtu pagi itu, seusai sarapan, Arlena sibuk mendandani gadis sulungnya. Ia memegang sebuah cermin yang diarahkan ke bagian belakang kepala Olivia.

“Gimana?” tanyanya.

Olivia mengamati sanggul kepang yang pantulannya terlihat di cermin. Rambutnya dibelah dua tepat di tengah. Kedua bagian itu masing-masing dikepang tempel, kemudian ujung bebasnya disatukan di atas tengkuk dan dibentuk jadi sanggul gulung yang sangat manis. Wajah Olivia tampak takjub.

“Wow... Ini keren, Ma!”

Arlena mengangguk puas. Ia kemudian beralih menangani bagian wajah. Gadis secantik Olivia tak perlu terlalu banyak diwarnai menyolok. Hanya perlu menonjolkan bagian-bagian yang tertentu agar terlihat lebih segar.

Seusai meratakan pelembab pada wajah Olivia, Arlena mengaplikasikan alas bedak secara merata. Tidak perlu memakai concealer karena kulit wajah Olivia benar-benar tanpa noda. Setelah itu Arlena membubuhkan bedak dengan menepuk-nepukkan spons secara sangat lembut ke seluruh wajah dan leher Olivia.

Ia menjauhkan tatapannya sedikit dari wajah Olivia sebelum mulai menangani alis. Ia hanya menyikat dan menyempurnakan bentuk alis Olivia dengan pensil alis coklat tipis-tipis saja. Bentuk alis anak gadisnya ini sudah bagus, sama seperti miliknya. Dengan cepat ia memutuskan untuk memilih eyeshadow dengan nuansa kecoklatan, seperti busana yang hendak dikenakan Olivia. Efek sapuan kuasnya membuat mata Olivia tampak lebih besar dan indah. Tak cukup hanya sampai di situ. Setelah memulaskan maskara, Arlena masih menambahkan lagi sepasang bulu mata palsu. Dengan hati-hati ia mengguratkan eyeliner, kemudian menyatukan bulu mata asli dan palsu dengan mengunakan penjepit. Membuatnya jadi lentik sempurna.

“Wow...,” bisik Olivia lagi.

Matanya terlihat jauh lebih indah, tapi tetap tidak tampak menor ataupun terlalu dramatis. Masih cocok untuk menghadiri pesta pernikahan pada siang hari. Setelah itu, Arlena menyelesaikan riasan itu dengan menyapukan blush on dan memulaskan lipstik berwarna oranye lembut kecoklatan.

“Gimana, Liv?” Arlena menatap gadis sulungnya melalui pantulan cermin.

“Salon langganan kalah jauuuh...,” ucap Olivia dengan nada takjub. “Makasih banyak, Ma.”

“Ya, sama-sama,” senyum Arlena.

Ia kemudian merapikan alat-alat riasnya, sementara Olivia beranjak untuk berganti baju. Sekilas gadis itu melirik jam dinding. Sudah pukul sepuluh lewat sedikit. Busana two pieces-nya terdiri dari kebaya lengan pendek ber-kuthu baru dari bahan brokat kerawang berwarna krem muda, dan sehelai rok panjang batik berpinggang tinggi dengan model mermaid dalam nuansa coklat muda dan coklat tua. Ada tambahan obi lebar polos berwarna cokelat tua dari bahan satin untuk menutup bagian pinggang rok, menggantikan fungsi setagen.

Pelengkapnya adalah seperangkat perhiasan berwarna emas berhias kristal, dalam bentuk bunga sepatu, berupa sepasang tusuk konde, sepasang giwang, seuntai kalung dan liontin, sebentuk gelang di pergelangan tangan kanan, dan sebuah cincin di jari manis kiri. Bukan emas asli, tapi sangat mewah dan elegan. Sebuah arloji kecil berwarna senada di pergelangan tangan kiri menambah sempurna penampilan itu. Terakhir, ia meraih sebuah handbag kecil coklat kemerahan, sewarna dengan sepatu sling back bertumit sepuluh sentimeter bermodel open toe yang hendak dikenakannya.

“Waduh, Liv, kukumu belum dicat!” seru Arlena tiba-tiba, terlihat panik.

Olivia terlihat sedikit kaget sebelum tersenyum.

“Semalam sudah kukasih kuteks transparan, Ma,” ia menanggapi. “Masih rapi, kok.”

“Hm... Ya, ya...,” Arlena mengangguk-angguk. “Nggak apa-apa. Fokusnya, kan, pada wajahmu, bagian mata, bukan kuku. Perfect!

Setelah sekali lagi mengamati penampilannya melalui pantulan cermin, Olivia pun keluar dengan masih mengenakan sandal jepit di kakinya. Kedua belah tangannya masing-masing menenteng handbag dan sepatu.

Busngeeettt!” seru Maxi yang melihat kakaknya turun melalui tangga. “Ada bidadari, oi!”

“Whoaaa!!! Mbah Livi cantik bangeeet!!!” Carmela pun tak kalah heboh. “Aku gemeeesss!!!”

“Halah...,” Olivia tertawa.

Kehebohan Carmela rupanya didengar pula oleh Prima yang sedang menemui Luken di ruang tamu. Laki-laki itu tersenyum, menatap Luken.

“Sebentar, ya, Mas,” ia berdiri. “Kelihatannya Livi sudah selesai.”

Langkah Prima sampai di ruang tengah tepat ketika Olivia menunduk mengenakan sepatunya. Saat gadis itu mengangkat wajah, seketika itu juga Prima terkesima. Ia sampai tak sanggup berkata-kata.

“Wow!” hanya itu yang bisa diungkapkannya.

Olivia tersenyum manis. Prima tersadar.

“Itu, sudah ditunggu Mas Luken,” ucapnya kemudian.

“Hah?” Olivia melebarkan matanya. “Sudah datang? Sudah lama?”

“Baru sepuluh menitan,” jawab Prima.

Olivia melangkah cepat ke arah ruang tamu. Memang belum tepat setengah sebelas. Tapi rasanya tidak enak juga membiarkan laki-laki itu menunggu.

“Selamat pagi menjelang siang, Pak,” sapa Olivia halus. “Maaf, Bapak menunggu lama.”

Cangkir yang isinya baru saja disesap Luken hampir meluncur jatuh dari tangan. Seketika laki-laki itu ternganga melihat penampilan cantik luar biasa sang sekretaris.

* * *

Reaksi yang sama juga datang dari Madi. Laki-laki berusia 60-an itu nyaris tak berkedip menatap Olivia. Dan demi menghindari hal yang ‘tidak-tidak’, laki-laki itu menandatangani dolumen perjanjian tanpa banyak pernik. Tak sampai lima belas menit, segala urusan kerja itu selesai. Sambil berpamitan, Madi berkali-kali mengucapkan permintaan maaf karena sudah mengganggu acara Luken dan Olivia. Berkali-kali pula Luken meyakinkan bahwa semua itu tidak apa-apa karena orang tua yang sakit, kan, sama sekali di luar harapan dan kehendak.

Begitu taksi yang ditumpangi Madi meluncur pergi, Olivia segera merapikan berkas di atas coffee table di ruang tamu yang ada di lobi kantor. Mereka memang menerima Madi di situ karena Luken tidak mau Olivia naik-turun hanya untuk urusan itu. Bahkan semua berkas yang sudah disiapkan Olivia di atas meja kerjanya di lantai dua, Luken pula yang mengambil. Dan kini, laki-laki itu sudah bersiap kembali untuk mengembalikan map berkas ke atas meja Olivia. Diraihnya map-map itu begitu selesai dirapikan Olivia. Gadis itu tak kuasa mencegahnya. Sambil duduk menunggu di sofa, ia menatap punggung Luken yang berjalan menjauh ke arah tangga.

Menjelang siang ini Luken sungguh-sungguh terlihat mempesona. Tanpa ada perjanjian, hem batik lengan panjang mengilap yang dikenakan laki-laki itu terlihat mirip dengan corak rok Olivia. Begitu juga warnanya. Membuat laki-laki tinggi tegap itu terlihat begitu tampan, matang, gagah, dan terkesan agung.

Ada getar-getar tersembunyi dalam hati Olivia melihat penampilan Luken yang seperti itu. Pada saat seperti ini, tak sedikit pun bayangan Allen muncul dalam benaknya. Entah menghilang atau bersembunyi di mana. Ia juga enggan untuk menelusuri dan mencari.

Gadis itu berdiri ketika melihat kaki Luken yang terbungkus sepatu dan pantalon hitam mulai menuruni anak tangga. Dirapikannya sejenak busana yang dipakainya. Setelah mematikan ceiling fan di atas area sofa, Olivia pun mulai melangkahkan kakinya keluar dari gedung kantor. Sekejap kemudian Luken sudah berada di sampingnya. Satpam yang bertugas mengangguk hormat ketika keduanya melintas.

Ketika Luken mulai meluncurkan mobilnya, ponsel Olivia berbunyi. Ia meminta maaf pada sang boss sebelum menanggapi telepon itu. Ternyata dari Sandra.

“Ya, Bu?”

“Gimana urusan sama Pak Madi, Mbak Liv?”

“Oh, sudah beres, Bu. Ini kami sudah meluncur ke gedung. Gimana pemberkatan Mbak Mei dan Mas Bagas, Bu? Lancar?”

“Iya, ini juga sudah selesai. Lagi berangkat ke gedung. Sampai ketemu di sana, ya?”

“Oke, Bu.”

Olivia menoleh ke kanan setelah menyimpan kembali ponselnya ke dalam handbag.

“Bu Sandra, Pak,” lapornya. “Pemberkatan sudah selesai, sekarang lagi jalan ke gedung.”

“Oh, oke,” sahut Luken.

Hening sejenak. Hanya ada musik jazz instrumental yang mengalun lembut dalam kabin SUV itu. Hingga kemudian Luken memecahkannya dengan suara berat dan lembut.

“Tadi dandan di salon mana, Liv?”

Olivia tertegun sejenak sebelum menjawab, “Nggak ke salon, kok, Pak. Kalau cuma soal dandan begini, Mama juga piawai. Atau... justru dandanan saya nggak bagus, ya, Pak?”

“Oh, enggak! Enggak!” Luken buru-buru menjawab begitu mendengar nada khawatir dalam suara Olivia. “Semua sudah pas, Liv. Sangat pas. Sampai nggak ada celah sama sekali. Kamu biasanya sudah cantik. Dandan seperti kemarin makin cantik. Dan sekarang... aku susah menemukan ungkapan yang pas karena kamu jauuuh melebihi kemarin.”

“Owh...,” seketika Olivia tersipu.

“Dan kecantikanmu sama sekali bukan kecantikan yang kosong,” lanjut Luken dalam bentuk gumaman. “Itu yang membuatmu makin sempurna.”

Saking sempurnanya sampai aku tak berani memintamu, Liv...

Sekilas, ia membuang pandang ke arah kaca spion di luar. Mereka sudah dekat dari gedung tempat resepsi pernikahan Mei dan Bagas. Padahal Luken masih ingin berdua saja bersama Olivia dalam keheningan. Mencium aroma harum lembutnya yang terasa begitu menenangkan.

Sayangnya, tinggal satu tikungan lagi.

* * *

Sandra adalah orang kesekian yang ternganga melihat penampilan Olivia. Perempuan itu segera menarik Olivia ke sebuah sudut, sementara Luken berbincang dengan Riza.

“Pengantin perempuannya saja sampai kalah cantik,” gumam Sandra.

“Halah, Bu... Cuma dandanan begini saja, lho,” kilah Olivia.

“Pak Luken gimana?”

“Maksudnya?” Olivia mengerutkan kening.

“Berani taruhan sejuta dolar, dia pasti terpesona melihatmu,” ucap Sandra dengan mata berbinar-binar.

Olivia tersipu. “Berat itu, Buuu...”

Sandra tertawa ringan. Tapi sejurus kemudian ia kembali serius.

“Dia sudah terlalu lama menduda,” Sandra bergumam lagi. “Dia orang yang sangat baik. Aku hanya ingin melihatnya mendapat yang terbaik. Seperti dirimu, Mbak Liv.”

Olivia tercenung sesaat. Pada saat seperti itu, mendadak saja sosok Allen menyelinap masuk ke dalam benaknya. Juga peristiwa yang terjadi kemarin sore.



Allen adalah laki-laki yang menyenangkan. Di balik pekerjaan lapangannya yang terkesan sangat keras, laki-laki itu cukup punya tata krama dan kesopanan. Dengan jelas ia memperkenalkan siapa dirinya pada Prima dan Arlena. Tak lupa bercerita sedikit tentang keluarganya.

Ia anak sulung dari tiga bersaudara. Ayahnya adalah seorang importir kopi, sedangkan ibunya yang dulu berprofesi sebagai seorang perawat sudah lama meninggal. Sama seperti Olivia, ia memiliki seorang adik laki-laki dan seorang adik perempuan. Adik perempuannya, si bungsu yang seusia Olivia sudah menikah tahun lalu. Saat ini berprofesi sebagai seorang guru SD, masih tinggal di Calgary, berjarak satu blok jauhnya dari kediaman sang ayah, dan sedang menunggu kelahiran anak pertamanya. Sedangkan adik laki-lakinya yang berusia 28 tahun bekerja sebagai seorang peneliti pada industri kimia dan farmasi di Mississauga, sebuah kota di dekat Toronto.

“Lingkungan kuliah dan kerja saya minim perempuan,” ungkapnya kemudian. “Apalagi selama sepuluh tahun ini, saya sering berpindah-pindah negara. Saya kesulitan untuk bertemu dan berteman dengan perempuan yang kemungkinan bisa menjadi teman hidup saya. Jadi... saat ini, saya jalani saja apa yang harus saya jalani.”



“Eh, makan dulu, yuk!”

Tarikan Sandra pada tangannya membuat Olivia tersentak.

“Aku sudah diserahi Mei untuk menservis Pak Luken sebaik-baiknya. Dan Pak Luken satu paket denganmu saat ini,” sambung Sandra.

Samar, Olivia menghela napas panjang.

Allen tidak menjanjikan apa-apa.

Matanya mengerjap ketika tatapan Luken yang masih mengobrol dengan Riza jatuh padanya.

Sedangkan yang satu ini, juga tidak mengatakan apa-apa lagi...

* * *

Olivia mematikan laptop sambil menguap. Ia menggeliat sedikit sebelum bangkit dari duduknya. Sekilas, diliriknya jam dinding. Hampir pukul satu dini hari. Revisi calon novelnya sudah selesai. Akan dikirimkan ke editor melalui email besok pagi atau siang. Sambil memutar leher untuk melemaskan tengkuknya yang terasa pegal, ia keluar dari kamar dan turun ke dapur untuk mengambil minum.

Saat melewati ruang baca, pintunya masih terbuka lebar. Ada alunan musik klasik lembut dari arah dalamnya. Ia memutuskan untuk melongokkan kepala.

Astaga, Papa...

“Pa...,” usiknya.

Laki-laki itu mengalihkan tatapan dari layar laptop. Tersenyum melihat siapa yang menegurnya.

“Belum tidur, Liv?”

“Papa sudah janji nggak akan lupa istrahat,” protes Olivia. “Kok, sekarang kerja lagi sampai larut malam? Sudah dini hari pula.”

“Bukan bekerja, Liv,” Prima meralat dengan halus. “Hanya mempelajari salinan dokumen-dokumen perusahaan.”

“Sama saja,” tukas Olivia, cemberut. Masih bersandar di kusen pintu.

“Oke... Oke...,” Prima pun mematikan laptop. “Tapi kenapa juga kamu sekarang belum tidur?”

“Baru selesai mengerjakan revisi naskah novel.”

Prima menutup layar laptopnya. Ia kemudian berdiri sambil mematikan CD player menggunakan remote control. Dihampirinya Olivia. Gadis itu mendahului melangkah ke dapur. Di belakangnya, Prima menutup pintu ruang baca setelah mematikan lampu dan kipas angin gantung. Laki-laki itu mengikutinya ke dapur.

“Mau minum apa, Pa?” tanya Olivia.

“Teh hijau tawar hangat saja, Liv,” Prima duduk di depan island.

Sambil menunggu mesin kopi selesai beroperasi, Olivia membuat semug minuman yang diminta ayahnya. Setelah selesai, disodorkannya mug itu pada Prima. Ia kembali ke mesin kopi. Secangkir espresso sudah siap. Tak lama kemudian, ia sudah menikmati affogato-nya di sisi island di sebelah kanan Prima.

“Pa, sungguh, aku khawatir banget kalau Papa sampai kurang istirahat,” ucapnya lirih. “Ayolah, Pa, jangan terlalu keras bekerja.”

“Iya, Papa tahu,” angguk Prima. “Nggak tiap malam juga, kok, Papa begadang. Ini tadi karena Papa nggak bisa tidur. Belum juga ngantuk. Makanya Papa putuskan turun dan buka laptop. Ngomong-ngomong, gimana tadi pestanya?”

“Meriah. Undangannya nggak terlalu banyak. Gedungnya juga nggak gede-gede amat. Tapi makanannya enak-enak.”

“Yang secantik kamu banyak?” Prima tersenyum lebar.

Olivia tergelak ringan. Ia mengibaskan tangan kirinya. Prima menyesap teh hijaunya.

“Papa saja terpesona lihat kamu, Liv, apalagi Mas Luken,” gumam Prima kemudian.

“Ah, apa, sih...,” Olivia tersipu.

Prima menatap Olivia. Dalam. Gadis itu berlagak sibuk dengan affogato-nya.

“Kamu dengan Allen itu... bagaimana?” tanya Prima dengan suara lembut.

Olivia mengangkat wajahnya. Tampak serius. Sedetik kemudian ia menggeleng.

“Papa sudah dengar sendiri ucapannya kemarin,” tatapan gadis itu meredup. “Hanya menjalani apa yang harus dijalani. Karena kemungkinan besar dia juga nggak akan terlalu lama berada di sini. Lagipula... kami belum lama berteman. Tapi justru aku senang dengan keterbukaan itu. Dia nggak PHP. Jadi seperti Papa pernah bilang, aku juga nggak menggantung harapan terlalu tinggi.”

Prima manggut-manggut mendengar curahan hati putri sulungnya. Tapi ia masih bermaksud mengusik lagi.

“Kalau... Mas Luken?”

Olivia menggeleng. “Aku nggak tahu, Pa. Rumit kalau sama dia, sih. Waktu aku dapat pesan yang ‘itu’ dan sesudahnya kita ngobrol, harapanku sempat membumbung tinggi. Tapi, kan, Papa tahu, nggak lama aku justru bertemu Allen. Saat Pak Luken masih tour. Aku belum pernah merasa setertarik itu pada seorang laki-laki. Jujur, aku terpesona pada Allen. Pada saat yang hampir bersamaan, Pak Luken pulang, dan kami segera saja terjebak dalam rutinitas pekerjaan, karena memang lagi banyak banget yang harus diurus dan diselesaikan,” Olivia tertunduk.

Prima mengulurkan tangan. Menggenggam hangat jemari Olivia.

“Selanjutnya aku nggak tahu gimana,” lanjut Olivia. “Ini juga Allen, kan, lagi siap-siap berangkat ke field besok. Bakalan tiga minggu di sana. Dia sudah bilang nanti pulang dari Papua mampir ke Toraja dulu. Dia juga sudah paham kalau aku cuma free di akhir minggu. Makanya dia masih tetap ingin manfaatkan waktu liburnya dengan eksplorasi ke tempat-tempat yang dia ingin kunjungi. Dan itu haknya.”

Prima menepuk-nepuk lembut punggung tangan gadis sulungnya.

“Papa percaya kamu bisa menakar perasaanmu sendiri,” ujarnya halus. “Kamu sudah dewasa. Bisa menjaga hati dan dirimu sendiri. Kalau memang harus memilih, pilihlah yang membuatmu lebih nyaman, membuatmu tenang, membuatmu tidak takut menjalani masa depan. Baik Mama maupun Papa, tidak ada yang mematok kamu harus menikah pada umur sekian atau secepatnya. Tidak ada,” Prima menggeleng tegas. “Yang penting kamu menemukan laki-laki yang tepat, saling setia, satu untuk selamanya.”

Olivia menatap ayahnya. Mengangguk mengerti. Prima tersenyum.

“Sudah hampir jam dua, Liv. Ayo, tidur. Oh, ya, besok mobilmu harus diservis rutin, ya?”

“Iya,” Olivia berdiri sambil membawa cangkir dan mug yang sudah kosong ke bak cuci piring. Dengan cepat dicucinya kedua benda itu. “Maxi tadi bilang dia yang mau servisin. Sama Papa?”

“Iya.”

Setelah Olivia mengeringkan tangan dengan sehelai serbet bersih, Prima mengulurkan tangan, merengkuh bahu putrinya. Sebelah tangannya menjangkau saklar. Lampu dapur padam seketika. Nyaris tanpa suara, keduanya menapaki anak tangga, kemudian masuk ke kamar masing-masing.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)

Thanks to Mas Chris Darmoatmojo

5 komentar:

  1. gregetan aku mbek pak luken.... ngomong ae wis. mslh duda, lek duren yo ora popo. opo maneh wis mapan, wis weruh de'e-ne sopo.... pilih2 tebu, lek oleh bongkeng yo emoh aku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuiihhh... Tebu bongkeng... Rasane piye???

      Hapus
  2. Ish Luken !
    Gari ngomong ae lo koq cik angele.
    Pinter authore ncen.
    Ngubek" emosie sing baca

    BalasHapus