Thursday, July 27, 2017

[Cerbung] Infinity #10










* * *


Sepuluh


Walaupun ditutupi rias wajah yang lebih meriah daripada biasanya, Olivia tidak bisa lagi menyembunyikan keletihannya. Gerak-geriknya lesu. Matanya tidak lagi bercahaya. Sandra menatapnya dengan prihatin.

“Mbak, mintalah izin untuk istirahat di rumah barang satu atau dua hari,” ucap Sandra halus.

Olivia menoleh sekilas. “Kemarin-kemarin aku sudah absen terlalu banyak, Bu,” jawabnya sambil terus mengetik.

Ketikan itu pun sebenarnya lebih banyak tidak beresnya. Berkali-kali ia harus menghapus ketikan yang salah. Memperlambat kerjanya. Membuatnya makin frustrasi.

Sandra diam-diam mendesah dalam hati. Ia hanya khawatir Olivia akan ambruk karena kelelahan yang sudah sedemikian menumpuk sejak beberapa bulan yang lalu. Kendati kondisi keluarga gadis itu sudah jauh membaik, tapi kelelahan fisik pastilah sudah telanjur terjadi. Ditambah dengan kejadian keracunan makanan minggu kemarin. Gadis itu pasti sudah terjungkir balik sedemikian rupa saat harus mendampingi Luken dalam melancarkan operasional kantor.

Ia tersentak ketika telepon di mejanya berbunyi lirih. Tapi ia kalah cepat. Olivia sudah menjawab panggilan telepon itu.

“Baik, Pak,” didengarnya ujung ucapan gadis itu.

“Bu,” Olivia menoleh ke arah Sandra. “Bapak minta berkas untuk Pak Yudi. Sudah selesai?”

“Oh, ya, ya,” Sandra berdiri sambil meraih map berwarna putih yang berkas di dalamnya sudah selesai ia kerjakan beberapa saat lalu.

* * *

Sandra duduk menunggu dengan sabar hingga Luken selesai membaca berkas yang tadi diminta. Beberapa menit kemudian Luken mengangguk sambil mengangkat wajahnya. Ditatapnya Sandra.

“Oke, Bu, minta tolong Livi menggandakan, ya? Terus nanti catatan yang kita bicarakan kemarin soal Pak Yudi, Ibu berikan pada Livi biar dia pelajari dulu sebelum besok meeting dengan Pak Yudi.”

“Mm...,” Sandra tampak ragu sejenak.

“Ya, Bu?” Luken menangkap aura lain wajah Sandra.

“Pak, mohon maaf sebelumnya,” Sandra menatap Luken. “Saya, kok, kali ini nggak yakin Livi bisa handle tugasnya.”

Luken mengerutkan kening. Menatap Sandra dengan sorot mata sangat serius.

“Saya takut Livi sakit, Pak. Hari ini tadi dia kelihatan lesu sekali. Nggak biasanya seperti itu. Saya khawatir kelelahannya selama berbulan-bulan pada akhirnya terakumulasi dan terpicu oleh kejadian minggu lalu.”

Pelan-pelan Luken menyandarkan punggungnya. Rasa bersalahnya timbul lagi. Ia kemudian mengangguk.

“Aku nggak ada jadwal lagi hari ini, ya, Bu?” gumamnya.

“Nggak ada, Pak,” Sandra menggeleng.

“Ibu bisa handle kerjaan Livi satu-dua hari ini?”

“Bisa, Pak,” Sandra menjawab tegas.

“Kalau begitu dia akan kuantar pulang sekarang,” Luken menatap sekilas arlojinya. Masih pukul setengah dua siang. “Kalau nggak diakalin, dia pasti menolak. Aku langsung pulang, ya, Bu. Titip kantor.”

Sandra tersenyum lebar. Wajahnya tampak lega.

* * *

Akhirnya...

Olivia menghela napas lega. Seharusnya pekerjaannya ini sudah selesai beberapa puluh menit yang lalu. Sayangnya otak, hati, dan gerakan tangannya hari ini seolah sama sekali tidak sinkron. Ia memutuskan untuk menunda mencetak dan menggandakan dokumen itu. Daripada lebih banyak lagi kesalahan.

Lagipula terpakainya masih Jumat lusa.

Ketika Olivia hendak mulai menyelesaikan pekerjaan berikutnya, Sandra dan Luken muncul. Luken duduk di depan meja Olivia. Ditatapnya gadis itu.

“Pekerjaanmu hari ini masih banyak?” tanyanya serius.

“Sudah selesai, Pak. Tapi belum saya cek ulang.”

“Ya, sudah, aku ada meeting mendadak. Bisa dampingi aku?”

“Bisa, Pak.”

“Tolong, sekalian bawa laptopmu, ya? Barangkali nanti ada data penting yang klien kita ingin tahu. Oh, ya, kita pakai mobilmu saja, ya?”


Olivia mengangguk walaupun agak heran dengan kemauan Luken yang tidak seperti biasanya. Tapi ia menuruti saja permintaan itu. Sudah terlalu penat untuk berpikir dan bertanya. Ia pun mematikan laptop. Dengan cepat diringkas dan dimasukkannya ke dalam tas semua barang pribadinya seperti biasa bila hendak keluar bersama Luken untuk meeting dengan pemasok maupun klien. Setelah menutup dan memasukkan laptop ke dalam tas khusus, ia menyempatkan diri menyimpan semua map berkas ke dalam lemari. Saat ia berbalik, Luken sudah membawakan tas laptopnya dan mulai melangkah ke arah tangga.

* * *

Merem saja kalau kamu mau, Liv,” ujar Luken sambil mulai menekan pedal gas mobil Olivia. “Nanti aku bangunkan kamu kalau sudah sampai.”

“Memangnya kita mau ke mana, Pak?”

“Cikarang,” jawab Luken, sekenanya. “Belum lagi macetnya.”

Dalam hati Olivia mendesah. Aduh... Kalau kayak gini terus, nggak lama lagi aku bisa ambruk... Maka ia memutuskan untuk menuruti ucapan sang boss. Ia mulai memejamkan mata.

Luken menoleh sekilas. Terlihat lega karena Olivia mau menuruti perkataannya. Dengan leluasa ia mengarahkan mobil itu ke jalur tujuan. Rumah Olivia.

* * *

Rasanya baru sedetik saja ia terlelap, tapi seseorang sudah membangunkannya. Gadis itu tersentak dan terjaga. Ada yang terasa ngilu dalam hati Luken ketika melihat wajah linglung Olivia yang seperti ini.

“Liv, kita sudah sampai,” ucapnya kemudian. Lembut.

Olivia menyipitkan mata sambil menegakkan punggungnya.

Lho, ini kan...?

Dengan bingung ditatapnya Luken. Laki-laki itu balas menatapnya. Dengan sorot mata dipenuhi penyesalan.

“Seharusnya aku tidak menipumu seperti ini, Liv,” gumam Luken. “Aku terpaksa membawamu pulang. Aku mengkhawatirkan keadaanmu. Kamu sudah terlalu lelah. Istirahatlah sampai besok.”

Luken keluar dari mobil untuk membuka lebar pintu pagar. Ia sengaja tidak membunyikan klakson. Olivia terhenyak. Dikerjapkannya mata berkali-kali. Berusaha mengumpulkan kembali semua pikiran dan ingatan yang sempat tercerai-berai. Setelah beberapa detik, barulah ia memperoleh kesadarannya kembali.

Luken kembali ke dalam mobil. Dalam beberapa detik, mobil itu kembali melaju dan berhenti di tempat biasanya. Olivia membuka pintu kiri depan. Luken mengambil laptop Olivia dari jok belakang. Setelah ia menekan alarm dan berbalik, ia tertegun. Olivia tengah menatapnya dengan pandangan yang sukar diartikan.

“Pak,” gumam Olivia, “terima kasih.”

“Ya, sama-sama,” angguk Luken. “Maafkan soal kemarin. Seharusnya aku bilang padamu kalau aku mau ke sini. Seharusnya aku lebih memahami kelelahanmu. Seharusnya...”

“Pak,” potong Olivia halus. “Terima kasih banyak. Mari masuk dulu.”

Luken bagai tersihir. Ia mengangguk dan mengikuti langkah Olivia.

* * *

Tujuan pertama Prima begitu sampai di rumah adalah kamar putri sulungnya. Bau harum hand and body lotion yang bercampur dengan aroma hangat minyak jahe menyergap hidungnya saat membuka pintu kamar Olivia. Ketika ia mendekat, dilihatnya gadis itu sudah terlelap, bergelung nyaman di bawah selimut.

Dengan lembut Prima mengecup kening Olivia, mengelus kepalanya, kemudian meninggalkan kamar itu. Putri sulungnya baik-baik saja, walaupun masih ada gurat kelelahan tersisa di wajah. Dihelanya napas lega. Seusai mandi, Prima turun dan bergabung dengan Maxi di ruang tengah.

“Tadi gimana ceritanya mbakmu, Max?” tanya Prima seraya meraih semug teh hijau hangat dari atas coffee table.

“Ya, habis Mama sama Mela berangkat jemput Papa, kan, aku mau ke tempat kost Donner. Lagi ambil jaket, tahu-tahu Mbak Liv nongol saja. Diantar Mas Luken. Kelihatannya memang loyo banget. Aku suruh Bik Muntik panggilin Mpok Ranti. Untung dia bisa langsung ke sini. Habis itu aku antar Mas Luken pulang. Daripada naik ojek online, kan. Aku suruh bawa mobil Mbak Liv juga dia nggak mau. Terus aku telepon Mama tadi itu.”

“Mpok Ranti siapa yang bayar?”

“Ya, akulah. Sampai aku pulang dari antar Mas Luken, Mpok Ranti masih ngurut Mbak Liv.”

“Nanti minta ganti sama Mama.”

“Nggak usah,” Maxi menggeleng tegas. “Kayak sama siapa saja.”

Prima tersenyum. Saat itu Arlena muncul dari dapur. Carmela masih sibuk menata meja makan. Perempuan itu duduk di sebelah Prima.

“Mbak Liv belum makan, ya, Max?” tanya Arlena.

“Belum, Ma. Tengah-tengah diurut sudah telanjur pulas.”

“Ya, sudah, habis ini biar Mama belikan roti sama susu kotak di minimarket.”

“Nanti kuantar,” Prima menepuk lembut punggung tangan Arlena.

Perempuan itu menyambut ucapan sang suami dengan seulas senyum.

“Oh, ya,” celetuk Maxi, “Mas Luken tadi pesan, Mbak Liv besok nggak boleh masuk kantor. Boleh masuk lagi kalau sudah benar-benar pulih.”

“Oh, oke,” angguk Arlena.

“Besok aku saja yang antar Papa, Ma. Sekalian siangnya aku antar katering dari Budhe.”

Arlena kembali mengangguk.

“Makanan sudah siap, nih!” seru Carmela dari arah ruang makan.

Mereka bertiga beranjak nyaris bersamaan untuk mengurusi kebutuhan perut.

* * *

Tiba-tiba saja Olivia terjaga. Kamarnya sudah gelap. Hanya ada berkas-berkas sinar lampu yang berasal dari luar. Ia menyipitkan mata. Mendadak saja ia diserang rasa lapar yang luar biasa. Dengan setengah meraba ia berusaha menemukan jam beker digital di atas nakas. Hampir pukul satu dini hari.

Dengan malas ia beringsut dari balik selimut. Ia masih mengenakan kemben. Bukan waktu yang tepat untuk mandi. Maka ia hanya akan mengganti kemben itu dengan celana pendek dan tank top saja. Untuk itu ia menyalakan lampu. Yang pertama dilihatnya adalah lemari baju. Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, ia beranjak ke kamar mandi. Saat itulah tatapannya jatuh pada nampan di atas meja tulisnya. Ia mendekat.

Ada tiga buah roti aneka isi di atas nampan itu. Juga semug besar wedang jahe yang sudah dingin. Plus, dua buah susu kotak berukuran 200 ml. Di bawah mug ada sehelai kertas catatan. Diraihnya kertas itu.

‘Selamat makan, Liv. Habiskan semua biar tidurmu nyenyak. Besok nggak usah bangun pagi-pagi. Kamu dapat cuti dari Mas Luken. Jangan bandel!
Papa’

Olivia tersenyum. Ia memutuskan untuk makan roti dan minum susu dulu sebelum berganti baju dan menggosok gigi. Ketika keluar dari kamar mandi, pintunya diketuk dari luar dengan suara sangat lembut.

“Liv...”

Samar-samar didengarnya suara itu. Olivia buru-buru membuka pintu.

“Ya, Ma?”

“Sudah bangun? Lapar?” Arlena menatapnya dengan khawatir.

“Sudah aku makan rotinya. Susunya juga sudah kuminum satu.”

“Kamu mau makan nasi? Biar Mama panasi sayur sama lauknya. Masih ada sup kacang merah, perkedel, rolade, kerupuk udang.”

Mendengar sederet menu menggiurkan itu, Olivia menyerah. Arlena segera menggandeng tangan si gadis sulung dan menyeretnya ke bawah. Sambil menguap lebar, Olivia duduk di depan island.

“Sudah lebih enak badanmu?” tanya Arlena seraya sibuk mendidihkan sup, dan menghangatkan kembali perkedel dan rolade di dalam microwave.

“Sudah,” angguk Olivia. “Mau mandi, kok, sudah jam segini.”

“Pakai air hangat,” Arlena menoleh sekilas. “Setelah itu Mama baluri lagi punggungmu sama minyak jahe, biar kamu bisa pulas lagi tidurnya. Nggak usah mikir besok pagi mau bangun jam berapa. Matikan saja semua alarm.”

“Mama, kok, belum tidur?” tanya Olivia sambil beranjak untuk mengambil sepiring nasi.

“Tadi samar-samar dengar suara air dari kamar mandimu. Mama khawatir kamu nggak lihat roti di meja.”

Sejenak kemudian Olivia sudah menikmati makanannya. Terasa sangat enak di lidah. Arlena menungguinya sambil membuat dua cangkir wedang jahe hangat. Disodorkannya salah satu pada putri sulungnya. Ia kemudian duduk di seberang. Dicomotnya sebuah perkedel dan dimakannya.

Olivia tersenyum samar melihat Arlena. Tampak sangat mengantuk, tapi masih tetap berusaha untuk mengurusnya dengan baik. Ia ingat betapa dengan lembut Arlena mengurut punggungnya Senin menjelang malam. Tidak terlalu berefek, tapi dengan jelas ia merasakan kesungguhan dan kasih sayang Arlena.

Selesai makan, ia mengikuti anjuran Arlena untuk mandi air hangat. Benar! Tubuhnya jadi makin segar. Punggungnya terasa sangat hangat dan nyaman setelah Arlena membalurkan minyak jahe. Pelan-pelan kantuknya pun datang lagi.

Begitu Arlena keluar dari kamar, Olivia mematikan semua alarm dan kembali bergelung di bawah selimut. Terlelap lagi. Bahkan bermimpi tentang...

Allen...

Ia menggumamkan nama itu dalam tidurnya.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)


3 comments:

  1. kok allen? luken gitu loh.... ferotess berat aku mbak. mas luken luwih apik, biarpun duren. mbayangno seganteng ari wibowo ato kim soo hyun....

    ReplyDelete
  2. Adududu mimpie Livi koq Allen ?
    Ngene qi lo kambek mb Lis sing baca dibanting" emosie.
    Isoooook ae pean mb Lis !

    ReplyDelete