Monday, July 10, 2017

[Cerbung] Infinity #5



Lima


Suasana kantor benar-benar meriah pagi itu. Luken dan Sandra sudah kembali. Para staf mendapat oleh-oleh sederhana berupa gantungan kunci dan magnet kulkas. Walaupun terlihat remeh, tapi mereka menerimanya dengan gembira. Sandra memeluk erat Olivia yang sudah lebih dari dua minggu tak ditemuinya.

“Aku kesepian nggak ada Ibu,” bisik Olivia.

“Oh...,” Sandra memeluknya lagi. “Tapi semua baik-baik saja, kan?”

Olivia mengangguk. “Soal perkerjaan, jangan khawatir, Bu. Aku cukup bersenang-senang, kok, dengan Pak James.”

Sandra tersenyum lebar. Saat ini, James sedang berada di dalam ruang kerja Luken. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi hingga lewat dari pukul sembilan pagi, keduanya belum juga keluar. Olivia dan Sandra bekerja sambil sesekali mengobrol. Tapi lama-lama keduanya tenggelam dalam hening karena terseret kesibukan.

Pada saat seperti itu, baru Olivia menyadari bahwa ia sebenarnya rindu sekali pada Luken. Dan tadi pagi, saat ia melihat lagi laki-laki itu, seolah ada aliran semangat baru yang terpompa masuk tanpa bisa dikendalikan ke dalam hatinya.

Ia menemukan kerinduan yang sama dalam mata Luken. Tapi kondisi sekeliling mereka tak memungkinkan untuk menampung semua luapan rasa rindu itu. Karenanya keduanya terpaksa menahan diri. Cukup saling mengetahui bahwa keduanya baik-baik saja seperti dua minggu lalu saat terakhir bertemu. Itu sudah membuat keduanya merasa lega.

Bunyi pesawat telepon di meja membuat lamunan Olivia terputus. Dengan gerakan cepat ia mengangkat gagang telepon itu.

“Selamat pagi, dengan Olivia, di sini,” sapanya ramah.

“Liv, tolong, ke ruang kerjaku sekarang ya? Makasih.”

“Baik, Pak.”

Olivia meletakkan gagang telepon sambil berdiri. Ia menoleh ke arah Sandra.

“Bu, aku dipanggil Bapak. Sebentar, ya?”

“Oh, oke,” angguk Sandra.

Olivia pun melangkah ke arah ruang kantor Luken.

* * *

“Mbak Liv...”

Suara halus itu membuat Sandra menoleh. Ia mendapati Lila melangkah mendekat dari arah tangga. Di tangan gadis itu ada sebuah tas kertas cukup besar. Ia terus melangkah ke meja Olivia yang kosong.

“Lho, Mbak Liv mana, Bu?” tanya Lila sambil meletakkan barang bawaannya tepat di sebelah laptop Olivia.

“Lagi dipanggil Pak Luken. Apa itu, Mbak Lil?” Sandra mendongak dengan wajah heran.

“Kiriman, Bu, diantar Great-Send,” senyum Lila.

“Buat Pak Luken? Pak James?”

“Bukan,” Lila menggeleng. “Itu buat Mbak Livi.”

“Dari?”

“Wah, nggak tahu, Bu. Aku nggak tanya,” jawab Lila dengan wajah menyesal.

Sejenak kemudian gadis itu pamit. Tak enak meninggalkan mejanya lama-lama. Sepeninggal Lila, Sandra sejenak menatap tas kertas itu, yang bergambar logo sebuah toko souvenir di Bali.

* * *

Apalagi yang mereka bertiga bicarakan kalau bukan soal pekerjaan? James secara singkat namun cukup rinci memaparkan semua laporan pekerjaannya pada Luken. Sesekali ia bertanya pada Olivia, kalau-kalau ada yang tertinggal. Terakhir, Luken menandatangani berkas pertanggungjawaban James tanpa berkomentar. Ia percaya sepenuhnya pada sang paman. Bukankah sesungguhnya perusahaan ini masih milik James Sudianto? Ia hanya diberi kepercayaan untuk meneruskan jalannya saja.

“Liv,” ujar James tiba-tiba, “aku sudah bilang boss-mu. Sewaktu-waktu aku butuh kamu untuk menata ulang rencanaku kemarin itu, boss-mu membolehkan aku untuk pinjam kamu.”

“Oh...,” senyum Olivia. “Siap kalau begitu, Pak.”

Tatapan James beralih pada Luken. “Ya, sudah, Luk, aku pamit dulu. Nanti kalau ada kabar soal ruko sekolah musik di seberang itu, tolong, segera hubungi aku.”

“Tunggu sekalian setelah makan sianglah, Om,” cegah Luken. “Nanti aku antar ke hotel, terus ke bandara.”

“Sudah hampir jam sebelas ini, Luk,” James menatap arlojinya sejenak. “Aku harus check out jam dua belas.”

“Kalau begitu aku antar saja sekarang ke hotel, Om. Check out, setelah itu balik lagi ke sini. Kita makan siang dulu di sebelah.”

Setelah berpikir sejenak, James pun menyetujui usul keponakannya. Sebelum pergi, Luken berpesan pada Olivia agar melakukan reservasi di resto langganan mereka di sebelah kantor.

“Buat berempat ya, Liv. Sekalian sama kamu dan Bu Sandra. Nanti kalau jam dua belas kami belum balik, kalian langsung saja ke resto. Kita ketemu di sana.”

Olivia mengangguk patuh. “Baik, Pak.”

Mereka bertiga beriringan keluar dari kantor Luken. Olivia menuju ke mejanya, sedangkan Luken dan James langsung menuruni tangga. Kening Olivia berkerut melihat sebuah tas kertas bertengger manis di atas mejanya.

“Apa ini, Bu?” ditatapnya Sandra.

“Nggak tahu, Mbak. Kiriman buatmu,” jawab Sandra sambil terus bekerja.

Pelan-pelan Olivia menurunkan tas kertas itu dari atas meja dan meletakkannya di bawah, di dekat kaki.

“Nggak dibuka, Mbak Liv?” tiba-tiba Sandra menoleh. Nyengir dengan wajah menggoda.

Olivia hanya menanggapinya dengan tawa ringan. Walaupun hatinya dilanda rasa penasaran yang sangat, tapi akan lebih baik kalau sabar menunggu hingga waktunya tiba. Lagipula ia masih punya tugas. Menelepon resto sebelah untuk melakukan reservasi.

Sekejap Olivia seolah dilanda deja vu. Kembali masuk ke atmosfer minggu lalu saat ia melakukan konfirmasi sebelum menyambut kedatangan Mr. Byrne. Allen Byrne, bagaimana kabarmu? Pikirannya melantur saat menunggu pihak resto menjawab panggilan teleponnya. Dan ia sedikit tersentak ketika mendengar sahutan dari seberang sana.

Urusan itu beres lima menit kemudian. Ketika hendak mengambil berkas dari dalam lemari, Olivia tersandung sesuatu. Ia melihat ke arah bawah dan menemukan tas kertas yang sempat membuat dirinya sangat penasaran itulah yang sedikit menghambat langkahnya. Tapi ia melanjutkan maksud menuju ke lemari berkas.

Setelah kembali lagi ke tempat duduknya, tas kertas itu seolah-olah melambai minta diperhatikan. Olivia melirik ke arah Sandra. Perempuan itu sedang sibuk menerima telepon. Dengan ragu-ragu, Olivia memundurkan sedikit kursinya, kemudian menaikkan tas kertas itu ke pangkuan.

Ia mulai membuka tas kertas itu. Ada kotak di dalamnya. Cukup besar hingga memenuhi tas itu. Pelan-pelan ditariknya kotak itu keluar. Dengan jantung berdebar dibukanya kotak berwarna abu-abu muda dengan hiasan pita berwarna perak yang tersimpul manis.

Isi kotak itu ternyata dua lembar kain yang masing-masing terlipat rapi di dalam kertas tipis berwarna putih. Kain batik sutra Bali di atas, dan kain tenun Lombok yang sangat halus di bagian bawah. Di bawah lipatan kain tenun Lombok itu ada sebuah kotak lagi. Ketika ia mengintip dalamnya, tampaklah satu set perhiasan mutiara yang sekilas saja sudah cukup membuat mata gatal. Tapi Olivia buru-buru menutupnya kembali.

Ketika merapikan kembali isi kotak itu, ia menemukan sehelai kartu putih di antara tumpukan kedua kain. Kartu itu seukuran kartu pos dengan tepiannya bergambar sulur-sulur bunga lily berwarna perak yang di-emboss. Sangat cantik! Tulisan yang tertera pada kartu itu pun tampak cukup rapi.

‘Olivia, semoga kamu suka kain-kain dan mutiara cantik ini.
Bisakah sore ini kita bertemu lagi? Jam kerjaku berakhir pukul empat. Tapi mungkin butuh waktu untuk mencapai kantormu. Bila berkenan, silakan mengabariku ke nomor ini : 081x-xxxx-xxxx.
Salam,
Allen Byrne’

Oh, my...

Olivia seketika terhenyak. Ia menutup mulut dengan tangan kirinya.

Allen Byrne? Gosh...

Tanpa berpikir panjang, Olivia menyimpan nomor itu di dalam memori ponselnya. Ketika ia memeriksa lagi, nomor itu ada di dalam daftar kontak Whatsapp. Plus foto profil yang mengandung senyum dan sorot mata yang begitu memikat. Segera saja ia mengirimkan pesan. Sesudahnya ia menarik napas lega, dan bermaksud melanjutkan pekerjaannya, masih dengan senyum tersimpul di bibir.

“Ehem!”

Suara deheman itu membuat Olivia tersentak. Ia menoleh dan mendapati Sandra tengah menatapnya dengan sorot mata menggoda.

“Kelihatannya ada yang terlewat belum diceritakan?” Sandra memiringkan sedikit kepalanya.

Sekejap Olivia tersipu. Tapi ia belum ingin bercerita apa-apa soal ‘itu’ pada Sandra. Dengan ekspresi wajah menyesal, ditatapnya Sandra.

“Maaf, Bu,” ucapnya. “Aku belum bisa cerita.”

Sandra tersenyum mengerti. Olivia mengembalikan kotak itu ke dalam tas kertas, dan meletakkannya lagi di dekat kaki. Sekuat tenaga ia berusaha mengumpulkan konsentrasi yang sempat terburai, dan mencurahkannya kembali pada pekerjaan yang sudah menunggu untuk diselesaikan.

* * *

Seperti biasa, beberapa menit lewat dari pukul empat, Sandra meninggalkan kantor. Selesai makan siang tadi, Luken tidak kembali ke kantor karena langsung mengantar James ke bandara. Olivia masih membereskan beberapa berkas yang dibawa Luken pulang dari Eropa. Ia mengerjakannya dengan santai sekadar untuk melewatkan waktu. Janji pertemuannya dengan Allen nanti paling cepat pukul lima. Akan dilakukan di sebuah kafe dekat kantor Olivia. Perlu waktu untuk mencapai daerah Tebet dari Sudirman, tempat kantor Allen berada.

Tepat pukul lima, Olivia meringkas semua barangnya. Tak lupa ia meraih tas kertas yang masih ada di dekat kakinya. Lima menit kemudian ia sudah meluncurkan mobilnya keluar dari halaman Coffee Storage.

* * *

Pesawat yang akan membawa James ke Jogja baru akan berangkat dua jam lagi. Luken dan James menghabiskan waktu dengan mengobrol di sebuah coffee shop. Pembicaraan dari hati ke hati. Antara paman dan keponakan, sama sekali bukan pembicaraan bisnis.

“Nanti sepulang dari sini, aku akan ke rumahnya, Om,” ucap Luken setelah menyesap esspreso-nya. “Mau kasih oleh-oleh buat mereka.”

“Kejutan?” senyum James.

“Kejutan,” angguk Luken, mantap.

“Tapi kamu harus tetap ngomong, Luk,” gumam James. “Menyatakan dengan kata-kata. Soal diterima atau ditolak seperti aku dulu, ya, itu nasib. Mau nggak mau harus diterima dengan lapang dada.”

Lukan mengangguk singkat.

* * *

Ketika hendak memasuki area parkir kafe, city car Olivia mengantre di belakang sebuah mobil crossover berwarna biru. Dengan sabar ia mengikuti arahan tukang parkir agar menghentikan mobil di dekat si biru. Ia dan pengemudi mobil biru itu bersamaan keluar. Mereka bertatapan sejenak sebelum menyapa dengan mata dipenuhi binar.

“Olivia!”

“Allen!”

Tanpa bisa dikendalikan, keduanya berpelukan sejenak, seolah dua orang sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Allen kemudian menggandeng Olivia masuk ke dalam kafe.

“Kamu suka kain-kain itu, Liv?” Allen menatap Olivia dengan mata penuh harap.

“Oh, Allen, oleh-olehmu indah sekali! I like it! I like it! Terutama perhiasan mutiaranya. Bagus sekali!”

Allen tertawa melihat ekspresi Olivia. Polos seperti anak kecil. Dengan keceriaan dan kecantikan yang memancar dari dalam dirinya. Dan mata abu-abu kehijauan Allen seketika menghanyutkan Olivia dalam lautan entah yang membuatnya begitu terbuai. Keduanya kemudian tenggelam dalam berbagai topik pembicaraan yang membuat mereka hampir lupa waktu.

“Hari Jumat nanti, bisakah kita bertemu lagi?” tanya Allen sebelum keduanya berpisah di tempat parkir. “Kita mengobrol lagi. Kamu tentukan tempatnya, ya.”

Olivia segera mengangguk tanpa pikir panjang.

* * *

Jantung Olivia mendadak saja berdebar kencang ketika ia membelokkan mobil masuk ke carport melalui pintu pagar yang terbuka lebar. SUV Luken terparkir di depan pintu garasi. Sekilas Olivia melirik jam digital di dashboard, menunjukkan angka 09.07 PM.

Setelah berpikir sejenak, gadis itu memutuskan untuk masuk ke dalam rumah melalui garasi. Tidak melewati pintu ruang tamu yang terbuka lebar. Tanpa suara, ia meletakkan hobo bag, tas laptop, dan sebuah tas kertas di atas sofa tunggal terdekat di ruang tengah. Saat hendak beranjak untuk mengganti baju, Arlena muncul dari arah depan.

“Ditungguin, tuh, sama Pak Luken,” celetuk Arlena, lirih. “Mama mau jelasin juga gimana? Kamu WA Mama juga cuma bilang kalau pulang telat karena mau ketemuan sama teman.”

“Tadi di kantor juga ketemu,” gumam Olivia, membatalkan niatnya masuk ke kamar lebih dulu.

Ia kemudian melangkah ke ruang depan diiringi Arlena. Dengan munculnya Olivia, satu per satu anggota keluarga Arbianto menghilang dari ruang tamu. Tapi Luken tidak lama bertahan. Malam makin merambat naik. Dan sepertinya Olivia sudah mulai tidak fokus dengan obrolan mereka.

Mungkin dia letih.

Maka Luken pun memutuskan untuk berpamitan menjelang pukul setengah sepuluh. Olivia mengantarnya sampai ke mobil.

“Sampai ketemu besok, Liv,” senyum Luken sebelum menutup kaca jendela mobil dan meluncur pergi.

Hanya ada Prima dan Arlena di ruang tengah ketika Olivia masuk. Keduanya tampak berbincang sambil menonton televisi. Olivia meneruskan langkahnya ke dapur untuk mengambil minum. Beberapa saat kemudian, gadis itu kembali lagi dengan segelas air dingin berada di tangannya. Dengan santai ia duduk di sofa tunggal dekat Prima. Mengarahkan tatapannya ke layar televisi.

“Dapat oleh-oleh khusus, nih,” goda Prima sambil meraih tas kertas tepat di sebelahnya.

Terlambat bagi Olivia untuk mencegah. Prima sudah mengeluarkan kotak dari dalam tas kertas itu.

Gede banget oleh-olehnya, Liv?” gumam Prima.

Tapi laki-laki itu terbengong ketika melihat isi kotak. Olivia terdiam.

“Lho, kok?” Prima menatap Olivia.

Gadis itu meringis dengan ekspresi jengah.

“Siapa bilang itu oleh-oleh dari Pak Luken?” gerutunya.

Arlena tertawa ringan. Ia ikut melongok ketika Prima membuka kotak itu. Isinya kain etnik. Jelas bukan oleh-oleh dari Eropa. Prima kemudian mengembalikan kotak dan tas kertas itu ke tempat semula.

“Dari siapa, Liv?” Arlena mencoba bertanya.

“Mm... Anak klien yang minggu kemarin datang ke kantor,” jawab Olivia sambil berdiri.

Diletakkannya gelas di atas coffee table. Ia meraih barang-barangnya dan berpamitan.

“Aku ke atas dulu, ya, Ma, Pa. Gerah banget ini. Mau mandi dulu.”

“Habis mandi langsung istirahat saja, Liv,” ucap Prima lembut

Gadis itu mengangguk patuh. Prima tersenyum begitu Olivia melenggang pergi. Arlena menyenggol lengannya.

“Yang orang Kanada itu?” bisiknya.

“Kayaknya iya,” Prima balas berbisik.

Sekejap Prima dan Arlena saling menatap. Seketika itu juga, Prima menangkap sinar kekhawatiran melompat keluar dari mata Arlena.

* * *

Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)

2 comments: