Saturday, January 21, 2017

[Cerbung] Affogato #4-3








Sebelumnya  



* * *


“Miko nggak apa-apa kalau kamu sering keluar sama aku begini, Liv?” celetuk Luken sambil menatap jalanan di depan mereka. Wajahnya tampak serius.

“Selama ini, sih, belum pernah mengeluh,” Olivia menoleh sekilas. “Lagipula dia cukup paham pekerjaan saya, kok, Pak. Jadi... nggak ada masalah sama sekali.”

“Hm... Juga seandainya aku ajak kamu keluar setelah meeting ini nanti? Maksudku, sekalian kita keluar, kamu bantu aku pilih kado buat Bu Sandra.”

“Oh... Boleh, Pak,” sahut Olivia.

“Tapi sebaiknya kamu kasih tahu Miko dulu, biar nggak salah paham.”

“Baik, Pak.”

Olivia kemudian mengeluarkan ponsel dari tasnya. Segera saja tangannya sibuk menuliskan pesan untuk Miko.

‘Mas, aku lagi ikut boss meeting di luar. Dia ajak aku sekalian beli kado ultah buat Bu Sandra setelah meeting. Boleh, kan?’

Jawabannya ia peroleh tak lama kemudian. ‘Iya, Liv. Aku percaya sama kamu, kok. Salam buat boss-mu, ya...’

Olivia tersenyum membaca pesan balasan itu. Ia kemudian menoleh ke arah Luken.

“Ada titipan salam dari Mas Miko buat Bapak,” Olivia tersenyum simpul.

“Oh?” Luken menoleh sekilas. Tersenyum. “Salam kembali.”

Senyum Olivia melebar. Luken membelokkan mobilnya ke halaman hotel tujuan. Tak lama kemudian, keduanya sudah duduk di dalam coffee shop di dalam hotel berbintang lima itu. Sambil menunggu calon klien datang, Luken memeriksa kembali berkas yang dibawa Olivia. Tak ada kesalahan sedikit pun. Luken tersenyum puas.

* * *

Ibu yang benar-benar baik tentunya tidak terlalu banyak mencari kesenangan di luaran, termasuk di dunia maya. Saya percaya anak-anak Ibu adalah anak-anak yang baik, istimewa, bahkan sempurna. Tapi sebaiknya Ibu berterima kasih pada suami Ibu, yang sudah melakukan semua yang seharusnya Ibu lakukan bersamanya, bukan malah membanggakan diri sendiri seperti yang sudah Ibu lakukan selama ini. Dan seharusnya Ibu malu pada diri sendiri, juga pada orang-orang yang sudah Ibu bohongi dengan artikel-artikel Ibu yang gegap gempita itu.


Wajah Arlena merah padam membaca komentar yang tiba-tiba saja muncul di bawah artikel terbarunya tentang keharmonisan keluarga. Dalam hati ia menyumpah-nyumpah.

Sialan! Siapa dia?

Komentar itu dituliskan oleh akun bernama Paitun. Entah siapa yang ada di balik akun itu. Bisa siapa saja. Kemungkinan besar adalah salah satu di antara gerombolan haters-nya. Diam-diam ia mencibir. Sebagai seorang yang populer, selalu ada pemuja di satu sisi, dan pembenci di sisi lain.

Dengan sekali klik, akun bernama Paitun itu sudah terbuka di layar laptopnya. Akun itu baru saja dibuat. Belum pernah menuliskan artikel satu pun. Tidak ada profile picture, tidak ada biodata, dan belum ada jaring pertemanan. Tampaknya akun itu sengaja dibuat untuk menyerangnya. Bibir Arlena mencebik.

Memangnya aku nggak bisa menelusuri siapa kamu? Huh! Bodoh!

Segera saja ia meraih ponsel dan mengetikkan pesan.

‘Robin, bisa minta tolong untuk menelusuri salah satu akun baru? Namanya Paitun. Aku ingin tahu di mana lokasinya.’

Perlu beberapa waktu lamanya untuk menerima balasan dari orang bernama Robin itu. Arlena meringis.

Hanya perlu sedikit usaha jadi orang ngetop untuk menguasai admin BlogSip.

Dan Robin adalah salah satu pengagumnya. Mereka pernah sekali bertemu pada suatu acara kopi darat. Otak Arlena jelas-jelas bisa menangkap binar bangga dan mendamba di dalam mata pemuda bernama Robin itu. Dan setelah itu, semuanya jadi lebih mudah. Selanjutnya setiap artikel yang ditulis Arlena minimal tampil di kolom ‘Tersoroti’. Membuat BlogSip mendulang ribuan klik yang menyerbu artikel Arlena pada satu waktu tertentu. Otomatis rating BlogSip pun terkerek naik.

‘Baik, Tante. Nanti aku telusuri.’

‘Bisa menghapus komentar sialan itu?’

“Maaf, nggak bisa, Tante. Sistemnya nggak memungkinkan.’

Arlena mengerucutkan bibirnya.

Sistem...

Kalau yang satu itu ia menyerah. Memang sudah jadi sistem di BlogSip bahwa yang bisa menghapus komentar yang sudah telanjur masuk dan tertayang adalah si penulis komentar itu sendiri. Selain itu, tidak ada unsur kata kasar dan penghinaan vulgar di dalamnya, yang bisa membuat admin turun tangan menghapusnya.

Komentar-komentar pedasku yang cenderung berisi bully-an pun nggak ada yang dihapus admin...

Arlena menghembuskan napasnya keras-keras. Ia mengalihkan tatapan ke luar jendela kantor kecilnya. Tiba-tiba saja direnunginya segenap kantornya itu.

Sesungguhnya, bisnisnya ini tidak menghasilkan apa-apa. Hanya impas untuk biaya operasional. Awalnya usaha penyaluran ART ini memang cukup menjanjikan. Tapi lama-lama hanya ramai saat mendekati musim Lebaran, ketika banyak orang membutuhkan ART infal. Hanya saja jaringan pertemanan yang berhasil ia bentuk bisa membuatnya bergerak lebih leluasa.

Awalnya ia hanya menjadi perantara jual beli berlian sambil tetap menjalankan usaha lamanya itu. Tapi ia tak puas hanya berada di level calo. Dengan mempertaruhkan seluruh tabungan yang ia miliki, ia punya modal untuk mengadakan transaksi jual-beli sendiri. Tentu saja keuntungannya jauh lebih berlimpah. Apalagi ia berhasil mempertahankan reputasinya sebagai pedagang berlian bersertifikat asli. Sesuatu yang ia tak mau memainkannya, karena ia tahu itulah modal yang harus ia miliki selain uang.

Denting ponsel membuat lamunan sesaatnya terputus. Dengan malas, ia meraih ponsel itu. Bibirnya langsung cemberut begitu membaca pesan yang masuk dari Robin.

‘Maaf, Tante, IP address akun Paitun asalnya dari Kanada. Sudah dua kali saya cek. Hasilnya sama.’

Arlena mendengus kesal.

Dasar Robin nggak berguna!

Arlena melemparkan ponselnya ke atas meja. Tapi ia terpaksa meraihnya kembali ketika benda itu berbunyi.

‘Jeng Lena, saya sudah transfer pelunasan kalung saya, ya? Tolong dicek. Makasih.’

Sungguh-sungguh pesan pendek yang menggugah semangat. Sejenak kemudian ia memeriksa rekening melalui aplikasi e-banking di ponsel. Benar, sudah ada tambahan dana yang masuk. Ia segera membalas pesan dari istri salah seorang pengusaha transportasi itu.

Begitu pesan itu terkirim, ia menggeliat. Setelah itu ia meringkas laptop beserta barang-barang pribadinya, dan memasukkannya ke dalam sebuah satchel bag berwarna biru donker yang sewarna dengan wedges-nya. Sekilas ia melirik arloji. Sudah hampir pukul tiga. Saatnya meninggalkan kantor untuk bersenang-senang bersama Virnie, temannya menghabiskan senja dari kafe ke kafe.

* * *

Tanpa sadar bibir Prima mengulas senyum ketika membaca sebuah komentar penuh sindiran yang tersemat di bawah artikel terbaru Arlena. Pekerjaannya untuk hari ini sudah selesai walaupun akhir jam kantor masih sejam lagi. Sekeluarnya ia dari kantor boss besar, iseng-iseng ia membuka BlogSip.

Ia memang memiliki sebuah akun dengan nama alias di sana. Tapi hanya sekadar meramaikan musim kompetisi sepak bola dalam dan luar negeri dengan menyumbang beberapa artikel ringan yang terkadang mendulang cukup banyak pembaca.

Sudah ada yang berani menguak topengnya. Mungkin suatu saat giliranku.

Tapi ia malas untuk melanjutkan berselancar di BlogSip. Blog yang satu ini lama-lama membosankan juga karena isinya didominasi oleh Arlena dan rombongan sirkusnya. Ia memilih untuk membuka web jurnalisme warga lain yang isinya jauh lebih elegan, aktual, dan cukup representatif.

* * *

Mendekati pukul empat, pertemuan itu selesai. Sudah bukan calon klien lagi sekarang, karena mereka sudah setuju untuk bekerja sama. Dengan langkah ringan, Luken dan Olivia meninggalkan coffee shop hotel.

“Saatnya kita kencan!” seru Luken sambil menghidupkan mesin mobilnya.

Olivia terbengong sejenak sebelum melepaskan tawa melihat ekspresi Luken yang seperti anak kecil mendapat mainan baru itu. Luken sendiri langsung tersadar begitu mendengar tawa empuk Olivia. Ia menoleh.

“Klien besar ini, Liv...,” ujarnya dengan wajah sedikit tersipu.

Sekuat tenaga Olivia berusaha untuk menahan tawanya. “Iya, Pak, pahaaam...”

Luken tergelak ringan sambil mulai melajukan mobilnya meninggalkan tempat parkir.

“Jadi gimana ini, Liv? Aku belikan tas saja, ya? Kamu yang pilih mana yang cocok untuk Bu Sandra.”

“Siap, Pak.”

“Enaknya ke mana, kita?”

Olivia menyebutkan nama sebuah pusat perbelanjaan yang memiliki gerai tas buatan lokal bermutu papan atas. Luken segera menyetujuinya. Ke sanalah ia mengarahkan mobilnya.

* * *

“Pokoknya aku sudah mengingatkanmu, lho, Len,” ucap Virnie sambil menyesap marocchino-nya. “Kalau kamu terlalu ekspos kehidupan sempurnamu yang cuma khayalan itu, bisa jadi orang-orang yang selama ini nggak senang terhadap sepak terjangmu, bakal menemukan celah untuk menyerangmu. Buktinya sudah ada yang berkomentar pedas kayak gitu.”

“Kamu sudah baca juga, rupanya?” gumam Arlena sambil menyuapkan sepotong kecil lemon cheese cake ke dalam mulutnya. Terkesan acuh tak acuh.

Virnie menghela napas panjang. Sejujurnya, ia tak begitu peduli terhadap apa yang mungkin akan dihadapi Arlena sebagai risikonya berselancar di BlogSip. Ia tak peduli juga dengan kehidupan pribadi Arlena. Baginya, Arlena cuma sekadar teman menghabiskan waktu sore harinya dengan ngopi atau shopping atau sekadar membuang napas dengan mengobrolkan hal-hal tak penting. Tidak lebih, tidak kurang.

IP address-nya dari luar. Kanada. Nggak bisa terlacak lagi,” lanjut Arlena.

Virnie mengedikkan bahunya sedikit. Tepat saat itu, mata Virnie menangkap bayangan sosok yang dikenalnya. Dicoleknya tangan Arlena.

“Itu bukannya anakmu?” gumam Virnie.

Arlena mengikuti arah tatapan Virnie dan mendapati Olivia tengah melenggang masuk ke dalam kafe itu bersama Luken.

“Busset! Ganteng bener pacar anakmu, Len!” pekik Virnie tertahan.

Arlena mengibaskan tangannya. “Boss-nya itu, bukan pacarnya.”

“Wuh! Kelihatannya mature banget,” desah Virnie.

Arlena tak menjawab. Ia justru sibuk dengan ponselnya.

* * *

Luken menatap Olivia setelah selesai membayar tas untuk Sandra. Gadis itu berdiri menyisih dari antrean di depan kasir.

“Kita makan dulu, ya, Liv,” sekilas Luken melihat ke arah arlojinya. Menjelang pukul enam sore. “Aku lapar.”

Olivia ragu-ragu sejenak. Sebetulnya ia masih agak kenyang karena sempat menikmati masing-masing sepotong spring roll dan mini pao saat meeting tadi. Tapi melihat betapa seriusnya wajah Luken, Olivia tak kuasa menolak.

“Perasaan tadi Bapak ngemilnya lumayan heboh?” Olivia nyengir.

“Aku masih dalam masa pertumbuhan ini, Liv,” Luken tergelak sambil menggamit siku Olivia dan mulai melangkah.

Olivia pun ikut tergelak. Dijajarinya langkah Luken. Laki-laki itu membawanya masuk ke sebuah kafe yang diketahuinya menyajikan aneka makanan dengan rasa menggugah selera. Mereka mengambil sebuah tempat di sudut, di sofa yang nyaman. Belum lama mereka duduk, ponsel Olivia berbunyi.

“Maaf, Pak, sebentar,” Olivia mencari ponsel itu di dalam hobo bag-nya.

Luken mengangguk sambil menekuni buku menu yang diulurkan seorang pramusaji. Gumamnya kemudian, “Kalau papamu yang menghubungi, bilang jangan khawatir, nanti aku yang akan mengantarmu pulang.”

Olivia sempat terbengong sejenak sebelum kembali sibuk mencari ponselnya.

‘Kencan dengan Pak Boss, Liv?’

Kening Olivia berkerut begitu selesai membaca pesan itu. Otomatis tatapannya terangkat dari layar ponsel dan beralih ke sekeliling ruangan. Dan pada sudut lainnya, ia menemukan Arlena tengah duduk bersama seorang perempuan yang dandanannya sekelas dengan mamanya itu. Arlena tengah menatap ke arahnya, tersenyum lebar, dan melambaikan tangan. Mau tak mau Olivia balas melambai. Gerakan itu menarik perhatian Luken. Laki-laki itu mengangkat wajahnya dari buku menu dan mengikuti arah tatapan Olivia.

“Oh... Mamamu...,” gumamnya.

Olivia tak menjawab. Hanya menyimpan ponsel kembali ke dalam tas dan meraih buku menu yang lain.

“Nggak ke sana dulu?” usik Luken.

“Nanti saja, Pak,” jawab Olivia lirih. “Bapak pesan makanan dulu. Nanti kelamaan, Bapak keburu tambah lapar.”

“Wooo...,” Luken terkekeh sedikit.

Ia kemudian menyebutkan pesanannya dengan cepat. Olivia terpaksa mengikuti kemauan boss-nya. Setelah selesai, Luken menatap pramusaji.

“Mbak, kami mau ke situ--,” Luken menunjuk ke satu arah, “—sebentar. Barang-barang kami di sini, aman?”

“Oh, aman, Pak,” pramusaji itu mengangguk dengan wajah ramah. “Akan saya jaga buat Bapak dan Ibu.”

“Oke, terima kasih,” Luken berdiri. Diraihnya tangan Olivia. “Ayo, Liv, kita sapa mamamu dulu.”

Dengan enggan, Olivia terpaksa mengikuti langkah Luken. Dengan terpaksa pula, ia memasang wajah manis di depan Arlena dan teman Arlena itu.

“Selamat sore, Bu,” Luken menjabat hangat tangan Arlena. “Maaf, Livi saya bawa jauh dari rumah. Kami tadi baru selesai meeting di luar dengan klien. Kemudian usai meeting saya seret ke sini. Saya minta bantuannya untuk pilih kado buat seorang teman.”

“Oh, nggak apa-apa, Pak, tenang saja,” Arlena mengibaskan tangannya dengan gerakan luwes. “Livi sudah gede, kok. Oh, iya, kenalkan, ini Virnie, sahabat saya.”

Virnie dan Luken bersalaman. Dan dengan jelas, Olivia melihat binar-binar genit berloncatan keluar dari dalam tatapan Virnie. Diam-diam ia mendengus dalam hati. Untung saja Luken menyudahi acara say hello itu secepatnya dan berpamitan dengan sopan.

“Eh, Liv!”

Suara Arlena menghentikan langkah Olivia. Begitu juga Luken. Keduanya berbalik.

“Mama bisa tunggu kamu, kok,” senyum Arlena. “Kita pulang bareng.”

Olivia terlihat ragu sejenak. Saat itu juga Luken menyahut dengan nada sopan.

“Maaf, Bu Arlena, setelah ini kami masih ada satu lagi meeting dengan klien. Nanti saya akan mengantarkan Livi pulang. Ibu jangan khawatir.”

“Oh, ya, ya,” Arlena terlihat antusias. “Saya percaya, kok, Pak Luken. Hanya demi kepraktisan saja. Tapi kalau masih ada kepentingan lain, silakan.”

Luken mengangguk sedikit. Mempertahankan senyumnya. “Mari, Bu.”

Olivia berdiam diri hingga mereka kembali lagi ke meja. Seketika Luken merasa bersalah. Seharusnya ia tidak memutuskan begitu saja harapan Arlena untuk pulang bersama putrinya.

“Liv, maaf, seharusnya aku nggak lancang ngomong seperti tadi,” ucap Luken lirih.

Olivia seperti terlempar keluar dari dunia hening yang sempat membungkusnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali dan menatap Luken. Dengan jelas, ia melihat ekspresi menyesal dalam wajah Luken.

“Oh, nggak apa-apa, Pak,” Olivia menggeleng pelan. “Saya tadi malah bingung cari alasan apa untuk menolak keinginan Mama.”

Luken menghela napas lega.

“Benar, nggak apa-apa?” ia memastikan lagi.

“Benar, Pak,” Olivia mengangguk tegas. “Bahkan seandainya saya harus pulang naik taksi pun masih jauh lebih baik.”

“Oke, jadi deal, nanti kuantar kamu pulang.”

“Pak, nggak perlu repot,” sergah Olivia halus. “Saya bisa, kok, naik taksi.”

“Iya, kamu bisa,” ucap Luken sabar. “Kamu sudah biasa mandiri. Aku tahu. Tapi aku ada perlu dengan Carmela.”

Olivia terbengong menatap Luken. Benar-benar tak mengerti maksud laki-laki itu. Pembicaraan itu terhenti sejenak ketika pramusaji mengantarkan minuman mereka. Setelah itu, keduanya kembali bertatapan.

“Liv, aku berterima kasih sekali adikmu mau repot-repot menyiapkan makan buat kita tempo hari,” ujar Luken dengan wajah sangat serius. “Karenanya tadi aku sempat ambil tas buat remaja waktu kamu pilih-pilih tas buat Bu Sandra. Semoga Carmela suka. Sebagai tanda terima kasihku.”

“Wah, Pak...,” Olivia nyaris kehilangan kata. “Nggak perlu repot begitu, sebenarnya. Sudah biasa buat  Mela, kok. Biasanya dia juga bantu saya untuk menyiapkan sarapan dan makan malam. Kalau saya belum pulang, dia juga sudah biasa menyiapkan sendiri buat Papa.”

Luken tercenung sejenak. Ia mengerjapkan mata dan mengalihkan tatapannya ke gelas minuman di depannya. Tangannya mempermainkan sedotan berbentuk spiral yang mencuat dari dalam gelas.

“Bertemu Mela, aku jadi membayangkan sesuatu,” suara Luken terdengar mengambang. “Seandainya aku punya anak gadis, mungkin sudah hampir seusia Mela, ya?” Luken tersenyum sedikit. ”Pasti papamu bahagia sekali punya putri seperti kalian.”

Olivia benar-benar kehilangan kata. Tapi ia tersentak ketika mendengar suara Luken kembali ke semangatnya yang biasa.

“Makanya, sambil antar kamu pulang, nanti aku mau kasih tas itu langsung ke Mela,” senyum Luken, kembali menatap Olivia. “Oke? Mari sekarang kita makan!” Luken mengalihkan tatapannya pada pramusaji yang datang kembali untuk mengantarkan pesanan makanan mereka.

Olivia hanya mengangguk sambil tersenyum. Dengan berbagai pikiran berkecamuk dalam benaknya.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)



8 comments: