Thursday, January 12, 2017

[Cerbung] Affogato #2-1











* * *


Dua


Telepon paralel di meja Sandra dan Olivia berdering bersamaan. Sandra yang mengangkatnya, karena meja Olivia kosong. Gadis itu sedang berada di dalam kantor Luken.

“Halo, selamat siang,” ucap Sandra dengan nada hangat dan sopan.

“Siang, Bu Sandra... Ini Lila, Mbak Livi ada?”

“Mbak Livi sedang di kantor Pak Luken, Mbak Lila,” Sandra menjawab pertanyaan resepsionis di seberang sana. “Ada pesan?”

“Oh, ini ada ibu Mbak Livi di sini, mau bertemu Mbak Livi. Sudah janjian, katanya.”

Sandra mengerutkan kening. Seingatnya, sepanjang setengah hari ini tadi, Olivia tidak mengatakan apa-apa tentang pertemuan dengan Arlena saat mendekati waktu istirahat makan siang.

Ah, mungkin Livi lupa...

“Kalau begitu, tolong, antarkan ke sini saja, Mbak Lila. Siang ini Mbak Livi nggak ada jadwal keluar sama Pak Luken, kok.”

“Baik, Bu Sandra. Selamat siang...”

“Ya, sama-sama. Selamat siang juga...”

* * *

Olivia terkejut ketika mendapati bahwa Arlena sedang duduk menunggu sekeluarnya ia dari kantor Luken. Ia mengerutkan kening.

“Mama?”

“Halo, anak Mama...,” Arlena segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Olivia. Dengan sikap sangat hangat. Bahkan cenderung berlebihan.

Alih-alih menyambut kehangatan Arlena, Olivia justru mengerutkan kening. Dengan sikap kaku, dibalasnya pelukan Arlena.

“Bu Sandra bilang, kamu nggak ada jadwal keluar siang ini, jadi... kita bisa keluar sebentar untuk makan siang bersama, kan?”

Olivia terbengong sejenak. Sekilas ditatapnya Sandra di belakang punggung Arlena. Tapi perempuan itu tampak sedang sibuk menatap layar laptopnya.

“Bagaimana? Kok, malah bengong, sih?” Arlena mencolek dagu Olivia.

“Oh... Mm...,” Olivia tampak kesulitan untuk menjawab.

Masalahnya, baru saja Luken mengatakan padanya bahwa laki-laki itu akan mengajaknya dan Sandra untuk keluar makan siang bersama. Dan Arlena muncul tiba-tiba. Begitu saja. Tanpa perjanjian, bahkan pemberitahuan.

“Pak Luken mau ajak Bu Sandra dan aku makan siang di luar, Ma,” Olivia mengelak halus. “Memang nggak terencana, sih. Beliau juga bilangnya baru saja. Jadi... nggak bisa.”

“Aduh... Sebentaaar saja,” tatapan Arlena tampak penuh permohonan.

Olivia menghela napas panjang. Tepat saat itu Luken muncul.

“Gimana, sudah siap?”

Olivia berbalik dan menatap Luken dengan sorot mata minta maaf.

“Oh, ada Bu Arlena,” Luken segera menghampiri mereka dan menyalami Arlena dengan sikap hangat dan ramah.

Arlena menyambut uluran tangan itu dengan wajah cerah.

“Maaf, Pak, saya belum sempat bilang sama Bu Sandra,” wajah Olivia terlihat menyesal.

“Oh, santai saja...,” senyum Luken.

“Memangnya Livi nggak bilang kalau ada janji makan siang dengan saya, Pak?” Arlena mengangkat alisnya.

“Oh?” tatapan Luken beralih pada Olivia.

Olivia terlihat bingung. Janji apa? Wajahnya segera berubah menjadi serba salah.

“Begitu? Kok, tadi kamu nggak bilang, Liv? Kalau begitu, kan, bisa kita cancel.”

“Euh...”

“Maaf, Pak Luken,” ucap Arlena dengan manis. “Kalau begitu, saya saja yang cancel. Tapi kalau boleh, saya minta waktu lima meniiit saja. Saya akan ikut sebentar ke resto.”

“Oh, silakan, silakan, Bu,” suara Luken terdengar cukup antusias. “Restonya cuma di sebelah ini, kok. Kalau begitu, mari...” Tatapan Luken beralih pada Sandra. “Ayo, Bu.”

Sandra mengangguk tanpa suara. Ia memasukkan ponsel dan tabletnya ke dalam hand bag, kemudian berdiri. Olivia sendiri melakukan hal yang sama, plus memasukkan pula catatan dan ballpoint ke dalam hobo bag-nya.

* * *

Setelah meminta izin pada Luken, Arlena segera menarik siku Olivia untuk menjauh dan mendekati sebuah meja untuk berdua di sudut. Dan Olivia paham seketika ketika Arlena menyatakan maksudnya dengan ucapan lugas.

“Mama butuh selfie denganmu, dalam suasana kafe, dengan wajah cerah. Nggak apa-apa tanpa makan siang. Bisa, kan?”

Olivia menghela napas panjang. Sebelum ia menjawab, Arlena sudah mengeluarkan ponsel dari dalam hand bag-nya.

“Senyum, Liv.”

Tak sulit untuk memasang wajah cerah dan senyum menawan, Olivia sudah terlatih untuk menghadapi kondisi yang bahkan berlawanan dengan suara hatinya sekalipun. Dan momen itu berlangsung tak sampai sepuluh menit lamanya hingga Arlena berpamitan pada Luken dan Sandra. Kemudian meninggalkan mereka dengan mengulas senyum puas di bibir.

Dan seutuhnya Sandra tahu mengapa. Pagi tadi ia sempat membaca sebuah komentar di artikel terbaru Arlena. Ada komentar yang mempertanyakan kenapa Arlena kelihatannya tidak terlalu fokus pada anak-anak gadisnya, karena lebih sering bicara tentang anak laki-lakinya.

Jawaban Arlena di kolom balasan sungguh terbaca sangat pedas dan cenderung defensif. Menyatakan bahwa tak ada satu pun anaknya yang menerima kasih sayang lebih darinya. Semuanya sama di matanya. Sama istimewanya.

Seharusnya tak perlu seperti itu, gumam Sandra dalam hati.

“Sudah?” Luken menatap Olivia.

Gadis itu mengangguk dengan wajah enggan.

“Maaf, kamu jadi gagal makan siang bersama mamamu,” suara Luken terdengar begitu tulus.

“Tidak apa-apa, Pak. Sungguh!”

“Ya, sudah,” senyum Luken. “Kamu pesan minuman dan makanan dulu, Liv. Bu Sandra dan aku sudah.”

Olivia mengangguk dan menerima buku menu yang disodorkan Sandra. Sekilas, Sandra dan Luken saling bertatapan.

* * *

“Cieee... Yang tadi siang makan sama Mama...”

Olivia mencebik begitu mendengar nada menggoda dan menyindir yang sangat kental dalam suara Maxi. Pemuda itu tetawa keras sesudahnya. Olivia menjatuhkan tubuhnya di sebelah Maxi.

“Boro-boro makan siang,” gerutu Olivia. “Butuhnya cuma selfie doang.”

Maxi kembali tergelak. Dilingkarkannya sebelah lengannya ke sekeliling bahu Olivia.

“Sudah, jangan cemberut,” ujar Maxi. “Aku belikan martabak manis, tuh, buat obat sakit hati. Tapi nanti dulu. Baru juga kupesan via Great-food. Mbak Livi mandi, ‘gi!”

Olivia bangkit dari duduknya. Ia melihat sekeliling, kemudian menatap Maxi.

“Mela mana?”

“Lagi fotokopi sebentar. Eh, Papa pulang malam?”

“He eh,” angguk Olivia sambil berjalan menuju ke tangga. “Eh, Max,” ia berbalik ketika sampai di depan tangga. “Kalau bayar Great-food, tolong, lebihin. Kasihan tukang ojeknya.”

“Iyaaa... Sip!” Maxi mengacungkan jempol

* * *


Us Time,
Mencuri Waktu Di Sela Kesibukan


Livi, putri sulung saya, adalah seorang pekerja keras yang cukup sibuk. Pekerjaannya sebagai seorang sekretaris direktur sebuah perusahaan ekspor komoditi perkebunan. Seringkali dia harus menikmati makan siang bersama boss dan klien perusahaan. Susah sekali meminta waktunya untuk sekadar makan siang bersama. Tapi siang tadi kami berhasil melakukannya.
 
Wajah bercahayanya tak akan pernah saya lupakan ketika dia menyambut kehadiran saya di kantornya untuk menjemput. Dan kami menghabiskan waktu makan siang bersama di sebuah resto dekat kantornya.

Melihatnya saat ini, rasanya terbayar sudah ‘penderitaan’ saya selama mengandungnya dulu. Bayangkan, angka BB saya melonjak hampir 35 kg! Membuat saya terlihat seperti gajah bengkak yang disengat ratusan lebah. Belum lagi ketika dia lahir. Fokus laki-laki tercinta saya lebih banyak jatuh padanya. Seringkali membuat saya cemburu. Ah, dasar saya memang emak-emak baperan saat itu. Ditambah dengan BB saya yang susah turun lagi ke ukuran normal.

... ... ...

Besok-besok, akan saya ceritakan tentang si bungsu saya yang kecantikannya tak kalah dengan kakak sulungnya (dan mamanya, hahaha...).

Salam!


Semua keunggulan dan kecantikan Olivia diobral habis oleh Arlena. Disertai dengan foto selfie yang diambil tadi siang. Melukiskan wajah cerah ibu dan anak gadisnya yang berhasil menyisihkan waktu untuk makan siang bersama di tengah kesibukan mereka.

Hm... Kisah yang manis..

Luken memuaskan dirinya menatap wajah ceria Olivia yang tersenyum lebar di samping Arlena. Penampilan gadis itu sungguh bertolak belakang dengan ibunya.

Hari ini tadi, gadis itu membungkus tubuhnya dengan blus berwarna krem muda, rok pensil selutut berwarna krem tua, dilapis blazer lengan panjang bermodel trendi berwarna putih yang dihiasi korsase berwarna krem di dada kiri. Wedges-nya pun berwarna putih, sewarna dengan hobo bag-nya. Rambutnya terlihat rapi dengan kepang tempel yang ujungnya dihiasi karet rambut berwarna putih. Terlihat sangat anggun, profesional, berkelas, dan cukup tertutup.

Sedangkan Arlena mengenakan gaun pendek bunga-bunga yang didominasi warna jingga dan hijau tanpa lengan, yang panjangnya pas di atas lutut. Mempertontonkan kemulusan kulit dan lekuk liku tubuhnya yang terlihat masih terawat begitu baik. Sepasang high heels berwarna jingga, sewarna dengan hand bag yang ditentengnya, melengkapi penampilan itu. Rambutnya yang dipotong pendek dan dicat kecoklatan menampakkan highlight berwarna coklat muda keemasan. Secara keseluruhan terlihat cukup ‘meremaja’.

Dan Luken sempat terbengong sejenak melihat secara langsung dari jarak dekat penampilan Arlena yang seperti itu di kantornya. Ketika menatap lagi layar laptopnya, Luken mendesah.

Ah, dia pandai bersandiwara, atau memang setulusnya senang diekspos ibunya seperti itu?

Luken tercenung.

“Saya yakin mereka nggak janjian seperti yang dibilang Arlena, Pak. Livi justru kebingungan ketika melihat Arlena datang tadi.”

Bisikan Sandra siang tadi terngiang di telinganya. Juga bayangan wajah Olivia yang seolah berlayar perlahan di depan matanya. Wajah yang melukiskan perasaan serba salah ketika ia keluar dari ruang kantornya dan bertemu dengan Arlena.

Selama ini ia memang tak mau terlalu ikut campur dengan kehidupan pribadi Olivia, Sandra, maupun staf yang lain. Kalau mereka bercerita, maka ia akan mendengarkan dengan perhatian penuh. Dengan begitu ia bisa mengenal sedikit demi sedikit kehidupan pribadi stafnya, tanpa dilandasi keingintahuan yang bisa mengganggu profesionalisme di kantornya.

Tapi kejadian tadi siang sudah menggelitik hatinya untuk mengintip sedikit artikel Arlena di BlogSip. Dan dugaannya benar. Arlena telah memoles dan mengekspos secara luar biasa kehidupan keluarganya. Memberikan inspirasi yang cukup menggebrak tentang kehidupan sempurna berumah tangga.

Tapi sepertinya suami dan anak-anaknya tidak terganggu...

Luken pelan-pelan menghenyakkan punggungnya ke sandaran kursi. Matanya masih tertuju pada layar laptop. Dengan fokus pada senyum Olivia.

Seandainya saja...

Luken menegakkan punggungnya dengan tiba-tiba. Berusaha mengenyahkan pikiran itu dari benaknya.

Tidak! Tidak boleh!

Ia kemudian mematikan laptopnya. Sekaligus mengelak dari senyum Olivia yang terasa menyentuh sudut hatinya yang terdalam.

* * *

Oh... Oh... Jadi sekretaris Luken itu anak gadis Arlena Arbianto? Hm...

Anggara menatap wajah yang terpampang di layar tabletnya itu dengan penuh minat. Tentu saja ia tak akan pernah melupakan lekuk liku wajah cantik Olivia, sekretaris Luken itu.

Tapi kelihatannya Luken melindunginya cukup ketat.

Ia tahu, tak akan bisa semudah membalikkan telapak tangan untuk memikat seorang Olivia Paloma. Apalagi ia menangkap sorot mata sengit Olivia ketika bertemu beberapa hari yang lalu. Kembali ditatapnya layar laptop. Ada sepotong nama lain tertera di sana, dalam artikel Arlena Arbianto.

Miko...

Anggara tersenyum simpul.

Bukan Luken! Hm...

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)

12 comments: