Thursday, January 19, 2017

[Cerbung] Affogato #4-1










* * *


Empat


Arlena menggeliat dan mengerjapkan mata. Sejenak ia berbaring telentang, menghadap ke langit-langit kamar. Dihelanya napas panjang. Rasanya ia masih mengantuk sekali. Semalam tidurnya tidak nyenyak. Ia bermimpi tentang George Clooney KW itu. Senyumnya mengembang seketika. Ia pun membalikkan badan. Tengkurap dengan kepala rebah atas guling.

Harmono...

Arlena meringis.

Bahkan seandainya dia seekor kucing sekalipun, aku akan tetap jatuh cinta padanya.

Ia benar-benar tidak tahu siapa itu Harmono. Selain bahwa laki-laki itu adalah salah satu penggemar yang setia menginthil ke mana pun ia berkeliling di BlogSip. Seolah-olah laki-laki itu – kalau memang benar ia seorang laki-laki, bukan kucing – punya radar canggih yang bisa mendeteksi keberadaan jejak Arlena di BlogSip. Selain itu, Harmono adalah perayu ulung yang gemar mengumbar mulut manisnya di mana pun. Sangat gombal. Tapi Arlena mulai menutup akal sehatnya sejak lama.

Rayuan itu memikatnya. Mulut manis itu  seolah madu bagi jiwanya yang mengering. Ditatapnya foto besar di dinding kamar. Ada mereka berlima tergambar nyata di sana.

Sebuah keluarga yang bahagia...

Arlena tersenyum kecut.

Sebuah keluarga yang sudah salah sejak awal.

Kenyataan itu kian kuat menghantamnya akhir-akhir ini. Kenyataan bahwa Prima tak akan pernah bisa berubah menjadi laki-laki penuh rayuan yang kadang-kadang ia inginkan.

Entah sejak kapan ia merasa bahwa pemujaan Prima terhadap dirinya mulai membosankan. Ya, ia cantik, ia tahu itu. Kecantikan itu perlu perawatan, dan Prima selalu memberikan perawatan itu tanpa syarat, seperti juga laki-laki itu selalu memenuhi semua keinginannya tanpa banyak bertanya.

Seharusnya aku bersyukur, seperti semua bualan tentang syukur yang pernah kutulis.

Arlena mencibir.

Syukur yang selalu mengesampingkan perasaan kosong.

Ia mendesah panjang. Dengan malas ia bangkit perlahan dari ranjang, dan melangkahkan kaki ke kamar mandi. Berharap kesegaran air akan segera memberinya sedikit energi.

* * *

‘Liv, aku lagi jalan mau meeting sama klien di dekat kantormu. Nanti maksi bareng, yuk!’

Olivia tersenyum membaca pesan dari Miko yang baru saja masuk ke ponselnya. Ia segera membalas pesan itu.

‘Di resto sebelah kantorku, ya? Gimana?’

Jawaban itu segera diperolehnya. ‘OK! Sip! Love you, Liv...’

‘Love you, too, Mas...’

Begitu meletakkan kembali ponselnya, pintu ruang kantor Boss terbuka. Laki-laki itu melangkah menghampiri meja Sandra, dan duduk di depan Sandra.

“Bu, tolong, pertemuan sama Pak Julian dijadwal ulang, ya?” ucap Luken.

“Baik, Pak,” Sandra mengangguk. “Baru saja saya ditelepon sama orangnya Pak Julian. Cuma jadwal pastinya mereka belum tahu. Tunggu Pak Julian pulih dulu.”

Luken manggut-manggut.

Pekerjaan mereka sedang senggang hari itu. Seperti biasa, Luken duduk-duduk santai di depan meja Sandra atau Olivia. Mengobrolkan banyak hal ringan. Terkadang gosip-gosip yang tidak penting. Atau menonton televisi.

“Gimana kabar Angie, Bu?” celetuk Luken sambil membuka toples kecil berisi kacang bawang di meja Sandra, menjumputnya sedikit, kemudian memasukkannya ke dalam mulut.

“Baik, Pak,” Sandra tersenyum. “Lagi banyak tugas.”

“Pak Riza sehat?”

“Sehat, Pak.”

Luken menoleh ke arah Olivia. “Liv, tolong, panggil OB satu.”

Olivia mengangguk dan segera mengangkat gagang telepon di depannya. Tak lama kemudian seorang OB muncul.

“Sini, Leh,” Luken mengeluarkan dompet dari saku belakang celana. “Kamu ke minimarket, beli minuman sama cemilan apa saja.”

OB bernama Soleh itu terbengong sejenak sebelum berucap, “Ada daftar belanjanya, Pak?

“Ya, sudah, kamu ambil apa sajalah,” sahut Luken sambil membuka lipatan dompetnya. “Orang-orang sekalian kamu belikan semua.”

“Pak, sama saya saja ke minimarketnya,” timpal Sandra. “Soleh bingung begitu, malah berabe nanti.”

Luken terkekeh. Ia urung mengeluarkan lembaran uang. Sebagai gantinya, ia mengambil sehelai dari beberapa kartu debit dan kredit yang ada di dalam dompet.  Diulurkannya kartu debit itu pada Sandra.

“Semua harus dapat, Bu,” ucap Luken.

“PIN-nya kirim lewat WA, ya, Pak,” Sandra berdiri sambil menerima kartu itu.

“Yang biasanya...,” sahut Luken dengan nada santai.

“Lho, belum diganti sama Bapak?” Sandra mengangkat alis.

“Ngapain diganti, Bu?” Luken terkekeh. “Kalau sampai digarong, amblas duitnya, kan, tinggal tunjuk hidung siapa yang tahu PIN-nya selain saya.”

“Waduh! Apes... Hahaha...,” Sandra tergelak sambil melangkah, diiringi Soleh.

Sepeninggal Sandra dan Soleh, Luken pindah duduk ke depan meja Olivia.

“Hadiah buat Bu Sandra enaknya apa, ya, Liv?” Luken duduk bersandar dengan santai di seberang Olivia.

“Wah, ya, terserah Bapak,” Olivia menatap Luken. “Kalau saya, sih, mau kasih beberapa buku saja.”

“Hm...,” Luken manggut-manggut.

“Pak, tadi pagi Bu Vivi sudah kasih perincian biaya tumpeng pesanan kita. Mau DP dulu nggak apa-apa, katanya.”

“Sudah, sini, aku lunasin sekalian. Itu sudah sama kuenya?”

“Sudah, Pak. Tumpeng, kue, puding, es kopyor, alat makan. Komplit. Pokoknya kita tinggal menikmati.”

“Sip!”

“Saya kirim nomor rekeningnya ke WA Bapak, ya?”

“Oke.”

Olivia meraih ponselnya dan mengirimkan sederet nomor rekening itu ke Luken. Luken yang ponselnya berbunyi, segera mengambil benda itu dari dalam saku kemejanya. Sesaat kemudian Olivia teringat pesan dari Miko tadi.

“Eh... Pak...,” ucapnya ragu-ragu.

“Ya?” Luken mengangkat tatapan dari layar ponselnya.

“Nanti saya boleh minta izin makan siang di sebelah, Pak?”

“Oh, boleh saja. Silakan. Tumben?” Luken tersenyum.

“Hehehe... Iya, Pak,” Olivia sedikit tersipu. “Mas Miko ada meeting dengan klien di dekat sini. Jadi sekalian mau ketemuan makan siang.”

“Oh...,” Luken mengangguk. “Iya, pergi saja.”

“Makasih, Pak.”

“Ya, sama-sama. Ngomong-ngomong, Carmela memang sudah biasa mandiri begitu, ya? Menyiapkan makanan, dan sebagainya.”

“Oh... Iya, Pak. Nggak cuma dia, sih, sebenarnya. Maxi juga kalau lagi di rumah.”

“Hm... Hebat mama-papamu, ya? Berhasil mendidik putra-putrinya dengan sangat baik.”

Papa, Pak... dan keadaan...

Olivia mencoba untuk tersenyum.

Sesungguhnya, ia sudah lupa apa saja yang sudah diajarkan Arlena padanya. Mungkin sangat banyak hal. Tapi dalam gulungan memorinya, lebih melekat peran Prima dalam kehidupannya, dan terutama kehidupan Maxi dan Carmela. Ketika adik-adiknya hadir, ia sudah cukup besar untuk bisa melihat betapa peran Prima sangat besar dalam kehidupan mereka. Dan ketika ia makin dewasa, peran itu ada yang diambilalihnya sedikit. Sekadar meringankan tugas Prima untuk menjaga Maxi dan Carmela tetap berada di jalur yang lurus.

Tanpa sadar, Olivia menghela napas panjang.

“Liv, ada apa?” tatapan Luken jatuh tepat di manik mata Olivia.

Gadis itu mengedikkan sedikit bahunya. “Entahlah, Pak.”

Luken tak berkata apa pun. Hanya saja bahasa tubuhnya menandakan bahwa ia siap untuk mendengarkan segala ucapan Olivia.

“Saya kadang-kadang capek sendiri melihat Mama,” gumam Olivia, akhirnya.

Luken menatapnya penuh atensi.

“Ada banyak hal indah di rumah, tapi kenapa harus mencari entah apa di luaran?” Olivia mengedikkan lagi bahunya.

“Artikel-artikel mamamu itu cukup menginspirasi, Liv,” Luken kemudian menanggapi, dengan nada sangat hati-hati. “Aku pernah membaca beberapa. Yang bicara masalah keluarga. Kalian sempurna.”

“Hanya kemasannya,” tukas Olivia halus. “Dalamnya remuk. Setidaknya salah satu bagian memisahkan diri dan hidup dalam dunianya sendiri.”

“Separah itukah, Liv?”

Olivia tersenyum. “Pasti Bapak nggak percaya, kan?”

Luken terdiam. Tak tahu harus menanggapi bagaimana.

“Tapi sepanjang tidak terlalu mengganggu kehidupan Papa, adik-adik, dan saya, sudahlah biar saja. Hanya saja, suatu saat pasti akan terhenti. Entah bagaimana caranya. Sebelum dihentikan oleh faktor luar, mungkin faktor dalam lebih baik kalau bergerak duluan.”

“Yang kulihat, papamu orangnya sabar,” senyum Luken. “Baik dan sabar.”

“Banget, Pak,” Olivia mengangguk. “Tapi bukan berarti nggak bisa tegas. Cuma... nggak bisa kayak gitu ke Mama. Mungkin karena terlalu sayang.”

Luken menyandarkan punggungnya. Ia kembali menatap Olivia ketika gadis itu kembali bersuara.

“Tapi saya nggak mau masalah di rumah mempengaruhi kerja saya, Pak,” ucap Olivia. Lirih tapi tegas. “Saya minta bantuan Bapak untuk mengingatkan saya tentang ini sewaktu-waktu.”

Luken tersenyum. Kembali menegakkan punggungnya.

“Selama ini, kamu salah satu orang paling profesional yang pernah kukenal, Liv. Aku percaya kamu bisa tetap seperti itu.”

“Terima kasih, Pak.”

Bertepatan dengan berakhirnya pembicaraan itu, Sandra muncul kembali bersama Soleh. Ada sebuah kardus yang diletakkan Soleh di atas meja Sandra.

“Anak-anak sudah kebagian semua, Pak,” lapor Sandra sambil mengembalikan kartu debit Luken.

Seluruh staf kantor itu memang tidak banyak. Kurang dari 20 orang termasuk OB dan OG. Luken sendiri segera mencari cemilan yang mungkin disukainya di dalam kardus itu.

“Pak, kebanyakan ngemil, perutnya mulai gendut, lho,” goda Sandra.

Luken terkekeh.

“Bukannya gadis-gadis malah suka merasa terintimidasi, ya, kalau laki-laki badannya bagus?”

Pernyataan itu membuat Sandra dan Olivia seketika tergelak.

“Apa, Mbak Liv, sebutannya?” Sandra menoleh ke arah Olivia.

“Sebutan apa?” Olivia malah balik bertanya.

“Bentuk badan yang gendut-gendut dikit itu...”

“Oh... Dad bod...,” Olivia tertawa lebar.

“Nah, itu...,” Sandra juga meneruskan tawanya.

“Hahaha...,” pembicaraan itu membuat Luken terbahak.

* * *

Pukul dua belas lewat sedikit, Olivia menjejakkan langkahnya melewati pintu resto. Ia segera ke arah belakang. Area yang jendela kaca besarnya menghadap ke taman kecil dan air terjun mini. Miko sudah menunggunya di sana sejak beberapa menit sebelum pukul dua belas.

Laki-laki itu berdiri dari duduknya begitu melihat Olivia muncul. Senyum cerah terulas di bibirnya. Segera disambutnya Olivia dengan wajah riang.

“Liv, aku kangen,” Miko membungkuk sedikit. Didaratkannya kecupan ringan di kening Olivia.

“Aku juga,” sekilas Olivia mendongak, mencium pipi kiri Miko yang berada agak di atas kepalanya.

Kesibukan bekerja dan jarak yang cukup jauh sudah membuat keduanya tak bisa sering bertemu. Kelihatannya memang hanya sekitaran Jakarta dan Serpong saja. Tapi di lapangan, dunia mereka tidaklah sesempit Jakarta-Serpong.

“Papa-Mama sehat semua? Maxi? Mela?” tanya Miko beruntun.

“Iya, sehat semua. Mami?”

“Sehat,” Miko mengangguk. “Mau makan apa, Liv? Minum dulu, ya?”

“Oke, oke.”

Sejenak kemudian keduanya sudah sibuk memilih makanan dan minuman. Sambil menunggu pesanan dihidangkan, keduanya kemudian mengobrol dengan asyik. Sesekali mereka berbisik dan tertawa bersama.

Kelakuan sepasang orang muda yang sedang kasmaran itu tak luput dari tatapan seseorang. Perlu beberapa waktu lamanya sebelum orang itu memutuskan untuk datang menghampiri dan menyapa.

“Olivia, Olivia, Olivia... Apa kabar?”

Olivia dan Miko sama-sama menoleh mendengar suara itu. Sementara Miko terbengong melihat sosok itu, diam-diam Olivia merasa mual.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)



10 comments: