Senin, 30 Mei 2016

[Cerbung] Miss Cempluk #3







* * *


Tiga


Mungkin karena badanku keenakan kemarin baru saja menghabiskan waktu di spa, pagi ini aku bangun terlambat. Sudah hampir pukul delapan ketika Mbak Witra membangunkan aku. Aku menguap lebar-lebar dan Mbak Witra buru-buru meloncat menjauh.

“Bau naga banget, sih!” gerutunya.

Aku tergelak sambil menggeliat.

“Anak gadis bangunnya siang amat?” Mbak Witra mengetuk-ngetukkan jemari di atas meja. Berlagak seperti ibu asrama.

Aku menguap sekali lagi sambil menyeret langkah ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian aku sudah keluar dalam kondisi bersih, segar, dan wangi.

“Untung kamu mandinya bebek banget,” celetuk Mbak Witra.

Aku menatapnya dari cermin sambil berdandan. “Lho, kenapa?”

“Aku sudah lapar, Pluk,” gerutu Mbak Witra. Mulutnya mengerucut seperti tumpeng.

“Memangnya Budhe Risa nggak pernah kasih sarapan anaknya yang paling cantik ini?”

“Roti, Pluk, rotiii... Cuma nyempil saja di perutku.”

Aku tergelak seketika. Setahuku, Budhe Risa memang jarang menghidangkan sarapan berupa nasi pada keluarganya. Setahuku pula, tak pernah ada yang protes kecuali Mbak Witra. Dan begitu aku selesai meletakkan sisir, Mbak Witra segera menyeretku keluar.

Kakung dan Uti masih duduk santai di depan meja makan. Kakung menikmati semangkuk bubur sumsum sambil membaca koran. Uti duduk di dekatnya. Membaca lembaran lain koran itu.

“Selamat pagi, Kung, Ti,” sapaku halus.

Keduanya menoleh dan menghadiahiku senyum hangat. Mbak Witra langsung mengambil piring dan memilih hidangan di atas meja tanpa ba-bi-bu lagi. Hm... Nasi pecel lengkap dengan serundeng, kering tempe, irisan mentimun, daun kemangi segar, dan rempeyek kacang. Mataku berbinar ketika melihat semua itu. Maka aku pun segera mengikuti Mbak Witra, menikmati segala yang ada di atas meja.

“Cempluk jadi kamu ajak ke rumahmu, Wit?” tanya Kakung sambil melipat korannya.

“Jadi, Kung,” Mbak Witra mengangguk. “Aku antar pulang nanti sore saja, ya?”

“Nggak usah kamu antar,” Kakung menggeleng. “Nanti sore biar Kakung sama Wahid yang jemput.”

“Hm... Kakung pasti takut Cempluk aku loakin di tengah jalan,” ujar Mbak Witra. Seenak perutnya.

Kakung dan Uti tergelak. Aku hanya bisa nyengir tak jelas.

Seusai sarapan, kami segera berpamitan pada Kakung dan Uti. Tak lupa Uti membekali kami dengan dua kotak kecil bubur sumsum yang kami tadi tak sempat memakannya karena keburu kenyang.

Aku berusaha untuk menghapalkan jalur jalan dari rumah Eyang ke rumah Mbak Witra. Tidak terlalu jauh, hanya saja jalurnya agak ruwet. Mbak Witra sempat terkekeh melihatku duduk di sebelahnya sambil memegang sebuah notes dan pulpen.

“Oh, iya, aku besok ke kampus, Pluk. Jadi nggak bisa menemanimu,” celetuk Mbak Witra.

It’s OK,” jawabku ringan. “Berarti nggak ada yang mengganggu tidurku.”

“Hahaha...,” Mbak Witra terbahak.

Akhirnya sampai juga kami di rumah Mbak Witra. Sepi. Semuanya sudah memulai aktivitasnya. Pakdhe Mono ke kampus. Budhe Risa ke butiknya atau ke kantor Yayasan Eternal Edulife yang dipimpinnya. Mas Nanda ke kantor. Mas Ronny kuliah. Mbak Witra segera menarikku ke kamarnya.

Tentu saja aku tidak jadi disuruh bebenah kamarnya yang sudah rapi-jali seperti ini. Kami hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol sambil menikmati bubur sumsum bekal dari Uti. Fokus kali ini adalah hubungan Mbak Witra dan Mas Priyo.

Mbak Witra mengeluhkan keluarganya dan keluarga Mas Priyo yang berselisih paham soal lamaran. Orang tua Mas Priyo menghendaki Mbak Witra dan Mas Priyo bertunangan sebelum Mbak Witra berangkat berdinas ke luar Jawa. Sedangkan Pakdhe Mono dan Budhe Risa menghendaki pertunangan nanti saja setelah Mbak Witra selesai berdinas. Kalau perlu sekalian dinikahkan.

“Mas Priyo bagaimana pendapatnya, Mbak?” tanyaku kemudian.

“Hm...,” Mbak Witra menggaruk pelipisnya. “Dia, sih, santai saja, Pluk. Tapi lebih cenderung nanti saja sekalian menikah kalau aku sudah kembali. Supaya kami sama-sama nggak ada beban. Kalau terjadi apa-apa,” jemari Mbak Witra membuat kode tanda kutip, “nggak terlalu sakit juga buat pihak keluarga.”

Aku manggut-manggut.

“Yang jelas aku akan berusaha buat setia,” lanjut Mbak Witra. “Kalau memang jodoh, nggak akan lari ke mana, kok.”

Aku menyetujui sepenuhnya ucapan Mbak Witra. Kalau sudah jodoh, tak akan lari ke mana. Kalau belum jodoh, ya... Tiba-tiba saja aku teringat pada nasibku dan Otto. Tapi sepertinya Mbak Witra tahu apa yang ada dalam pikiranku. Dengan lihainya dia kemudian mengalihkan topik pembicaraan.

Ketika hari beranjak siang, Mbak Witra mengajakku keluar lagi. Mengukur jalan. Putar-putar. Dan berakhir di sebuah mall untuk makan siang.

“Kamu sudah punya baju buat persiapan masuk kerja?” tanya Mbak Witra tiba-tiba.

Aku mengerutkan kening. Sebagian besar bajuku adalah celana jeans dan aneka blus. Ada beberapa gaun, tapi kurasa lebih cocok untuk manggung di kedutaan daripada dipakai untuk bekerja.

“Gampang, nanti kita bisa mampir ke butik Ibu,” tanpa diminta, Mbak Witra sudah menjawab sendiri pertanyaannya.

Maka ke sanalah kami meluncur seusai makan siang. Ke butik Rumah Batik milik Budhe Risa. Kebetulan Budhe Risa sedang ada di sana ketika kami muncul. Segera saja beliau membebaskan aku untuk memilih busana mana saja yang aku mau. Bahkan beliau dengan sabar membantu memilih model yang pas untuk kupakai bekerja nanti.

“Beberapa hari lagi akan datang koleksi baru, Pluk,” ujar Budhe Risa. “Nanti akan kusisihkan yang cocok untukmu.”

“Ini sudah terlalu banyak, Budhe,” gumamku. Segan.

“Tidak...,” tukas Budhe Risa, lembut. “Kamu akan bekerja tiap hari. Ini bisa jadi terlihat lebih banyak kalau kamu mampu memadupadankan dengan baik. Dan Budhe yakin kamu mampu,” Budhe Risa mengedipkan sebelah mata.

Busana-busana di butik Budhe Risa tak hanya melulu 100% terbuat dari bahan batik. Ada juga bahan lurik, songket, sasirangan, dan berbagai kain tradisional lainnya. Bahan itu ada yang murni jadi busana, ada juga yang jadi aksen saja. Semua bagus. Semua menarik. Semua indah.

Dan tak hanya busana saja yang tersedia di sana. Ada juga aneka asesori dan pernak-pernik rumah tangga yang mengandung bahan atau motif etnik lainnya. Dalam hati, aku kagum dengan kemampuan Budhe Risa membidik pasar. Apalagi Rumah Batik ini menjadi rujukan para ekspatriat dalam mencari buah tangan untuk dibawa pulang ke negaranya.

Ada tiga kantong kertas besar yang akhirnya harus kutenteng pulang. Kakung yang ternyata sudah duduk menunggu di teras rumah Pakdhe Mono mengerutkan kening saat aku keluar dari mobil Mbak Witra.

“Baju kerja, Kung,” aku nyengir sebelum Kakung buka suara.

Kakung hanya tersenyum lebar. Tanpa menunggu lama, Kakung segera menggiringku masuk ke mobil beliau. Beberapa detik kemudian aku sudah meninggalkan rumah Pakdhe Mono diiringi lambaian tangan Mbak Witra.

“Tadi siang dikirim gado-gado sama Tante Laras,” celetuk Kakung.

“Yah...,” desahku kecewa.

Bagaimana tidak? Gado-gado buatan Tante Laras itu paling enak sedunia. Aku belum pernah merasakan gado-gado lain yang seenak buatan Tante Laras. Dan hari ini tampaknya aku sudah kehilangan satu episode penting dari gado-gado Tante Laras.

“Sebagian sudah dimasukkan ke dalam kulkas sama uti-mu,” ucapan Kakung menenangkanku. “Makanya uti-mu ini tadi tidak ikut menjemput. Sibuk mengurusi gado-gado supaya sudah siap makan begitu kamu datang.”

Oh... Mendadak saja kelegaan menyelimuti hatiku. Tapi suara dan kalimat Kakung juga terasa sangat mengharukanku. Kurebahkan kepalaku di bahu Kakung yang masih kukuh. Segera saja tangan kiri Kakung menepuk-nepuk pipiku dengan lembut.

Ketika Pak Wahid membelokkan mobil ke depan pagar rumah yang pintunya belum terbuka, Kakung membuka jendela kanan sambil menyapa seseorang yang baru turun dari mobil di rumah sebelah. Rumahku yang masih disewa orang lain.

“Ale! Sudah pulang jam segini?” seru Kakung, sambil membuka pintu mobil dan keluar. Aku turut melongok singkat dari dalam mobil. Orang yang disapa Kakung tampak berjalan mendekat.

“Iya, Bapak.”

Aku mengerutkan kening. Suara dan logat itu... Sepertinya aku kenal. Aku melongok lagi. Kali ini lebih fokus. Benar! Dia! Mendadak aku tergeragap.

“Dari mana, Bapak?”

“Menjemput cucuku.”

Aku terjingkat kaget ketika kepala Kakung mendadak nongol dari luar jendela kanan.

“Keluarlah, Pluk,” ujar Kakung, halus. “Kenalanlah dengan tetangga yang menyewa rumahmu.”

Mau tak mau aku keluar dari mobil. Jantungku berdebar kencang. Entah kenapa. Dan segera saja aku melihatnya menatapku dengan mata dipenuhi binar.

“Arinda Wirahadi!” serunya. “Nice to see you again!

Aku meringis sedikit. Kulihat Kakung bengong sejenak sebelum bergantian menatapku dan laki-laki itu. Alessandro Tardini.

“Kalian sudah saling mengenal?” Kakung menatapku dengan curiga.

Segera saja kubantah kecurigaan itu. “Hari Minggu kemarin bertemu di taman, Kung. Sama-sama menonton konser.”

“Oh...,” Kakung manggut-manggut.

Yang benar-benar tak kusangka adalah Kakung kemudian mengajak Alessandro untuk makan malam bersama kami. Dengan iming-iming gado-gado yang sebenarnya kurang cocok untuk hidangan makan malam. Dan yang lebih mengejutkan lagi, Alessandro menerima ajakan Kakung dengan sangat antusias.

* * *

Laki-laki itu datang tepat pukul tujuh. Mengenakan blue jeans dan polo-shirt berwarna biru donker yang cukup rapi dimasukkan ke dalam celananya. Uti menyambutnya dengan wajah cerah. Alessandro meminta maaf berkali-kali, bahwa ia tak membawa apa-apa kali ini. Kakung berusaha meyakinkan bahwa tak mengapa, karena undangan Kakung sendiri juga disampaikan secara mendadak.

Kemudian aku tahu, bahwa Alessandro cukup sering diundang makan bersama oleh Kakung dan Uti, apalagi saat mendapat kiriman gado-gado dari Tante Laras. Dari caranya makan, aku tahu pula bahwa dia benar-benar menyukai gado-gado. Bahkan tak ragu menambahkan sedikit sambal cabai rawit ke dalam piringnya.

Alessandro ternyata adalah seorang diplomat muda yang baru sekitar setahun ini menempati posnya di Kedubes Italia di Jakarta. Sekitar empat tahun lalu, dia bertugas di Canberra. Di sanalah dia melihatku untuk pertama kalinya saat Kedubes Jepang meminta OPQ untuk tampil dalam sebuah acara matsuri.

Sebelumnya dia memang sudah sangat tertarik dengan Indonesia. Maka dari itu dia terkesan dengan penampilanku bersama OPQ. Tak heran bila ia berhasil menghapalkan namaku dan mengingat sosokku dengan baik. Seminggu setelah penampilan OPQ di matsuri itu, Alessandro ditarik pulang ke Italia tanpa pernah kehilangan minatnya terhadap Indonesia.

Di Italia, Alessandro rajin belajar bahasa Indonesia melalui salah seorang staf KBRI di Roma yang dikenalnya dengan baik. Apalagi dia kemudian ditugaskan di sini, di Jakarta. Pantas saja dia bisa berbahasa Indonesia dengan cukup lancar. Hanya saja dia benar-benar tak pernah tahu rumah yang dia tempati selama ini adalah rumah orang tua Arinda Wirahadi. Yang dia tahu, rumah itu milik Bapak Haryanto Supadmo, karena selama ini yang mengurusi sewa rumah itu adalah Kakung.

“Masihkah bermain violin?” Alessandro menatapku yang duduk tepat di seberangnya.

Aku menggeleng. Dia mengerutkan kening.

“Tidak sempat,” tegasku kemudian. Pendek.

“Oh...”

Hening sejenak.

“Kenapa tidak coba bergabung dengan komunitas yang berkonser di taman, Pluk?” celetuk Kakung.

Aku mengangkat bahu sambil mencoba untuk tersenyum. “Nantilah.”

* * *

Hening menyergap ketika aku masuk ke dalam kamar menjelang pukul sepuluh malam ini. Sambil berbaring di atas ranjang, mataku menatap ke arah rak di sudut kamar. Uti meletakkan violinku di atas rak itu. Pelan, aku bangun dan meraih violin itu. Masih tersimpan rapi di dalam kotak. Aku membukanya.

Seketika dadaku terasa sesak. Memoriku pun segera terbang lagi ke waktu lampau tanpa permisi. Tanpa aku bisa mengendalikannya. Tanpa aku mampu mencegahnya.


“Ha! Kita benar-benar dijemput, rupanya!” Hide menunjuk ke satu arah.

Kami bertiga mengikuti arah telunjuk Hide. Selembar kertas bertuliskan ‘Welcome, Omni Piano Quartet’ dipampangkan seseorang di luar terminal kedatangan di bandara. Ke sanalah kami berempat kemudian menuju.

Entah dari mana teman-teman Papa di KBRI Canberra bisa mendengar tentang kegiatanku bersama James Finders, Hideki Maeda, dan Seon Myung-Ok itu. Suatu kali kami diundang ke KBRI untuk memeriahkan suatu acara. Sejak saat itu OPQ beberapa kali terbang ke Canberra karena diundang untuk manggung di beberapa kedubes negara lainnya. Termasuk di Kedubes Jerman esok hari.

Lalu aku bertemu dengannya. Otto Brandt. Laki-laki yang membentangkan kertas saat menjemput kami di bandara. Seorang diplomat muda yang diserahi tugas untuk mengurus segala kebutuhan OPQ selama di Canberra. Orang yang menyambut kami dengan segala keramahannya.

Dia laki-laki paling menarik yang pernah kutemui. Seluruh hal yang ada pada dirinya terlihat begitu pas. Aku tak bisa menemukan kata lain yang cukup menggambarkan betapa ‘pas’-nya dia.

Posturnya yang tinggi tegap membuatnya terlihat begitu kukuh. Wajahnya terkesan tenang dengan sepasang mata yang bersinar cerdas, hidung mancung yang sangat proporsional, dan bibir yang terlihat indah karena hampir selalu menyunggingkan senyum. Dari semua yang ada pada diri Otto, aku sangat menyukai matanya. Berwarna coklat muda yang terkesan begitu hangat. Dinaungi oleh bulu mata lentik yang begitu ‘indah’. Dan ada sedikit kerutan pada sudut luar mata ketika dia tertawa.
                                          
Pada awalnya aku tak pernah mempercayai idiom ‘cinta pada pandangan pertama’. Tapi sejak saat itu aku mempercayai dan memahaminya. Sejak aku pertama kali bertemu dengan Otto Brandt. Pertemuan pertama yang diikuti dengan pertemuan-pertemuan berikutnya.

Otto lebih tua tujuh tahun daripada aku. Yang membuat kami merasa lebih klik lagi adalah ketika kami tahu bahwa kami sama-sama anak diplomat. Ayahnya pernah bertugas di Indonesia, tepat bersamaan dengan tugas Papa di Jerman. Dan yang lebih mengejutkan lagi, keluarganyalah penyewa rumahku di Jakarta saat kami sekeluarga harus tinggal di Jerman.

Setelah penampilan OPQ di Kedubes Jerman di Canberra, Otto dan aku makin dekat. Dia tak segan untuk terbang ke Brisbane pada akhir pekan. Terkadang menyempatkan diri untuk menontonku tampil di taman kampus. Bahkan sering menggantikanku bermain violin. Ternyata dia piawai juga! Dia juga selalu meluangkan waktu untuk menemuiku saat aku berada di Canberra saat OPQ harus tampil di salah satu kedubes negara lain di sana.

Hingga setahun kemudian dia menyatakan mencintaiku. Seperti aku mencintainya. Dia sudah akan membawaku ke Jerman untuk menghadiri acara pernikahan kakaknya sekaligus ingin memperkenalkan aku pada keluarganya. Tapi pada saat yang sama Mama akan datang menjengukku. Tak mungkin aku meninggalkan Mama atau membatalkan keinginan Mama. Jadi dia pulang sendirian ke Jerman.

Aku masih ingat betul bagaimana dia dengan lembut membisikkan kalimat cintanya padaku sebelum terbang, “I love you, Miss Cempluk.” Dia mengucapkan nama panggilanku itu dengan sempurna setelah susah payah berlatih. Dan ketika dia berhasil melakukannya beberapa minggu sebelumnya, kami merayakannya dengan menikmati aneka dumpling dan sea food di salah satu sudut Chinatown-nya Brisbane yang ada di Fortitude Valley.

Itu terjadi hampir tiga tahun yang lalu. Pada kenyataannya dia tak pernah lagi kembali ke Australia. Tak pernah lagi kembali padaku. Dan sejak saat itu aku memutuskan untuk memasukkan violinku ke dalam kotak dan berhenti menyentuhnya.

Aku patah hati.


Hingga detik ini...

Saat kuelus lagi violinku dengan airmata menetes satu per satu. Seakan aku masih merabai sisa sentuhan tangan Otto pada sekujur tubuh violinku. Sentuhan yang juga selalu kurasakan hangat di pipi.

Aku berusaha menghela napas panjang. Susah payah. Karena napasku masih juga tersentak-sentak. Lalu kumantapkan hati untuk mulai menggesekkan bow pada senar violinku. Stem-nya sudah kurang sempurna. Dan setelah menyetem, jemariku pun mulai menari di atasnya.

* * *

Selanjutnya


15 komentar:

  1. kamisnya bisa digeser besok nggak hheheheh

    BalasHapus
  2. duh...romantis banget yaa...Cempluk itu...

    BalasHapus
  3. Violin ama Biola sama gak deh, Bude?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Secara umum kita nyebut biola untuk violin maupun viola (biola alto). Penyebutan pemainnya juga berbeda. Pemain violin (biola 'sopran') disebut violinist, sedangkan pemain viola (biola alto) disebut violist.
      Makasih mampirnya, Mbak Alin... 😘

      Hapus
  4. Pada akhirnya Miss Cempluk A.K.A Arinda Wirahadi menjadi seorang Mrs. Irvan juga. He he he jodoh yang pas untuk ukuran seorang Riri 'Cempluk'. Keeerrrrreunnnnn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ini cerita paling nggak seru karena udah ketauan akhirnya ya, hiks! 😢

      Hapus
    2. Tapi kan juga penuh misteri hingga pada akhirnya bertemu dengan seorang chef pemilik Godhong Gedhang. Nggak datar kok fiksinya

      Hapus
    3. Semoga bener-bener nggak mengecewakan pembaca ☺
      Makasih mampirnya... 😘

      Hapus
  5. sama alessandro ajaaaaaa....

    perbaikan keturunan.

    BalasHapus