Thursday, March 23, 2017

[Cerbung] Affogato #22-1








Sebelumnya  



* * *


Dua Puluh Dua


Prima mengerjapkan mata. “Ini hari apa, ya, Liv?”

“Kamis, Pa,” jawab Olivia yang sedang berdiri di sebelah ranjang untuk membenahi selimut Prima. “Kenapa? Ingin pulang?”

Prima tersenyum tipis mendengar ucapan Olivia yang sarat dengan nada canda. Gadis itu kembali duduk di kursi di sebelah kanan ranjang Prima. Diambilnya telapak tangan kanan Prima, kemudian digenggamnya hangat.

“Kalau menurut dokter Papa sudah cukup kuat untuk rawat jalan, pasti boleh pulang,” senyum Olivia. “Tapi, sayangnya, belum waktunya. Sabar, ya, Pa?”

Prima mengangguk lemah. Ia kemudian memejamkan mata. Mencoba mengingat-ingat.

Kamis...

Ini adalah hari keduanya boleh menempati ruang rawat biasa setelah keluar dari ICU. Ia dirawat intensif selama lima hari di sana sebelum dipindahkan ke sini, ruang rawat VVIP yang cukup nyaman. Kondisinya sudah stabil dan mulai menuju ke pemulihan, walaupun ia masih belum sanggup banyak bergerak. Lebih banyak merasa lemas, pusing, dan mengantuk. Masih harus dibantu juga dengan selang oksigen untuk bernapas demi meringankan beban jantungnya.

Dan setahunya, ketiga anaknya jarang meninggalkannya. Malah hampir dikatakan tidak pernah. Selalu ada yang menunggui. Yang lebih banyak bersiaga adalah Olivia. Sedangkan Maxi dan Carmela, terjeda dengan keharusan ke kampus dan bersekolah.

“Kamu cuti sampai kapan?” ia kembali membuka mata.

“Sampai Papa pulih lah...”

“Kelamaan, Liv.”

“Enggak...,” Olivia mengeleng. “Sama Pak Luken dikasih kebebasan, kok. Ya... ada risiko pemotongan gaji, sih, tapi nggak apa-apa. Nggak masalah.”

“Mm... Dompet Papa di mana, ya?”

“Ada sama aku. Kenapa? Papa butuh apa?”

“Ambil kartu debit yang merah, Liv. Nanti Papa kasih tahu PIN-nya.”

“Buat apa?”

“Buat kebutuhan kalian.”

“Gampang nanti,” Olivia mengelus lengan kanan Prima. “Aku masih ada uang, kok. Papa nggak perlu khawatir.”

Ada ungkapan protes dalam tatapan Prima. Olivia segera memahaminya.

“Ya, sudah, berapa PIN-nya?” Olivia menanggapi. Mengalah. Sekadar untuk menenangkan Prima.

Laki-laki itu kemudian menyebutkan enam angka yang diingatnya dengan baik. Tanggal kelahiran Olivia yang dibaca dari belakang.

“Hm...,” Olivia tersenyum lebar ketika menyadarinya. “Itu yang punya Maxi dan Mela yang mana, ya? Bisa sekalian dibobol, nih!”

“Rahasia, dong,” Prima tersenyum.

Olivia tergelak. Dalam hati ia merasa lega. Sangat lega. Tampaknya sang ayah benar-benar kuat bertahan dan bersemangat tinggi untuk sembuh, walaupun saat ini terlihat masih sangat lemah.

“Maxi, kok, belum datang, ya, Liv?”

“Baru juga jam setengah sepuluh, Pa,” jawab Olivia sabar. “Mau konsul sama pembimbing skripsi, katanya. Kayaknya nanti dia baru ke sini setelah sekalian jemput Mela.”

“Oh... Kalau gitu, tolong panggilkan perawat, ya. Papa kebelet pup ini, Liv.”

“Oh...,” Olivia tersenyum sambil meraih bel.

Hanya dalam hitungan detik, seorang perawat muncul dengan sikap ramahnya. Secara singkat Olivia menjelaskan kebutuhan Prima, dan dengan cekatan perawat itu menjalankan tugasnya. Olivia diam-diam menyingkir keluar, dan duduk di sebuah kursi di lorong.

Selalu ada batasan...

Dihelanya napas panjang. Bagaimanapun, statusnya adalah putri sang ayah. Bukan istri. Kendati pun ia ingin melayani seluruh kebutuhan sang ayah selama terbaring sakit, selalu ada batasan yang belum bisa dilanggar. Apalagi ayahnya dalam kondisi sadar. Dan posisinya sendiri bukan seperti perawat yang memang harus bekerja secara profesional.

Kemarin, saat menghadapi hal yang sama, Maxi-lah yang membersihkan Prima dengan senang hati. Sama sekali tanpa canggung ataupun rasa jijik. Pemuda itu sudah mengamati cara kerja perawat saat hari-hari akhir ayahnya di ICU, dan merasa bisa melakukannya.

“Kalau Papa pup lagi, aku saja yang bersihkan, Mbak,” ucap Maxi kemarin. “Kalau aku nggak ada, baru panggil perawat.”

Dan Olivia sangat memahami maksudnya. Sekali lagi ia menghela napas panjang.

Seharusnya hal-hal seperti ini ditangani Mama. Tapi...

Samar, ia menggelengkan kepala. Saat pertama kalinya bisa bicara dengan jelas walaupun dengan suara nyaris tak terdengar saat masih dirawat di ICU, Prima sudah menyatakan untuk sementara waktu tak ingin bertemu dengan Arlena. Dan Olivia juga sudah menyampaikannya pada Arlena melalui sebuah pesan pendek.

Dan soal kartu debit tadi...

Ada keharuan yang terasa menyesakkan dada Olivia. Dalam keadaan seperti itu pun ayahnya masih memikirkan tanggung jawabnya.

Kurang apa sebenarnya Papa, Ma...?!

Ingin ia meneriakkan pertanyaan itu tepat di telinga Arlena. Pada saat yang sama, entah kenapa pikirannya melayang juga pada sosok seorang Navita. Seseorang ‘tanpa dosa’ yang tiba-tiba harus terkait keruwetan hanya karena diigaukan oleh Prima. Tiba-tiba saja ia ingin sekali bertemu dan bicara banyak pada gadis itu. Tapi ia benar-benar tak tahu kenapa dan apa yang hendak ia bicarakan. Hanya ‘tiba-tiba ingin’ saja.

Disandarkannya kepala pada dinding. Pada saat tengah sendirian seperti ini, barulah ia merasa bahwa sejujurnya ia merasa sangat lelah. Sejak pulang sejenak bersama Maxi dan Carmela pada hari kedua Prima di ICU, ia tak pernah pulang lagi.

Semalam, barulah ia merasakan tidur yang agak nyaman di sofa bed di ruang perawatan biasa, setelah Prima dipindahkan dari ICU pagi harinya. Ia memang selalu menyuruh Maxi dan Carmela pulang bila sudah menjelang malam. Carmela tidak boleh absen sekolah, dan Maxi harus ada bersama si bungsu itu saat di rumah agar terhindar dari intimidasi tak perlu dari Arlena.

Olivia sedikit tersentak kaget ketika pintu di dekatnya terbuka dan tertutup. Ia menoleh. Perawat yang baru saja menangani Prima menatapnya sambil mengulas senyum ramah.

“Maaf, Mbak, agak lama,” ucap perawat itu. “Bapak sedikit sembelit, jadi susah keluarnya. Minumnya dibanyakin, ya?”

“Iya, Sus,” angguk Olivia. “Terima kasih banyak. Maaf, merepotkan.”

“Ah, Mbak, nggak apa-apa. Sudah jadi tugas kami, kok. Oh, ya, sekalian tadi posisi Bapak sedikit saya tegakkan. Sebentar lagi waktunya dapat snack. Nanti kalau Bapak merasa nggak nyaman, bisa Mbak tolong untuk berubah telentang lagi atau kalau mau berbaring miring juga nggak apa-apa.”

“Oke, Sus.”

“Baiklah, mari, saya tinggal dulu. Jangan segan tekan bel kalau butuh sesuatu, ya, Mbak. Permisi...”

Sepeninggal perawat itu, Olivia kembali masuk. Benar kata perawat tadi. Ayahnya kini sudah dalam posisi setengah duduk dengan mata terpejam. Ia mendekat dan kembali duduk di sisi ranjang.

“Pusing nggak, Pa?” tanyanya halus.

Prima membuka matanya. “Belum. Mungkin nanti kalau kelamaan.”

“Kata suster tadi, Papa harus lebih banyak minum,” ucap Olivia sambil meraih air mineral dalam botol besar, sekaligus menyiapkan sebatang sedotan. “Biar nggak sembelit lagi. Minum, ya?”

Dengan patuh Prima menyedot pelan-pelan air minum yang disodorkan Olivia.

“Kalau Papa pusing atau nggak nyaman, bilang, ya? Nanti biar aku bantu berubah posisi.”

Prima mengangguk dengan leher terasa tercekat oleh keharuan.

Anak-anak yang baik... Sayangnya orang tuanya amburadul semua...

* * *

Sekuat tenaga Navita berusaha konsentrasi pada pekerjaannya. Sejak awal minggu ini, saat ia mendengar sang boss dirawat di rumah sakit, bahkan harus masuk ICU, ia seperti hilang akal. Kegembiraan dan semangatnya setelah melalui long weekend bersama Gandhi seolah menguap begitu saja.

Senin malamnya, ia sempatkan untuk menelusuri kembali hatinya. Mencari ada apa dengannya dan Prima yang terasa sangat istimewa. Membandingkannya dengan perasaan terhadap Gandhi. Muaranya benar-benar hanya pada dua hal. Hal pertama, ia benar-benar mencintai Gandhi dan merasa sangat nyaman di samping laki-laki itu. Hal kedua, ia seolah menemukan sosok ayah yang tak pernah dikenalnya pada diri Prima. Dan ia tak bisa menemukan hal lain.

Keesokan harinya, Selasa sore, Gandhi menceritakan sesuatu saat mereka pulang bersama seperti biasanya. Dunianya seketika berguncang hebat.

Benarkah?

Ia terhenyak.


“Vit, lagi ada desas-desus ramai di BlogSip,” ucap Gandhi sambil menyetir mobilnya, berusaha menembus kemacetan yang menghadang mereka.

“Wuidiiih... Doyan gosip juga masku tersayang ini,” ledek Navita.

Gandhi tertawa.

“Entah gosip atau enggak,” lanjut Gandhi, “tapi dengar-dengar, Arlena Arbianto kena kasus foto topless.”

“Hah???”  seketika Navita terjingkat kaget. “Serius, Mas?”

“Ini juga cuma dengar-dengar, lho, Vit. Lagi rada ramai dibahas sampai di FB. Aku, sih, cuma mengamati saja. Karena nggak paham masalah sebenarnya.”

Navita tercenung. Lama.

Pantas... Kalau cuma sekadar desas-desus, kenapa pas sekali kejadiannya?

“Mas, Pak Prima itu sekarang lagi dirawat di ICU, lho,” gumamnya kemudian.

“Hah? Kok, bisa, Vit?”

“Kabarnya kena serangan jantung hari Jumat kemarin. Yang sudah menengok, sih, para boss. Itu juga nggak ketemu langsung. Kami para kroco menunggu nanti kalau Pak Prima sudah agak mendingan.”

“Jangan-jangan kena serangan jantung karena kasus itu, Vit?”


Navita mengangguk samar.

Dan tampaknya memang benar, karena di sini pun gosip itu mulai menggelinding liar...

“Vit!”

Navita tersentak dan menoleh. Rinjani tengah menatapnya dengan tangan memegang sehelai kertas dan pensil.

“Kerjaanmu hari ini nggak banyak, kan?” tanya Rinjani.

“Ini sudah hampir selesai, Bu.”

“Cuma itu, atau ada yang lain?”

“Sementara baru sekian, Bu. Entah kalau nanti ada tugas baru.”

“Hm... Bisa ditunda sampai setelah makan siang, nggak?”

“Bisa, sih...”

“Kalau begitu aku masukin kamu ke daftar besuk Pak Prima sekarang, ya? Disuruh Big Boss, nih!”

“Berangkat jam berapa, Bu?”

“Setengah sepuluh ini. Lima belas menit lagi kumpul di lobi.”

Tanpa menunggu persetujuan Navita, Rinjani segera menuliskan namanya dalam daftar yang disusunnya. Ternyata, baru saja telah terjadi kesibukan dalam ruangan itu. Rinjani berkeliling untuk mendata sepuluh orang wakil divisi mereka untuk giliran menjenguk Prima mulai hari ini. Karena Navita terlalu keras berusaha menumpahkan konsentrasinya pada pekerjaan, maka ia melewatkan kesibukan itu.

Padahal Mas Gandhi dan aku sudah berencana untuk menjenguk secara pribadi hari Sabtu lusa...

Tapi ia benar-benar tak menemukan alasan untuk menolak. Maka ia terpaksa pasrah ketika Rinjani menggiringnya beserta rekan-rekannya yang masuk dalam daftar.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)



8 comments: