Wednesday, March 15, 2017

[Cerbung] Affogato #19-2








Sebelumnya  



* * *


Astaga... Mimpi apa aku semalam?

Arlena mengerjapkan mata dengan pasrah.

Penampilan laki-laki itu bila dibandingkan dengan Prima bagai bumi dan langit. Dandanan Prima minimalis, tapi menimbulkan kesan bersih dan ringkas, tanpa mengurangi kegagahannya.

Sedangkan laki-laki ini?

Arlena mendegut ludah. Entah kenapa seluruh benda yang menempel di badan laki-laki itu terlihat tak ada yang pas. Mulai dari pakaian, perhiasan, sepatu, dan potongan rambutnya. Tapi Arlena berusaha mengenyahkan sedikit rasa jijik yang hinggap di hati. Bagaimanapun juga, laki-laki yang duduk di hadapannya itu adalah pendukungnya yang paling setia.

Dan seperangkat perhiasan yang sudah dikirimkannya padaku  terlalu indah untuk ditolak...

“Aku kaget saat kamu tahu-tahu mengirimkan pesan lewat inbox padaku,” senyum laki-laki itu. Mencoba menebar pesona.

Arlena tersenyum sedikit, “Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.”

“Hm... Untuk?” ada kilatan menggoda dalam tatapan laki-laki itu. Anggara.

“Perhiasan yang kamu kirimkan padaku.”

“Ah!” Anggara mengibaskan sebelah tangannya. “Hanya barang-barang kecil... Seharusnya kamu menerima hal-hal lain yang jauh lebih besar daripada itu.”

Percaya... dan tidak.

Sekilas tatapan Arlena jatuh pada seuntai kalung rantai besar dan tebal yang melingkari leher Anggara. Terlihat jelas karena laki-laki itu sengaja membuka dua kancing teratas kemejanya. Entah kopong atau tidak, ukuran kalung itu cukup menggambarkan ‘selera’ Anggara.

“Jadi bagaimana?” Anggara menatap lurus ke arah Arlena. Terlihat cukup bernafsu. “Kamu sudah benar-benar lepas dari Harmono?”

“Kenapa?” bibir Arlena mencebik sesaat. “Kamu takut padanya?”

Anggara terbahak. Membuat Arlena merasa risih seketika karena ada beberapa pasang mata yang kini menatap ke arah mereka berdua.

“Tidak ada kata takut dalam kamusku, Nyonya,” Anggara mengedipkan sebelah mata. “Aku hanya mencoba menunggumu bebas dulu.”

“Bebas?” Arlena mengangkat kedua alisnya. Tertawa sedikit. “Aku ini perempuan yang sudah bersuami, Ang.”

“Apakah kamu masih ingat kepada suamimu ketika mulai berhubungan dengan George Clooney KW itu?” ada sorot mata meremehkan dalam tatapan Anggara.

Seketika Arlena melengos. Ia diingatkan lagi pada kesalahan besar yang telah diperbuatnya dengan Harmono. Itu membuatnya lebih merasa was-was daripada malu. Tentu saja karena ia sama sekali tidak bisa melupakan ancaman Harmono.

Tapi... Arlena mengerjapkan mata. Untuk selingan kayaknya boleh juga. Hm...

“Bisnismu apa sekarang, Len?” Anggara menyesap espresso-nya.

Arlena mengangkat bahu. “Lebih banyak ke perhiasan berlian.”

“Aku eksportir mutiara asli, Len, baik yang laut maupun air tawar,” ucap Anggara tanpa ditanya. “Ditambah sedang merintis pembuatan perhiasan berbasis logam mulia, mutiara, dan kristal. Kalau kamu mau memasarkannya...”

“Boleh saja,” sahut Arlena. Mencium adanya peluang besar. “Tapi murni bisnis, bukan pertemanan.”

“Yup! Kamu sudah punya pasar, kan?”

“Hm...”

“Nanti aku kirim beberapa set lagi sebagai promosi.”

“Kalau kristalnya premium seperti yang kemarin, aku mau memasarkannya. Swarovski asli, kan?”

“Asli,” Anggara mengangguk mantap. “Aku nggak mau main-main dalam hal ini. Kalau mau custom juga bisa.”

“Hm... Coba nanti aku jajaki dulu. Kebetulan besok aku diundang untuk datang ke arisan salah seorang customer-ku. Sosialita. Aku bukan anggota, tapi aku biasa berbisnis dengan mereka. Ada beberapa pesanan khusus yang  harus kuserahkan pada mereka. Mungkin aku bisa sekalian promo perhiasanmu.”

“Sip! Nanti sore aku kirim beberapa set beserta harga dasarnya dariku. Terserah kamu mau mark-up jadi berapa.  Tapi tetap ada harga maksimalnya, Len.”

“Bukan sistem beli putus, kan?” Arlena menatap Anggara. Memastikan. “Kalau nggak laku, aku bisa habis.”

“Bukanlah...,” senyum Anggara. “Aku titip padamu. Bisa kamu kembalikan dan tukar yang lain. Oh, ya, semuanya eksklusif. Satu model cuma ada maksimal kembar tiga dengan warna berlainan.”

“Oke.”

“Senang berbisnis denganmu, Len,” senyum Anggara melebar. Terlihat puas.

Arlena menanggapinya dengan senyum seperlunya.

Semoga...

* * *

Tak ada tudung mendung di langit seharian ini. Dengan senang hati Carmela menutup siang hari yang terasa gerah dengan menyiram tanaman di taman depan rumah. Kali ini tanpa Muntik yang sudah pulang, melainkan bersama Olivia. Ada Prima juga, sibuk memangkas daun-daun perdu yang mulai layu kekuningan. Tak ketinggalan Arlena yang ikut sibuk dengan merapikan rumpun-rumpun mawar di dekat pagar, agak jauh dari suami dan kedua putrinya.

Pada awalnya keasyikan mereka tak terusik. Hingga sebuah sedan cukup mewah keluaran Eropa berhenti di depan rumah. Arlena sekilas melongok, tapi ketika merasa tak mengenali mobil itu, ia kembali sibuk. Tapi perhatiannya kembali teralih ketika mendengar suara gembok beradu dengan pagar dalam irama teratur. Ia menoleh dan tatapannya membulat seketika. Sama seperti tatapan Olivia yang tertegak dalam posisi masih menyemprot sekumpulan perdu. Tanpa sadar arah semprotan itu berubah, hingga gadis itu tersentak ketika mendengar teriakan Prima.

“Liv! Hadeeeh!” Prima berdiri dengan tubuh setengah basah. “Ini gimana, kok, jadi Papa yang kamu semprot?”

Olivia ternganga sejenak. Baru sadar apa yang terjadi ketika tawa Carmela pecah. Buru-buru Olivia mematikan aliran air melalui tuas di ujung selang.

“Maaf, Pa,” ia meringis sambil beralih mengambil sapu lidi dan pengki untuk membersihkan sampah potongan tanaman yang dihasilkan Prima.

Prima menggelengkan kepala sambil mengibaskan kaos oblong yang dipakainya. Sementara itu Arlena sudah membuka pintu pagar. Tatapannya tajam menyapu wajah sang tamu.

“Mau apa kamu ke sini?” desisnya.

“Lho, kan, sudah kubilang, sore ini akan kirim beberapa set perhiasan yang besok mau kamu tawarkan ke teman-teman sosialitamu itu,” Anggara menjawab dengan wajah sok polos yang terlihat sangat menyebalkan.

“Pakai kurir, kan, bisa,” gerutu Arlena, membuka pintu pagar agak sedikit lebar.

“Woho... Barang berharga ratusan juta begini mau kupasrahkan pada kurir? Nanti dulu! Eh, jadi aku boleh masuk?”

Arlena ragu. Ada suami dan anak-anaknya di dekat situ, sementara Anggara berdiri sambil membopong sebuah kardus besar. Tak mau ambil resiko, Arlena segera mengambil alih kardus itu. Ternyata tidak terlalu berat. Ditatapnya Anggara.

“Oke, barangnya sudah kuterima,” ucapnya lugas. “Kamu sudah tahu rumahku. Aku nggak bakalan menggelapkan barang-barangmu ini.”

“Aku percaya...,” senyum Anggara terlihat santai. “Pak?” ia mengangguk sedikit.

Prima ternyata sudah berdiri di belakang Arlena.

“Kok, tamunya nggak disuruh masuk, Ma?”

“Cuma antar ini saja, kok,” Arlena menggerakkan sedikit kardus yang dibopongnya. “Mau langsung pulang.”

Anggara tersenyum dikulum. Ia memahami isyarat Arlena agar segera meninggalkan tempat itu. Tapi ia masih berniat menggoda Arlena.

“Halo, Livi!” ujarnya tiba-tiba sembari menatap dan melambaikan tangan ke arah Olivia. “It’s so nice to see you again!” Kemudian berpamitan kepada tuan dan nyonya rumah.

Olivia sama sekali tak menanggapi. Hingga Anggara meninggalkan tempat itu, Olivia tetap sibuk dengan kegiatannya. Tak menoleh sedikit pun. Begitu Arlena masuk untuk menyimpan kardus yang didapatnya dari Anggara, Prima mendekati putri sulungnya.

“Siapa, sih, dia?” gumamnya sambil berlagak menggulung selang.

“Tanya saja sama Mama,” jawab Olivia, tak berusaha menyembunyikan nada sengit dalam suaranya. “Perasaan tambah tua nggak tambah bener! Punya kenalan norak banget kayak gitu!”

Prima terbengong sejenak melihat kejengkelan dan rasa jijik tergambar nyata dalam wajah Olivia. Carmela sendiri sudah menyisih diam-diam sejak tadi, ketika melihat wajah Olivia perlahan berubah menjadi gelap karena sapaan tamu sang mama.

“Segitunya, Liv...,” Prima mengulurkan tangan, mengelus lembut punggung Olivia.

Olivia bergidik. Teringat bagaimana laki-laki itu sudah menganggapnya sedemikian rendah saat mereka pertama kali bertemu secara tidak sengaja. Diam-diam ia mengumpat dalam hati.

* * *

Carmela membantu Olivia menyiapkan makan malam dalam hening. Tampaknya kakak sulungnya itu benar-benar dilanda bad mood. Wajah Olivia terlihat masih gelap. Hingga makanan lengkap terhidang di meja makan, Olivia masih membisu.

Ketika mereka sudah duduk berempat dan mulai menikmati makan malam, terdengar pintu pagar dibuka, diikuti derum halus motor Maxi. Tanpa disuruh, Carmela berlari meninggalkan ruang makan untuk membuka pintu garasi. Kesempatan itu tak disia-siakan Arlena yang sejak Anggara berpamitan diliputi rasa penasaran.

“Liv, boleh Mama tanya?” suara Arlena terdengar berhati-hati.

Diabaikannya isyarat Prima melalui sorot mata yang menyatakan ketidaksetujuan. Laki-laki itu sepertinya mengerti apa yang hendak ia bicarakan.

“Hm...”

“Kamu kenal di mana Pak Anggara itu?” Arlena menatap Olivia.

Dan napas Prima seolah tertahan ketika melihat ekspresi wajah Olivia bertambah gelap.

“Catat, ya, Ma!” ketus Olivia. “Aku nggak kenal sama dia!”

“Tapi dia tahu namamu. Pernah bertemu?” Arlena benar-benar menguapkan kepekaan hati hanya demi memuaskan rasa ingin tahunya.

Olivia serta-merta meletakkan sendoknya dan berdiri.

“Ya!” tatapan Olivia menusuk manik mata Arlena. “Dan saat itu juga aku dianggapnya pelacur karena aku ada bersama seorang boss seperti Pak Luken! Laki-laki bajingan, dia!”

Prima ternganga. Sekarang, barulah ia benar-benar memahami kenapa Olivia bisa sedemikian marahnya disapa laki-laki bernama Anggara itu. Selesai berucap dengan nada tinggi dan suara keras seperti itu, Olivia meninggalkan ruang makan. Tak menyentuh lagi makanan yang telanjur ada di piringnya. Hampir saja gadis itu bertabrakan dengan Maxi dan Carmela. Tak berapa lama, terdengar debum pintu terbanting dari arah lantai dua.

“Puas, kamu?!” tatapan Prima yang lurus mengarah pada Arlena tampak berlumur kemarahan. “Puas, laki-laki kenalanmu itu menganggap anakmu sebagai pelacur?!”

Sebelum Arlena sempat membela diri, Prima sudah berdiri dan bergerak cepat meninggalkan ruang makan. Meninggalkan pula Maxi dan Carmela yang terbengong.

“Ada apa lagi, sih, ini?” Maxi mengerutkan kening. Menatap Arlena dengan sorot mata menuduh.

Perempuan itu hanya menggeleng sambil mengangkat bahu.

* * *

Ia benar-benar marah. Semarah-marahnya. Tanpa tahu bagaimana melampiaskan semua itu. Ia hanya bisa duduk mencangkung di atas kursi di dalam kamarnya. Diam. Menatap sebidang kecil meja yang ada di hadapannya.

Bajingan busuk itu!!! geramnya dalam hati. Bisa-bisanya sampai di sini! Semua karena Mama! Kenapa aku selalu kena imbas ketololan yang dilakukan Mama??? Lagi-lagi Mama! Lagi-lagi Mama!!!

Dan ia meneruskannya dengan umpatan yang memindahkan seisi kebun binatang ke dalam benak dan hatinya. Begitu tenggelamnya ia dalam kungkungan kemarahan, hingga tak menyadari bahwa pintu yang tadi dibantingnya tanpa dikunci kini dibuka pelan-pelan dari luar.

Tanpa suara, Prima menyelinap masuk. Lama ia berdiri di belakang gadis sulungnya itu dalam hening, sebelum bergeser dan duduk di tepi ranjang. Olivia menoleh sekilas ketika menyadari adanya gerakan di dekatnya.

“Aku sudah nggak tahan lagi,” celetuknya tiba-tiba. “Aku mau kost saja.”

Prima tidak terkejut, tapi tetap saja celetukan bernada datar dan benuansa dingin itu terasa menohok hatinya. Ada rasa sakit. Ada rasa tak berdaya. Ada juga rasa sedih yang luar biasa.

Seharusnya tidak seperti ini...

Lalu tanpa berkata apa pun, ia berdiri dan meninggalkan kamar itu. Olivia terhenyak. Baru kali ini Prima menanggapi ucapannya hanya dengan diam. Ia mengerjapkan matanya yang mulai terasa hangat berair.

Seharusnya aku bisa menahan diri. Maafkan aku, Pa. Maafkan aku...

* * *

Malam kian larut, tapi Prima seolah melupakan waktu ketika duduk mencangkung di sofa teras belakang. Ditemani secangkir teh yang sudah lama mendingin di atas coffee table. Berkali-kali ia menarik napas panjang. Sekadar melepaskan rasa sesak yang menghimpit dada.

Kenapa keadaan semakin memburuk dan tak terkendali?

Ia menggeleng samar. Menatap kegelapan yang tak terjangkau cahaya temaram lampu teras dan lampu taman. Makin lama ia merasa makin tak ingin bicara dengan Arlena.

Arlena kembali, tapi sepertinya beban Olivia tak berkurang. Malah jadi makin berat. Kalau sudah seperti ini, buat apa dipertahankan?

Lalu wajah Carmela seolah terbit di benaknya. Seraut wajah polos dan riang dengan tatapan bertabur sejuta harapan.

Tapi apakah harus menghancurkan harapan itu?

Ia menurunkan kaki dan meraih cangkirnya. Dihabiskannya sisa teh dalam cangkir itu dalam sekali teguk. Ketika hendak mengembalikan cangkir ke coffee table, ia melihat ada gerakan dari sisi kanannya. Ketika menoleh, didapatinya Maxi tengah berdiri di ambang pintu. Menatapnya ragu-ragu.

“Belum tidur, Max?” ia melambaikan tangan, memberi isyarat agar Maxi mendekat.

Pemuda itu pun menurut dan duduk di sebelah kanan Prima. Perlu beberapa detik untuk berpikir dan bertanya. Dengan suara tetap terdengar antara ya dan tidak.

“Tadi itu... sebenarnya ada apa, Pa?”

Prima menghela napas panjang sebelum menjawab, “Mamamu, mengakunya, ada bisnis dengan seorang laki-laki. Tadi dia datang antar barangnya. Ternyata sebelumnya pernah bertemu dengan Mbak Livi. Tapi sikapnya sama sekali nggak sopan. Mbak Livi marah. Jijik juga, katanya. Malah sempat tercetus mau kost segala. Entahlah, Max,” Prima mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Maxi terhenyak. Ternyata masalahnya jauh lebih pelik daripada yang bisa diperkirakannya.

Dan lagi-lagi karena Mama!

Ia sungguh-sungguh mengkhawatirkan kondisi Prima. Kalau terus-menerus dihantam masalah yang seharusnya tak perlu terjadi kalau saja Arlena mau sedikit saja memikirkan keluarga seperti saat ini, bukan tidak mungkin Prima akan ambruk lagi. Dan mungkin akan lebih parah. Belum lagi Olivia. Setegar apa pun kakaknya itu, pastilah kekuatannya terbatas.

Kami tidak pantas terkena imbas seperti ini! Maxi mengetatkan rahangnya. Terutama Mbak Livi!

“Berpisah sajalah, Pa...”

Bisikan yang nyaris tak terdengar itu seolah bunyi petir yang menyambar telinga Prima. Seketika laki-laki itu menoleh. Ditatapnya Maxi.

“Max, kamu sadar apa yang kamu ucapkan?” desis Prima.

“Ya,” Maxi balik menatap Prima, tepat di manik mata. “Toh, selama ini kita baik-baik saja tanpa Mama.”

Prima terhenyak dan menggumam, “Mela, Max. Adikmu ini bisa hancur kalau kita memaksakan perpisahan.”

“Jadi Papa sebetulnya sudah memikirkan soal ini, kan?” tegas Maxi tanpa ampun. “Mbak Livi dan aku pasti akan bersama Papa. Mela? Terserah dia. Kalaupun dia memilih Mama, aku yakin mata hati Mela lama-lama akan terbuka.”

Prima mengembuskan napas kuat-kuat dari mulut. Bertahan, itu artinya ia akan mendudukkan Olivia pada posisi tersudut dengan beban dan imbas yang seharusnya tidak ditanggung si sulung itu. Berpisah, bisa jadi itu artinya ia akan menghancurkan Carmela. Dua pilihan yang ia merasa tak mampu menjatuhkan telunjuk pada salah satunya. Memang ada Maxi yang cukup kuat untuk menopangnya. Tapi harus menyaksikan salah satu dari kedua putri kesayangannya akan dikorbankan sedemikian rupa, rasanya ia tak pernah sanggup.

“Coba besok aku bicarakan sama Mbak Liv, Pa.”

“Jangan dulu!” Prima mencekal pergelangan tangan Maxi. “Papa belum bisa memikirkannya sekarang, Max.”

Dan entahlah apakah besok-besok aku akan bisa...

Prima mengerjapkan mata. Ia berdiri.

“Sudah larut malam, Max,” ujarnya. “Ayo, istirahat.”

Tapi Maxi tetap duduk mematung. Membuat Prima meninggalkannya dengan perasaan teraduk.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)

2 comments: