Senin, 13 Maret 2017

[Cerbung] Affogato #19-1









Sebelumnya  



* * *


Sembilan Belas


Semua kembali ke titik nol. Walaupun ia tahu bahwa hubungan Arlena dengan tikus got itu sudah berakhir. Tidak ada lagi momen bersahutan komentar di BlogSip. Tampaknya Arlena benar-benar sudah berusaha menahan diri agar tidak kembali lagi ke sana. Sesekali masih, tapi tidaklah seintensif beberapa minggu lalu.

Aku sudah memaafkannya...

Tatapan Prima jauh menembus kaca jendela ruang baca. Keindahan taman belakang tampak mengabur di matanya.

Navita dan aku...

Sesungguhnya ia bingung ada apa sebenarnya antara ia dan gadis itu.

Cinta asmara?

Ia menggeleng samar.

Tidak sedalam itu.

Tidak ada rasa yang menggelora. Tidak ada keinginan akan sesuatu yang tak tertahankan. Tidak ada debar aneh. Bahkan ketika ia mengatakan bahwa ia malah teringat Olivia ketika menatap gadis itu, ia benar-benar jujur.

Aku, toh, tidak terlalu bodoh untuk menangkap gelagat Arlena dan tikus got itu!

Ditinjunya meja dengan kepalan tangan kirinya.

Berpisah?

Seketika ia terhenyak. Mungkin Olivia dan Maxi tidak akan terlalu terpengaruh.

Tapi Mela?

Rasanya ia tak akan sanggup bila harus melihat binar di mata gadis bungsunya itu memudar. Walau tidak terungkapkan melalui kata-kata, jelas bahwa ada harapan yang membumbung dalam hati Carmela, tentang sebuah keluarga yang kembali utuh, hangat, dan penuh cinta.

Tapi Arlena sudah menodai semua itu...

Pada awalnya, ia masih berusaha bersabar ketika telinga dan matanya menangkap desas-desus tentang Arlena dan Harmono. Tapi rasa sabar itu begitu saja menguap ketika ia menyentil soal itu dan Arlena tidak membantah sedikit pun. Seolah membenarkan bahwa memang benar ‘ada apa-apa’ antara perempuan itu dengan Harmono.

Sementara aku sudah berusaha menjelaskan yang sesungguhnya tentang Navita, dan Arlena tak mau percaya. Walaupun aneh, tapi memang benar-benar seperti itu kejadiannya.

Dihelanya napas panjang.

Lantas apa lagi?

Suara pintu yang terbuka membuat Prima cepat-cepat mengalihkan tatapan ke arah layar laptop.

“Pa...”

Ia menoleh. Arlena menyembulkan sebagian tubuhnya dari balik pintu.

“Aku mau keluar,” ucap Arlena. “Mau antar kalung buat customer-ku. Aku pakai mobilmu, ya? Mobilku nggak bisa keluar, terhalang mobil Livi. Papa mau keluar, nggak?”

Prima menggeleng tanpa suara.

“Papa mau nitip apa?”

Prima kembali menggeleng, kemudian mengalihkan tatapan ke layar laptopnya. Berlagak sibuk kembali. Didengarnya helaan napas Arlena. Tapi ia berusaha untuk tidak peduli.

* * *

Berbohong...

Arlena menggeleng samar sambil mulai menekan pedal gas. City car silver itu pelan-pelan meluncur keluar dari garasi.

Ia terpaksa melakukannya. Keadaan sedang rumit sekarang. Tampaknya Prima benar-benar marah padanya.

Seharusnya aku juga berhak marah, desahnya. Masa tidak ada apa-apa bisa sampai mengigau segala? Ck!

Agak gusar rasanya memikirkan itu. Juga tentang kebohongannya baru saja.

Apalagi alasan yang masuk akal selain berhubungan dengan bisnis berlianku?

Padahal ia hendak menuntut penjelasan. Dari seorang Anggara. Tentang kiriman seperangkat perhiasan dari laki-laki itu pada Jumat sore, dua hari yang lalu.

* * *

Rumah terasa hening ketika Prima keluar dari ruang baca. Ruang tengah kosong. Ketika ia menengok ke arah dapur, hanya ada Muntik di sana. Ia pun menghampiri perempuan itu.

“Anak-anak pergi, Tik?” tanyanya sambil menuangkan air putih ke dalam gelas.

“Mas Maxi saja yang pergi, Pak. Mbak Livi sama Mbak Mela ada di atas.”

“Oh...”

Prima keluar dari dapur dan menapaki anak tangga ke lantai dua. Dari ujung tangga, dilihatnya keempat pintu kamar tidur terbuka lebar. Jelas kamarnya di sebelah kanan lorong kosong. Ketika ia melongok ke kamar Carmela di seberangnya, ia mendapati keadaan yang sama. Saat berpindah ke kamar satunya lagi yang sederet posisinya dengan kamar Carmela, barulah ia mendapati sosok-sosok yang dicarinya.

Laki-laki itu mengulum senyum. Olivia duduk membelakangi pintu. Tampak sibuk di depan laptop dengan headset besar melingkari kepalanya seperti bando. Sesekali kepala gadis bergoyang. Mengikuti irama yang menggema di telinganya. Sementara Carmela berbaring telentang di karpet dengan kedua kaki naik ke atas ranjang Olivia. Kepalanya yang beralaskan bantal tampak terkulai dengan earphone, yang terhubung dengan ponsel, menyumbat kedua telinga. Matanya terpejam dengan napas terlihat teratur. Ada sebuah buku yang tertelungkup di atas perut. Sesekali angin yang berasal dari kipas besar yang berputar di langit-langit menggoyangkan anak-anak rambutnya. Prima melebarkan senyum.

Pelan ia melangkah masuk dan duduk di tepi ranjang Olivia. Gerakan itu rupanya menarik perhatian Olivia. Gadis itu menoleh dan mendapati senyum Prima. Buru-buru ia melepas headset yang tersambung ke laptopnya.

“Sibuk?” bisik Prima.

Olivia menggeleng sambi meringis. Menyadari bahwa tatapan Prima sedang tertuju ke arah layar laptop, ia buru-buru menyimpan ketikannya dan klik tanda minus di sudut kanan atas layar.

“Sepi banget di bawah,” gumam Prima sambil berbaring di atas ranjang.

Olivia memperbaiki posisi duduknya. Tetap dengan gaya santai, satu kaki dilipat dan diangkat ke atas kursi, tapi kini menghadap ke arah ranjang. Sejenak kemudian ia teringat sesuatu. Ia melongok ke bawah dan seketika tertawa tertahan.

“Pantesan sepi,” ujarnya. “Petasannya lagi molor.”

Prima ikut tertawa. Olivia kemudian beralih. Ia berjongkok dan mencabut earphone dari telinga Carmela.

“Mel...,” dengan lembut ditepuk-tepuknya pipi Carmela. “Mela... Mel... Pindah bobok, ‘gi. Tuh, mau dikelonin Papa, tuh...”

Antara sadar dan tidak, Carmela pun pindah tidur ke atas ranjang, meringkuk menghadap ke arah Prima dan kembali pulas. Otomatis lengan sang ayah merengkuhnya hangat.

“Anak ini dari bayi gampang banget tidurnya,” gumam Prima sambil mengelus punggung si bungsu itu.

Olivia tersenyum mendengarnya. Ia kembai ke kursi dan mengembalikan layar laptop ke keadaan semula.

“Dengar-dengar, kamu lagi nulis novel, ya, Liv?” tanya Prima dengan suara lirih.

Olivia menoleh sekilas. Terlihat tersipu.

“Hadeh... Iseng saja, kok, Pa,” ia nyengir. “Ngomong-ngomong, Mama pergi?”

“Mengalihkan topik pembicaraan...,” gerutu Prima.

Olivia tertawa ringan sambil kembali mengetik.

“Masih sepi saja,” gumamnya kemudian.

Prima tak menjawab. Tentu saja ia paham betul arti kata ‘sepi’ yang diungkapkan Olivia. Situasi antara ia dan Arlena.

“Males ngomong, Liv,” ia menanggapi sambil terus mengelus punggung Carmela. “Sudahlah, terserah saja maunya mamamu gimana.”

Olivia menghentikan kegiatannya. Kali ini ia kembali berpindah arah duduk. Ditatapnya Prima yang kini membelai-belai kepala Carmela. Hati Olivia serasa runtuh. Ayahnya tak pernah berubah. Selalu menganggapnya dan Carmela gadis-gadis kecil yang masih butuh dibelai, dibuai, diperhatikan, dan dilindungi. Dan ia juga bisa merasakan bahwa sedikit banyak Maxi pun mulai memiliki pola sikap yang sama. Selalu memperhatikan dan melindunginya dan Carmela.

“Pa...,” ujarnya kemudian, dengan nada sangat berhati-hati. “Sejujurnya, ini yang kukhawatirkan. Makanya aku nggak mau terbawa euphoria kembalinya Mama. Aku takut kalau harapan itu kubiarkan membumbung lagi, bahkan terlalu tinggi, pada akhirnya akan jatuh terbanting tanpa bisa kucegah. Kalau aku terpuruk juga, siapa yang nanti harus menopang Mela? Dia sudah telanjur berharap banyak, Pa.”

Pelan-pelan Prima bangun. Disandarkannya punggung pada kepala tempat tidur. Pada saat yang sama Carmela beralih posisi. Tapi matanya masih terpejam dan napasnya terlihat masih teratur. Ada keringat yang menggelinding ke pelipis dari batas garis rambut di kening. Melihat itu, Olivia beranjak untuk menutup jendela dan pintu, menghidupkan AC, dan mematikan kipas angin. Perlahan, hawa sejuk menyelimuti ruangan itu. Olivia kembali duduk di kursi.

“Secara nggak langsung, mamamu mengakui hubungannya dengan tikus curut itu,” desis Prima. “Pada saat ia bertanya pada Papa soal Navita, Papa balik bertanya soal tikus curut itu. Dan mamamu nggak mengelak. Sedikit pun.”

“Dia Bagus Suharman, kan?” Olivia memalingkan wajahnya. Tatapannya jauh menerawang, menembus kaca jendela. “Selentingannya begitu. Aku tahu dari Bu Sandra. Bu Sandra update soal semua gosip panas di BlogSip. Terutama tentang Mama.”

“Ya,” angguk Prima.

“Papa tahu dari mana?” Olivia mengalihkan tatapannya. Menjatuhkannya pada Prima.

Laki-laki itu mengangkat bahu. “Papa ada akun di sana.”

“Oh?” Olivia mengangkat alisnya dengan rupa heran. “Papa nge-blog juga?”

Prima tertawa lirih. “Cuma iseng mengulas sepak bola. Lainnya enggak.”

“Ooo...,” Olivia membundarkan bibirnya, tanpa suara. Sekilas pikiran melintas dalam benaknya. “Akun-akun yang sering menyerang Mama, jangan-jangan punya Papa?”

“Enggaklah,” sahut Prima tegas. “Papa nggak pernah ada urusan sama akun Mama di sana.”

Dan sepertinya Olivia harus mempercayai itu. Apalagi tatapan Prima yang jatuh lurus menembus manik matanya tak menyiratkan kebohongan setitik pun. Dihelanya napas panjang.

“Jadi Papa mengerti sekarang, kenapa aku seperti tak peduli terhadap kembalinya Mama?” bisiknya. “Bukannya aku nggak mau memaafkan Mama, Pa, tapi karena aku belum percaya sepenuhnya. Entah kenapa. Perasaanku mengatakan seperti itu.”

Prima mengangguk. Ditatapnya Olivia dengan sorot mata teduh.

“Papa selalu percaya Papa bisa mengandalkanmu,” senyum Prima. “Maafkan Papa, nggak pernah bisa memberimu lebih.”

Olivia menggeleng. “For us, you’re the best, Pa.”

Prima kembali mengangguk. Dialihkannya tatapan pada Carmela yang masih terlelap. Hawa di dalam kamar Olivia memang terasa sangat nyaman di badan, sekaligus menghanyutkan. Sejenak ia menguap.

“Papa jadi ngantuk, Liv,” celetuknya sambil kembali berbaring.

Olivia tertawa ringan. Ia kembali menghadap ke laptopnya.

“Ya, sudah, tidur sajalah, Pa,” ucapnya. “Nanti aku bangunkan kalau sudah waktunya makan siang.”

Prima menjawabnya dengan pejaman mata.

* * *

Meisya menatap Miko dengan tatapan skeptis. Yang ditatap berusaha sibuk dengan minuman pesanan mereka yang baru datang.

“Makin lama Mami, kok, makin nggak yakin dengan hubunganmu dengan gadis itu,” celetuk Mesya.

“Namanya Olivia, Mi,” ucap Miko sabar. “Livi. Masa Mami lupa?”

Meisya mendengus. “Jangan mengelak lah, Mik.”

“Mengelak soal apa?” Miko kini menatap Meisya.

“Mik, kamu satu-satunya anak Mami,” tatapan Meisya jatuh tepat pada manik mata. “Mami tahu kualitasmu. Mami juga tahu kualitas Olivia itu. Di atas kertas, kalian setara. Tak ada problem. Hanya saja, masalahnya...”

Meisya kini mendapatkan atensi Miko secara penuh. Laki-laki berusia 27 tahun itu mulai memperhatikan ucapannya.

“... Mami mendapat banyak selentingan soal mamanya. Sekarang Mami mau tahu, bagaimana kamu menyikapi semua itu?”

Miko menghela napas panjang sebelum menjawab, “Aku juga banyak dengar, Mi.”

“Nah!” wajah Mesya terlihat sedikit puas.

“Aku juga ikut jejaknya di BlogSip,” Miko melanjutkan. “Kemarin memang kenceng banget rumor soal itu. Tapi...”

“Jadi benar laki-laki itu si gembong narkoba?” potong Meisya.

“Sepertinya iya,” angguk Miko.

“Sudahlah, Mik,” Meisya mengibaskan tangannya. “Terlalu bahaya bagimu kalau harus tersangkut lingkaran itu. Pertimbangkanlah lagi.”

Miko tercenung.

Sesungguhnya beberapa waktu belakangan ini, ia sering memikirkan kembali hubungan istimewanya dengan Olivia. Ia menyayangi gadis itu. Olivia yang diketahuinya memiliki jauh lebih banyak sisi putih daripada gradasi abu-abu ke gelap total. Walaupun ia merasa belum terlalu banyak mengenal gadis pendiam itu, ia merasa tak ada masalah. Interaksi mereka juga tak pernah berada dalam taraf berlebihan.

Kalau kurang, memang iya. Banget, malahan...

Ia terpaksa mengakui itu dalam hati. Kesibukanlah yang menjadi kambing hitamnya. Tapi Olivia selalu mengerti. Tak pernah menuntut apa-apa. Sedikit pun. Dan mereka sama-sama nyaman dalam kondisi itu.

Lalu apa lagi?

Arlena.

Pelan-pelan ia mulai memahami kenapa Olivia seolah tak mau terlibat dalam status ibunya sebagai seorang selebriti medsos. Ada sesuatu yang diketahui gadis itu. Kejujuran. Kondisi sebenarnya Arlena dan keluarga. Tapi tak pernah hal itu dibagi dengannya.

Dan makin memikirkan itu, makin ia menemukan ketimpangan yang selama ini diusirnya pergi dari dalam pikirannya. Olivia terlalu tertutup sebagai seorang kekasih.

Bukankah seharusnya aku adalah orang pertama tempatnya lari selain keluarganya?

Tapi Olivia yang ditemuinya adalah gadis datar yang tak terlalu banyak pernik. Bahkan ia tak tahu apa yang ada dalam hati Olivia tentang Arlena. Pada saat-saat tertentu, sebenarnya ia ingin bertanya. Tapi melihat binar dimata Olivia dan tawa renyahnya yang menggema di udara, keinginan itu selalu menguap begitu saja. Terlupakan. Tak lagi terpikirkan.

Dihelanya napas panjang.

“Aku belum menemukan alasan untuk mendepaknya dari hidupku, Mi,” gumamnya sebelum menyedot sedikit es teh lemonnya. “Sesungguhnya memikirkan alasan itu sedikit pun tak pernah.”

“Mami mengerti, Mik,” angguk Meisya. “Mami menyadari kamu sudah dewasa. Mami hanya ingin yang terbaik bagimu. Kalau memang benar Livi yang terbaik bagimu, pasti Mami terima.”

Miko mengangguk. Ia sudah hampir saja menghela napas lega ketika matanya menangkap sesuatu.

Seorang perempuan yang sosoknya ia kenal betul melenggang memasuki kafe. Dandanannya apik seperti biasa. Agak sedikit lebih daripada taraf natural. Pada saat yang sama, perhatian ibunya sedikit teralihkan ketika makanan pesanan mereka datang. Ia jadi bisa lebih bebas mengamati ke mana perempuan itu melangkah. Ternyata ke arah  yang berlawanan dengannya. Jauh agak di belakang punggung Meisya.

Ketika Meisya kemudian mengajaknya mengobrol tentang banyak hal lain, ia menanggapinya dengan sikap serius dan penuh atensi. Tapi di sisi lain ia tetap waspada dengan keberadaan sosok perempuan itu. Arlena.

Dilihatnya Arlena kini duduk berhadapan dengan seorang laki-laki di depan meja untuk berdua. Dan laki-laki itu...

Astaga... Benarkah?

Rasa-rasanya ia belum melupakan sosok antik laki-laki itu.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)



6 komentar:

  1. Jek dowo ketokane. Bablas terus ae nyah! Jek ajib critone kok.

    (maklum mari ngemplok menyan sekilo. mangkane ta komenku gak sempel wakwakwakwak)

    BalasHapus
    Balasan
    1. 😆😆😆 arek gemblung... 😆😆😆

      Hapus
  2. good post mbak, bener tuh komentnya temannya mbak, he he

    BalasHapus
    Balasan
    1. Teman yang doyan menyan kayak kuda lumping itu, Pak? 😁😁😁

      Hapus
  3. Balasan
    1. Makasih ya, Mbak... 😘😘😘

      Hapus