Friday, March 17, 2017

[Cerbung] Affogato #20-2








Sebelumnya  



* * *


Olivia berdiri mematung di depan kaca bening viewing gallery (ruangan khusus untuk 'menjenguk' pasien yang dirawat di ruang intensif). Masih tidak percaya bahwa sosok yang terbaring di bed ruang ICU itu adalah ayahnya. Laki-laki yang terlihat selalu prima seperti nama yang disandangnya itu kini terbaring tak berdaya dengan berbagai selang dan kabel menempel di tubuh, yang terhubung dengan berbagai alat yang membuatnya merasa miris.

Sebutir air mata menggelinding di pipi. Diikuti butiran-butiran berikutnya yang berebutan menyusul tanpa jeda. Lalu begitu saja ia mulai terisak tanpa terkendali. Maxi yang melihatnya bergegas menghampiri dan membimbing sang kakak keluar dari ruangan itu.

Segera saja Olivia tenggelam dalam pelukan Maxi, tak jauh dari Luken yang masih memeluk Carmela yang tersedu. Olivia menangis tanpa suara. Hanya air matanya yang pelan-pelan mulai membasahi kaos oblong Maxi di bagian dada.

“Kenapa..., Max?” bisiknya.

Pelan-pelan, Maxi membawa Olivia sedikit menjauh. Ia mendudukkan Olivia di sebuah kursi dan mengambil tempat di sebelah kiri. Dengan lembut, diraihnya kedua telapak tangan Olivia.

“Mbak....”

Olivia mengangkat wajahnya. Tapi air matanya runtuh lagi melihat telaga bening yang terlihat seolah siap tumpah dari kedua mata Maxi. Tangan kanan Maxi terulur, menyibakkan rambut Olivia.

“Beberapa waktu belakangan ini, Papa pernah membicarakan soal kemungkinan berpisah dengan Mama,” suara Maxi terdengar mengambang. Nyaris tak terdengar. “Hanya saja... Papa masih memikirkan Mela. Lalu...,” Maxi mendegut ludah, “tadi kami bicara lagi soal itu waktu jalan ke bengkel. Papa bilang, mau bicara dulu dengan Mama. Tapi...”


Sudah hampir pukul dua siang ketika Maxi membelokkan mobil ke depan pintu pagar. Dengan ringan dibunyikannya klakson dua kali. Tak menunggu lama, Muntik sudah muncul melalui pintu garasi yang segera dibukanya lebar dan berlari kecil untuk membuka pintu pagar. Muntik terlihat bicara sesuatu, membuat Prima membuka kaca jendela kiri, dekat tempat Muntik berdiri.

“Ya, Tik?”

“Parkirnya di belakang mobil Bapak saja, mobil Ibu lagi keluar.”

“Oh...,” Maxi yang mendengar juga hal itu pun menyahut. “Oke!”

“Makasih, ya, Tik,” senyum Prima.

Muntik mengangguk sambil bersiap untuk menutup kembali pintu pagar. Tapi sebuah motor yang berhenti di depan pagar membuatnya membatalkan gerakan itu. Pengemudi motor yang memakai jaket biru langit seragam Great melepas helm yang dipakainya.

“Maaf, Bu, rumah Bapak Prima Arbianto?” tanya laki-laki itu.

“Iya, betul,” Muntik menggangguk sambil melangkah keluar.

Laki-laki itu kemudian menyodorkan sebuah amplop coklat panjang seraya berucap, “Kiriman dokumen untuk Bapak Prima, Bu, tolong diterima.”

Muntik kembali mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Ketika motor dan pengemudi Great-courier itu meluncur pergi, Muntik pun menutup pagar. Prima masih berdiri di depan pintu garasi, mengawasinya.

“Apa itu, Tik?”

“Kiriman buat Bapak,” Muntik menyodorkan amplop itu pada Prima.

Prima mengerutkan kening sambil menerimanya.

“Apa ini?” gumamnya sambil melangkah masuk.

“Apaan, Pa?” tanya Maxi yang sudah masuk lebih dulu, dan kini menyodorkan segelas air putih pada Prima.

“Dari bank mungkin, Max,” jawab Prima sambil duduk di sofa. Meneguk isi gelas hingga tak bersisa. “Buka saja.”

Maxi mengerutkan kening sambil membuka amplop itu.

Dari bank, kok, nggak ada logonya? Ia menggumam dalam hati.

Ternyata amplop itu berisi lembaran-lembaran yang lebih tebal dari kertas biasa. Lebih tepatnya, kertas foto. Pelan, Maxi menarik keluar lembaran-lembaran dari dalam amplop. Lembar pertama sudah membuat matanya terbelalak, lembar kedua membuat wajahnya memias, lembar ketiga membuatnya segera berdiri hendak kabur dari ruang tengah itu, lembar keempat...

Terlambat!

Prima sudah meraih semua lembaran sambil bertanya, “Apa, sih, Max?”

Maxi tak mampu menjawab. Lidahnya terasa kelu. Dengan mata nanar, ditatapnya Prima yang melihat satu-satu lembaran foto itu dalam hening. Ekspresi wajah Prima nyaris sama dengannya. Dengan tangan gemetar, Maxi meraih lembar-lembar foto itu dari tangan Prima.

Tatapan Prima tampak kosong. Maxi buru-buru memasukkan foto-foto itu kembali ke dalam amplop, hendak menyimpannya di kamar. Prima berdiri lebih dulu. Kelihatannya hendak menyingkir ke ruang baca. Tapi baru tiga langkah, tubuhnya limbung. Maxi yang melihat gerakan itu dengan ekor matanya  segera meloncat untuk menahan tubuh Prima.

“Papa!” teriaknya kencang.

“Gustiii!” Muntik yang melihat kejadian itu juga berteriak dan segera berlari untuk membantu Maxi.

Tubuh Prima melemas, tapi masih sadar. Wajahnya terlihat pucat dengan napas terengah-engah. Maxi setengah mati berusaha untuk tenang.

“Bik, bantu aku bawa Papa ke mobil,” ucapnya.

Susah payah keduanya memapah Prima ke mobil. Begitu sudah duduk, Prima justru terkulai pingsan. Muntik bergegas berlari membuka pintu pagar. Dan tanpa menunggu lebih lama, Maxi memundurkan mobil Olivia, kemudian melesatkannya ke arah klinik 24 jam terdekat.

Begitu Prima ditangani dan diberi pertolongan pertama, Maxi duduk di kursi tunggu dengan wajah gelap. Mendadak ia teringat penyebab semua itu. Dikeluarkannya ponsel dari dalam saku celana.

“Bik...,” ujarnya kemudian setelah mendengar sahutan dari seberang sana.

“Ya, Mas? Bapak gimana?” terdengar nada khawatir yang sarat dalam suara Muntik.

“Papa lagi ditangani. Amplop yang tadi, masih ada di meja ruang tengah, tolong simpan di laci meja kamarku. Jangan dibuka.”

“Baik, Mas. Bibik telepon Ibu, ya?”

“Terserah. Tapi jangan sebut-sebut soal amplop itu.”

“Iya, Mas.”

Maxi mengakhiri pembicaraan itu begitu saja. Ketika hendak menyimpan kembali ponselnya, dokter jaga dengan name tag Syarif itu muncul dan menjelaskan kondisi Prima secara ringkas.

“Mas, Bapak belum sadar. Saya rujuk ke rumah sakit, ya? Yang paling dekat Rumah Sakit Jantung di Matraman. Terus terang, kita nggak boleh melewatkan sedikit pun golden time yang kita punya. Saya sudah suruh paramedis untuk siapkan ambulans. Oh, ya, ini dompet Bapak.”

Maxi menerima benda itu dengan wajah linglung. Pun ketika brankar dengan Prima terbaring di atasnya didorong masuk ke ambulans klinik. Syarif ikut masuk ke dalamnya. Sebelum ambulans itu meluncur pergi dengan membunyikan sirene, Maxi meloncat ke dalam mobil dan membuntuti ambulans itu.

Tak sampai dua puluh menit, mereka sampai di RSJJ. Prima segera ditangani. Syarif menemani Maxi hingga salah seorang dokter menemui mereka.

“Syukur pada Tuhan, golden time belum terlewat. Masih dilakukan beberapa test untuk menentukan Pak Prima harus masuk ICU atau tidak. Tapi secara garis besar, kondisinya sudah terkontrol, walaupun masih belum stabil.”

Maxi termangu. Syarif menyentuh bahunya.

“Mas, silakan kalau mau urus administrasi dulu,” ucap Syarif halus. “Saya tunggu di sini sampai Mas selesai. Soal administrasi di klinik, bisa diselesaikan kalau Mas punya waktu senggang.”

Tanpa kata, Maxi menuruti ucapan Syarif.


“Lalu aku menelepon Mbak,” Maxi mengerjapkan matanya yang basah. Suaranya terdengar serak. “Dan dokter akhirnya memutuskan Papa harus dirawat di ICU.”

Olivia menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala dengan gerakan lemah.

“Foto apa itu, Max?” bisiknya.

“Foto Mama dalam berbagai pose nggak pantas,” jawab Maxi dengan wajah gelap. “Topless. Ada yang direkam dari webcam, ada juga yang diambil secara selfie. Lokasinya di ruang baca.”

“Ruang baca mana?” Olivia menyipitkan mata.

“Ruang baca kita, Mbak,” desis Maxi. “Di rumah kita sendiri!”

“Siapa yang kirim?”

Maxi hanya bisa menggelengkan kepala. Olivia terhenyak lemas. Pikirannya terasa pepat. Tak tahu harus bagaimana. Tapi kemudian ia teringat sesuatu.

“Mama... belum dikabari?”

Maxi mengangkat wajah. “Bibik tadi meneleponku, katanya nggak bisa menghubungi. Sepertinya ponsel Mama mati.”

Olivia menghela napas panjang. “Soal administrasi bagaimana?”

“Sementara masih bisa di-cover asuransi. Oh, ya,” Maxi berdiri untuk mengambil dompet Prima dari saku celananya. Diulurkannya dompet itu pada Olivia. “Ini dompet Papa. Mbak Liv saja yang pegang. Tadi kartu asuransi Papa aku ambil dari situ.”

Olivia menerimanya dengan ekspresi wajah kosong. Disimpannya dompet itu di dalam tas. Ia kemudian menatap Maxi.

“Bawa pulang Mela, Max. Biar aku di sini.”

Hati Maxi seolah terbelah. Di satu sisi, ia harus mengurus Carmela. Di sisi lain, ia ingin tetap berada di situ, menemani Olivia. Tapi ia tak menemukan alasan untuk membantah. Ia kemudian berdiri dan melangkah menghampiri Carmela.

“Mel, ayo, kita pulang,” ucapnya halus.

Gadis remaja itu mendongak dengan mata sembap dan pipi basah oleh air mata.

“Iya, Mel,” Luken ikut membujuk. “Biar Mbak Livi Bapak yang temani. Kamu pulang sama Mas. Papa sudah ditangani dengan baik, kok. Jangan sampai kamu ikut sakit juga karena kelelahan. Sana, pulang.”

Tanpa membantah, gadis remaja itu menurut dan berdiri. Maxi menatap Luken dengan pandangan takzim.

“Terima kasih, Pak,” ucapnya lirih. “Maaf, sudah merepotkan.”

Luken ikut berdiri, kemudian menepuk ringan bahu Maxi. “Nggak apa-apa, Max. Jangan dipikir soal itu. Hati-hati di jalan.”

Maxi mengangguk, kemudian berbalik sambil merengkuh bahu Carmela. Ketika sudah berada di mobil, hendak meluncur pulang, ponselnya berbunyi. Ditundanya sejenak untuk menekan pedal gas. Dengan cepat ia membaca pesan yang masuk. Dari Olivia.

‘Jangan sampai perempuan jalang itu ke sini. Foto bugil itu jangan dibuang dulu, aku ingin lihat. Ponsel Papa, tolong kamu pegang. Charge sampai penuh. Besok bawa ke sini.’

Ia kemudian mengetikkan balasan singkat, ‘Oke.’

* * *

Luken menatap sosok yang duduk tertunduk dengan sikap lesu dan wajah kuyu itu dengan hati seolah terasa diiris-iris. Sorot mata gadis itu terlihat kosong, menatap ke satu titik di lantai. Pelan ia mendekat, kemudian duduk di sebelahnya.

“Liv....”

“Ya?” Olivia mengangkat wajahnya.

“Apa nggak sebaiknya kamu ikut pulang juga?” nada suara Luken terdengar sangat berhati-hati. “Papamu sudah dirawat dengan sangat baik. Nggak ada yang  bisa  kamu lakukan di sini.”

“Terima kasih atas semuanya, Pak,” gumam Olivia. “Saya tahu Bapak lelah. Kalau Bapak mau pulang, silakan. Tapi saya akan tetap di sini.”

“Maksudku bukan begitu,” Luken mengangkat sedikit kedua ujung bibirnya. “Kalau kamu mau tetap di sini, oke, aku temani.”

“Tidak usah, Pak. Bapak pulang saja, nggak apa-apa.”

“Liv...,” sergah Luken, halus. “Aku akan menemanimu.”

Gadis itu hanya terdiam mendengar ketegasan dalam suara sang boss. Keduanya kemudian duduk bersisian dalam hening.  Tenggelam dalam pikiran masing-masing.

* * *

Maxi mengerutkan kening ketika melihat Muntik membuka pintu garasi saat Carmela turun dari mobil untuk membuka pintu pagar. Jam digital di dashboard mobil sudah menunjukkan hampir pukul enam sore.

“Bik? Kok, belum pulang?” tanya Maxi sambil keluar dari mobil setelah memarkirnya di tempat semula, di belakang mobil Prima.

“Ya, Bibik mana tega ninggalin rumah kosong, Mas. Mana Bibik, kan, nggak tahu Mas Maxi pulangnya kapan. Bapak gimana, Mas? Kok, ditinggal pulang?”

“Papa harus dirawat di ruangan khusus, Bik,” jawab Maxi dengan wajah sedih. “Ada Mbak Liv di sana. Bibik kalau mau pulang nggak apa-apa. Eh, memangnya Mama belum pulang?”

Muntik menggeleng. Maxi menyusul Carmela yang ngeloyor ke lantai atas. Muntik kemudian dengan cekatan menyiapkan makan malam lebih dulu sebelum berpamitan dengan wajah ragu.

Arlena belum juga pulang ketika Maxi dan Carmela selesai makan dalam hening. Maxi tengah berpikir-pikir apakah ia akan memberitahu Carmela atau tidak. Tapi rasa-rasanya, melihat  seberapa besar yang sudah diperbuat dan dikorbankan sang ayah untuk kebahagiaan mereka, Carmela perlu tahu. Begitu selesai makan, diajaknya sang adik ke kamar. Didudukkannya gadis remaja itu di kursi, sementara ia mengambil tempat di tepi ranjang.

“Mel, Mas minta maaf sebelumnya. Nggak bisa jaga Papa dengan baik,” suara Maxi bergetar hebat, membuat mata Carmela tanpa bisa ditahan mengaca lagi. “Kamu sayang sama Papa?”

Carmela mengangguk seketika.

“Kalau disuruh harus memilih ikut Papa atau Mama, kamu pilih siapa?”

Carmela ternganga. Ditatapnya sang abang dengan mata bulat. Maxi mengerjapkan mata.

“Mas tahu kamu pasti nggak bisa memilih,” tangan Maxi terulur, membersihkan kening Carmela dari anak-anak rambut yang menjuntai. “Tapi Mas pikir kamu harus tahu sesuatu, karena kamu sudah cukup besar.” Maxi menatap Carmela lama sebelum melanjutkan ucapannya.

“Tadi, Papa nggak apa-apa. Sehat. Sempat keluar sama Mas, servisin mobil Mbak Liv. Makan siang bareng, ngobrol banyak, lalu pulang. Begitu sampai, ada kurir antar amplop buat Papa. Papa suruh Mas buka. Ya, Mas buka. Isinya langsung bikin Papa limbung. Mas sama Bibik sempat papah ke mobil, tapi Papa hilang kesadaran waktu Mas mau meluncur. Akhirnya dari klinik, Papa dibawa pakai ambulans ke rumah sakit. Begitu ceritanya.”

Mata Carmela menyipit. Ada sesuatu yang ganjil dalam penuturan Maxi.

“Isi amplop itu apa?” tanyanya, mengerutkan kening.

Maxi tertunduk sejenak. Rasanya Carmela tidak sepantasnya melihat hal itu. Tapi... Maxi menghela napas panjang.

“Mel..., Mas nggak bisa kasih lihat ke kamu,” putusnya kemudian. “Nggak pantas. Itu...”

“Nggak pantas gimana?” tatapan Carmela tampak menuntut.

Maxi meraih kedua telapak tangan Carmela dan menggenggamnya erat.

“Mel, kalau Mas kasih tahu, kamu bisa, nggak, kontrol emosi?”

“Aku nggak tahu,” Carmela mulai tidak sabar. “Apa dulu isi amplopnya?”

“Itu... foto-foto Mama... dalam keadaan... nggak pantas.”

“Nggak pantas gimana?” kejar Carmela.

“Mama... cuma pakai... CD minim..., tanpa bra. Posenya... nggak keruan...”

Carmela ternganga.

Nggak mungkin! Mamaku? Nggak mungkin! Nggak mungkin!

“Mas Maxi bohong!” pekiknya. “Bohong!”

Maxi segera beranjak dengan gerak cepat. Memeluk Carmela. Erat. Gadis remaja itu mencoba memberontak sambil memekik berkali-kali, tapi tenaga abangnya jauh lebih kuat. Pada akhirnya ia cuma bisa melemas sambil terisak. Balas memeluk Maxi sambil menenggelamkan wajahnya pada dada Maxi.

“Papa shock, Mel,” bisik Maxi sambil membelai kepala Carmela. “Jantungnya nggak kuat. Papa yang selalu memberikan segalanya buat kita. Seluruh cinta dan kehidupannya buat kita. Jujur, Mas nggak mau kehilangan Papa. Tapi di sisi lain, Mas juga nggak ingin kamu terlalu membenci Mama. Bagaimanapun, Mama itu ibu kandung kita. Mas cuma ingin kamu bisa berpandangan obyektif. Sekarang kamu mengerti kenapa Mbak Liv dan Mas nggak terlalu antusias dengan perubahan Mama. Karena kami merasa belum bisa sepenuhnya percaya pada Mama. Dan sekarang datang bukti. Mungkin perasaan Mbak Liv dan Mas nggak sepenuhnya benar, tapi...,” sebutir air mata menggelicir di pipi kanan Maxi, menetes ke puncak kepala Carmela.

Gadis itu mendongak. Makin tersedu ketika melihat telaga bening menggenang di kedua mata sang abang. Maxi merangkum kedua pipi Carmela dengan kedua telapak tangannya.

“Mulai sekarang kita harus kuat,” ucap Maxi, dengan tatapan menembus manik mata Carmela. Suaranya tegas, seolah ingin juga meneguhkan dirinya sendiri. “Saling menguatkan. Terutama demi Papa. Agar Papa juga tetap kuat buat kita.”

Carmela mengangguk berkali-kali. Dengan punggung tangan, diusapnya air mata di kedua belah mata dan pipinya.

“Kita nggak bisa biarkan Mbak Liv sendirian menunggui Papa, kan?” ujarnya kemudian, dengan suara serak.

“Kamu mau balik ke rumah sakit?”

Carmela mengangguk.

“Ya, sudah. Ayo, siap-siap. Buruan kita berangkat sebelum Mama pulang.”

Keduanya beranjak bersamaan.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)

11 comments:

  1. Haduuuuu mb Liiiiiss !
    Aq bacae rapelan misek" ta iki yo opo ?
    Babano lebay ........

    ReplyDelete
  2. Bikin baper.... Saputangannya mana, mb lizz??? 😭😭😭😭😭😭😭😭

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dibaca lagi malah tambah mewek mewek...

      Piye iki.....

      Delete
    2. *nyumbang ember 😁😁😁*

      Delete
  3. waah..semakin..semangat nikutin niih...

    ReplyDelete
  4. Waah.....jadi tambah seru niih....
    Lanjoot......

    ReplyDelete