Friday, March 15, 2019

[Cerbung] Bias Renjana #6









Sebelumnya



* * *



Sandra muncul di Kedai Kopi Om James menjelang pukul setengah lima, sore harinya. Saat Minarti berpamitan seusai mengantarkan makan siangnya, ia sempat meminta sedikit waktu senggang Minarti.

“Oh, datang saja ke kedai setelah pukul empat, Bu.” Begitu ujar Minarti tadi. “Resminya, saya sudah bebas jam segitu.”

Dan, perempuan bersahaja itu sudah duduk menunggu di balik angkringan ketika Sanda muncul. Segera berdiri dan menyambut tamunya itu. Sandra sedikit terkejut menatap Minarti.

Penampilan Minarti sore ini berbeda cukup jauh dengan siang tadi. Ia ingat betul Minarti mengenakan blus kembang-kembang sederhana – yang ia sudah lupa apa warnanya – dipadu dengan celana panjang warna gelap, ketika mengantarkan makan siang untuknya. Rambutnya hanya dikuncir seadanya. Wajahnya pun terlihat polos karena, mungkin, bedaknya sudah luntur. Tapi sore ini....

“Wah, Bu Min cantik banget!” Sandra memuji setulusnya. “Mau pergi kelihatannya, ya? Wah, saya jadi ganggu, nih!”

“Enggak....” Minarti segera meraih tangan Sandra. Menggandengnya untuk mencari tempat mengobrol yang nyaman. “Enggak mengganggu. Saya perginya masih nanti, kok, pukul enam.”

Minarti mengajaknya duduk di sebuah sudut kosong. Tapi ketika merasa terganggu dengan asap rokok di sekitarnya, Minarti pun menggiring Sandra ke lantai atas.

Sejenak kemudian, keduanya sudah asyik berbincang ditemani dua mug wedang jahe, dan dua piring kecil berisi beberapa jenis kue basah. Obrolan itu mengalir tak tentu arah, hingga bermuara pada tujuan Sandra ingin menemui Minarti.

“Mm....” Nada bicara Sandra terdengar ragu-ragu. “Saya... sebenarnya... ingin Bu Min berbagi pengalaman, saat ditinggal berpulang oleh almarhum suami Ibu. Saya... Ibu, kan, tahu sendiri saya belum lama ditinggal ayah Angie. Saya... saya ingin tahu... apakah semua yang saya rasakan ini... normal adanya?”

Seketika, Minarti tertegun menatap Sandra.

* * *

James menatap arlojinya. Sudah hampir pukul enam petang. Tapi kelihatannya belum ada tanda-tanda obrolan Minarti dan Sandra akan berakhir. Sekilas, saat ia turun dari kantornya lewat dari pukul lima tadi, ia melihat Minarti dan Sandra tengah asyik bercakap di sudut untuk berdua dekat jendela kaca.

Ia duduk termenung di sudut dapur. Sendirian. Hanya ditemani segelas besar teh hijau yang sudah cukup lama kehilangan hangatnya dan sebuah piring kecil yang masih menyisakan sebuah kue pastel. Diam-diam mengamati kesibukan di dapur luas kedainya.

Angie sudah pulang tepat pukul empat tadi. Biasanya ia pulang bersama sang ibu. Tapi sore ini tadi ia pergi sendiri naik ojol, karena ada janji dengan dosen pembimbingnya. Ia teringat pembicaraannya dengan Minarti seusai menikmati makan siang bersama.


“Bu, nanti sore ada acara?” tanyanya dengan suara rendah, sepeninggal Angie kembali ke kantor di lantai tiga.

Minarti menggeleng. James menghela napas lega.

“Ibu ingat nggak, tempo hari yang waktu kita buka perdana itu, ada teman saya yang juga punya resto, saya undang ke sini, datang dengan calon istrinya?”

“Wah, yang mana, ya, Pak?” Minarti meringis sekilas. Kelihatannya sama sekali tidak ingat siapa yang dimaksud oleh James. “Teman Pak James, kan, banyak sekali.”

James terkekeh menyadari ketidakpahaman Minarti.

“Memangnya kenapa, Pak?”

“Ini... Dia, kan, mengundang saya untuk datang ke restonya. Kemarin sore, dia tanya lagi, kapan kita bisa datang. Saya bilang, sore ini. Makanya, kalau Bu Min nggak ada acara, mau saya ajak ke sana.”

“Oh... Wah!” Seketika Minarti menunduk, mengamati sejenak penampilannya. Hari ini, ia hanya mengenakan blus lengan pendek dan celana panjang katun biasa. Terasa tidak pantas untuk menghadiri jamuan makan malam, yang sederhana sekalipun. Lalu, dengan polos ia berujar sembari mengangkat kembali wajahnya, “Baju ganti saya juga asal-asalan seperti ini, Pak.”

“Oh, itu serahkan saja kepada saya!” James menanggapi secepat kilat.

“Maksud Bapak?” Minarti tampak sedikit terbengong.

“Gampanglah, Bu.” James tersenyum lebar. “Nanti saya minta tolong Livi untuk sediakan baju buat Ibu.”

Minarti makin terbengong. Tapi ekspresi itu segera buyar begitu James dengan gigih meyakinkannya bahwa untuk urusan kostum, Minarti pasti akan ‘lolos sensor’. Maka, dengan wajah pasrah, Minarti pun melanjutkan lagi pekerjaannya.

Sesuai dengan janji, Luken yang sudah selesai dengan urusan calon klien dari Norwegia muncul lagi beberapa belas menit kemudian. Ia masih bersama Livi. Keduanya tertawa mendengar permintaan James. Tapi demi sang bos besar, maka Luken pun memutuskan untuk menunda pembicaraan tentang calon klien terbaru mereka itu. Ia pergi lagi bersama Livi.

Hampir satu jam kemudian, keduanya sudah kembali dengan tiga buah tas kertas. Dengan wajah cerah, Livi mengacungkan tas itu kepada James.

“Dapat, Pak!” serunya dengan nada riang.

James pun segera meminta Livi untuk memberikan tas-tas itu kepada Minarti.


Dan, karena kemudian sibuk membahas berbagai pengeluaran dengan Angie, James tak tahu secara jelas bagaimana penampilan Minarti saat ini. Setahunya, saat pulang dan membawa serta Minarti untuk diantarkannya sampai ke rumah, Minarti selalu terlihat segar karena menyempatkan diri mandi dan berganti busana setiap kali jam kerjanya berakhir.

James mengulurkan tangan. Meraih pastel terakhir di piring kecil. Dalam empat kali gigit, pastel itu pun berakhir riwayatnya. Untuk melegakan kerongkongan, James pun meraih gelas tehnya. Dua teguk saja, dan teh hijau itu pun tandas.

“Pak....”

Suara lembut Minarti mengelus telinganya begitu ia selesai meletakkan gelas kembali ke atas meja. Ia pun menoleh. Dan, seketika terpana.

Minarti cantik sekali sore ini! Sungguh tampak anggun. Tubuh semampainya dibalut gaun batik yang modelnya sederhana, tapi terlihat sangat elegan. Warna monokrom batiknya justru menguatkan aura cantik yang terpancar dari wajahnya yang hanya dilapis bedak tipis, dengan lipstik berwarna merah bata meronai bibir. Rambutnya kini disanggul cepol.

“Maaf, Bapak kelamaan, ya, tunggu saya?”

James buru-buru menggeleng ketika mendengar suara Minarti kini sarat dengan sesal. Ia berdiri.

“Nggak apa-apa, Bu,” sahutnya cepat. “Tenang saja.... Bu Sandra sudah pulang?”

“Sudah.” Minarti mengangguk. “Bagaimana, mau berangkat sekarang?”

“Oh, ya, ya! Ayo!” James mengembangkan lengan kanannya. Bahasa tubuh yang mengutamakan Minarti untuk melangkah lebih dulu. Tak lupa ia menyerobot tas besar yang ditenteng Minarti di tangan kirinya.

Dalam hati, James memuji kecerdasan berpikir Livi. Gadis itu tadi tidak hanya membelikan Minarti gaun batik, tapi sekaligus juga sepatu dan tasnya yang cocok. Rupanya ia ingat bahwa biasanya Minarti hanya mengenakan sepatu sandal dan membawa tas besar dari bahan jins berisi perlengkapan pribadinya. Tas besar yang kini ditenteng James. Sepatu sandal itu kini sudah digantikan oleh wedges berwarna hitam, yang sewarna dengan tas tangan suede yang ada di tangan kanan Minarti.

Seperti biasa, ditunggunya hingga Minarti duduk dengan nyaman di dalam SUV-nya. Barulah ia menutup pintu kiri depan dari luar. Beberapa belas detik kemudian, SUV itu sudah meluncur membelah jalan.

“Ngomong-ngomong, teman Pak James siapa namanya, ya?” Suara Minarti memecah keheningan dalam kabin mobil itu.

“Alde, Bu. Aldebaran.”

“Oh! Saya ingat!” Suara Minarti terdengar sangat antusias. “Yang orangnya tinggi besar dan istrinya cantik banget itu, kan? Kira-kira seumuran saya?”

“Iya, betul,” angguk James. Tapi ia segera meralat ucapan Minarti. “Belum jadi istrinya, Bu. Masih calon. Menunggu seribu hari suami Luna dulu.”

“Oh....”

“Panjang ceritanya si Alde, Bu,” gumam James. “Itu, kan, CLBK.”

Minarti terdiam. Berpikir.

Barangkali dia ingin menggali pengalaman temannya itu untuk diadopsi dirinya sendiri....

* * *

Ilustrasi : www.pixabay.com, dengan modifikasi.

Catatan :
Untuk mengetahui kisah Aldebaran dan Luna, silakan klik di SINI.