Selama tiga minggu melanglang Eropa, hampir tak ada waktu bagi Sisi untuk memikirkan dirinya sendiri. Hari-harinya dipenuhi ritme kegiatan yang sangat tinggi. Bersiap pentas, berlatih bila ada kesempatan, memeriksa ulang tumpukan kostum, menyesuaikan diri dengan tempat baru, berpindah negara, dan masih banyak lagi. Hanya sesekali ia bisa membalas sapaan Sander melalui pesan WhatsApp.
Setelah berbasa-basi tentang kabar, cuaca, suhu udara, dan berbagai topik tak penting lainnya, barulah Sander menyatakan maksud kedatangannya. Ingin mengajak Sisi untuk mendampinginya menghadiri pemberkatan dan resepsi pernikahan Victor-Mila pada hari Minggu yang akan datang. Tapi jawaban Sisi membuat Sander terpaksa harus menelan kekecewaan.
Seandainya memiliki Ajian Bayangan Ganda, ingin rasanya Sander menggunakannya saat ini juga. Agar ia bisa meninggalkan bayangannya saja di ruangan ini, sementara raganya bebas mengembara ke setiap tempat yang diinginkan.
“Jangan lupa, latihan dan briefing terakhir Rabu depan jam enam sore, ya!” Wulan, pemimpin Sanggar Tari Pancarwengi, memungkasi arahannya, tepat pukul enam Minggu sore itu.
Sesungguhnya Himawan tidak begitu suka bila acara berduanya dengan sang putri kesayangan terganggu. Tapi ia berusaha memaklumi maksud baik anak muda bernama Alfons ini. Menyapa orang yang lebih tua. Terlebih Alfons adalah salah satu bawahannya di tempat kerja.
Yang sudah membaca cerbung “Rahasia Enam Hati” #13 yang tayang tadi pagi, pasti menemukan ada bagian yang bercerita tentang Sisi berdua dengan ayahnya kencan di sebuah restoran. Nama restorannya Godhong Gedhang. Sudah nggak asing lagi, kan? Resto antik fiktif yang satu ini menghidangkan (salah satunya) teh ‘warungan wangi’. Nah, kalau yang satu ini, bukan fiktif. Karena tehnya benar-benar ada. Di samping itu, salah satu komentar yang muncul di bawah episode itu membuat saya tergelitik untuk menulis artikel ini.
Hari-hari cepat berlalu bagi Sisi karena kesibukannya menyelesaikan pesanan bersama para kru. Ketika hingga hari Jumat menjelang sore belum juga ada informasi dari Sander tentang pertemuan lanjutan mereka, Sisi tidak terlalu memikirkannya. Sejak awal ia memang tidak terlalu tinggi meletakkan harapan. Sander laki-laki yang sangat menarik, cukup mempesona. Tentunya gadis yang bergerombol di belakang laki-laki itu, mengantre untuk diajak berkencan, bukan hanya ia seorang.
Sander menunggu hingga mobil mungil Sisi meluncur keluar dari area parkir kedai sebelum ia masuk ke dalam mobilnya sendiri dan meninggalkan tempat itu. Seisi kabin mobilnya serasa bertaburan warna-warni indah dan alunan musik merdu. Pertemuannya dengan Sisi baru saja tak pelak akan diingatnya sebagai salah satu peristiwa paling indah yang hendak dikenangnya seumur hidup.
Lauren bukan seorang perempuan yang bawel dan ceriwis. Tapi tidak juga sependiam belakangan ini. Setidaknya itu yang tertangkap oleh radar Himawan. Ia melihat perempuan tercintanya itu sedang duduk mencangkung di depan belasan pot berisi aneka bebungaan warna-warni di teras samping.
Alunan musik dan rangkaian getar lembut itu perlahan-lahan mencerabut Sisi dari alam mimpi indahnya. Sejenak ia mengerjap-ngerjapkan mata. Berusaha menyatukan kembali jiwa dan pikirannya yang terasa tercerai-berai ke mana-mana. Setelah kesadarannya sedikit pulih, diraihnya ponsel dari sisi terjauh bantalnya. Tapi ponsel itu kini diam. Masih sambil mengerjap-ngerjapkan mata, Sisi berusaha mendapatkan siapa yang sudah meneleponnya nyaris tengah malam begini. Seketika ia mengerang.
Dengan
semangat membara, sore itu Sander meluncurkan city car-nya dari arah Kuningan menuju ke Tebet. Pesan yang masuk
ke ponselnya dari Anindya siang tadi masih diingatnya di luar kepala.
‘Jangan lupa jam 7 sore ini
di Kedai Kopi Om James (yang tempat kita ketemuan kapan itu di Tebet).’
Rangkaian denting lirih nan merdu yang berasal dari ponsel di atas meja itu membuyarkan konsentrasi Sisi dalam memelototi layar laptop. Belum lama ia membuka laman akun Instagramnya. Mencoba mengintip sosok @sandermichael_prabandaru yang baru saja dikenalnya di ujung petang tadi. Dengan setengah hati, ia meraih ponselnya, menjawab panggilan telepon itu.
Sander masih termenung-menung di dalam apartemennya. Rasanya sulit sekali percaya bahwa ‘hal itu’ telah terjadi. Begitu saja! Sander mengerjapkan mata. Perkenalannya dengan Xixi – atau Sisi – Adiatma. Senyum manis dan suara lembut gadis boneka porselen itu masih juga melingkar-lingkar di depan mata dan di dalam benaknya.
Dengan santai Sisi membelokkan mobil mungilnya masuk ke area parkir sebuah resto terkenal di daerah Kemang, EuropeSky. Pukul enam sore ini, ia ada janji untuk bertemu dengan Dion dan kekasihnya. Diam-diam Sisi tersenyum simpul dalam hati. ‘Kedudukannya’ di geng memang sangat strategis. Sebagai satu-satunya cewek, ia punya hak penuh untuk berkenalan lebih dulu dengan para kekasih sahabat-sahabatnya. Termasuk kali ini, saat Dion hendak ‘membawa masuk’ seorang kekasih yang usianya jauh di atas mereka.
Dengan ringan Erlanda mengecup kening Prisca ketika perempuan itu berpamitan hendak berbelanja ke pasar terdekat dengan ART mereka. Kebiasaan Prisca setiap Sabtu pagi. Sepeninggal Prisca dan Munah, Erlanda keluar ke teras belakang. Dengan santai ia membaringkan tubuhnya di atas sebuah kursi malas di sudut teras.
Himawan yang tengah mencuci mobilnya sepulang dari bermain tenis menyambut kedatangan tiga orang gadis cantik yang keluar dari dalam sebuah city car. Ketiga gadis itu menyapanya dengan santun tapi tetap terlihat akrab. Ada berbagai tentengan yang mereka bawa.
Melihat gelagat Sander yang adem-ayem saja sepulang mereka dari bertemu keluarga Edwin, Erlanda pesimis misinya akan berhasil. Sejak awal Prisca memang sudah mengingatkan bahwa kemungkinan berhasil dan gagal mereka adalah 50:50. Dan melihat sikap Sander, kemungkinan itu bergeser menjadi lebih dari 50% gagal.
Orang tuanya kembali ke Jakarta setelah ayahnya purna tugas di Surabaya, tentu saja Sander merasa senang. Walaupun tak lagi serumah karena ia sudah memiliki apartemen sendiri, tetap saja ada rasa ‘tidak lagi sendirian’.
Mobil boks berisi seribu terrarium mini itu sudah meluncur pergi. Sisi menghela napas lega. Setidaknya satu lagi pekerjaannya sudah beres pada pukul sepuluh pagi ini. Tapi ketika ingat bahwa masih ada antrean pesanan lain di belakang punggungnya, ia tahu bahwa ia tidak lagi bisa bersantai.