Monday, February 5, 2018

[Cerbung] Jarik Truntum Garuda #6










* * *


Enam



“Hai, Can!”

Sebuah tepukan halus mampir ke bahu kiri Kencana, membuat gadis itu menoleh seketika. Seulas senyum manis segera terkembang begitu melihat siapa yang menyapanya.

“Hai, Wen!” Kencana balas menyapa dengan nada riang. “Tumben ke sini?”

Mereka sedang mengantre di depan lift bersama beberapa orang lainnya di gedung perkantoran itu. Gedung tempat Kencana meniti karir di sebuah bank yang ada di sana.

“Lho, aku memang pindah kantor ke sini,” Owen tersenyum lebar. “Baru dua minggu ini, sih... Dan baru hari ini aku punya waktu luang tepat saat jam makan siang.”

“Oh...,” Kencana manggut-manggut. “Pantesan baru lihat sekarang.”

Pintu lift terbuka. Keduanya beriringan masuk bersama beberapa orang lainnya. Owen berdiri tepat di belakang Kencana.

“Kamu mau makan di mana?” bisik laki-laki jangkung itu.

“Di lantai dua,” Kencana menoleh ke belakang, mendongak sedikit.

“Di lantai lima aja, yuk!”

“Hah?” Kencana menoleh dan mendongak lagi, tertawa sedikit. “Mahal di sana. Tanggal tua gini.”

“Halaaah...,” Owen tertawa lirih. “Aku traktir, deh!”

“Wah, kalau gitu, aku nggak nolak,” jawab Kencana jahil.

Tawa Owen melebar seketika. Lalu, Kencana berpamitan pada teman-teman di sampingnya, yang segera ribut menggoda. Gadis itu hanya tergelak ringan menanggapi ulah teman-temannya.

Beberapa menit kemudian Kencana dan Owen sudah masuk ke sebuah restoran Jepang di lantai lima. Tempat makan itu tetap lumayan penuh walaupun tak sesesak food court di lantai dua. Saat duduk berhadapan, Kencana sempat menatap Owen sejenak, yang tengah sibuk meneliti buku menu. Gadis itu mengerjapkan mata sebelum menatap buku menu di tangannya.

Owen bukan orang baru lagi bagi Kencana. Keduanya satu sekolah saat SD, kemudian sama-sama pindah ikut orang tua ke Jakarta. Keduanya masuk ke SMP yang sama hingga tamat SMA, bahkan sering sekelas. Mereka sempat berteman dekat sebelum Kencana mengenal Alvin. Lalu, perlahan Owen menjauh. Ketika Kencana ‘putus’ dengan Alvin, ganti Owen dekat dengan adik kelas mereka. Imma namanya. Saat masuk SMA, keduanya bersahabat lagi, karena Owen sudah ‘bubaran’ dengan Imma.

Selepas SMA, Owen kuliah di Jogja, sementara Kencana tetap di Jakarta. Sesekali mereka masih bertukar kabar. Tapi ketika Kencana bertemu dengan Denta, Owen terlupakan begitu saja. Bahkan saat Owen sudah kembali ke Jakarta dan mulai bekerja selepas kuliah. Mereka tetap berteman, sama-sama aktif di berbagai kegiatan gereja, tapi seolah ada pagar yang tinggi di antara keduanya.

“Kamu mau makan apa, Can?”

Suara itu membuat Kencana sedikit tersentak.

“Mm...,” gadis itu menggumam. “Aku mau paket C saja, sama tambah es sarang burung.”

“Oke,” angguk Owen.

Laki-laki itu kemudian menyebutkan pesanan mereka pada pramusaji yang setia menunggu di samping meja. Setelah gadis pramusaji itu meninggalkan mereka, Owen menatap Kencana.

“Aku senang kamu kembali aktif di BIA dan OMK,” ucap Owen. Lirih.

Kencana tersenyum tipis. “Kayaknya kita lamaaa banget nggak ngobrol santai, ya, Wen?”

Owen mengangguk. “Kita sama-sama sibuk, sih. Tapi lumayan, sekarang kita satu gedung. Ya, nggak jamin, sih, kita bisa sering-sering barengan makan siang.”

“Iya.”

“Eh, tapi bisa juga, kan, kita luangkan waktu di luar jam kerja buat sekadar ngobrol ringan, ngopi, atau apalah?”

“Oh, boleh... Boleh...,” Kencana menyahut dengan antusias. “Kapan?”

“Mm... Nanti sore aku nggak bisa,” gumam Owen, mengerutkan kening.

“Besok aku nggak bisa,” timpal Kencana. “Ada teman yang ultah, mau ajak makan di luar rame-rame.”

“Jumat kamu bisa?” Owen menatap Kencana, penuh harap.

“Kayaknya bisa, sih,” angguk Kencana.

“Oke, Jumat saja, ya? Sekalian aku jemput kamu paginya.”

“Oh, gitu? Boleh... Boleh...”

Keduanya kemudian asyik mengobrol sambil menikmati makanan dan minuman. Agak terburu-buru karena jam istirahat cepat sekali merambat menuju akhir. Tepat lima menit sebelum sirene berakhirnya jam istirahat berbunyi, Kencana dan Owen berpisah di depan lift di lantai empat belas. Dengan langkah cepat, nyaris berlari, Kencana kembali ke kantornya.

* * *

Tanpa sadar, Kencana bersenandung sambil menekan alarm mobilnya. Ndari yang menyambutnya di ambang pintu tembusan ke ruang tengah sedikit menyipitkan mata. Putri bungsunya terlihat ‘lain’ sore ini. Jauh lebih ceria daripada biasanya. Tapi diam-diam ia merasa senang.

“Sore, Bu...,” Kencana mengucapkan salam dengan manis sambil menyapukan bibir ke pipi kanan Ndari.

“Hm... Kayaknya ceria banget anak Ibu yang satu ini?” Ndari tersenyum lebar.

Kencana tergelak ringan. Sambil melangkah masuk, ia merengkuh bahu Ndari dengan sebelah tangannya yang bebas.

“Aku bertemu Owen tadi, pas mau makan siang,” celetuknya kemudian, dengan nada riang. “Terus maksi bareng. Dia dipindahkan ke kantor perusahaannya yang satu gedung dengan kantorku.”

“Kayaknya memang sudah lama banget kamu nggak ngobrol sama Owen,” ucap Ndari.

“He eh,” angguk Kencana sambil meletakkan tas dan laptopnya di sofa. “Ada tamu, Bu?”

“Mahasiswanya Ayah,” jawab Ndari.

“Oh...”

Setelah meneguk teh lemon dingin yang sudah disediakan Ndari hingga habis setengah, Kencana beranjak. Ditentengnya kembali barang bawaannya masuk ke kamar.

Ketika ia keluar dari kamar dengan kondisi segar dan wangi setelah mandi, Jati sudah ada di ruang tengah. Tengah berselonjor di sofa sambil menonton televisi dan memangku satu stoples kecil kacang telur. Laki-laki itu menoleh sekilas ketika putri bungsunya muncul.

“Sore, Yah,” kembali Kencana menyapa dengan manis.

Jati menggapaikan tangannya sembari membalas sapaan itu. Kencana mendekat dan duduk di sebelah ayahnya, kemudian mendapat kecupan hangat di kening.

“Ican tadi makan siang bareng Owen, tuh, Yah,” celetuk Ndari yang muncul sambil membawa satu stoples besar berisi kripik singkong balado. “Girang banget dia.”

“Oh, ya?” perhatian Jati kini tercurah sepenuhnya pada gadis bungsunya. “Memangnya selama ini kamu nggak pernah ketemu sama Owen?”

“Ya, pernah, sih, Yah,” Kencana menyandarkan kepalanya ke bahu Jati. “Sering juga. Cuma, entahlah, kayaknya kemarin-kemarin nggak bisa ngobrol enak kayak tadi. Jumat ini aku mau dijemputnya pagi-pagi. Sorenya pulang kantor mau ngopi-ngopi dulu.”

“Lho, apa nggak berlawanan arah kantor kalian?” Jati mengerutkan kening.

“Oh... Dia sekarang ngantor juga di Menara Daha, Yah.”

“Jumat besok ini?” celetuk Ndari.

“Iya, Bu,” angguk Kencana.

“Mm...,” tatapan Ndari tampak ragu-ragu. “Bukannya Jumat besok ini, jam tujuh sore, ada undangan misa peringatan seribu harinya Bu Paul?”

Kencana tertegun.

* * *

Ican...

Owen menghenyakkan tubuhnya ke atas ranjang sambil menunggu penuhnya bak air di kamar mandi.

Gabriella Calya Kencana Putri Jatisukmono...

Diejanya pelan-pelan nama lengkap Kencana yang terasa begitu indah di hati walaupun sedemikian panjangnya.

Akhirnya...

Entah sudah berapa lama ia menunggu kesempatan itu. Kesempatan untuk mendekati Kencana. Jujur, ia tak begitu bergirang hati ketika pada akhirnya hubungan Kencana dengan Denta bubar jalan. Apalagi ia tahu, Kencana patah hati parah karenanya, hingga menarik diri sedemikian rupa dari segala aktivitas yang pernah melibatkan gadis itu bersama Denta.

Ketika mendapat kabar bahwa ia akan dipindahkan ke kantor pusat perusahaannya di Menara Daha, ia menerimanya dengan hati berbunga. Bukan karena kenaikan jabatan yang didapatnya, tapi lebih karena ia berharap bisa lebih punya kesempatan untuk berjumpa Kencana di gedung itu. Dan, harapannya jadi kenyataan. Siang tadi, setelah dua minggu ia berada di sana.

Ia tidak tahu sejak kapan merasa tertarik pada gadis manis itu. Tapi sepertinya sudah sejak selepas SD. Ketika ia memasuki masa puber. Sayangnya, sudah ada sosok lain yang menyerobot hati Kencana. Lalu, ia berusaha mengalihkan tatapan matanya, yang akhirnya jatuh pada Imma, gadis mungil dari kelas sebelah.

Tapi dasar anak-anak, hubungannya dengan Imma tak ada hasilnya. Mungkin juga karena ia tak sungguh-sungguh ‘menyukai’ Imma. Sementara pada saat yang hampir bersamaan, Kencana pun ‘bubaran’ dengan Alvin.

Mereka satu sekolah lagi saat SMA. Hubungan keduanya dekat lagi, kembali bersahabat baik. Tapi sayangnya banyak sekali kesibukan dan kegiatan yang mendera sehingga hubungan keduanya belum juga bisa ditingkatkan sesuai dengan harapannya.

Dan, harapan itu makin mendekati musnah ketika ia keluar dari Jakarta, kuliah di Jogja. Lalu benar-benar musnah ketika mendengar kabar bahwa Kencana sudah diembat oleh seorang pemuda bernama Denta. Ketika ia kembali ke Jakarta seusai kuliah, dan mulai meniti karir, dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan bahwa tampaknya benar ia akan kehilangan Kencana selamanya.

Hubungan Kencana dan Denta terlihat serius. Bahkan sangat serius. Ia tahu Denta juga bukan pemuda sembarangan yang sembarangan pula memperlakukan Kencana. Hanya tinggal menunggu saat yang tepat bagi Denta untuk menggandeng Kencana ke depan altar.
                              
Tapi kenyataannya? Owen menghela napas panjang.
                  
Denta lebih memilih untuk memenuhi panggilan hati dan jiwanya. Kencana ditinggalkan dalam kondisi patah hati parah. Perlu waktu sekitar satu tahun bagi gadis itu untuk ‘kembali’ seperti semula.

Dan, tampaknya kali ini kemurahan hati Tuhan sedang jatuh padaku...

Owen tersenyum samar sambil beranjak. Semangatnya seolah terpompa dan menggelembung maksimal. Saat itu ponselnya yang tergeletak di atas meja berbunyi pendek. Sebelum melangkah ke kamar mandi, diraihnya benda itu. Pesan dari Kencana melalui Whatsapp.

‘Wen, baru saja aku dikasih tahu Ibu. Jumat besok ini peringatan seribu harinya Bu Paul. Ada undangan misa. Kayaknya aku harus hadir juga. Jadi ngopi-ngopinya ditunda dulu, ya?’

Semangat Owen meluruh seketika.

* * *






No comments:

Post a Comment