Senin, 19 Februari 2018

[Cerbung] Jarik Truntum Garuda #10-1









* * *


Sepuluh


Dan, ternyata Kencana benar-benar serius dengan ucapannya. Pukul 5.45 pada hari Senin pagi, Kencana sudah memencet bel di teras rumah Owen. Lidya yang membukakan pintu menyambutnya dengan senyum lebar.

“Sudah sarapan, Can?” perempuan itu menggiringnya masuk.

“Sudah, Tante,” jawab Kencana manis.

“Sebetulnya Owen bisa nebeng papanya, nggak perlu merepotkan kamu,” ucap Lidya.

“Lha, kalau nebeng Om, kan, kasihan Om. Putar baliknya jauh banget,” senyum Kencana.

Lidya menggeleng-gelengkan kepala. “Beneran nggak merepotkan kamu?”

“Enggaklah, Tan,” tegas Kencana. “Beneran. Asal nggak suruh gendong Owen naik turun tangga saja,” gadis itu menyambung ucapannya dengan tawa ringan.

“Masih susah jalan, dia,” Lidya mengerucutkan bibir.

“Ya, nanti pelan-pelan saja. Kalau perlu saya antar sampai ke kantornya.”

“Nggak usah,” mendadak saja yang tengah dibicarakan muncul, setengah menggerutu, dengan langkah masih sedikit tetatih. “Aku juga nggak jompo-jompo amat.”

Lidya dan Kencana tertawa. Setelah berpamitan, otomatis tangan Kencana menggamit lengan Owen dan membimbing pemuda itu dengan sabar menuju ke mobil.

“Kamu yakin bisa ngantor dengan kondisi kayak gini?” tatapan Kencana terlihat khawatir sebelum mulai melajukan mobil mungilnya.

“Ya, bisalah...,” Owen menoleh sekilas. “Aku, kan, lebih banyak duduk daripada keluyuran. Lagipula otakku masih waras seribu persen. Masih oke dipakai buat mikir.”

“Oh... Hehehe...,” Kencana terkekeh. “Oke, deh. Nanti pulangnya kamu langsung saja ke basement, ya.”

“Siap!” Owen tersenyum lebar.

Perjalanan menuju ke Menara Daha pagi itu berlangsung lebih ceria bagi keduanya, walaupun di luar sana matahari masih enggan mengintip dari balik awan. Ada saja topik yang mereka bahas dengan ringan. Bahkan sesekali mereka tertawa-tawa riang.

“Nanti kalau aku sudah pulih benar, gantian aku yang jemput kamu, ya,” ucap Owen pada satu detik.

“Waaah... Aku nggak suka acara balas budi kayak gitu,” Kencana menyambungnya dengan tawa.

“Lha?” Owen menoleh ke kanan.

“Nggak praktislah, Wen,” Kencana menjawab dengan lebih serius. “Kalau kamu jemput aku, itu artinya kamu mutarnya kejauhan. Kalau aku, kan, memang tiap hari jalurku lewat daerah rumahmu. Nggak apa-apalah kalau tiap Jumat kayak biasanya. Tapi kalau tiap hari, ya, jangan.”

Owen mendesah. Tak puas.

“Kenapa dipikirin banget, sih?” Kencana tergelak ringan. “Tapi kalau memang mau balas budi, bolehlah kamu bayarin maksiku seminggu ini.”

Owen tertawa karenanya. Ia suka kejujuran dan keterusterangan Kencana. Sangat suka. Tak ada acara jaim dari gadis itu terhadapnya. Dan sesungguhnya ia percaya bahwa apa yang kini dilakukan gadis itu, menjemputnya untuk berangkat bekerja bersama dan nanti mengantarnya pulang, mengandung ketulusan murni yang sama sekali tak mengharap balasan. Seperti apa adanya Kencana yang selama ini dikenalnya.

“Oke, nanti kutunggu buat maksi di Lounge Ex,” putusnya kemudian.

“Eh?” Kencana menoleh cepat. Sekilas. Sebelum kembali serius dengan kemudi mobilnya.

“Beneran!” tegas Owen. “Tapi besok dan seterusnya balik lagi ke lantai dua, ya, maksi kita.”

Kencana tertawa seketika. Seminggu mentraktir di resto-resto lantai enam, bisa klenger si Owen. Belum lagi selama ini setiap ‘Jumatan’ Owen tak pernah membiarkan ia gantian membayar makanan dan minuman yang sudah mereka nikmati.

Deal!” jawab Kencana dengan senyum masih merekah di bibirnya.

Owen menarik napas lega.

* * *

Pekerjaan yang terpaksa ia tinggalkan saat harus terkapar sakit ternyata banyak sekali. Owen terpaksa meringis ketika sudah hampir pukul sebelas, tapi ternyata pekerjaannya masih menggunung. Dihelanya napas panjang sambil mengambil jeda sejenak dan meraih ponsel.

“Can, sorry, kayaknya aku nggak bisa keluar maksi siang ini. Kerjaanku bejibun.’ Dengan cepat ia mengetik kalimat itu.

Balasannya ia terima sekitar sepuluh menit kemudian. ‘Gpp, Wen. Ini aku juga masih di jalan. Stuck di tol. Baru selesai urusan di kantor cabang Cikarang. Baru juga aku mau WA-in kamu.’

Owen menghela napas lega. ‘Kamu bawa mobil sendiri?’

‘Enggak. Pakai mobil kantor. Ini aku berdua sama Bu Boss. Bertiga sama sopir, ding! Eh, kamu jangan telat makan, ya.’

‘Kamu juga.’

‘Iya, ini Bu Boss sudah ancang-ancang suruh sopir belok dulu ke rest area terdekat.’

‘Oke, deh. Sampai ketemu nanti sore.’

‘Bubye, Owen... 😘

Owen sedikit terperangah ketika menerima emoticon ciuman cinta dari Kencana. Tapi ia kemudian tertawa sendiri ketika Kencana buru-buru meralatnya.

Sorry, salah emot. Yang bener ini : 👋

Owen menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum lebar.

Ican... Ican...

Setelah meletakkan kembali ponselnya, ia kembali bekerja. Ketika seorang OB yang biasanya dimintai tolong memesan makanan dilihatnya sedang berkeliling sambil membawa sehelai catatan, ia pun melambaikan tangan untuk numpang memesan paket makan siang.

* * *

Kencana sedikit terbengong setelah menerima pesan melalui Whatsapp dari Owen sore itu, menjelang berakhirnya jam kerja. Sekali lagi ia membacanya, tapi pesan itu tak berubah.

‘Can, pulangnya jangan langsung ke basement, ya. Kutunggu di Lounge Ex.’

Ia pun buru-buru membalasnya. ‘Jangan ke sana duluan. Aku samperin kamu dulu begitu bel. Jangan protes!’

Dan, Kencana benar-benar mampir dulu ke kantor Owen karena memang kantor mereka berada di lantai yang sama. Pemuda itu sudah duduk menunggu di lobi kantornya ketika Kencana muncul. Gadis itu buru-buru melangkah mendekat.

Sorry, aku lelet sedikit,” Kencana meringis dengan raut wajah minta maaf. “Mau kabur, malah diajak ngobrol sama Bu Boss.”

“Nggak apa-apa,” Owen menanggapi sambil pelan-pelan berdiri.

“Ini serius mau ke Lounge Ex?” tanya Kencana sembari menggamit lengan Owen.

“Ya, iyalah,” Owen tertawa kecil.

“Memangnya kamu sudah lapar lagi?” goda Kencana.

“Wooo... Kamu kalau tahu porsi makan siangku tadi, prihatin banget pokoknya,” Owen tertawa lagi. “Mini banget.”

“Memangnya pesan di mana?” Kencana ikut tertawa.

Embuh si OB. Dah, nggak usah dibahas,” Owen mengibaskan sebelah tangannya.

Kencana kembali terkikik geli. Keduanya sudah sampai di lift. Setelah mengantre sejenak, mereka pun turun ke lantai enam. Lounge Ex yang cuma berisi beberapa pengunjung yang mayoritas ekspatriat menyambut kedatangan keduanya dengan suasana yang menyenangkan karena pendar-pendar lampu bernuansa kuning kecokelatan yang menimbulkan kesan hangat. Keduanya duduk berhadapan di depan meja untuk berdua di sebuah sudut dekat jendela kaca besar.

Diam-diam Owen mengamati Kencana yang tetap menunduk memperhatikan buku menu, walaupun mereka sudah selesai memesan makanan dan minuman. Wajah manis gadis itu tentu saja tak sesegar tadi pagi. Tapi Owen masih dapat menangkap kilasan-kilasan semangat dalam garis wajah Kencana. Semangat yang dengan begitu genit melompat dan menular padanya. Membuatnya mengabaikan rasa perih dan nyeri yang sesekali masih juga menggelitik luka bekas operasinya sebelas hari yang lalu.

Lalu, Kencana mengangkat wajahnya tiba-tiba. Dan, tatapan mereka beradu. Owen mengerjapkan mata.

“Ada apa, Wen?” wajah Kencana terlihat serius.

Owen menggelengkan kepala sambil mengalihkan tatapannya. Kali ini ke arah bawah. Ke arah buku menu.

“Nggak kenapa-napa,” gumamnya. Tanpa senyum.

Tapi, pada akhirnya frasa ‘nggak kenapa-napa’ itu membuat Kencana tenggelam dalam pemikiran panjang yang menyita sebagian besar waktu istirahat malamnya.

* * *

Setelah sekian minggu memperoleh ketenangan dan kegembiraannya kembali, malam ini Kencana terpaksa merelakan diri terbenam dalam lautan benaknya yang dipenuhi sosok Owen.



“Masa nggak kenapa-napa, kok, lihat aku sampai segitunya, sih, Wen?” kejarnya, dengan nada bercanda.

Ucapan itu berhasil membuat Owen mengangkat kembali wajahnya. Dan, Kencana dibuat terperanjat oleh tatapan kelam Owen. Hingga pemuda itu mengerjapkan mata, seolah mengusir pergi kekelaman itu, dan menghela napas panjang.

“Wen, kamu beneran sudah sehat?” tanya Kencana, halus.

“Iya,” Owen mengangguk. Tersenyum sedikit. “Aku sudah nggak apa-apa. Belum pulih betul, tapi sudah nggak apa-apa,” tegasnya.

Lalu hening, hingga Kencana memecahkan kebekuan itu dengan suara lirihnya.

“Wen, kamu kebanyakan keluar sama aku, cewekmu nggak marah?”

Owen melongo sejenak sebelum tersenyum. “Cewek yang mana?”

“Ya, cewekmu,” tegas Kencana. “Pacarmu, kekasihmu, atau apalah namanya. Kamu belum pernah cerita, tapi bukan berarti dia nggak ada, kan?”

Owen menggeleng, “Memang nggak ada. Belum ada.”

“Oh...”

“Dulu, sih, pernah aku suka sama seorang cewek,” gumam Owen. “Sampai sekarang, bahkan. Tapi, ya, embuh,” ia meringis sekilas.

“Imma?” Kencana mengangkat alisnya. “Eh, Imma namanya, kan? Yang cewekmu jaman SMP dulu?”

Owen tertawa ringan. “Sudah nggak ada bekasnya dia, sih.”

Kencana ternganga. “Terus? Cewek yang mana lagi?”

Owen tertawa. “Duh, ngapain kita ngomongin soal itu, sih, Can? Pokoknya halangannya ada saja kalau sama dia. Yang dia keduluan pacaranlah, dua kali malahan. Yang meleset melululah setelah dia kosongan. Banyak.”

Kencana terhenyak.



Dan secuil pun ia tak mengetahui tentang hal itu. Tentang kehidupan pribadi Owen. Tentang perjalanan asmara pemuda itu.

Sahabat macam apa aku ini?

Kencana menelan ludah.

Sahabat? Yang ternyata punya rasa cemburu saat dia menyebut-nyebut soal cewek yang disukainya?

Kencana mencibir.

Padahal aku sendiri yang mancing-mancing.

Samar, ia menggelengkan kepala.

Hah? Cemburu? Halah... Makin error saja aku ini!

Maka, ia mencoba untuk memejamkan mata dan mengistirahatkan benaknya. Pada awalnya terasa sulit. Tapi diiringi simfoni rintik hujan dan sesekali tawa sang petir di kejauhan, ia pun akhirnya terlelap juga.

* * *




1 komentar: