Thursday, November 23, 2017

[Cerbung] Rahasia Enam Hati #24








Sebelumnya



* * *



Dua Puluh Empat


Sisi yakin, bundanya tidak tahu soal pertemuan ayahnya dengan mama Sander siang tadi. Tapi ia yakin, walaupun tidak tahu detailnya, bahwa pembicaraan ayahnya dengan mama Sander menyerempet masa lalu bundanya dengan papa Sander. Walaupun begitu, ia benar-benar tidak tahu bagaimana nanti hubungannya dengan Sander akan berjalan. Apakah harus bubar selamanya bahkan sebelum berkembang, ataukah masih ada harapan.

Mencintainya?

Sisi menggeleng samar.

Benarkah?

Dihelanya napas panjang.

Benarkah seperti ini rasanya?

Ia merasa kehilangan sosok Sander? Ya! Ia merindukan sosok Sander? Sangat! Walaupun pertemuannya dengan Sander baru bisa dihitung dalam bilangan jari sebelah tangan, tapi entah mengapa, ia merasa bahwa sudah lama sekali mengenal Sander, sekaligus merasa nyaman sepanjang berinteraksi dengan pemuda itu. Yang paling penting, ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri di hadapan Sander.

Pemuda itu memang belum pernah mengatakan apa-apa padanya, yang menjurus ke arah tiga kata : aku cinta padamu. Tapi keseluruhan tatapan, perhatian, bahasa tubuh, dan nada suara Sander sudah menyiratkan semua itu.

“Sebagai sesama laki-laki, gue lihat dia nggak ada maksud buat mainin lu, Si. Dia serius sama lu.”

Sisi mengerjapkan mata ketika suara Marco seolah terngiang kembali di telinganya. Sesungguhnya, ia pun merasakan hal yang sama.

Hanya saja...

Sisi mendegut ludah ketika mulai ingin menghamburkan kalimat-kalimat yang berawalan dengan kata ‘seandainya...’. Pada detik yang sama, ia mengingat kembali ucapan bijak Dion.

“Gue harap lu nggak menyesali masa lalu antara Bunda sama papa Sander, Si. Kita nggak tahu apa yang ada di masa depan. Tapi menurut gue, semua hal di luar kuasa manusia seperti masa lalu Bunda sama papa Sander itu punya maksud, yang kadang kita juga nggak paham kenapanya dan bakal kayak apa kejadian berikutnya.”

Pelan ia mendesah, ah, entahlah...

Dan, yang ia bisa lakukan saat ini hanyalah berusaha sekeras-kerasnya untuk mengenyahkan keseluruhan sosok Sander dari benaknya.

* * *

Prisca berbaring miring ke kiri memeluk gulingnya. Membelakangi Erlanda yang sudah mendengkur lembut sedari tadi. Matanya mengerjap sesekali, dengan pikiran menggelinding ke mana-mana. Hingga akhirnya berhenti pada satu titik peristiwa. Pertemuannya dengan Himawan Adiatma, siang tadi.



Ia antara yakin dan tidak pertemuannya dengan suami Lauren nanti akan berjalan sesuai harapan. Lalu, apa yang sebenarnya ia harapkan? Prisca menggeleng samar. Ia merasa tidak lagi mampu berharap apa-apa. Bahkan ia tak bisa menentukan dengan pasti seperti apa bentuk harapan itu. Ia hanya merasa bahwa harus melakukan sesuatu.

Tatapan mata putra tunggalnya saat berpamitan hendak berangkat dinas ke Amerika Serikat seolah menghantuinya. Sander-nya adalah sosok periang yang seolah tak kenal perasaan sedih. Kalaupun rasa itu datang menghampiri, Sander tak pernah lama mau larut atau tenggelam di dalamnya. Secepatnya anak itu akan bangkit dan kembali seperti biasa.

Tapi sekarang?

Prisca menggeleng resah. Sander-nya mulai larut. Tenggelam perlahan-lahan. Ketika dulu harus mengakhiri hubungan berujung buntu dengan seorang gadis yang berlainan iman, Sander dengan tegar bisa segera bangkit dan move on. Tidak seperti sekarang, saat hubungannya dengan Sisi bahkan ‘belum apa-apa’.

Mencoba bicara dengan Erlanda, jawabannya sudah bisa diduga. Bahwa antara Erlanda dan Prisca sudah ‘tidak ada apa-apa’. Sementara, perasaannya mengatakan lain.

Ia sudah tiga puluh tahun lamanya menjadi teman hidup Erlanda. Mengenal milimeter demi milimeter jiwa, raga, dan rasa Erlanda. Dan seorang Laurentia masih terselip dalam rasa Erlanda, disadari atau tidak, diakui atau tidak. Erlanda masih penasaran dengan hidup Laurentia. Mungkin hingga detik ini.

Satu-satunya orang yang mungkin ‘senasib’ dengannya, berada pada posisi yang sama dengannya, adalah suami Lauren. Hal itu terpikir ketika Prisca membuka-buka akun Instagramnya. Keisengan itu bergeser pada akun ‘tetangga’. Akun Sander dan Sisi.

Tak banyak update pada akun Sander. Terakhir adalah unggahan swafoto Sander bersama rekan-rekannya di bandara, sebelum bertolak ke Amerika Serikat, setelah unggahan foto mereka bertiga – ia, Sander, dan Erlanda – saat Sander masih dirawat di rumah sakit.

Sedangkan pada akun Sisi, unggahannya lebih banyak dan bervariasi. Mulai dari terrarium dan kaktus, foto gadis itu dengan latar belakang berbagai negara di Eropa, beberapa foto event budaya yang diikutinya, hingga belakangan kembali ke koleksi terrarium dan kaktusnya. Semuanya tanpa limpahan tanda hati dan komentar dari Sander.

Astaga... Apa yang sudah kulakukan?

Rasa bersalah itu memantapkannya untuk melakukan sesuatu.

Dari akun Sisi, Prisca mendapatkan akun ayah gadis itu. Himawan Adiatma.

Ganteng...

Itulah hal pertama yang berkesan di mata Prisca. Laki-laki bernama Himawan Adiatma itu memang sudah tak muda lagi. Wajahnya memancarkan kharisma dan aura teduh yang sungguh menyejukkan hati. Kepalang tanggung, Prisca melanjutkan niatnya untuk menghubungi laki-laki itu melalui direct message.

‘Selamat malam, Bapak Himawan Adiatma... Perkenalkan, saya Prisca Prabandaru, istri dari Erlanda Prabandaru. Saya yakin, Bapak sudah pernah mendengar nama yang terakhir itu. Kami berdua adalah orang tua dari Sander, pemuda yang beberapa waktu belakangan ini mendekati Sisi, putri Bapak. Jujur, saya sangat menyukai putri Bapak. Anaknya sangat sopan, dan saya tahu sedikit bagaimana dia merintis kemandirian dengan membangun bisnisnya. Pendeknya, Bapak memiliki permata yang tak ternilai harganya. Kalau saya boleh memilih, tentu dengan senang hati saya mendaftar paling depan untuk seleksi calon ibu mertua. Sayangnya... Bapak tentu tahu masa lalu istri Bapak dengan suami saya. Suami saya sudah melukai istri Bapak dengan sikap tidak tegasnya. Saya tahu cerita itu. Mungkin bagi Ibu Lauren, semua yang terjadi di masa lalu sungguh-sungguh sudah berakhir. Tapi tidak demikian dengan suami saya. Selama bertahun-tahun, Erlanda selalu menelisik keberadaan dan kabar Ibu Lauren, walaupun tak pernah mendapatkannya sedikit pun. Semua orang tutup mulut. Itu semua dilakukan Erlanda di belakang saya. Saya berusaha mengikhlaskan semua itu ketika tahu, tapi sulit rasanya. Dan kini, Erlanda tahu keberadaan istri Bapak karena pertemuan Sander dengan Sisi. Di satu sisi, saya sangat memahami hati putra tunggal saya. Tapi di sisi lain, saya masih belum bisa membayangkan akan jadi apa pertemuan antara istri Bapak dengan suami saya nantinya. Saya ingin bertemu dengan Bapak. Perlu bicara dengan Bapak soal ini. Saya yakin, Bapak memahami maksud saya. Saya berharap Bapak berkenan menyediakan waktu untuk ini. Saya tunggu jawaban Bapak. Salam, Prisca P.’

Kemudian, jawaban dari Himawan ia peroleh keesokan paginya. Sebuah jawaban singkat yang dilandasi oleh suatu pengertian yang sangat menyejukkan hati.

‘Selamat pagi, Ibu Prisca. Saya seutuhnya memahami apa yang Ibu Prisca rasakan dan pikirkan. Saya ada waktu siang ini. Saat jam makan siang. Sekitar pukul 12.00 (lebih sedikit) sampai pukul 14.00 (kurang sedikit). Tapi saya tidak bisa terlalu jauh dari kantor. Bagaimana kalau kita bertemu di Plan X Cafe daerah Kebayoran Baru? Seandainya Ibu punya pandangan lain, silakan. Salam hormat, Himawan Adiatma.’

Mendapat jawaban lampu hijau seperti itu, tanpa banyak pernik, Prisca pun menyetujuinya. Ia memilih untuk menunggu di kafe itu setengah jam lebih cepat. Ia butuh waktu untuk menyiapkan diri, agar tidak terkesan sebagai istri lebay yang sangat ketakutan kehilangan suami (walaupun memang seperti itu yang ia rasakan).

Tapi yang didapatinya kemudian cukup menyolok mata. Salah seorang ‘topik’ pembicaraannya kelak justru muncul di kafe itu. Tidak sendirian, tapi berdua dengan seorang teman. Laki-laki. Dan tampaknya, keduanya jauh lebih akrab daripada sekadar teman. Pemuda yang datang bersama Sisi itu dikenalinya sebagai seorang dokter ko-as yang bertugas di rumah sakit tempat Sander dirawat beberapa belas hari lalu.

Sesekali ia mencuri pandang tanpa gadis itu tahu apa yang dilakukannya. Sisi dan pemuda itu bercakap dan berlaku akrab, tapi tanpa kesan berlebihan.

Apakah semudah itu Sisi menemukan pengganti Sander? Kasihan sekali kamu, Nak...

Tapi belas kasihan itu seketika runtuh ketika Himawan datang, mereka bercakap, Himawan mengetahui kehadiran anak gadisnya – sepertinya tanpa si anak gadis tahu karena terlalu sibuk dengan teman laki-lakinya, dan Himawan mengetahui arah pandang sesekalinya. Dengan senyum, laki-laki itu kemudian menjelaskan.

“Sisi punya lima sahabat. Semuanya laki-laki, Bu,” ucap Himawan dengan nada halus. “Selama ini mereka selalu menjaga Sisi dengan sangat baik. Mereka bersahabat sejak TK, sampai detik ini. Sudah seperti anak-anak kami sendiri.”

Seketika Prisca ingat segerombolan pemuda yang mengantarkan Sisi ke rumah sakit untuk menjenguk Sander. Ia mengangguk. Ditatapnya Himawan.

“Jadi...,” ucapnya kemudian, ragu-ragu. “Bagaimana menurut Bapak, soal Bu Laurentia dengan Erlanda?”

Himawan kembali mengulas senyum teduh. “Saya percaya semuanya sudah usai, Bu. Saya sungguh-sungguh percaya hati dan hidup bunda Sisi sejak menikah dan Sisi hadir, hanya untuk kami – Sisi dan saya.”

Prisca tercenung.

Tentu saja dia tidak akan pernah berpaling. Suaminya sudah sempurna. Demikian juga putrinya. Sedangkan aku? Apakah aku sudah cukup sempurna untuk Erlanda?

“Saya... menyempatkan diri bertemu Sander beberapa hari lalu.”

Suara rendah Himawan terdengar seperti petir di telinga Prisca. Ia melengak.

“Kapan?”

“Menjelang cuti sakitnya selesai. Entahlah... Saya hanya berpikir bahwa saya harus mengajaknya bicara.”

Prisca tertunduk. “Saya tahu dia kecewa pada saya, Pak...”

“Sama sekali tidak, Bu...,” suara Himawan terdengar sangat menenangkan. “Sander justru memahami apa yang Ibu rasakan. Dia juga sedikit terbentur sikap dingin bunda Sisi. Maafkan istri saya. Dia tahu Sander sangat layak untuk Sisi, hanya saja... masa lalu bersama Pak Erlanda itu yang membuatnya berpikir ulang untuk menyetujui hubungan Sisi dengan Sander. Bunda Sisi merasa tidak nyaman kalau harus berinteraksi lagi dengan Pak Erlanda. Tapi bila masalah ini sudah teratasi, saya pikir masalah pada bunda Sisi akan selesai. Tinggal Ibu. Karena Sander sangat mencintai dan menghormati Ibu. Sama sekali tak ingin menyakiti hati Ibu.”

Prisca terhenyak.

Jadi justru aku dan Erlanda yang masih menghambat anak-anak ini? Ah!

“Mm... Saya berpikir... bagaimana kalau kita pertemukan saja Pak Erlanda dengan bunda Sisi? Supaya masalah ini sekalian selesai. Tidak meninggalkan jejak tak enak untuk anak-anak.”

Seketika Prisca terdongak dan ternganga.



Hingga ia dan Himawan berpisah, ia belum memberikan jawaban atas tawaran Himawan. Bahkan hingga detik ini.

Mempertemukan Erlanda dan Laurentia? Apakah tidak seperti memberi umpan pada harimau kelaparan?

Prisca menggelengkan kepala. Ia belum juga bisa mengambil keputusan.

* * *

Mempertemukan Lauren dengan Erlanda... Apakah aku terlalu berani?

Diam-diam Himawan menyesali usul yang diungkapkannya pada Prisca siang tadi. Untung Prisca belum memberi jawaban. Sehingga ia masih bisa memikirkan lagi.

Sambil berbaring, ditatapnya Lauren yang sudah terlelap. Terlihat begitu damai, teduh, cantik, dan membuat jantungnya tanpa bisa ditahan berdebar lebih kencang. Pelan-pelan tangannya terulur. Dengan lembut dibelainya pipi Lauren. Halus. Dicubitnya sedikit. Kenyal. Himawan tersenyum ketika Lauren bergerak sedikit. Sepertinya merasa terusik. Tapi mata perempuan itu masih terpejam erat. Himawan menghela napas panjang.

Aku tak mau kehilanganmu. Kamu belahan jiwaku. Dulu, kini, esok, selamanya... Erlanda itu cuma jaman purbamu. Jaman yang memang harus punah karena seleksi alam. Dan aku, tak akan kehilanganmu. Tak akan pernah kubiarkan aku kehilanganmu...

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)



4 comments:

  1. weeiuu, yg baru tayang masih anget. sampek lali aku arep umbah umbah mbak... apiikk tenen iki. jadi blajar kalo mencintai itu banyak seginya... lanjoott, jadi upik abu lageeee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sampe mbalese komen tuelaaat, hihihi... 😘😘😘

      Delete