Thursday, November 2, 2017

[Cerbung] Rahasia Enam Hati #18








Sebelumnya



* * *

Delapan Belas


Selama tiga minggu melanglang Eropa, hampir tak ada waktu bagi Sisi untuk memikirkan dirinya sendiri. Hari-harinya dipenuhi ritme kegiatan yang sangat tinggi. Bersiap pentas, berlatih bila ada kesempatan, memeriksa ulang tumpukan kostum, menyesuaikan diri dengan tempat baru, berpindah negara, dan masih banyak lagi. Hanya sesekali ia bisa membalas sapaan Sander melalui pesan WhatsApp.

Pada saat seperti itu, saat ia berhasil meluangkan waktu untuk saling bertukar kabar baik dengan Sander maupun orang rumah dan para sahabatnya, sering ia malah tergulung dalam ingatan saat bicara dengan ayahnya, tentang Sander. Lebih tepatnya, hubungan tak langsung antara bundanya dengan Sander.

Seutuhnya Lauren adalah ibu impian yang diinginkan para anak. Semua yang sudah diberikan Lauren padanya jauh melampaui apa pun yang paling berharga di dunia ini. Pada saat-saat tertentu ia memang harus bisa menerima kecerewetan seorang ibu seperti Lauren. Kecerewetan yang sering membuatnya rindu bila berada jauh dari rumah.

Dan ternyata hubunganku dengan Mas Sander ada potensi menyakiti Bunda. Bahkan mungkin akan memengaruhi hubungan Bunda dengan Ayah.

Dihelanya napas panjang.

Sebelum terlalu jauh, apakah aku harus...

Ia mengerjapkan mata.

Tapi aku... memang benar-benar tertarik padanya!

Gerakan nyaris serentak di sekelilingnya membuat Sisi tersentak. Rupanya sudah waktunya masuk ke pesawat yang akan membawa rombongan mereka kembali ke Indonesia. Sisi pun berdiri dan ikut arus setelah memastikan barang bawaannya tak ada yang tertinggal. Tak bisa diingkari, bahwa rasa rindu itu ada. Pada rumah, ayah-bundanya, semua sahabatnya, pekerjaannya, dan juga Sander

Akan segera tiba waktunya bagiku untuk memikirkan lagi semuanya...

Mengingat hal itu, Sisi tersenyum samar. Beberapa hari lalu, ia menerima pesan dari Sander, bahwa laki-laki itu akan turut menjemputnya di bandara pada Sabtu malam waktu Indonesia. Entah laki-laki itu serius atau tidak, ia mengiyakannya saja. Setelah itu, tak ada lagi pesan lanjutan hingga detik ini.

Tapi... sosok laki-laki itu tak dijumpainya ketika ia mendarat di Cengkareng belasan jam kemudian, pada Sabtu malam. Hanya ada ayah dan bundanya. Ketiganya berpelukan untuk saling melepas rindu.

Sebelum meninggalkan tempat itu, sekilas Sisi melihat berkeliling. Mencoba mencari sosok yang sudah sempat mengumbar janji padanya. Tapi tetap nihil. Dihelanya napas panjang.

Barangkali aku memang berharap terlalu tinggi. Dan... barangkali memang benar dia serupa ayahnya.

Ia mengedikkan bahu dan masuk ke mobil Himawan.

* * *

Ruang Instalasi Gawat Darurat sudah mulai lengang Kamis malam itu. Danny menyesap kopi kalengannya pelan-pelan. Berusaha menemukan kenikmatan di dalamnya. Ia sudah terbiasa dengan segala hiruk-pikuk urusan nyawa manusia di ruangan itu setelah beberapa minggu terjebak di dalamnya. Tak ada waktu untuk merasakan lelah. Yang bisa dilakukannya hanyalah berusaha menikmatinya. Bukankah menjadi dokter adalah cita-citanya sejak kecil?

Sedikit lagi...

Dan, ia benar-benar tak mau berhitung soal hari, minggu, ataupun bulan. Semua dianggapnya bagian dari hal ‘sedikit lagi’ itu. Membuatnya lebih bisa menikmati indahnya perjuangan selama proses menjadi ko-as demi menyematkan gelar ‘dr.’ di depan namanya. Juga indahnya segala usaha untuk turut menyelamatkan nyawa berharga seorang manusia.

Kopinya sudah habis. Diremasnya kaleng kosong di tangannya, kemudian dibuangnya ke tempat sampah berwarna merah di sudut. Tapi sebelum ia sempat beranjak, kesibukan mulai lagi.

“Dok, korban kecelakaan!” seru seorang perawat.

Danny segera melompat berdiri. Ketika ia sampai, pasien yang tak sadarkan diri itu sudah dipindahkan dari brankar, dan sudah mulai ditangani oleh dua orang rekannya. Walaupun begitu, Danny tetap turun tangan membantu.

Tapi sedetik kemudian ia tercekat. Seutuhnya ia mengenali siapa korban kecelakaan yang berlumuran darah di bagian bawah wajah itu.

“Keluarganya sudah dihubungi?” ia menoleh ke arah seorang perawat.

“Maaf, kurang tahu, Dok,” perawat itu menggeleng.

Ia segera mundur dan mengeluarkan ponselnya. Setelah menempelkan benda itu ke telinga, tak lama kemudian ada jawaban dari seberang sana.

“Ya, Dan?”

“Bang, lu bisa hubungin Kak Anin? Temennya ada di sini, di IRD, kecelakaan.”

“Temen yang mana?”

“Sander. Minta tolong hubungi keluarganya.”

“Hah? Oh, oke.”

“Buruan!”

“Iya.”

Danny kembali lagi setelah menyelesaikan urusannya. Sander sudah diberi pertolongan pertama dan mulai dibersihkan.

“Gimana, Van?” tanyanya pada sang teman yang menangani.

“Ada indikasi perdarahan dalam. Ada bekas muntah darah juga. Gue sudah hubungin Dokter Serva,” jawab Jovan.

Danny mengangguk. Diketahuinya luka luar laki-laki itu tidak begitu parah. Hanya sedikit memar di kepala, tangan, dan kaki. Tapi tetap saja harus menunggu scan dan observasi lebih lanjut.

Kok, bisa kecelakaan, sih, Mas?

Dihelanya napas panjang. Ia kemudian menoleh lagi ke arah Jovan.

“Nggak ada korban lain?”

Jovan menggeleng. “Kecelakaan tunggal.”

Danny ternganga.

* * *

Pada minggu pertama, Sander masih bisa bertahan dalam usahanya mengalihkan perhatian dari sosok seorang Sisi yang sedang nun jauh melanglang buana keliling Eropa. Seluruh fokusnya dicurahkan untuk urusan pekerjaan yang memang sedang sangat tinggi ritmenya, dan urusan kuliah yang mengharuskannya menyelesaikan beberapa tugas.

Masuk minggu kedua, konsentrasinya mulai pecah. Kerinduannya pada Sisi serasa makin tak tertahan. Gadis itu menyapanya sesekali melalui pesan pendek. Mengabarkan bahwa ia baik-baik saja dan sedang sibuk sekali. Sedemikian sibuknya sehingga tak sempat mengurusi akun media sosialnya. Memang tak ada unggahan baru di akun Instagram Sisi. Padahal Sander benar-benar ingin melihat wajah terkini Sisi. Untuk sekadar meminta, ia benar-benar belum berani. Ia khawatir, bila salah dalam menentukan langkah, bisa-bisa Sisi ‘terbang’ begitu saja meninggalkannya. Menghilang dari kehidupannya.

Awal minggu ketiga, semangatnya naik lagi. Sisi akan pulang pada akhir minggu, dan ia akan segera bertemu kembali dengan pujaan hatinya itu. Bahkan ia sudah berjanji untuk menjemputnya di Cengkareng. Kerinduannya makin membuncah. Tapi fisiknya telanjur terforsir.

Untuk urusan makan, jadwalnya benar-benar kocar-kacir selama dua minggu ini. Akibatnya sangat mudah ditebak. Lambungnya mulai tak bisa diajak kompromi.

Aduh... Jangan sekarang!

Ia mendesah tertahan ketika rasa perih itu terasa lagi di ulu hati, tepat di tengah meeting. Keringat dingin mulai keluar ketika rasa mual datang mendesak. Berkali-kali ia menghela napas panjang untuk mengusirnya. Hingga meeting berakhir, usaha itu berhasil. Kembali ke mejanya, ia segera menggeratak laci untuk mencari obat maag. Ketemu. Ia selamat hari ini.

Hari Selasa, gejala itu muncul lebih cepat. Pukul sepuluh pagi, rasa perih itu muncul kembali. Lagi-lagi, obat menyelamatkannya. Ia bertahan hingga jam kerja usai.

Hari Rabu, aman sepanjang hari.

Hari Kamis pun nyaris aman sepanjang hari. Nyaris. Tapi meeting sejak pukul tiga siang hingga lewat pukul empat sore menghajarnya lagi tanpa ampun. Meeting yang alot tanpa tanda akan cepat berakhir.

Sander mendesah tanpa suara ketika lambungnya mulai berontak. Mulas, perih, mual. Konsentrasinya seketika buyar. Tapi seperti biasa, ia tetap berusaha bertahan. ‘Siksaan’ itu berakhir menjelang pukul enam petang, dengan hanya sekian persen kesimpulan meeting menyangkut di otaknya. Sempat diminumnya obat sebelum meninggalkan kantor.

Sebelum meluncurkan mobil keluar dari basement, ia menangkupkan kepalanya selama beberapa menit di atas setir. Sekadar memberi kesempatan pada obat untuk bekerja mengurangi rasa nyeri dan mual. Sebelum sepenuhnya berhasil, ia kembali menegakkan kepala dan mengambil ponsel di saku kemeja. Sejenak kemudian ia menempelkan benda itu di telinga. Pelan-pelan kepalanya mulai terasa pening, diikuti keluarnya keringat dingin.

“Ma, aku pulang ke rumah, ya?” ucapnya begitu ada sahutan dari ibunya di seberang sana. “Maag-ku kambuh.”

“Lho?! Ya, sudah, Mama tunggu. Kamu masih kuat nyetir?”

Aduh... Entahlah, Ma... “Masih, Ma.”

“Oke, hati-hati di jalan, San.”

Lalu, semuanya seolah berjalan secara otomatis. Mobilnya mulai meluncur dan mengambil jalur menuju ke rumah orang tuanya. Setengah mati Sander mengabaikan rasa sakit dan mengalihkannya pada fokus menatap jalanan.

Akhirnya... Tinggal dua belokan lagi, pikirnya dengan sangat lega.

Tapi tepat saat itu, terasa ada tusukan yang sangat menyakitkan di ulu hatinya. Ia sempat berpikir untuk sejenak menepikan mobil. Bersamaan dengan itu, terasa ada rasa mual yang mendesak begitu saja. Tak tertahan lagi. Kemudian... semuanya gelap.

* * *

Ketika menerima telepon dari Edwin, Erlanda merasa setengah jiwanya tersedot dan mengalir keluar meninggalkan raga. Sander kecelakaan. Sander-nya! Dengan suara bergetar, disampaikannya berita itu pada Prisca. Perempuan itu sempat menjerit. Ia memang sudah resah karena hingga waktu yang diperkirakannya Sander akan tiba di rumah, sang anak laki-laki kesayangan itu belum juga muncul. Setelah kepanikan mereda, keduanya buru-buru berangkat menuju ke Rumah Sakit Eternal Husada.

Lalu, semuanya menjadi jelas. Mobil Sander – yang sebetulnya tidak ngebut – hilang kendali, melenceng ke kiri, naik ke trotoar, dan menabrak sebatang pohon peneduh. Semua itu terjadi tepat di depan sebuah mobil patroli polisi yang sedang melintas dari arah yang sama. Itu yang membuat Sander cepat diselamatkan dan dibawa ke rumah sakit terdekat.

Erlanda menggenggam erat-erat tangan Prisca yang terasa dingin dan gemetar. Sesaat kemudian direngkuhnya perempuan itu. Isak tertahan Prisca pecah dalam pelukannya.

Pada akhirnya Serva muncul. Dokter berusia lima puluhan itu bergegas menghampiri keduanya.

“Mas, Mbak...,” ucapnya, menyapa abang sepupunya beserta nyonya.

“Ser, gimana anakku?” bisik Erlanda.

“Nggak apa-apa,” nada suara Serva terdengar menenangkan. “Sepertinya Sander perdarahan lambung saat nyetir, kehilangan kendali, dan akhirnya celaka.”

“Tadi memang dia bilang mau pulang ke rumah karena maag-nya kambuh,” ujar Prisca.

“Ya, ini sudah selesai endoskopi,” kata Serva lagi. “Tapi gumpalan darah di dalam lambung masih terlalu banyak. Nggak kelihatan jelas sumber perdarahannya. Coba besok aku ulang lagi. Sementara ini biar Sander di ICU dulu.”

“Luka lain?” wajah Erlanda tetap dipenuhi kekhawatiran.

“Nggak ada,” Serva menggeleng. “Cuma memar di kening, tangan, sama kaki. Luka luar saja. Tulangnya nggak ada yang retak. Organ vital lainnya baik-baik saja walaupun tekanan darah dan Hb-nya rendah banget. Mungkin kalau dia ngebut, ceritanya bakal lain lagi. Tapi Sander akan baik-baik saja, Mas, Mbak. Sudah transfusi juga. Kondisinya juga sudah mulai stabil, kok.”

Erlanda dan Prisca sama-sama mendesah.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)

4 comments: