Thursday, November 9, 2017

[Cerbung] Rahasia Enam Hati #20








Sebelumnya



* * *


Dua Puluh


“Hal seperti ini yang aku khawatirkan akan terjadi pada Sisi, Yah...”

Seketika Sisi menghentikan langkahnya. Ia membatalkan maksudnya untuk masuk ke ruang baca. Ditajamkannya telinga, demi mendengar sang bunda menyebut namanya. Ia berdiri diam di balik dinding yang membatasi ruang tengah dengan selasar samping, tempat kedua orang tuanya mengobrol. Pintu kaca di dekatnya terbuka lebar.

“... Kalau soal patah hati, aku percaya Sisi bakal secepatnya bangkit. Tapi laki-laki itu! Enak saja mempermainkan Sisi. Nggak bapak, nggak anak, sama saja kampretnya!”

“Aku, kok, nggak percaya dia seburuk itu, Bun,” suara Himawan terdengar teduh. “Mungkin ayahnya nggak punya ketegasan, tapi kulihat anaknya lain.”

“Gombal...,” gerutu Lauren. “Buktinya?”

Hening. Sisi menggigit bibir. Perlahan kesedihan merayapi hatinya.

Pesan yang diterimanya dari Sander beberapa hari lalu sudah jelas. Laki-laki itu minta maaf karena sedang sulit membagi waktu untuk mengejar ketertinggalannya karena sakit. Sekarang pun sedang dalam masa pemulihan. Sementara bekerja di rumah. Rumah orang tuanya, belum pulang ke apartemen. Bersiap untuk ujian akhir semester pula.

‘Jadi untuk sementara waktu kita nggak bertemu dulu, ya, Si...’

Jelas! Sangat jelas! Ditambah dengan sikap mama Sander yang mendadak dingin padanya saat ia menjenguk Sander untuk kedua kalinya. Tentu saja ia tahu diri. Sangat tahu diri. Papa Sander jelas-jelas ada tanda-tanda tahu siapa ibunya. Barangkali mama Sander juga sudah mengetahui siapa ia sebenarnya. Itu terakhir kalinya ia datang menjenguk, dan memutuskan untuk meniadakan kunjungan berikutnya. Ia sungguh-sungguh butuh waktu untuk menenangkan diri. Hingga pesan itu datang padanya, dan ia menunjukkannya pada sang bunda karena merasa tak kuasa hendak menyimpan untuk dirinya sendiri. Tapi hanya tentang pesan itu. Tidak tentang sikap akhir mama Sander padanya.

Menyalahkan Bunda? Sisi menggeleng seketika. Tentu saja tidak!

Bundanya juga korban. Korban ketidaktegasan seorang laki-laki bernama Erlanda Prabandaru, yang – sialnya – adalah ayah Sander, puluhan tahun lalu. Dan sekarang, ia terkena imbasnya. Tak hanya ia seorang, sebenarnya, tapi Sander juga. Sialnya lagi, Sander sepertinya belum punya tenaga untuk memperjuangkan semua itu.

Entahlah...

Sisi mengerjapkan mata. Sementara waktu ini, ia masih bisa mengalihkan kesedihannya dengan bekerja. Banyak sekali pesanan terrarium mini yang masuk dan harus dikerjakannya. Setelah itu? Sisi menggeleng samar.

Aku tidak tahu...

* * *

“Sander sudah curhat sama saya, Pak,” ucap Alfons keesokan harinya. “Sungguh, saya ikut prihatin.”

Himawan tercenung menatap gelas es tehnya.

Kali ini bukan Himawan yang memanggil Alfons untuk bicara soal pribadi. Tapi sebaliknya. Laki-laki muda itu yang meminta waktunya untuk bicara di sela istirahat makan siang.

“Sebetulnya Sander benar-benar mencintai Sisi, Pak,” lanjut Alfons. “Dia belum pernah seperti ini sebelumnya. Hanya saja kali ini dia terjepit. Antara kepentingannya, dengan perasaan mamanya. Saya yakin Bapak memahami hal ini.”

Himawan mengangkat wajahnya. Manggut-manggut.

“Sander sudah pulih?” tanyanya.

“Belum sepenuhnya, Pak. Tapi sepertinya dia sudah bisa mulai masuk kerja lagi Senin depan.”

Sekelebat pikiran mendadak muncul di benak Himawan. Ditatapnya Alfons.

* * *

Sander ternganga.

Gawat! Ayah Sisi ingin bertemu denganku?

“Beliau marah?” hatinya mendadak merasa was-was.

“Enggaklah...,” jawab Alfons dari seberang sana. “Beliau cuma ingin ngobrol sama lu. Jadi, kapan lu ada waktu?”

“Kapan pun bisa,” sahut Sander cepat. “Mumpung gue masih cuti.”

“Mm... Oke, nanti gue sampaikan ke beliau,” Alfons menanggapi. “Biar beliau yang putusin waktunya. Kalau lu mau ketemuan sama Pak Himawan, ‘tar gue yang antar-jemput lu.”

“Bikin repot lu, Fons.”

“Enggak... Udah, lu tenang aja. Oke, gue cabut ya!”

Seusai pembicaraan dengan Alfons melalui ponsel, Sander termenung.

Pak Himawan... Seorang ayah yang sangat sabar dan penuh pengertian.

Tampaknya jalan masih belum buntu total. Masih ada harapan. Mendadak, semangatnya timbul kembali.

Semoga, ya, Tuhan... Semoga...

* * *

Hati Lauren serasa tercubit melihat putri kesayangannya duduk mencangkung dengan tatapan kosong di tepi kolam ikan koi. Langit sudah mulai gelap, tapi Sisi masih membeku di tempatnya melamun.

Seandainya dia bukan anak dari laki-laki itu, Nak...

Lauren mengerjapkan matanya yang menghangat sebelum menghampiri putri kesayangannya.

“Si...,” dengan lembut diusapnya bahu kiri Sisi.

Gadis itu tersentak dan mendongak. Dengan jelas Lauren melihat ada telaga bening dalam kedua mata Sisi. Hatinya makin terasa tercubit. Ia pun duduk di sebelah anak gadisnya.

“Memikirkan apa?” usik Lauren, halus. “Atau siapa?”

Sisi mendesah, sekaligus mengembuskan napas keras-keras.

“Entahlah, Bun,” gumamnya, patah.

“Si... Bunda boleh ngomong, nggak?”

“Ngomong aja, Bun,” Sisi menoleh sekilas.

“Bunda bukannya nggak suka sama Sander,” ucap Lauren, lirih. “Bunda cuma belum bisa terima dia itu anaknya siapa. Bunda nggak mau kamu mengalami hal yang sama kayak Bunda.”

Seutuhnya Sisi memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan Lauren. Lembut, ditepuknya punggung tangan Lauren.

“Aku paham, kok, Bun,” dicobanya untuk tersenyum. “Semua karena Bunda sayang sama aku. Aku nggak apa-apa, kok. Sebelum semuanya terlalu dalam, mungkin memang sebaiknya begini. Aku juga percaya, kalaupun nggak jodoh sama dia, aku masih bisa dapat yang jauh lebih baik. Seperti Bunda dapat Ayah.”

“Mm... Dia sendiri? Menyerah?”

Sisi mengangkat bahu. “Entahlah. Yang jelas dia sedang sibuk banget. Mau ujian semester, belum lagi harus selesaikan pekerjaan yang keteter selama dia sakit, belum lagi dia juga masih masa pemulihan.”

Lauren tercenung.

“Aku pikir, sementara ini aku harus kasih dia ruang sama waktu, Bun,” Sisi lanjut menggumam.

Lauren kembali tercenung.

* * *

Rencana pertemuan itu terlaksana tiga hari kemudian, pada Jumat sore. Sander tak harus beralasan ini-itu, karena sudah berpamitan pada kedua orang tuanya untuk langsung pulang ke apartemen seusai kontrol ke dokter siang harinya. Walaupun terasa berat di hati, tapi Erlanda dan Prisca terpaksa menganggukkan kepala.

Dengan jantung berdebar nyaris liar tak beraturan, Sander turun dari taksi yang membawanya dari apartemen ke sebuah kafe yang sudah ditetapkan Himawan. Ia sengaja datang setengah jam lebih awal agar tidak terlambat, dan masih punya kesempatan untuk menenangkan diri. Ditolaknya maksud baik Alfons untuk menjemput dan mengantarnya. Untuk membawa mobil sendiri, ia merasa lebih baik jangan dulu. Selain mobilnya sendiri sama sekali belum beres urusannya, ia juga enggan memakai mobil ayahnya walaupun si empunya sama sekali tak keberatan. Mobil baru? Masih berlanjut prosesnya walaupun ia menolak dengan sekuat tenaga.

Ia berusaha memantapkan langkah memasuki kafe itu. Setelah menanyakan soal reservasi seperti arahan Himawan, ia diantarkan ke bagian belakang kafe. Ada teras yang luas di sana. Menghadap ke arah taman yang asri, dihiasi air terjun mini. Di depan meja bernomor 18, ia duduk menunggu kedatangan Himawan.

Setelah memesan secangkir ginger tea dan satu porsi banana cake, ia pun menyandarkan punggung. Mencoba bersikap sedikit santai dan mengendurkan ketegangan yang melingkupi hatinya. Kesendirian yang bersifat sementara itu memaksanya merenungkan satu nama. Sisi.

Di tengah upayanya memulihkan kesehatan dan menyiapkan diri menghadapi ujian akhir semester yang sudah berlangsung akhir minggu lalu, seringkali nama itu terselip begitu saja dalam pikirannya. Semakin ia berusaha mengelak, semakin erat pula Sisi seolah memeluknya. Pada satu titik, ia teringat kembali akan tekadnya. Bahwa ia akan menghadapi dan melewati setiap rintangan, dan tak akan melepaskan Sisi walau apa pun yang akan terjadi. Tapi ketika rintangan itu ternyata berbentuk sesosok perempuan yang melahirkannya, entah kenapa tekadnya terasa mentah kembali.

Kenapa juga dulu Papa ada kisah dengan ibu Sisi?

Kalimat tanya itu beberapa kali terasa melingkar-lingkar di otaknya. Sebuah pertanyaan yang tentunya tak perlu ada jawaban karena itulah yang namanya misteri kehidupan. Semisteri itulah alur perjumpaannya dengan Sisi. Apalagi ada sejarah tak terduga yang ternyata secara tak langsung sudah menghubungkan mereka berdua.

Lamunannya terputus ketika seorang pramusaji mengusiknya untuk mengantarkan pesanan. Ia hendak melanjutkan lagi lamunannya setelah mengucapkan terima kasih, tapi sebuah sapaan membuyarkan rencana itu.

“Mas Sander, selamat sore...”

Ia menoleh dan buru-buru berdiri setelah melihat siapa yang datang. Himawan mengulurkan tangan sambil tersenyum. Segera disambutnya jabat tangan itu.

“Selamat sore, Pak,” ia mengangguk dengan penuh hormat.

“Sudah lama?” Himawan segera mengambil tempat duduk di seberang Sander.

“Belum, kok, Pak,” Sander pun duduk kembali.

Pembicaraan itu terjeda ketika seorang pramusaji datang untuk mencatat pesanan Himawan. Setelah urusan itu selesai, Himawan kembali menatap Sander.

“Gimana? Sudah sehat?”

“Puji Tuhan, Pak. Sudah mulai pulih. Hari Senin besok ini sudah masuk kerja lagi. Mm... Sisi bagaimana kabarnya, Pak?”

Himawan tersenyum ketika mendengar ada nada ragu-ragu dalam suara Sander. Tapi dijawabnya juga pertanyaan itu, “Sisi... baik-baik saja. Tapi... ya, nggak terlalu baik juga.”

Seketika rona murung mewarnai wajah Sander. Dihelanya napas panjang.

“Maafkan saya, Pak,” ucapnya, patah. “Semua ini salah saya.” Sander tertunduk.

Himawan menggeleng. “Bukan lah... Kita semua tentu tidak pernah berpikir akan menghadapi kejadian rumit seperti ini. Bahkan, membayangkannya pun sepertinya tidak pernah.”

“Saya sayang sama Sisi, Pak...,” Sander mengangkat wajahnya. “Sayang sekali...”

Himawan bisa memastikan, bahwa suara Sander mengandung seratus persen kejujuran.

“... Tapi saya juga nggak tahu harus bagaimana menghadapi kemauan Mama,” Sander kembali tertunduk. “Belum lagi saya juga harus memikirkan perasaan Bu Tia. Seandainya bukan seperti itu kisahnya, saya nggak akan berpikir dua kali untuk terus berjuang. Sayangnya...”

Himawan diam-diam menghela napas panjang. Ditatapnya pemuda berwajah muram di hadapannya itu. Dalam-dalam.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)



4 comments: