Monday, November 6, 2017

[Cerbung] Rahasia Enam Hati #19






Sebelumnya



* * *

Sembilan Belas


Sisi terjaga ketika ponselnya berbunyi tanpa jeda. Sambil menggerutu, ia meraih benda itu dan menempelkannya di telinga.

“Halo...”

“Oi! Si! Masih hidup lu?”

“Kampret!” makinya begitu mendengar suara Danny.

Terdengar kekehan di seberang sana.

“Anak perawan kudunya udah bangun jam segini.”

“Eh, Dan, lu calon dokter apa calon dukun, sih? Nggak pernah denger istilah jetlag, apa?”

“Hahaha...”

Sisi mendesah panjang. Sejujurnya, ia masih mengantuk sekali. Memang sudah menjelang pukul sepuluh pagi, tapi rasanya ia belum puas tidur.

“Eh, Si, mm... Gue mau ngomong, tapi lu jangan kaget, ya?”

“Apaan?” Sisi mengerutkan kening.

“Mm... Mas Sander lagi dirawat di sini. Geng udah meluncur ke rumah lu, mau jemput lu. Lu siap-siap, ya.”

“Hah? Becanda lu, ah!” kantuk Sisi seketika lenyap. “Nggak lucu banget becanda lu, Dan!”

“Si, gue serius. Udah, lu siap-siap.”

Pembicaraan terputus begitu saja. Sisi terdiam. Bengong maksimal. Ditatapnya jam dinding. Pukul sembilan lewat sedikit. Ia segera meloncat masuk ke kamar mandi.

* * *

Sander pelan-pelan membuka mata, dan mendapati dirinya berada di sebuah tempat yang asing. Tempat beraroma higienis yang hening. Ia mencoba untuk bergerak, tapi rasanya ia sama sekali tak punya tenaga. Beberapa selang terasa menempel di tubuhnya.

Aduh... Kenapa aku ini?

Seseorang rupanya menyadari perubahan kondisinya.

“Mas Sander? Dengar saya?”

Sander melirik ke kiri, ke arah suara lembut itu. Seseorang berjubah steril dan memakai masker tengah menatapnya. Sander mengerjapkan mata. Tatapan orang itu berubah menjadi lega.

“Sudah saya panggil dokter. Tunggu sebentar, ya?”

Sander kembali mengerjapkan mata. Orang berjubah steril dan bermasker itu memantau kondisinya. Tak lama, orang yang ditunggu datang. Walaupun orang itu mengenakan jubah steril dan masker yang sama, tapi Sander mengenali tatapan matanya.

“Om...,” bisiknya tanpa suara.

“Ha! Kamu nggak amnesia, ternyata!” Serva tersenyum lega.

“Aku... kenapa?” bisik Sander lagi. Susah payah. Masih tanpa suara.

“Yang terakhir kamu ingat apa?” pancing Serva.

Sander memejamkan mata. Sesungguhnya kepalanya terasa pening sekali. Tapi ia memaksakan diri untuk berpikir dan mengingat-ingat.

“Aku... pulang kerja,” Sander membuka lagi matanya. “Lalu perutku sakit... pusing... mual... di jalan...”

“Hm... Hari apa itu?” Serva memancing terus sambil memeriksa kondisi keponakannya.

“Kamis...”

“Kamu perdarahan lambung di tengah jalan. Mobilmu oleng dan menabrak pohon. Ingat, nggak?”

Sander tertegun sejenak sebelum menggeleng lemah.

“Hm... Berarti kamu kolaps sebelum oleng. Ya, oke, nggak apa-apa. Yang penting kamu sekarang cepat memulihkan diri. Jadi bisa segera pindah ke ruang perawatan biasa. Semua sumber perdarahan di lambungmu sudah ditutup,” senyum Serva. “Ayo, kuat!”

“Ini... di mana?”

“ICU.”

Astaga...Gue sekalinya tepar masuk ICU...

“Oh, ya, di luar sana ada yang sudah antre ingin ketemu kamu,” tatapan Serva terlihat penuh cahaya menggoda. “Salah satunya seorang gadis cantik. Hm... mirip banget sama mantannya papamu.”

Sander mengerjapkan mata.

Siapa? Sisi-kah? Hah? Sudah pulang dia?

“Om...,” bisiknya lagi. “Ini... hari apa?”

“Minggu. Kamu kelamaan, sih, tidurnya,” canda Serva.

Astaga... Seharusnya aku jemput dia semalam...

“Oke, aku tinggal dulu, ya, San.”

Sander mengerjapkan mata.

* * *

Gadis itu datang bersama rombongannya. Anindya yang sudah ada di sisi Prisca segera menyongsongnya. Digandengnya tangan Sisi, dan dibawanya mendekat pada Prisca dan Erlanda.

“Tante, Om, perkenalkan ini Sisi,” senyum Anindya. “Gebetan terbaru Sander.”

Prisca tersenyum lebar mendengarnya. Sementara itu, Erlanda sibuk meredakan debar jantungnya sendiri. Gadis ini, Sisi, adalah seutuhnya jiplakan diri Lauren. Prisca menjabat tangan Sisi dengan begitu hangat. Sisi sampai merasa rikuh sendiri.

Setelah berbasa-basi sejenak, gadis itu mengulurkan tangannya untuk menyalami Erlanda. Laki-laki itu menyambutnya dengan kehangatan yang sama, disertai seulas senyum teduh. Sisi memberanikan diri menatap tepat di manik mata Erlanda. Dengan halus laki-laki itu mengalihkan tatapannya ke arah lain. Pada Anindya.

“Oh... Jadi kamu mak comblangnya?” ujar Erlanda seringan mungkin.

“Bukan, Om,” Anindya menjawab diiringi tawa. “Saya cuma memfasilitasi saja.”

Saat itu Serva melangkah bergegas mendekat. Mereka memang berada di ruang tunggu ICU. Disempatkannya sejenak untuk menghampiri.

“Perawat bilang Sander ada tanda-tanda sadar. Aku cek dulu, ya.”

Lalu sejenak tatapannya jatuh pada Sisi. Prisca mengetahuinya.

“Teman Sander,” ujarnya. “Teman dekatnya.”

Bibir Serva membundar. Sejenak kemudian tatapannya sekilas menyapu Erlanda.

“Nggak salah?” gumamnya.

Erlanda mendengar gumaman itu.

“Nggak usah cari perkara,” ia balas bergumam.

Serva tersenyum lebar, kemudian berlalu.

* * *

Sander tercenung menatap Prisca. Perempuan itu menatapnya dengan penuh air mata. Baru semalam ia dipindahkan dari ICU ke ruang perawatan biasa. Menempati salah satu ruang di Pavilyun Kencana.

“Maafin Mama..., San...,” ucap Prisca, terbata. “Tapi... kamu cari... gadis lain... saja...”

Sander memejamkan mata.

Kenapa jadi begini?

Sesungguhnya, ia menaruh harapan tinggi atas hubungan barunya dengan Sisi. Tapi kalau harus menyakiti hati mamanya? Sander menggeleng lemah. Kini, ia paham sepenuhnya kenapa ibu Sisi bersikap begitu dingin padanya.

Prisca menyeka air matanya. Semua itu berawal dari kejadian tiga hari lalu di ruang tunggu ICU. Saat telinganya menangkap gumaman-gumanan Serva dan Erlanda yang sepertinya saling berkaitan.



“Ada apa, sih, Pa?” usiknya kemudian.

“Nggak ada apa-apa,” suara Erlanda terdengar menenangkan dirinya. “Serva, kok, didengerin.”

Prisca paham, hubungan Erlanda dengan Serva memang cukup dekat. Serva dulu menumpang di rumah orang tua Erlanda saat masih kuliah. Dan adik sepupu Erlanda itu diketahuinya memang cukup jahil dan suka bercanda.

Tapi hal ‘nggak apa-apa’ itu terbahas lagi ketika Serva keluar dari ruang perawatan ICU. Membawa kabar bahwa Sander baik-baik saja, dan tampaknya akan cepat pulih.

“Apalagi kalau ditengok gadisnya,” Serva tertawa lebar.

Prisca ikut tertawa. Ia menoleh ke arah Sisi sekaligus menggapaikan tangannya. Gadis itu mendekat.

“Ya, Tante?” ia menanggapi dengan suara halus.

“Kamu temui Sander dulu, ya?” senyum Prisca. “Kami bisa menunggu.”

Sisi tampak ragu sejenak. Ia menengok ke arah gerombolan yang sedari tadi menemaninya. Danny menggerakkan kepala, memberi kode agar ia menurut. Yang lain pun mengangguk. Ia kembali menatap Prisca.

“Boleh?” ucapnya, dengan suara tetap halus bak suara malaikat.

“Tentu saja,” suara Prisca terdengar begitu antusias.

Sejenak kemudian Sisi sudah masuk ke ruang ganti untuk melapisi busananya dengan jubah steril. Serva yang masih berada di situ menatap Erlanda.

“Benar-benar anakmu, Sander itu, Mas,” celetuknya jahil. “Bisa plek-ketiplek begitu seleranya.” Ia menggelengkan kepala.

“Ngomongin apa, to, ini?”

Sebelum Erlanda buka suara, Prisca sudah menyambar ucapan Serva. Dan, Erlanda sudah tak bisa lagi menyetop ucapan Serva.

“Anak itu..., siapa tadi namanya?”

“Sisi,” jawab Prisca.

“Ya, Sisi. Bisa mirip betul sama mantannya Mas Er,” Serva nyengir.

Prisca tetap tertawa walaupun merasa terkejut setengah mati.

Seperti apa masa lalu Erlanda, ia sudah paham seutuhnya. Kenapa Erlanda sampai mau menikah dengannya, ia juga sudah lama berdamai dengan hal itu. Toh, hingga detik ini Erlanda masih tetap memegang janji nikah yang diucapkannya sendiri di depan altar. Untuk mencintai, menyayangi, dan menghormatinya seumur hidup, dalam kondisi apa pun, tanpa pernah sekali pun berpaling. Hal lainnya lagi, perempuan itu – mantan Sander yang ia hanya tahu namanya tanpa tahu wajahnya – malah sudah lebih dulu berkeluarga. Hanya berselisih bulan, tapi tetap saja sudah ada ‘pagar’-nya.

Prisca menatap Erlanda.

“Oh... Jadi mantan abadimu itu, seperti itu wajahnya?” ujarnya ringan.

Tapi tatapan Erlanda terlihat kelam. Laki-laki itu sama sekali tidak merespons candaannya dan Serva sebagaimana mestinya.

“Dia memang anak Lauren,” gumam Erlanda kemudian.

Sebuah alunan suara lirih dan lemah yang terdengar bagai petir menggelegar di telinga Prisca.

Setelahnya mereka bertengkar. Di rumah.

“Kalau Papa sudah tahu, kenapa nggak bilang?!” protesnya dengan nada keras.

Ia mendadak saja gusar karena merasa kecolongan. Tapi Erlanda balas meneriakinya.

“Memangnya kenapa?! Apa masalahnya?!”

“Masalahnya adalah aku tahu Papa sudah sekian lama menelisik keberadaan Lauren tanpa pernah ada hasilnya! Dan sekarang Papa menemukan jalan itu, kan?! Jalan untuk menjalin kembali hubungan dengan Lauren!”

“Ma, aku sudah punya kamu, sudah punya Sander,” suara Erlanda melunak. “Semua ini sudah lebih dari cukup buatku. Lauren juga sudah punya kehidupannya sendiri. Mau apa lagi, coba?”

“Tapi kenapa di belakangku Papa masih juga menelisik keberadaan Lauren?! Jangan kira aku tidak tahu Papa kerap menanyakan keberadaan Lauren pada teman-teman dan keluarganya yang Papa temui!”

Sampai di sini, Erlanda benar-benar terdiam. Sama sekali tak tahu harus bagaimana membela diri. Prisca terduduk lesu. Ia tak bisa diam lagi.

Tak bisa!



Prisca tersentak ketika Sander mengulurkan tangan. Meraba pipinya.

“Ma... Aku minta waktu, ya?” bisik Sander. “Aku telanjur sayang sama Sisi. Aku pikir dia juga punya perasaan yang sama melihat gelagatnya.”

Prisca buru-buru mengangguk.

“Yang penting kamu pulih dulu,” ujarnya lembut.

Sander mendesah dalam hati. Menatap slang infus yang ujungnya masih menempel di tangan kiri.

Gimana bisa cepat pulih kalau aku stress lagi karena mendadak harus melepaskan Sisi

Dihelanya napas panjang. Sedetik kemudian kembali ditatapnya Prisca. Mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

“Mm... Kondisi mobilku gimana, Ma?” tanyanya lemah.

“Masih diurus papamu,” Prisca mengelus lengan kanan Sander. “Setahu Mama, bagian depannya ringsek lumayan parah. Kalau nggak bisa dibetulin, mau diganti baru sama Papa.”

Sander kembali mendesah. Mobil kesayangannya...

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)



2 comments:

  1. Ketoe onok seng isok kesindir iki engkik..engkik..engkik..engkik..

    #minggaaaat selak dibalang mendol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Arek ueeedaaannn... Mentolo tak'hueweg-heweeeggg ae...

      Delete