Tuesday, February 28, 2017

[Cerbung] Affogato #15-2








Sebelumnya  



* * *


“Kok, bisa, sih, Mbak? Tahu-tahu pulang bawa mobil?” tanya Maxi sambil mencomot sepotong martabak manis.

Olivia dan Maxi duduk bersila di atas karpet di dalam kamar Olivia. Sibuk menggosip sambil menikmati martabak manis nutella-keju dan martabak telur isi daging-jamur dalam kotaknya masing-masing.

Olivia tertawa sebelum menjawab, “Ya, bisalah... Punya boss ajaib macam Pak Luken itu assoy banget!”

Maxi ikut tertawa sambil mencomot sepotong lagi martabak. Kali ini sasarannya martabak telur.

Olivia pun melanjutkan, “Jadi tadi, tuh, ceritanya gini...”


Pekerjaan Olivia memindai dokumen baru selesai menjelang jam makan siang. Ketika ia merapikan map dokumen-dokumen itu dan menempatkannya di lemari besi, Luken keluar dari dalam kantornya. Laki-laki itu kembali duduk di kursi Sandra dan mengangkat gagang telepon.

“Lil, tolong, nanti kalau ada tamu cari aku, namanya Pak Nugra, suruh langsung naik saja, ya. Orangnya gede kayak aku. Makasih.”

Bertepatan dengan itu, Soleh muncul dengan membawa nampan berisi dua kotak nasi rames dan dua gelas es teh manis.

“Taruh sini saja, Leh,” Luken melambaikan tangannya. Ia menoleh ke arah Olivia. “Ayo, Liv, makan dulu.”

Olivia menutup lemari besi dan berbalik. Sekejap kemudian ia sudah membantu Soleh menata makanan dan minuman di meja Sandra. Tapi sebelum mulai makan, Olivia tercenung sejenak. Luken pun menghentikan gerakannya membuka tutup dus makanan.

“Ada apa, Liv?” laki-laki itu mengerutkan kening.

“Bu Sandra sendirian, ya, kan, Pak?” gumam Olivia.

Luken mengangguk dengan kening tetap berkerut.

“Pasti Bu Sandra nggak mau tinggalin Pak Riza buat cari makan siang. Saya kirim makanan saja, gimana, Pak?’

“Hm... Panggil Soleh, Liv.”

Olivia buru-buru mengangkat gagang telepon. Soleh muncul lagi beberapa menit kemudian.

“Leh, kamu ke resto sebelah, pesan makanan buat dibungkus.” Luken menoleh ke arah Olivia sembari mengambil dompet dari saku belakang celananya. “Dipesankan apa, Liv?”

“Nasi timbel lengkap saja, Pak,” jawab Olivia sambil menulis catatan kecil.

“Oke, nasi timbel lengkap. Terus kamu minta diantarkan ke RS Tebet.” Luken menoleh sekilas pada Livi, “Kasih nama, alamat, sama nomor kamar Pak Riza, Liv.”

Belum selesai kalimat Luken, Olivia sudah menyodorkan catatan yang baru saja ditulisnya pada Soleh. Bersamaan dengan itu, Luken menyodorkan selembar uang seratus ribuan pada Soleh. Ia menatap Olivia.

“Seratus cukup, kan, Liv?”

“Lho! Saya saja yang bayar, Pak,” sergah Olivia.

“Jangan... Aku saja, Liv. Gimana? Cukup segini?”

“Cukup, Pak,” angguk Olivia. “Sisa malahan.”

“Ya, sudah,” Luken kembali menatap Soleh. “Kembaliannya buat kamu.”

Soleh pun berpamitan. Luken dan Olivia menikmati makan siang mereka yang sempat tertunda sejenak. Keduanya mengobrol tentang banyak hal, tapi Luken sama sekali tidak menyebut-nyebut soal hitungan kredit mobil yang tadi sempat dibicarakannya dengan Olivia. Gadis itu pun merasa segan untuk menyinggungnya.

Sekitar sejam kemudian, ketika Olivia meringkas bekas makan siang mereka, ponsel Luken berbunyi. Ternyata dari Sandra yang mengucapkan terima kasih karena sudah dikirimi makanan.

“Maaf, tadi agak telat, Bu,” ucap Luken. “Lagi agak sibuk di sini. Untung Livi ingat. Besok dijamin tepat waktu, jadi Ibu nggak usah susah-susah cari makan siang.”

Hening sejenak.

“Ah, nggak repot, kok, Bu,” jawab Luken lagi. “Tenang saja. Nanti sore saya tengok lagi, ya.”

Hening lagi.

“Iya, Bu, sama-sama. Semoga Bapak cepat pulih. Ibu sendiri juga harus jaga kesehatan. Selamat siang...”

Luken menutup pembicaraan itu dan berpaling pada Olivia.

“Bu Sandra kirim salam dan ucapan terima kasih buatmu,” senyumnya. “Besok ingatkan lagi, ya, Liv.”

“Baik, Pak. Besok pagi biar saya kirim sarapan sekalian saya berangkat.”

Luken mengacungkan jempolnya.

“Mas Luken! Selamat siang!”

Luken dan Olivia sama-sama menoleh ke arah seruan itu. Seorang laki-laki dengan perawakan mirip Luken sedang menapaki anak tangga teratas dengan wajah cerah. Luken segera menyambut tamunya itu. Alih-alih mengajak laki-laki itu duduk di sofa atau di dalam kantornya, Luken malah membiarkannya duduk di salah satu kursi di depan meja Sandra.

“Liv, sini!” Luken melambaikan tangan. “Kenalkan, ini Nugra, adik sepupuku. Ibu Nugra ini adik papaku.”

Olivia segera mendekat dan menjabat tangan laki-laki itu. “Olivia.”

“Livi ini sekretarisku, Nug. Lagi butuh mobil, dia. Gimana, bisa dilepas nggak mobilmu?” Luken mengalihkan tatapannya pada Olivia yang masih berdiri terbengong. “Duduklah, Liv.”

Gadis itu kemudian duduk di kursi kosong di sebelah Nugra. Masih dengan sikap tidak mengerti arah pembicaraan itu.

“Boleh... Boleh...,” Nugra mengangguk-angguk. “Lagi butuh bener, ya, Mbak?”

“Eh... Iya, sih, tapi...”

“Livi ini tiap hari diantar-jemput ayahnya, Nug,” sahut Luken, mengendalikan keadaan. “Jauh, kantor ayahnya. Di Pasar Rebo sana. Lagipula beberapa waktu belakangan ini ayahnya nggak boleh terlalu capek. Makanya Livi bermaksud mau punya kendaraan sendiri, biar nggak merepotkan ayahnya.”

“Oh... Ayo, saja, aku lepaslah...”

“Jadi gini, Liv,” Luken mengalihkan tatapan pada Olivia. “Kemarin waktu kamu dan Bu Sandra sudah balik ke sini, papaku bilang kalau Nugra mau lepas city car-nya, Brio, karena bulan lalu baru dapat hadiah mobil dari bank. Tapi Nugra maunya lepas mobil ke orang yang benar-benar butuh. Makanya aku tadi telepon dia, dan dia langsung mau datang ke sini.”

“Iya, Mbak,” timpal Nugra. “Mobil saya itu belum setahun umurnya. Dulu, sih, saya beli cash. Terus, ya, itu... Saya dapat mobil baru. Garasi saya cuma muat satu mobil. Jadi salah satu harus dikorbankan.”

“Nggak berani korbanin yang baru, dia...,” sahut Luken dengan nada meledek.

Tawa Nugra pecah karenanya. “Alphard, Mbak,” Nugra meringis tanpa maksud menyombong.

Olivia ikut tertawa. Tapi sejenak kemudian ia kembali serius.

“Kalau mobil belum setahun, saya nggak kuat harganya, Pak,” gumamnya.

“Kalau kamu kredit melalui lembaga pembiayaan, itu artinya kamu menanggung beban bunga yang besarnya lumayan, Liv,” Luken menatap Olivia dengan serius. “Seandainya cuma pokoknya saja, dalam jangka waktu yang sama, kamu bisa dapat mobil Nugra ini.”

“Lha, mana ada bank atau leasing yang rela nggak kasih bunga, Pak?” Olivia melongo.

“Ada lah, Mbak,” Nugra kembali melepas tawanya. “Bank Luken.”

Luken tersenyum lebar. “Liv, kalau kamu oke sama mobil itu, nanti aku bayarkan dulu cash ke Nugra. Nanti kamu mengangsurnya ke aku. Tanpa bunga. Potong gaji langsung. Seperti staf lain yang selama ini sudah memanfaatkan fasilitas ini. Semampumu. Nanti kita hitung lagi. Asal syaratnya satu, kamu rawat mobil itu baik-baik. Tapi aku percaya kamu bisa. Adikmu anak mesin, kan? Bisa bantu kamu merawat mobil itu. Gimana?”

“Mau test drive dulu juga boleh, lho, Mbak,” celetuk Nugra. “Tapi memang saya jamin masih super mulus. Kilometernya juga masih minim. Saya kalau ngantor motoran.”

“Itu juga seminggu paling ngantor cuma dua kali,” sambar Luken. “Juragan sayur organik, dia, Liv. Nggak ngantor juga duit bakalan nempel terus ke dia.”

Tawa kedua laki-laki itu kemudian terdengar membahana. Membuat Olivia ikut terseret di dalamnya.


“Gitu deeeh...,” Olivia meringis.

“Pantesan cepet banget, tahu-tahu sudah pulang bawa mobil pribadi. Wihiii...,” Maxi tertawa. “Memang rejeki nggak ke mana, Mbak. Padahal tadi aku sudah siap tunjukin hasil perburuanku ke Mbak. Bahkan sampai ke simulasi kreditnya. Tapi, ya, dengan pengeluaran yang sama, speknya nggak bakal dapet yang selevel. Jauh di bawahnya.”

“Mulai bulan depan harus irit, aku, Max,” ucap Olivia sambil menggigit sepotong martabak telur. “Nggak bisa belikan kamu dan Mela macem-macem lagi.”

Come on, Mbak,” Maxi menanggapi dengan wajah serius. ”Sudah waktunya Mbak Liv pikir diri Mbak sendiri. Nanti akan tiba giliranku. Makanya aku mau cepat lulus, cepat kerja, biar beban Papa berkurang. Proyeksiku, tahun depan aku sudah harus lulus.”

“Kamu nggak mau lanjut ke S2, Max?”

“Ingin, sih, Mbak,” angguk Maxi. “Coba aku nanti bidik beasiswa dulu. IP-ku, kan, nggak memalukan. IPK masih di atas 3,5.”

“Kamu bisa, Max,” mata Olivia terlhat berbinar. “Kamu pasti bisa!”

Maxi tersenyum, kemudian tertawa sambil berucap, “Yang penting martabaknya kita habisin dulu. Gila, ya? Mbak Liv kelihatannya saja langsing, tapi makannya banyaaak, hahaha...”

Olivia terkikik. “Hihihi... Jangan salah, Max. Kadang-kadang, tuh, kakak ikut kelakuan adik, lho!”

Tawa Maxi makin keras. Tapi sesaat kemudian ia teringat sesuatu.

“Di bawah sudah ditinggalin martabak?” tanyanya.

“Sudah...,” Olivia entah untuk ke berapa kalinya mencomot sepotong martabak manis. “Tadi aku beli empat kotak, dua-dua.”

“Hm... Nyam nyam nyam...”

Olivia tertawa geli melihat ulah Maxi.

Sementara itu, di balik daun pintu yang sedikit terbuka, diam-diam Prima mengerjapkan matanya yang menghangat dan basah.

* * *

Akan tiba masanya aku akan kehilangan anak-anak...

Prima mendegut ludah. Tatapannya lurus menembus langit-langit kamar.

Bisa sementara, bisa juga selamanya. Anak-anak cuma titipan.

Laki-laki itu menghela napas panjang. Terdengar begitu berat. Ada tangan yang terulur padanya, kemudian melingkar di atas dadanya yang telentang. Didekapnya lengan bawah Arlena itu dengan kedua tangannya.

“Mikir apa, Pa?” bisik Arlena.

“Nggak apa-apa,” Prima balas berbisik.

Mendapatkan kembali Arlena dan kehilangan Livi... Apakah ini adil?

“Semua salahku, Pa,” gumam Arlena. “Satu-satunya yang harus disalahkan, ya, cuma aku.”

“Aku juga salah,” sergah Prima halus. “Seharusnya aku bisa mencegah ketika Mama mulai menjauh. Bukan cuma diam dan membiarkan seperti yang sudah terjadi.”

“Papa tahu bahwa Papa sudah mencoba mengingatkanku,” Arlena menempelkan pipinya di lengan Prima. “Nggak hanya sekali. Berkali-kali. Hanya saja aku keras kepala. Mengabaikan semua peringatan Papa. Sampai aku sudah terlalu jauh dan kesulitan memperbaiki semua kerusakan yang sudah kutimbulkan.”

Prima bergerak, memperbaiki posisi berbaringnya sehingga menghadap ke arah Arlena. Perempuan itu menengadahkan wajah ke arahnya dengan mata mengembun.

“Tadi pulang sekolah Mela curhat,” gumam Arlena dengan mata makin mengaca. “Sejujurnya dia merasa terjepit. Dia senang aku kembali, tapi juga sedih karena merasa Livi mulai jauh darinya. Dia ingin membicarakan tentang aku pada Livi, tapi dia nggak berani. Dan setelah kejadian semalam, Mela juga merasa takut untuk mendekati Maxi. Karena kelihatannya Maxi cenderung sangat memihak Livi. Dan aku tahu betul, Maxi sama sekali tidak bersalah sudah melakukan itu. Dia survive karena Livi, tanpa bermaksud mengabaikan peran Papa, tentu saja.”

Sebutir air mata meluncur ke pelipis Arlena. Prima menghapusnya dengan menyapukan ibu jarinya secara sangat lembut.

“Kita pikirkan sambil terus berjalan, ya?” Prima mengecup lembut puncak kepala Arlena. “Sudah malam. Besok kita semua masih punya aktivitas yang harus diselesaikan. Tidur dulu.”

Arlena mengatupkan kelopak matanya. Prima memberinya kecupan hangat sekali lagi. Kali ini di kening Arlena.

* * *

Mimpi itu datang lagi!

Prima terjaga dengan napas memburu dan keringat membasahi kening hingga lehernya. Ia terduduk sambil menghela napas panjang berkali-kali. Berusaha mengurangi rasa pening yang melingkari kepalanya.

Navita...

Prima mengerjapkan mata dengan resah.

Kenapa dia lagi?

Dan ia ingat betul sudah menggumamkan nama itu. Entah bersuara ataukah tidak, ia benar-benar tidak tahu. Sama tidak tahunya ia terhadap arti mimpi absurdnya yang mengandung sosok Navita. Yang jelas, ingatannya tak bisa menjangkau rangkaian kisah dalam mimpi itu. Ia sama sekali tak bisa mengingatnya.

Pelan ia bergerak turun dari ranjang. Sekilas, dalam keremangan cahaya, ia melihat bahwa Arlena masih meringkuk di bawah selimut. Tanpa suara, ia meninggalkan kamar. Dinginnya lantai menyambut telapak kakinya ketika ia melangkah ke arah tangga.

Ia tertegun sejenak ketika hendak masuk ke dapur untuk mengambil segelas air minum. Ada Olivia di sana. Tengah duduk di depan island, menghadap laptopnya. Gadis itu tampak sibuk mengetik sesuatu. Prima ragu sejenak sebelum memutuskan untuk mendekat.

“Liv...,” sapanya sehalus mungkin.

Olivia yang tidak menyangka bahwa akan ada suara berat yang mengelus telinganya lewat tengah malam begini, hampir saja jatuh terjengkang saking terkejutnya. Prima yang melihat kejadian itu dengan mata kepalanya sendiri segera memburu dan menahan punggung Olivia.

“Maaf, Liv...,” ucap Prima penuh penyesalan. “Papa nggak maksud bikin kamu kaget. Maaf, Liv...,” Prima mengelus-elus punggung  gadis sulungnya itu.

Olivia sendiri tampak mengatur napasnya yang sempat tersengal. Belum lagi harus meredakan debar jantungnya yang seolah melonjak ke titik dan kecepatan maksimal.

“Papa bikin kaget saja,” gerutunya dengan wajah masam.

“Iya, Liv, maaf...”

Prima beringsut ke sudut dapur. Mengambil gelas dan mengisinya dengan air minum dari dispenser. Olivia tercenung menatap layar laptop. Seperti kehilangan fokus sehingga pekerjaannya terhenti.

“Kamu lembur? Tumben?” ujar Prima setelah meminum setengah gelas air, dan duduk di seberang.

Olivia menatap Prima sekilas. Sorot matanya masih mengandung kejengkelan. Tapi ia menggeleng untuk menjawab pertanyaan Prima. Buyar sudah mood-nya untuk menuliskan sesuatu. Padahal ia sudah memilih untuk menyepi di dapur lewat tengah malam begini. Tempat yang paling hening karena semua penghuni rumah berada di lantai atas. Dengan gerakan sedikit kasar, gadis itu mematikan laptop. Dan sebelum benda itu mati sempurna, ia sudah menutup layar dan meringkasnya.

“Liv, maaf karena Papa sudah mengganggu,” ucap Prima, menatap lekat Olivia. “Papa nggak sengaja. Papa cuma haus, ingin minum. Papa nggak bermaksud mengagetkanmu.”

Olivia kini menatap Prima dengan tajam. Ada bara menyala dalam matanya. Bara yang kemarin belum padam sudah harus ditambah lagi bara yang baru. Begitu terus selama beberapa waktu belakangan ini. Hingga apinya sedikit berkobar.

Ingin ia melemparkan mug bekas minuman coklat hangatnya ke lantai, agar Prima tahu efeknya bila sebuah gelas dibanting dari ketinggian. Sayangnya mug itu terbuat dari melamin. Sehingga ia melemparkan begitu saja benda itu ke tempat cuci piring. Menimbulkan suara keras di tengah hening malam seperti ini.

“Liv! Kamu ini kenapa?!” Prima sudah tidak bisa lagi mengerem suaranya.

“Kenapa? Kenapa?!” Olivia berdiri tegak di depan island. “Melamin tidak pecah walaupun dibanting! Tapi aku bukan melamin! Begitu juga hidupku! Fokusku! Konsentrasiku! Mood-ku! Sesuatu yang pecah berantakan, bisakah direkatkan dan utuh kembali tanpa bekas?!”

Tanpa menunggu jawaban Prima, Olivia meninggalkan tempat itu. Prima nanar menatap punggung yang kian jauh dan menghilang ditelan gelapnya ruang tengah. Ia mengerjapkan mata dengan putus asa.

“Ada apa?”

Prima tersentak. Tiba-tiba saja sosok Arlena sudah hadir menggantikan Olivia. Duduk di tempat Olivia tadi. Ada sorot mata aneh dalam tatapan Arlena. Prima menggeleng dengan wajah letih.

“Dia sedang sibuk mengetik sesuatu, dan aku mengagetkannya,” desah Prima.

“Dia sedang berusaha menyelesaikan novel pertamanya.”

Prima ternganga. Ia sama sekali belum pernah mendengar tentang hal itu.

“Aku tahu dari Mela,” jawab Arlena, seolah tahu isi kepala Prima.

Prima terhenyak.

Pantas saja dia semarah itu...

Ia tahu menulis butuh konsentrasi dan mood yang terjaga. Walaupun ia hanya iseng menulis beberapa artikel tentang sepak bola, tapi tetap saja ia memahami hal itu.  Diembuskannya napas panjang.

“Kalau Papa tidak keberatan, bisa katakan padaku tentang sesuatu?”

Prima kembali menatap Arlena dengan sorot mata bertanya. Suara Arlena entah kenapa terdengar dingin mengelus telinganya.

“Navita,” nada suara Arlena terdengar menuntut. “Siapa dia sampai Papa mengigaukan namanya?”

Prima terhenyak.

Ternyata dia dengar... Ternyata dia tahu...

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)



3 comments: