Jumat, 10 Februari 2017

[Cerbung] Affogato #10-2









Sebelumnya  



* * * 


Luken melirik jam digital di dashboard SUV-nya. Menunjukkan angka 11:37 AM. Meeting dengan Mr. Liu, di tengah acara liburan laki-laki berasal dari Taiwan itu, tidaklah lama, hanya penandatanganan berkas pembaruan kontrak. Mr. Liu adalah klien lama yang sudah cukup percaya dengan kinerja perusahaan yang dipimpin Luken. Cuma perlu waktu kurang dari satu jam untuk menyelesaikannya sebelum Luken dan Olivia berpamitan.

“Sekalian kita cari makan siang, ya?” ujar Luken sambil menghidupkan mesin mobilnya.

“Terserah Bapak,” jawab Olivia pendek.

Luken mulai meluncurkan mobilnya meninggalkan area parkir hotel di bilangan Senayan itu.

“Makan sushi  mau?” celetuk Luken lagi, berusaha memecah kebekuan.

“Iya, terserah Bapak. Saya ikut saja.”

Luken berpikir sejenak sebelum memutuskan untuk mengusik Olivia lagi.

“Kamu kenapa, Liv?” tanyanya kemudian, dengan nada terdengar santai tapi berhati-hati.

“Apanya yang kenapa, Pak?” Olivia menoleh sekilas.

“Kamu mendung dari pagi,” senyum Luken.

Olivia menghela napas panjang. Sebetulnya ia membutuhkan telinga orang lain untuk menampung keluh kesahnya.

Tapi Pak Luken?

“Aku tahu hubungan kita profesional,” ujar Luken lagi. Benar-benar tanpa nada mendesak. “Tapi pada saat-saat tertentu, kita ini keluarga. Anggaplah aku ini abangmu. Kamu bisa bercerita apa saja padaku.”

Olivia menggigit bibir bawahnya. Sejujurnya ia sendiri bingung harus mulai dari mana.

“Kompleks, Pak ...,” gumamnya.

“Berhubungan dengan mamamu kah, Liv?” tanya Luken, halus.

“Iya, Pak,” jawab Olivia, jujur. “Selama ini ada banyak perasaan yang nggak bisa terungkapkan. Ada banyak kekecewaan saya terhadap Mama. Terlalu pribadi untuk saya ceritakan pada orang lain, termasuk sahabat-sahabat saya sendiri, bahkan pada Mas Miko. Sementara untuk bicara pada Papa, saya nggak tega. Saya tahu beban Papa sudah sangat berat. Saya baru sadar ketika kemarin Papa jatuh sakit. Mungkin Papa sama seperti saya. Enggan bicara. Semuanya disimpan sendiri. Sampai pada suatu titik nggak kuat lagi.”

Luken menarik sehelai tisu dari kotak dan diulurkannya pada Olivia yang suaranya makin serak dan airmatanya sudah bergulir di pipi. Olivia menerimanya sambil menggumamkan terima kasih.

“Saya juga belum sanggup bicara pada Maxi,” suara Olivia melirih. “Kalau sudah menyangkut Mama, dia bawaannya emosi terus. Sementara Carmela, dia masih terlalu muda, Pak. Saya tahu dia sudah cukup menyimpan banyak kekecewaan terhadap Mama. Kalau pun selama ini dia jadi anak manis, itu karena dia nggak mau menyakiti Papa. Karena Papa sudah berusaha keras mendidik kami agar tidak membenci Mama.”

Luken tidak bersuara ketika Olivia menghela napas beberapa kali. Ia hanya bisa menunggu. Menyediakan telinganya seperti yang sudah ia tawarkan.

“Selama Papa sakit kemarin ini, Mama memang berubah,” lanjut Olivia. “Tapi entah kenapa perasaan saya ngeyel sekali bilang, bahwa saya nggak boleh berharap banyak. Mungkin karena selama ini sudah terlalu banyak harapan tentang Mama yang kandas. Itu menyakitkan buat saya.”

“Hal seperti ini juga belum bisa kamu ungkapkan ke Miko?”

Olivia menggeleng lemah “Saya belum bisa, Pak. Entah kenapa. Jujur, saya belum menemukan kenyamanan yang saya inginkan bersamanya.”

Luken manggut-manggut.

“Ya, kalau kamu memang belum bisa terbuka pada Miko, jangan dipaksa,” ucap Luken lembut. “Seperti yang kubilang tadi, kamu masih punya abang di sini. Oke?”

“Ya, Pak,” angguk Olivia. “Terima kasih.”

“Nanti kita bicarakan lagi sambil makan, ya?” Luken tersenyum. “Kalau lagi lapar begini, aku nggak bisa mikir jernih.”

Olivia pun tersenyum karenanya. “Terima kasih, Bapak sudah bersedia mendengarkan. Saya merasa lebih lega sekarang.”

“Apa pun dan kapan pun, Liv.”

“Rasanya saya juga nggak butuh solusi apa-apa Karena saya tahu betul bahwa saya cuma tinggal membiarkan waktu berjalan. Apa pun yang akan terjadi di depan, saya pasrah. Yang bisa mengubah Mama hanya diri Mama sendiri. Tinggal menunggu saja apakah semuanya akan jadi kenyataan atau kembali jadi sekadar mimpi.”

“Ya, butuh kesabaran lebih, Liv,” Luken mengangguk. “Tapi aku percaya kamu masih bisa bersabar. Kamu, kan, putrinya Pak Prima.”

Olivia tertawa kecil karenanya.

Luken membelokkan mobilnya ke Kota Kasablanka. Setelah menghentikan mobil di area parkir, ia menyempatkan diri untuk menoleh ke arah Olivia, sambil mematikan mesin mobil. Ia tersenyum lega ketika mendung sudah mulai tersingkap dari wajah gadis itu.

* * *

Sejak pulang kerja selalu dijemput Gandhi, Navita tidak lagi tergesa-gesa merapikan meja kerjanya saat alarm tanda berakhirnya jam kerja berbunyi. Ia tak perlu takut lagi ditinggal mobil jemputan karena terlalu lelet. Gandhi selalu datang sekitar pukul 16.30 – 16.45, tergantung macet atau tidaknya jalur antara kantor Gandhi dengan Chemisto yang hanya berjarak 200 meter.

Di saat teman-temannya berbondong-bondong menuju ke mobil jemputan masing-masing atau ke parkiran motor, Navita duduk manis di kursi panjang yang ada di teras lobi. Seperti juga sore itu. Begitu ia duduk, langsung asyik dengan ponselnya.

“Lho, Vit? Belum pulang?"

Sapaan halus itu benar-benar membuat Navita terlonjak kaget. Prima segera menatapnya dengan sorot mata minta maaf.

“Kaget, ya?” senyum Prima.

Navita hanya sanggup menanggapinya dengan senyuman. Prima kemudian duduk di deretan kursi yang sama. Berjarak setengah meter darinya.

“Kamu ketinggalan jemputan atau bagaimana?” usik Prima lagi.

“Enggak, Pak,” Navita menggeleng sedikit. “Tunggu dijemput.”

“Oh? Sekarang sudah ada yang menjemput?” senyum Prima melebar

Navita tak menjawab. Hanya sedikit tersipu. Tepat saat itu sebuah city car putih meluncur mendekat hingga berhenti di depan teras lobi. Prima berdiri. Ia menoleh ke arah Navita.

“Benar kamu ada yang jemput?” ia memastikan sekali lagi.

“Iya, Pak,” angguk Navita.

“Oke, aku pulang dulu, ya?”

Tanpa menunggu jawaban Navita, Prima segera melangkah mendekati mobil yang dikemudiakan Arlena.

“Maaf, telat sedikit,” ucap Arlena begitu Prima masuk ke dalam mobil.

“Nggak apa-apa,” senyum Prima. “Dari rumah?”

“Enggak,” sahut Arlena sambi meluncurkan kembali mobil itu. “Tadi habis antar berlian ke customer. Sekalian tutup transaksi.”

“Wah, lagi banyak duit, nih?” goda Prima. “Traktir, dong!”

Arlena tergelak. Begitu juga Prima. Tapi sungguh, binar yang terpancar dari wajah Arlena masih sanggup memikat hati Prima secara utuh.

* * *

Muntik sudah selesai membersihkan taman kecil di depan rumah ketika Maxi dan Carmela muncul. Buru-buru dibukanya pintu pagar. Sebelum berhenti dan melepas helmnya, Maxi melajukan motor hingga masuk ke garasi. Carmela pun segera meloncat turun dari boncengan.

“Bibik mau pulang sekarang?” tawar Maxi.

“Belum jam lima ini, Mas,” jawab Muntik. “Semua kerjaan sudah beres, sih. Cuma tinggal goreng bakwan jagung saja.”

“Nggak apa-apa kalau mau pulang duluan, Bik.”

“Terus, adonan bakwannya gimana? Sudah Bibik taruh kulkas, sih.”

“Nanti aku saja yang goreng, Bik,” senyum Carmela. “Kan, enak makannya kalau anget-anget.”

“Bibik bikinkan minuman dulu, ya, Mas? Mbak? Mau minum apa?”

“Nggak usah, Bik,” Maxi menepuk lembut bahu Muntik. “Nanti biar aku atau Mela bikin sendiri.”

“Ya, sudah, Bibik pulang dulu, ya? Eh, ada pisang goreng di meja dapur, masih anget. Maniiis banget pisangnya.”

“Sip! Makasih, ya, Bik,” ucap Carmela manis.

“Hati-hati di jalan, Bik,” sambung Maxi.

Sepeninggal Muntik, Carmela segera naik ke kamarnya untuk berganti pakaian, dan turun lagi tak lama kemudian. Dilihatnya Maxi sudah duduk di depan island. Asyik menikmati pisang goreng. Carmela segera melangkahkan kakinya ke salah satu sudut dapur.

“Mau minum apa, Mas?” ia menoleh sambil meraih dua buah cangkir besar.

“Es coklat saja, Mel. Makasih.”

Dengan cekatan Carmela membuat dua cangkir besar es coklat aren. Setelah selesai, ia kemudian duduk di seberang Maxi, menyodorkan cangkir pada Maxi.

“Mas, tadi pagi Mbak Liv dieeem banget di mobil. Nggak kedengeran suaranya sama sekali. Pas di WaterBoom berantem apa, ya, sama Mas Miko?”

Maxi menggeleng sambil mengerutkan kening. “Kayaknya biasa saja, deh. Maksudku, nggak berantem. Capek ‘kali, Mel. Kemarin dia sibuk banget seharian bongkar-bongkar kamarnya.”

Carmela menatap Maxi dengan serius. “Mas, merasa, nggak, sih, kalau suasana kita akhir-akhir ini nggak enak banget?”

“Iya, sih ...,” gumam Maxi sebelum meminum es coklatnya. “Biasanya kita bebas cerita apa saja ke Papa pas sarapan atau makan malam. Tapi belakangan ini ...,” Maxi mengedikkan bahu.

Carmela menghela napas panjang.

Semua karena Arlena terlalu menempel pada Prima. Memonopoli. Tiba-tiba saja muncul dan mendominasi. Dan semua yang ada dalam diri Arlena terlihat salah saja di mata Carmela. Apalagi Arlena terlihat begitu canggung untuk memulai berkomunikasi dengan anak-anaknya sendiri yang selama ini sudah telanjur menjauh.

“Mas besok nggak bisa jemput kamu, Mel.”

Suara Maxi membuat Carmela sedikit tersentak.

“Mas ada jadwal ujian jam delapan dan jam dua siang,” sambung Maxi.

“Nggak apa-apa,” senyum Carmela. “Bagi-bagi rejeki sama tukang ojek.”

Maxi tertawa mendengarnya. Ia menghabiskan minumannya, kemudian berdiri.

“Mas mandi dulu, Mel,” ucapnya sambil meninggalkan dapur.

Carmela tetap mengangguk walaupun sang abang tidak melihat gerakannya itu. Dan sepeninggal Maxi, Carmela tetap duduk di depan island. Termenung.

Bukankah ini sebetulnya yang aku harapkan?

Carmela menangkupkan kedua lengannya di atas island, kemudian meletakkan kepala di atasnya. Melanjutkan lamunannya.

Mama kembali, dan semuanya berjalan dengan sewajarnya. Tapi ....

“Mel?”

Carmela seketika menegakkan kepalanya. Ia menoleh dan mendapati Olivia sudah berdiri di ambang pintu dapur. Menatapnya dengan khawatir.

“Kamu sakit?” Olivia mendekat. Mengulurkan tangan, hendak meraba kening Carmela.

“Enggak,” Carmela mengelak.

Olivia duduk di sebelah Carmela. Meraih cangkir Carmela yang masih berisi setengah. Diteguknya isi cangkir itu dengan nikmat. 

"Kamu tadi jadi rujakan?" tanya Olivia sambil mencomot sepotong pisang goreng.

"Jadi," angguk Carmela. "Pas mau pulang aku ditelepon Mas Maxi, terus dijemput."

“Maxi ada?” Olivia menoleh ke arah Carmela.

“Ada, lagi mandi.”

“Kamu sudah mandi?”

Carmela mengeleng.

“Bibik masak apa?”

Carmela kembali menggeleng. “Nggak tahu, belum lihat.”

Hm ... Mbak Liv sudah bawel, nggak terlalu gelap lagi ....

Olivia berdiri dan melangkah ke arah kompor. Ada panci tertutup yang masih bertengger di sana. Ada aroma sedap yang menguar ketika Olivia membuka tutup panci itu.

“Sup kacang merah, Mel,” Olivia menoleh sekilas ke arah Carmela. “Kesukaanmu.”

Carmela tersenyum sedikit. Ia kemudian bangkit dari duduknya.

“Aku mandi dulu, Mbak,” ujarnya. “Nanti habis mandi aku siapkan makan malam malam kita. Sekalian goreng adonan bakwan. Sudah dibikinin tadi sama Bibik.”

Tanpa menunggu jawaban Olivia, Carmela meninggalkan dapur. Olivia menatap punggung gadis remaja yang kian menjauh itu. Dihelanya napas panjang.

Sepertinya memang ada banyak hal yang belum bisa terungkapkan ....

Olivia menggeleng samar.

Harus bagaimana?

* * *

Ketika waktu menunjukkan lewat dari pukul tujuh sore dan Prima belum juga pulang, Carmela meninggalkan meja makan tanpa menyentuh apa pun yang terhidang di sana. Sudah beberapa kali ia mencoba untuk menghubungi Prima, tapi gagal. Ponsel Prima tampaknya dalam kondisi mati. Tanpa bisa dicegah, Carmela melangkah cepat dan naik ke kamarnya. Olivia dan Maxi bertatapan sejenak.

“Sudah, kita makan dulu, Max,” ujar Olivia lembut. “Nanti biar aku yang urus Mela.”

“Apa, sih, susahnya kasih tahu kalau pulang telat?” gerutu Maxi sambil menyendokkan nasi ke dalam piringnya.

Olivia diam saja. Tak menjawab. Karena sesungguhnya ia juga menyimpan kejengkelan yang sama. Dan ia memahami betul kekecewaan Carmela. Si bungsu itu memang yang paling dekat dengan sang papa. Dan belakangan ini seolah tersisih begitu saja karena ‘kembali’-nya sang mama.

Prima dan Arlena tiba tepat ketika Oliva dan Maxi selesai makan. Tak ada sambutan hangat. Ketika Prima dan Arlena bergabung di meja makan, Maxi justru sibuk meringkas piring dan gelas bekas pakai dan membawanya ke dapur. Olivia sendiri menyibukkan diri dengan mengambil sepiring nasi, semangkuk sup, beberapa potong bakwan jagung, dua buah kerupuk udang, dan sebutir buah jeruk.

“Mela mana?” Prima menatap Olivia.

“Di atas,” jawab Olivia pendek.

Saat itu Maxi kembali dengan membawa sebuah nampan. Dengan cekatan, Olivia memindahkan piring dan mangkuk ke nampan, kemudian berdiri. Sementara itu, Maxi kembali ke dapur untuk mencuci piring dan gelas.

“Mela sakit?” tatapan Prima berubah jadi khawatir.

“Iya,” jawab Olivia dengan nada pedas sambil melangkah pergi. “Sakit hati. Karena ada yang pulang telat tapi nggak kasih tahu, dan ditelepon juga nggak bisa. Padahal dia sudah mau susah-susah goreng bakwan jagung. Tapi yang ditunggu rupanya nggak merasa.”

Prima terhenyak. Benar-benar tidak menyangka bahwa mampirnya ia dan Arlena ke sebuah kafe di dekat kantornya akan berbuntut panjang. Prima dan Arlena saling menatap. Sama-sama menemukan sorot bersalah dalam mata masing-masing.

Hingga keduanya menyusul ke atas, Olivia masih berdiri di depan pintu kamar Carmela. Nampan berisi makanan sudah berada di atas sebuah console table di lorong, dan Olivia masih mengetuk pintu dan membujuk si bungsu itu dengan nada lembut.

“Mel ... Ayo, dong, makan dulu. Bakwan jagungnya enak banget, lho. Supnya juga. Kan, kesukaanmu semua. Mel ... Mela ... Yuhuuu ....”

Olivia menghela napas panjang. Melihat kehadiran Prima dan Arlena, Olivia memilih untuk menghindar. Ia turun tanpa bersuara. Prima memberi isyarat agar Arlena menyusul Olivia. Perempuan itu mengangguk samar.

“Mel ...,” Prima mengetuk lembut pintu kamar Carmela. “Mel, maafin Papa. Papa salah karena nggak kasih kabar kalau mau pulang telat. Besok-besok nggak akan terjadi  lagi. Sekarang kamu makan, ya? Nanti kamu sakit. Mel ....”

Tapi usaha itu sia-sia. Kamar Carmela tetap tertutup rapat tanpa ada suara sedikit pun dari dalamnya. Prima menghembuskan napas panjang melalui mulutnya. Apalagi ketika Arlena kembali lagi dengan wajah putus asa.

“Livi mau keluar sama Maxi. Ke minimarket, katanya,” gumam Arlena.

Prima menggeleng samar.

Kenapa bisa jadi seperti ini, sih?

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)



12 komentar:

  1. Aaaaaaahhh.. kok bisa sih? Kok bs? Banyak banget idenya, aku mau kayak Tante Lis banyak ide hihihihiiii.. *salut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... Makasih mampirnya, Mbak Put... 😘😘😘

      Hapus
  2. Halo,mbak lizz.... Baru bisa komentar di blog...

    Ternyata Mela nggak rela papa Prima dimonopoli Arlena...

    Trus piye jal..kelanjutannya??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kelanjutannya sudah bablas, Mbaaak... 😆😆😆
      Makasih banyak mampirnya ya...

      Hapus
  3. aduuh....semakin kacau Yaaa....
    seruuuu....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mampirnya ya, Mbak Bekti... 😘😘😘

      Hapus
  4. Lah, giliran mama mau berubah malah anak-anaknya yang menjauh. Hihi... nice post bu Lis. Lanjut...

    BalasHapus
  5. Papae kesabaren.
    Bayangno garai lope" xixixixixi

    BalasHapus