Selasa, 14 Februari 2017

[Cerbung] Affogato #11-2








Sebelumnya  



* * *


“Kamu marah pada Mela?” tanya Luken dengan nada lembut.

Olivia menggeleng. “Saya tidak tahu, Pak.” Dihelanya napas panjang. “Seutuhnya saya memahami kemarahan dan kekecewaan Mela. Hanya saja saya sangat menyesalkan caranya mengungkapkan kemarahan dan kekecewaan itu. Tapi saya tetap bisa memahaminya, Pak. Usia Mela masih ABG. Usia-usia labil. Kemungkinan besar saya akan melakukan hal yang sama kalau saya masih seusia Mela. Tetap salah saya, Pak, karena saya belum bisa membuatnya curhat atau apalah namanya. Sehingga dia harus meledak seperti ini.”

“Liv, jangan terlalu keras terhadap dirimu sendiri,” Luken menyandarkan punggungnya. “Yang kamu lakukan selama ini sudah jauh melampaui apa yang seharusnya menjadi tanggung jawabmu. Kulihat adik-adikmu adalah anak-anak yang baik. Aku percaya andilmu sangat besar di dalamnya.”

“Lalu apa yang harus saya lakukan sekarang?” ada sorot mata putus asa dalam tatapan Olivia.”

“Mungkin yang paling tepat untuk menjawab semua pertanyaanmu adalah Bu Sandra,” Luken menegakkan kembali punggungnya. “Dia punya pengalaman karena putrinya sudah lewat dari masa ABG. Bicaralah padanya, Liv. Kalau kamu bisa menganggap aku sebagai abangmu, kamu pasti bisa menganggap Bu Sandra sebagai ibumu.”

Olivia mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia mengulas senyum tipis ketika tatapannya jatuh pada wajah teduh Luken yang mengirimkan senyuman. Laki-laki itu kemudian melihat ke arah arlojinya.

“Sudah hampir jam makan siang,” ujar Luken. “Kamu pergilah makan siang di luar dengan Bu Sandra. Kita nggak ada kerjaan lagi hari ini. Terserah kalian kembali jam berapa.”

“Wah...,” Olivia kehilangan kata.

“Ayolah, Liv... Kamu perlu bersantai sejenak,” nada suara Luken terdengar membujuk.

“Masalahnya... saya, kan, sudah telanjur menyuruh Mela ke sini sepulang sekolah, Pak.”

“Serahkan saja padaku,” senyum Luken melebar. “Nanti biar kuajak dia menemaniku makan siang. Take your time, Liv.”

Olivia terlihat masih ragu-ragu. Tapi tatapan Luken berubah menjadi tak terbantah beberapa saat kemudian. Membuat Olivia terpaksa mengangguk.

“Baik, Pak. Saya anggap ini perintah dari Bapak.”

“Nah, begitu, dong...,” Luken tergelak ringan. “Tolong, kamu panggilkan Bu Sandra, ya? Setelah itu kamu siap-siap.”

Olivia kembali mengangguk sambil mengucapkan terima kasih dan berpamitan. Sandra muncul tak lama setelah Olivia keluar.

“Ya, Pak?”

“Bu, saya bisa minta tolong?” tanya Luken sambil sibuk dengan dompetnya.

"Apa pun, Pak,” senyum Sandra.

“Tolong, Ibu ajak Livi makan siang, ya?” Luken menatap Sandra. “Di mana saja terserah Ibu dan Livi. Sampai jam berapa pun, asal nanti balik ke sini dulu sebelum pulang.”

“Oh, oke,” angguk Sandra. “Sekalian ngomongin soal tadi, ya?”

“Ya, Bu. Kasihlah tips cara menghadapi ABG. Kasihan Livi. Bebannya cukup berat kali ini. Makasih sebelumnya, Bu.”

“Ya, Pak, saya mengerti. Sama-sama.”

“Oh, ya, ini buat bayar bill makan siang,” Luken menyodorkan kartu ATM-nya. “Berapa pun.”

“PIN-nya?” Sandra tersenyum jahil sambil menerima kartu itu.

Luken tergelak. Sandra kemudian berpamitan sambil mengucapkan terima kasih. Luken mengacungkan jempolnya.

* * *

Carmela menengadah dengan tatapan ragu. Mendung sudah sedemikian tebal. Ia mendesah.

Kelihatannya harus naik taksi...

“Mel, lo mau pulang naik taksi?” tanya Cindy.

“Napa?” Carmela meleletkan lidah. “Mau nebeng?”

Cindy tergelak. “Tahu aja, lo!”

“Iya, gue mau naik taksi, tapi ke Tebet, nggak pulang.”

“Ngapain ke Tebet?” Betty mengerutkan kening. “Tebet mana?”

“Tebet Raya,” jawab Carmela sambil mencari-cari ponsel di dalam tasnya. “Ke kantor kakak gue. Gue disuruh ke sana.”

“Lo ke Tebet Raya ngapain naik taksi?” Betty menarik tangan Carmela. “Sini, ikut gue! Gue mau ke kantor Mami. Lewatin Tebet Raya.”

“Serius?” Carmela membelalakkan matanya.

“Serius!” Betty mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya, membentuk huruf ‘V’. “Ayo! Keburu hujan, nih!”

Guys! Nasib gue gimanaaa?” seru Cindy.

Seketika Betty dan Carmela menghentikan langkah. Keduanya berbalik dan terbahak.

“Ayo, sekalian!” Betty mengayuhkan tangannya. “Habis nge-drop gue di kantor Mami, nanti gue suruh Pak Lan antar lo pulang.”

Cindy segera berlari menghampiri kedua sahabatnya itu dengan wajah cerah.

By the way, lo lama di kantor mami lo, Bet?” tanya Cindy.

“Gue mau maksi sama Mami,” Betty membuka pintu SUV berwarna putih itu, mobil yang setiap hari mengantar-jemputnya ke sekolah atau ke mana pun. “Daripada Pak Lan lama tungguin gue, kan, mendingan gue suruh antar lu pulang dulu, sekalian makan.”

Ketiga gadis remaja itu kemudian masuk ke dalamnya, bersamaan dengan tetes hujan yang mulai merinai.

* * *

Dengan langkah santai, Luken turun ke lantai bawah. Di meja resepsionis, dijumpainya Lila sedang makan di mejanya.

“Makan, Pak,” gadis itu mengangguk sopan.

“Ya, silakan, Lil,” senyum Luken sambil duduk di kursi kosong di sebelah Lila, di balik meja tinggi resepsionis.

“Bapak nggak makan? Mau saya ambilkan?”

“Enggak, Lil, makasih. Oh, ya, Bu Sandra dan Livi, kan, lagi keluar. Sebentar lagi aku juga keluar. Tolong, kamu catat pesan yang masuk, ya? Kalau ada yang penting banget, kamu segera hubungi aku.”

“Siap, Pak.”

Mereka kemudian mengobrol tentang banyak hal dalam suasana yang cair. Lila tidak merasa segan menghabiskan makan siangnya di depan Luken. Laki-laki itu adalah seorang boss yang sangat baik. Pada satu sisi membuat para anak buahnya segan dalam banyak hal yang berhubungan dengan pekerjaan, tapi di sisi lain sikapnya sangat santai dan tidak banyak pernik.

Pembicaraan itu terputus ketika satpam Bowo datang menggiring seseorang, yang disambut Luken dengan wajah cerah.

* * *

Setelah beberapa puluh meter berjalan pelan untuk mencari di mana tepatnya tujuan Carmela, akhirnya mobil yang dikemudikan sopir Betty menepi dan berhenti di depan sebuah kantor.

“Ini kantornya? Yakin?” Betty memastikan lagi.

“Yakin lah...,” Carmela tertawa. “Lha, itu, mobilnya ada,” tunjuk Carmela ke satu arah.

“Oh... Oke, deh!” Betty mengacungkan jempol. “Salam buat Kak Livi, ya?”

“Sip! Makasih, Bet. Makasih, Pak Lan. Cin, sampe ketemu besok!”

Mereka saling melambai sebelum SUV putih itu meluncur pergi. Carmela kemudian berbalik dan memasuki halaman kantor itu. Hujan sudah berhenti walau mendung masih sangat tebal menaungi.

“Selamat siang, Mbak,” seorang satpam bertubuh tinggi besar berseragam hitam menyapa Carmela dengan ramah. “Cari Mbak Livi, ya?”

“Iya,” senyum Carmela melebar. “Kok, Bapak tahu?”

“Tahu, dong...,” jawab satpam dengan name tag Bowo itu dalam nada canda. “Soalnya tadi sebelum keluar, Mbak Livi sudah pesan, kalau ada anak SMA imut cantik nyasar ke sini, nah, itu adiknya.”

“Hahaha...,” Carmela tergelak. “Bapak bisa aja...”

“Mari, Mbak, saya antar ke dalam,” Bowo segera menggiring Carmela masuk.

“Makasih, Pak,” ucap Carmela manis.

Ketika sampai di meja resepsionis, dua kepala menoleh ke arah mereka. Senyum Carmela kembali mengembang ketika melihat salah satu dari dua orang yang duduk di balik meja.

“Hei, Mel!” sapa Luken dengan wajah cerah. “Apa kabar?”

“Hai, Pak!” Carmela membalas jabatan tangan Luken. “Baik. Bapak sendiri?”

“Baik juga,” Luken meraih bahu Carmela dan membimbingnya ke arah sofa. “Naik apa tadi? Taksi? Hujan, nggak, di sekolah?”

“Tadinya, sih, mau naik taksi,” jawab Carmela sambil duduk di sofa yang ditunjuk Luken. “Habisnya mendung sudah tebal begitu. Eh, ditawarin nebeng mobil teman. Ya, sudah, aku ikut saja.”

“Hah? Temanmu sudah bawa mobil sendiri ke sekolah?” Luken menatap Carmela dengan sorot mata takjub.

“Eh, enggak, Paaak...,” ralat Carmela sambil tertawa. “Pakai sopir.”

“Oh... Kirain...,” Luken tertawa juga. “Eh, kamu sudah makan, Mel?”

Carmela menggeleng. Kemudian ia ingat sesuatu.

“Maaf, Pak, Mbak Livi lagi keluar, ya?”

“Iya,” angguk Luken. “Lagi ada urusan. Eh, makan, yuk, Mel! Aku sudah lapar banget.”

Carmela terlihat ragu-ragu sejenak. Tapi Luken sudah berdiri. Mengulurkan tangan pada gadis remaja itu.

* * *

Pekerjaan nggak akan habis...

Prima menghela napas panjang sambil menyandarkan punggung begitu orang yang diwawancarainya bersama Aryo meninggalkan ruangan itu. Pekerjaannya mewawancara beberapa calon penyelia baru untuk bagian produksi sudah selesai hari ini. Tapi masih berderet lagi pekerjaan lainnya untuk persiapan besok.

“Besok test-nya mulai jam berapa, Mas?” celetuk Aryo sambil berdiri dan meringkas berkas-berkasnya.

“Jam sembilan.”

“Kloter ke berapa itu?”

“Ketiga, Yok.”

“Mas Prima sudah benar-benar sehat, Mas?” usik Aryo lagi, menatap Prima, agak khawatir.

“Anggap saja sudah,” senyum Prima.

Tatapan Aryo berubah jadi prihatin. Prima adalah staf senior yang dilihatnya paling rajin dan loyal. Panutan baginya. Sudah hampir 15 tahun ia mengenal Prima. Sejak masih jadi operator produksi, hingga kini menjadi seorang asisten manajer, masih di bagian produksi. Akan dibukanya pabrik baru berarti segunung pekerjaan bagi divisi HRD yang dipimpin Prima.

“Jumat pagi ada wawancara calon-calon operator yang lolos kloter pertama, Yok. Nanti biar aku minta Rinjani saja yang koordinasikan. Soalnya aku ada meeting pada jam yang sama.”

“Iya, Mas, nanti aku kasih tahu para penyeliaku. Permisi, ya, Mas. Aku balik lagi ke pabrik.”

“Ya, Yok. Makasih, ya.”

Sepeninggal Aryo, Prima menegakkan punggungnya. Dengan siku bertumpu pada meja, ia mulai mengurut masing-masing pelipisnya dengan jari telunjuk dan tengah. Kemudian ia memejamkan mata, menekan kedua ujung dalam mata dengan kedua telunjuk, dan mengurutnya ke arah hidung.

Ketika rasa peningnya berkurang, Prima meraih ponsel. Disentuhnya layar beberapa kali sebelum menempelkannya ke telinga. Terdengar nada sambung beberapa kali, tapi tak ada jawaban. Ketika ia mengulangi panggilan itu sekali lagi, yang diterimanya justru reject. Terakhir, kali ketiga, ponsel di seberang sana sepertinya dikondisikan mati. Dengan resah dihembuskannya napas melalui mulut.

Kamu benar-benar marah pada Papa rupanya, Nak...

Samar, ia menggelengkan kepala.

* * *

“Kok, dimatikan?” Luken mengangkat alisnya.

Carmela mengangkat bahu dengan ekspresi acuh tak acuh. “Cowok iseng.”

“Ooo...,” Luken membundarkan bibirnya, tanpa suara.

“Oke, kembali ke masalah tadi,” Carmela menatap Luken dengan binar keingintahuan berpendar dalam matanya. “Gimana?”

Luken tersenyum lebar. Gadis remaja bernama Carmela ini seolah benar-benar sebatang jarum emas yang tak sengaja ditemukannya di antara tumpukan jerami. Ia menyenangi atmosfer blak-blakan yang dihembuskan gadis itu.


“Umurmu berapa, sih, Mel?” tanya Luken begitu pramusaji yang mengantar minuman mereka berlalu.

“Mm... Akhir Agustus nanti enam belas. Kenapa memangnya, Pak? Mau kasih kado?” Carmela nyengir.

“Boleeeh... Kalau ingat,” Luken tergelak ringan. “Berarti sudah cukup gede dong, ya?”

“Ya, iyalah...,” Carmela ikut terkekeh.

Tepat saat itu ada dering beberapa kali yang mengalun dari ponsel Carmela yang ada di dalam tas.

“Sebentar, Pak,” ujar Carmela sambil mencari-cari ponselnya.

Ketika Carmela berhasil menemukan benda itu, deringnya sudah berhenti. Wajahnya berubah ketika menatap layar. Menjadi sedikit masam. Ketika ia akan memasukkan kembali ponselnya, benda itu kembali bersuara. Dengan wajah dingin Carmela me-reject-nya, bahkan sekalian mematikannya. Dan gadis remaja itu kembali menatap laki-laki di depannya.

“Oke, kembali ke masalah tadi.  Gimana?”


“Mm... Begini, Mel...,” Luken mulai terlihat serius. “Aku ini, kan, seumuran adik papamu. Om lah, ya... Jujur, aku nggak mau kita terlibat dalam kesalahpahaman soal pertemanan kita ini. Mengerti maksudku?”

Carmela tersenyum lebar. Pembicaraan itu terhenti sejenak ketika pramusaji muncul lagi membawakan makanan pesanan mereka.

“Ayo, Mel, sambil makan,” ujar Luken.

Carmela mengangguk sambil mencoba untuk menanggapi ucapan Luken.

“Tenang saja, Pak...,” ucapnya kemudian dengan nada santai. “Aku mengerti, kok,” angguknya. “Aku juga bukan type cewek kecentilan yang doyan nyosor om-om. Makanya aku inginnya tetap panggil ‘bapak’, bukan ‘om’. Kalau ‘mas’ jelas ketuaan lah ya? Hehehe...”

Luken ikut terkekeh. Dengan hati sangat lega. Ia mengangguk.

“Kalau aku punya anak, mungkin sudah seumuran adikmu, Mel,” Luken menyesap sedikit kopinya. “Makanya aku boleh anggap kamu anakku, ya?”

“Whoaaa... Siapa takut?” Carmela bertepuk tangan pelan dengan wajah lucu, membuat Luken tergelak.

Selanjutnya obrolan mereka makin cair sambil menikmati makanan. Wajah Carmela datar saja ketika Luken dengan hati-hati menyinggung soal artikel yang semalam ditulis dan diunggah Carmela di BlogSip.

“Heboh banget, ya?” gadis itu tersenyum tipis.

“Laris,” senyum Luken. “Setahuku tadi yang baca sudah hampir tiga ribu. Mungkin sekarang lebih. Kamu nggak baca lagi?”

“Enggak,” Carmela menggeleng ringan. “Sengaja hit and run. Terserah orang mau ngomong apa. Mm... Tadi sempat dipanggil guru BP, sih,” Carmela meringis sedikit. “Beliau kayaknya takut aku bakal membabi buta berlaku yang enggak-enggak.”

“Memangnya enggak?” pancing Luken dengan nada canda.

“Enggaklah,” Carmela kembali menggeleng. “Kalau mau rusak-rusakan, biar Mama aja sendiri. Aku nggak mau, Pak.”

Ucapan dengan nada tegas itu sungguh-sungguh membuat Luken kagum. Ketika banyak gadis muda di luar sana masih juga kebingungan menemukan jati diri, remaja di depannya ini kelihatan sudah punya prinsipnya sendiri.

“Kalau kamu butuh teman bicara,” Luken menatap lurus ke manik mata Carmela, “atau apa pun, kamu masih punya seorang bapak di sini, Mel. Jangan ke mana-mana. Mengerti?”

Carmela mengangguk. Tersenyum tipis.

“Janji?” Luken memastikan sekali lagi.

Carmela kembali mengangguk.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)

8 komentar:

  1. Waahh... Pak luken jadi bapaknya mela dan abangnya livi....

    Aku harus panggil gimana donk..🙊🙊

    Good post,mbak Lizz

    BalasHapus
  2. Uwiuwiu .....
    Angel kape komen opo mb Lis.
    Critae koyok roller coaster.
    Sip es !

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak kesel tah mocone? 😁😁😁

      Hapus
  3. Balasan
    1. Makasih singgahnya, Pak Subur... 😊😊😊

      Hapus