Rabu, 18 Februari 2015

[Novelet] Gaun Pengantin Berlian





id.aliexpress.com




Satu


Pesta pernikahan besar-besaran itu sudah dirasa sebagai tragedi tersendiri bagi Berlian. Pupus sudah angan untuk mengawali episode baru kehidupannya bersama Rilo dalam sebuah acara pernikahan yang sederhana, hening, dan kudus. Sebuah acara pernikahan yang hangat karena hanya dihadiri keluarga dan teman-teman dekat.

“Tidak apa-apa, Bri,” ucap Rilo sabar. “Demi Mama. Setelah jadi istriku, kamu boleh melakukan apa saja yang kamu mau.”

Tapi apa yang terjadi di balik ucapan ‘tidak apa-apa’ Rilo itu seutuhnya Berlian tahu. Walau hanya menanggung 80% dari seluruh pengeluaran tapi  tabungan mereka telah tergali hampir sampai ke dasar. Sesuatu yang tidak akan terjadi bila mereka hanya menggelar acara sederhana saja. Rumah mungil mereka terpaksa terhenti renovasinya. Bulan madu ke Bali dan Lombok hanya tinggal jadi kenangan.

Semua itu terjadi hanya karena keinginan Mama.


Dengan statusnya sebagai bungsu dari tiga bersaudara, pernikahannya akan jadi hajatan pamungkas keluarga mereka. Pesta pernikahan yang terakhir. Yang tentunya harus jadi sesuatu yang spektakuler agar keluarga tidak ‘menanggung malu’. Di jaman semaju ini? Masih berpikir tentang apa kata orang lain?  Berlian hanya mampu menggeleng tak mengerti.

Kini ia menatap bayangan di cermin dengan sorot mata putus asa. Bahkan Mama memaksanya memakai jasa perancang gaun pengantin yang di matanya kunonya bukan main hanya karena perancang itu adalah teman Mama. Ia sudah malas untuk ribut. Sesungguhnya sudah mulai lelah.

Dan lihatlah! Pantulan cermin itu sudah mengatakan segala sesuatu tentang dirinya. Pengantin yang terlihat bulat, kedodoran, kumuh, dan menderita. Semuanya karena gaun pengantin yang ‘mengembang’, ‘indah’, ‘bagus’ di mata Mama, tapi sama sekali tak cocok dengan dirinya.

Sekuat tenaga ditepisnya segala perasaan putus asa itu. Masih cukup waktu untuk sedikit menggapai sebuah mimpinya yang tercecer tentang sebuah acara pernikahan. Setidaknya ia merasa masih punya harapan. Entah apakah harapan itu bisa jadi kenyataan atau cuma tinggal jadi kenangan, setidaknya ia akan berusaha untuk mencobanya.

* * *

Di tengah senja yang cerah itu, Rilo tampak menghirup latte-nya dengan nikmat. Terlihat sangat ‘indah’ di mata Berlian, sehingga jantungnya berdebar liar. Diam-diam ia mengutuki dirinya sendiri. Sedemikan jatuh cintanyakah ia pada Rilo? Tapi ia memutuskan untuk bertanya juga tentang suatu hal pada Rilo.

“Tentang gaun pengantinku, jadi bagaimana menurutmu?” Berlian buka suara.

Rilo meletakkan cangkir kopinya. Ditatapnya Berlian dalam. Hm.. Jadi tentang gaun  pengantin ‘antik’ itu? Sejenak ia terhenyak ketika mendapati ada lingkaran beban tergambar begitu nyata dalam mata Berlian. Ia tersadar ketika mata Berlian mengerjap.

“Bagus,” jawab Rilo singkat. Terdengar begitu jujur dan apa adanya, tapi Berlian tetap terlihat tak puas.

“Menurutku malah sebaliknya,” gerutu Berlian. “Aku terlihat makin gendut ketika memakai gaun itu.”

Rilo menatap Berlian, tak mengerti. Memangnya sejak kapan Berlian terlihat langsing? Tapi Rilo segera menepis pikiran ‘kurang ajar’-nya itu.

“Sejak kapan aku mempermasalahkan itu?” tanya Rilo sehalus mungkin. “Dilihat dari sisi manapun, dalam kondisi apapun, di mataku kamu selalu cantik, Bri.”

Dan seperti biasanya maka Berlian akan tersipu. Pipinya merona merah, nyaris membuat Rilo gemas melihatnya.

“Bri,” lanjut Rilo, “Rencana pernikahan kita yang sudah meleset jauh ini janganlah jadi beban lagi. Semuanya sudah hampir beres. Sekarang tinggal bagaimana kita berusaha menikmatinya. Sekali seumur hidup kita, Bri.”

“Walau kita hampir bangkrut?” Berlian tertunduk sedih.

“Uang bisa dicari lagi, Bri,” Rilo menepuk lembut punggung tangan Berlian. “Jangan sampai hal ini mengganggu kebahagiaan kita. Apa salahnya juga kita membahagiakan orangtua dan keluarga?”

Berlian terpaksa mengangguk walau masih merasa tak puas. Seharusnya pernikahan itu adalah pernikahannya, bukan pernikahan Mama ataupun keluarga. Seharusnya pernikahannya itu bisa jadi saat terindah yang akan dikenangnya seumur hidup, bukan sesuatu yang megah tapi dipaksakan.

Tapi kelihatannya Rilo santai saja menghadapinya. Atau ia yang terlalu berlebihan? Ketika ia melihat Rilo menghirup lagi latte-nya, ia pun memaksa diri untuk berdamai dengan situasi yang mau tak mau harus dihadapinya. Tapi untuk hal yang satu itu, kelihatannya tidak.

Gaun pengantinnya... Dan ia sudah memikirkan sesuatu.

* * *




Dua


Gracia nyaris tersedak mendengar untaian kalimat yang meluncur lancar dari sela bibir Berlian. Serta-merta ia meletakkan sendok es cendolnya.

“Ervina?” Gracia membelalakkan matanya.

Berlian mengangguk dengan wajah polos.

“Ervina katamu?!” ulang Gracia, masih tak percaya.

Berlian mengangguk lagi.

“Kamu tahu kan siapa Ervina?”

Untuk kesekian kalinya Berlian mengangguk. Gracia menghembuskan napas keras-keras sambil menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Masih diatatapnya Berlian dengan mata bulat.

“Kalau aku, Bri, nggak akan ambil resiko dengan ambil Ervina sebagai perancang gaun pengantinmu,” Gracia menggoyang-goyangkan jari telunjuknya. “Masalahnya...”

“Iya, aku tahu,” potong Berlian. “Tapi cuma Ervina yang bisa bikin gaun pengantin indah buat orang dengan body shape kayak aku.”

“Mahal, Bri...,” desah Gracia setengah putus asa.

“Aku masih punya tabungan,” Berlian berkeras hati.

“Bukan mahal secara duit!” tukas Gracia. “Tapi mahal buat hubunganmu sama Rilo!”

“Karena Ervina mantannya Rilo?” Berlian memincingkan sebelah mata.

“Nah, itu kamu tahu...”

“Mereka udah selesai, Grace,” Berlian mengaduk jus mangganya. “Rilo udah pilih aku sejak lama. Dan aku percaya sama Rilo.”

“Iya, Rilo memang bisa dipercaya, tapi Ervina?!” nada suara Gracia naik lagi. “Gimana kalau dia bikin gaun berantakan buatmu secara kamu calon istri mantannya?”

“Dia nggak akan mempertaruhkan reputasinya, Grace,” Berlian menjawab mantap. “Aku yakin.”

Gracia menghembuskan lagi napasnya keras-keras. Berlian tersenyum menatapnya.

“Kalau dia bikin gaun yang jelek, aku tinggal pakai saja gaun Cinderella nyasar itu,” Berlian menyambung ucapannya dengan gelak tawa ringan.

Gracia menatap Berlian, putus asa. Tak tahu lagi harus berkomentar apa lagi.

* * *     

Berlian menerima sehelai kertas yang disodorkan Ervina. Ditatapnya kertas itu sejenak sebelum ia memejamkan mata. Dicobanya untuk mengumpulkan segala bayangan dirinya yang sudah terlanjur dirasa meretak, dan dicobanya untuk membungkus bayangan itu dengan rancangan gaun yang dibuat Ervina.

Dan Berlian terhenyak. Ervina menatapnya dengan khawatir.

“Aku masih bisa bikin rancangan yang lain kalau kamu nggak suka, Bri,” ucap Ervina cepat.

Tapi Berlian menggeleng, tersenyum. “Aku menyukainya, Vin.”

Ervina menghela napas lega.

“Kamu tahu aku nggak langsing,” lanjut Berlian. “Coba bayangkan aku dalam balutan gaun pengantin yang penuh renda bertumpuk dan mengembang seperti gaun Cinderela.”

Ervina tertawa. “Dan kau merasa sebagai pengantin paling malang sedunia,” celetuknya.

Berlian ikut tergelak. Tapi seketika tawa itu terhenti ketika matanya menatap lagi rancangan gaun di tangannya.

“Berapa harganya yang seperti ini, Vin?” ucapnya lirih. “Jangan terlalu mahal. Uangku sudah mepet.”

Ia sepenuhnya menyadari bahwa Ervina bukanlah perancang gaun pengantin kacangan. Ervina selalu menghasilkan gaun pengantin yang sangat bisa direkomendasikan baik dari segi desain, kualitas bahan, maupun pengerjaannya. Harganya tentulah sebanding dengan semua kesempurnaan itu. Dan rancangan yang tergambar pada helaian kertas di tangannya itu bukanlah rancangan sembarangan.

“Harganya...” Ervina tampak berpikir sejenak. Beberapa detik kemudian ditatapnya Berlian. “Kalau orang lain biasanya aku patok paling murah sepuluh juta. Tapi kalau untuk kualitas seperti yang di sketsa itu sih bisa sampai tiga puluh.”

Seketika Berlian menyesali kenekadannya mendatangi Ervina. Tiga puluh juta rupiah? Hanya untuk sehelai gaun pengantin idaman? Berlian menelan ludah.

Budget-ku cuma limabelas, Vin,” ucapnya kemudian, lirih, kalah.

Ervina menggigit bibir bawahnya. Ditatapnya Berlian. Tanpa ampun.

“Nggak apa-apa sih sepuluh aja. Asal aku boleh sekali saja makan malam dengan Rilo sebelum pernikahan kalian. Deal?

Berlian ternganga. Ternyata harganya lebih mahal lagi! Tapi sudah terlanjur. Dan ia tak tahu harus menjawab bagaimana.

* * *





Tiga


“Sepuluh juta plus dinner?!”

Berlian menatap Gracia dengan ngeri. Bola mata Gracia seolah sudah siap meloncat keluar ketika mengucapkan kalimat itu. Gracia sendiri sudah sekuat tenaga menahan suaranya agar tidak terdengar menggelegar di tengah riuhnya kafe tempat mereka hendak menikmati makan siang. Beberapa detik kemudian Berlian mengalihkan tatapannya ke arah lain.

“Aku nggak tahu harus bilang gimana sama Rilo,” desah Berlian.

“Kamu cari mati!” geram Gracia.

Berlian memejamkan mata. Gaun rancangan Ervina memang terkenal mahal dan elegan. Tapi tak disangkanya harus semahal ini.

“Sudahlah, Bri,” Gracia menurunkan suaranya. “Bayar saja penuh tiga puluh juta, dan jangan berurusan lagi sama dia.”

“Yang lima belas dapat dari mana?” Berlian mengerjapkan matanya.

“Akan kutransfer ke rekeningmu nanti sore. Hutang tapi ya? Kamu boleh bayar kapan saja kamu punya uang.”

Berlian menatap Gracia tak percaya. “Kamu mau menghutangiku, Grace?”

Gracia menghembuskan napasnya keras-keras. “Daripada acara pernikahanmu dengan Rilo berantakan hanya gara-gara kengototanmu dan kegilaan Ervina.”

Berlian terdiam di tempat duduknya. Tak tahu harus berbuat apa. Semuanya bercampur aduk jadi satu. Menyesal, malu, terharu, harapan, bahagia.  Dan Gracia adalah salah satu teman terbaik yang ia punya.

“Tapi ingat, Bri,” ucap Gracia kemudian. “Aku minta kamu terus teranglah sama Rilo. Kupikir dia harus tahu kejadian ini.”

Berlian mengangguk. “Iya, Grace, nanti aku bilang sama Rilo. Makasih banyak. Makasih banget. Makasih berat.”

Gracia hanya menanggapinya dengan senyum.

                                                                      * * *
           
Sejujurnya Berlian tak tahu harus bagaimana memulai pembicaraan tentang gaun pengantin itu dengan Rilo. Tapi ia tahu ia harus melakukannya. Dan sore yang cerah itu tampaknya tepat. Ketika mereka duduk berdua menikmati senja di taman dekat rumah Berlian.

Berlian melihat bibir Rilo mengukir senyum ketika melihat tingkah lucu anak-anak yang bermain di dekat mereka. Dan jantung Berlian selalu berdebar ketika melihat senyum itu. Apakah Rilo merasakan hal yang sama?

Diam-diam ia meragukan itu. Bila ia melihat Ervina, betapa mereka begitu berbeda. Dari jarak sekian juta kilometer juga sudah kelihatan kalau sosok Ervina adalah serupa dewi kecantikan. Apa yang ada di pikiran Rilo ketika ia ‘membuang’ dewi itu kemudian beralih padanya?

Tidak, tidak! Berlian bukan orang ketiga yang membuat hubungan Rilo dan Ervina hancur. Ia ada dalam kehidupan Rilo ketika status laki-laki itu sudah jauh hari jomblo. Ketika hubungan mereka sudah berjalan dengan lebih serius, Rilo bercerita tentang Ervina.

Hanya sekedar bercerita. Sia-sia Berlian mencoba untuk mengais nada pembandingan antara ia dan Ervina dalam suara Rilo. Sama sekali tidak ada. Rilo tak pernah sekali pun membandingkannya dengan Ervina. Dengan tegas Rilo sudah mengatakan bahwa hubungannya dengan Ervina sudah jauh hari selesai. Tak ada lagi yang perlu dibahas.

Dan sekarang ia ‘membangunkan macan tidur’ dengan memesan gaun pengantin pada Ervina demi kelihatan sebagai pengantin tercantik? Baru sekarang ia merasa menyesal karena menuruti nafsunyua tanpa berpikir lebih panjang.

Tapi semuanya sudah terlanjur terjadi. Konsekuensinya ia harus ‘mengaku’ pada Rilo. Secepatnya.

“Kok melamun melulu sih, Bri?”

Ucapan halus Rilo seketika mencabut Berlian dari alam lamunan. Entah sudah berapa lama tangan kanannya sudah ada dalam genggaman hangat Rilo.

“Kayaknya kamu jadi jauh lebih pendiam sekarang,” ucap Rilo lagi.

“Gitu ya?” Berlian mencoba untuk tersenyum.

Rilo meremas lembut telapak tangan Berlian. “Rileks, Bri. Acara pernikahan kita cuma awal. Masih banyak yang harus kita pikirkan dan jalani setelahnya. Jangan habiskan energi hanya buat awalan ini.”

Berlian menghela napas panjang. Pada akhirnya ia memang harus mengumpulkan keberaniannya untuk memulai yang sudah ia mulai. Dan waktu terus berjalan tanpa ampun. Membuat Berlian akhirnya berkata lirih, “Apa aku salah kalau aku menginginkan yang terbaik untuk hari istimewa itu?”

“Enggak,” Rilo menggeleng. “Sama sekali. Apalagi ini peristiwa sekali seumur hidup kita.”

“Jujur aku sudah setengah mati waktu Mama menginginkan pesta yang besar dan meriah. Mama sudah memikirkan semuanya kecuali aku, pengantinnya. Padahal salah satu pelakunya aku, bukan Mama. Ini lebih seperti pesta pernikahan Mama. Bukan pesta pernikahanku,” airmata Berlian mulai mengembang. Ia tak sanggup lagi meneruskan kalimatnya.

“Lalu apa yang kamu inginkan sekarang?” tanya Rilo halus.

“Aku cuma ingin gaun pengantin yang cocok buatku,” airmata Berlian mulai meleleh tanpa bisa ditahan. “Kalau semuanya sudah buat Mama, ya sudahlah aku nyerah. Tapi setidaknya aku masih bisa menikmati acara pernikahanku sendiri. Jadi diriku sendiri.”

“Kalau masalahnya cuma gaun pengantin, ya sudah batalkan saja yang tidak kamu inginkan itu. Cari yang kamu mau. Nggak usahlah dibuat rumit.”

“Aku sudah melakukannya,” Berlian menyusut airmatanya. “Aku pesan sama Ervina.”

“Oh...”

Berlian menoleh cepat. Ditatapnya Rilo dengan pikiran mulai menghilang. Cuma ‘oh...’?  Rilo sendiri menyadari gerakan Berlian. Ia balas menoleh.

“Kenapa, Bri?”

“Cuma ‘oh’?”

Rilo mengembangkan senyumnya. “Lalu aku harus ngomong apa?”

Berlian terhenyak mendengar nada kebenaran dalam suara Rilo. Ya, memangnya kenapa kalau perancang gaun pengantinnya Ervina?

“Kamu nggak marah?” Berlian menatap Rilo, polos.

“Lho, ngapain marah?” Rilo tergelak. “Apa bedanya dia dengan perancang gaun lainnya?”

“Masalahnya...,” Berlian menghela napas panjang. “Gaunnya mahal banget. Dia memberiku harga murah tapi ada syaratnya.”

“Apa itu?”

“Sekali dinner denganmu.”

Rilo ternganga. Berlian mengerjapkan matanya.

“Tapi aku masih belum nego lagi,” lanjut Berlian cepat. “Aku bisa bayar penuh tanpa dia harus dinner denganmu. Cuma aku belum tahu dia setuju apa enggak.”

“Kamu masih punya uang? Terus terang aku sudah nggak ada uang ekstra lagi, Bri.”

“Gracia menghutangiku,” jawab Berlian, nyaris tak terdengar.

“Ya, Tuhan...”

Rilo menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi taman. Tak tahu harus mengatakan apa lagi.

* * *



Empat


Ervina menelepon Berlian tepat dua minggu sebelum acara pernikahan itu dilangsungkan. Gaun pengantinnya sudah selesai. Ervina memintanya untuk melakukan fitting. Dengan jantung berdebar Berlian menyetir mobilnya pelan ke arah bengkel kerja Ervina.

Ketika Ervina menunjuk sebuah gaun indah yang membungkus manekin di tengah ruangan, Berlian hanya mampu terpana. Seutuhnya gaun itu tak terbayangkan olehnya ketika masih berupa rancangan.

“Itu... gaunku?” bisik Berlian terbata.

Bayangan gaun itu mengabur di mata Berlian. Ia nyaris tak mau mengerjapkan matanya. Takut bila ia membuka kembali matanya gaun itu akan menghilang karena cuma bayangan maya. Tapi tidak. Semuanya nyata dan Ervina sudah mendorong bahunya, menyuruhnya untuk mencoba.

Gaun rancangan Ervina bukan gaun yang terlalu repot dengan detail tumpukan renda yang menyebalkan, tapi sebuah gaun berbahan lace berwana putih, berpotongan empire, dan menampilkan siluet A line yang sempurna dengan ornamen berkilau karena barisan kristal swaroski yang ditambahkan Ervina. Simpel. Elegan.

“Aku merasa itu masterpiece-ku,” ucap Ervina dengan bibir mengukir senyum.

Ya, aku belum lupa nilai yang harus kusediakan untuk menebusnya, batin Berlian setengah pahit.

Dan beberapa menit kemudian Berlian hanya mampu terdiam ketika menatap pantulan dirinya di cermin. Ia nyaris tak mengenali dirinya. Tak ada lagi calon pengantin berbentuk bulat dan kedodoran, terlihat kumuh dan menderita, seperti yang beberapa hari lalu pernah dilihatnya sendiri. Yang ada hanya seorang calon pengantin cantik dengan gaunnya yang sempurna.

“Nah,” Ervina bertolak pinggang sambil mengamati Berlian dari atas ke bawah, “bagian mana yang terasa kurang nyaman?”

Berlian buru-buru menggeleng. “Tidak! Ini sudah...,” ia kesulitan menemukan kata yang tepat, “... pas.”

“Yakin?”

Berlian mengangguk lagi. Ervina mempercayainya. Sesungguhnya ia melihat gaun itu memang sudah pas di tubuh Berlian. Ia beranjak sebentar dan kembali dengan sebuah veil di tangannya. Sebuah veil berbahan tipis melayang yang menempel pada tiara mungil yang berkilau sempurna.

“Hm...,” gumam Ervina. “Aku membayangkan rambutmu disanggul agak tinggi dan tiara ini dipasang pas di atas sanggul itu.”

Berlian menatap sekali lagi bayangannya di cermin. Entah kenapa mendadak ia merasa bahwa semuanya itu cuma sekedar mimpi. Entah kenapa mendadak saja perasaannya mengatakan begitu.

“Oke, jadi kapan aku bisa dinner dengan Rilo?”

Berlian buru-buru berjalan ke ruang ganti untuk melepaskan gaun pengantin itu dari tubuhnya. Ketika ia keluar, mereka hanya tinggal berdua saja di ruang atas bengkel kerja Ervina. Tentu saja Ervina sudah menyuruh asistennya pergi.

“Sebentar lagi aku akan ke ATM untuk transfer pelunasannya padamu,” ucap Berlian pelan.

“Maksudmu?” Ervina mengerutkan keningnya.

“Aku sudah transfer sepuluh juta padamu kan?” Berlian mencoba untuk mengumpulkan semua kekuatannya dan menatap Ervina. “Kamu pernah bilang harga gaun itu tiga puluh juta. Kekurangannya yang dua puluh juta akan kutransfer beberapa menit lagi.”

Ervina menatap Berlian dengan kedua bola mata melebar. “Tapi kita sudah sepakat sepuluh juta plus dinner dengan Rilo. Enak banget kamu mengingkarinya!”

“Aku nggak mengingkari, Vin,” jawab Berlian sabar. “Rilo nggak mau melakukannya. Dan aku nggak bisa membujuknya lagi.”

“Kalau dia mencintaimu tentu dia akan melakukan apa saja untukmu,” senyum Ervina terlihat begitu sinis. “Tapi nyatanya?” Ervina mengangkat bahu. “Pastikan dulu itu sebelum kalian menikah. Sebelum kamu kecewa. Kalau sudah nggak ada apa-apa lagi denganku kenapa dinner saja dia nggak mau?”

Berlian nyaris kehilangan napas dibombardir Ervina dengan kalimat-kalimat yang tak pernah dipikirkannya itu. Bahkan membayangkannya saja tidak pernah.

“Maaf ya, Bri,” ucap Ervina lagi, lugas. “Aku nggak bisa kasih gaun itu padamu. Uang sepuluh juta yang sudah kamu transfer padaku akan kutransfer balik padamu nanti sore. Maaf, aku masih banyak kerjaan.”
           
Berlian masih tak mempercayai nasibnya hari ini. Tapi ia mencoba untuk menyingkir dengan hati terasa perih. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Kenapa juga ia tak pernah memikirkan kemungkinan terburuk tentang gaun pengantinnya, Ervina, Rilo, dan dirinya sendiri?

Ia hanya bisa menghembuskan napas panjang berkali-kali ketika sudah berada di dalam mobilnya. Mencoba untuk mengurangi rasa sesak yang menghimpit dadanya.  Dicobanya untuk mengumpulkan kembali konsentrasinya yang pecah terburai dan berserakan ke mana-mana sebelum mulai menyetir mobilnya.

Tujuannya cuma satu. Pulang. Bersembunyi di dalam kamarnya yang selalu hangat.

* * *

“Membatalkan pernikahan?!”

Berlian terhenyak mendengar nada bicara Rilo yang tak pernah ia dengar sebelumnya. Ia memilih untuk mengalihkan tatapannya pada taman hijau di depan teras.

“Setelah semua yang sudah kita lalui?! Setelah semua persiapan habis-habisan yang kita lakukan?! Hanya gara-gara gaun pengantin kamu mau batalkan pernikahan kita?!” Rilo hampir tak bisa menguasai emosinya. “Kamu ini mikir apa sih, Bri?”

“Lalu kenapa dinner dengan Ervina saja kamu nggak mau?” Berlian mulai kehilangan ketenangannya. “Aku sudah pernah bilang padamu sisakan satu saja diriku dalam acara ini. Dan itu gaun pengantinku!”

Rilo sudah hendak membuka mulutnya lagi tapi kali ini ia tertegun dengan kalimat-kalimat Berlian selanjutnya.

“Kamu pikir aku nggak merasa terhina datang pada Ervina minta dia buatkan gaun pengantin untukku? Kalau aku punya pilihan lain tentu saja bukan dia yang akan kutuju. Hanya dinner dengannya, Lo... walau seumur hidup aku nggak pernah rela.”

“Bri,” Rilo melunakkan suaranya, “aku nggak mau melakukannya karena aku tahu itu bakal nyakitin kamu. Aku...”

“Kamu nggak mau karena kamu takut goyah kan?” suara Berlian meninggi lagi. “Karena kamu masih mencintainya kan? Karena aku cuma pelarian kan? Bodohnya aku!”

“Bri...”

“Aku juga sudah ngaca berkali-kali dan makin ngaca makin aku menemukan kalau sebenarnya kita nggak sepadan,” genangan bening makin mengembang dalam mata Berlian. “Aku nggak sepadan buatmu. Nggak pernah!”

“Bri, aku cinta sama kamu,” ucap Rilo lugas. “Seutuhnya. Kamu jauh melebihi ekspektasimu terhadap dirimu sendiri. Kenapa sih kamu nggak pernah mau percaya?”

“Sudahlah, Lo. Aku capek. Nggak tahu mau jadi apa aku dua minggu lagi.”

Dan Berlian nyaris membeku di tempat duduknya. Dan senja menghening hingga Rilo beranjak dari teras itu. Dan beban serta amarah membawanya pada satu tujuan. Persinggahan berikutnya.

Rumah Ervina.

* * *



Lima


Rilo menghentikan mobilnya dengan kasar di depan sebuah rumah bercat hijau muda. Ban mobilnya bergesek dengan aspal hingga menimbulkan suara decit yang menyakitkan telinga, tanda pedal rem diinjak sedalam-dalamnya. Beberapa saat kemudian dengan langkah-langkah lebar ia menghampiri pagar.

Ervina yang mendengar bel berdenting segera meletakkan cangkir tehnya dan mengintip sejenak dari balik tirai jendela. Matanya serta-merta melebar melihat siapa yang datang. Senyumnya mengembang ketika membuka pintu dan melangkah untuk membuka pintu pagar yang terkunci rapat.

“Hai, Lo!” sapanya dengan suara berbunga.

Tapi Rilo hanya berdiri tegak tanpa segaris tipis pun senyum. Bibirnya terkatup rapat. Tatapannya terlihat begitu dingin. Membuat Ervina diam-diam bergidik ngeri.

“Masuk, Lo,” si nona rumah berusaha tetap mengembangkan senyum sambil membuka pintu pagar lebar-lebar.

Tapi Rilo bergeming. Ia hanya berdiri sambil menatap tajam pada Ervina.

“Lo?”
           
“Kamu ngomong apa sama Bri?”

“Maksudmu?”

“Kamu tahu apa yang kumaksud!” suara Rilo mulai menajam.

“Soal gaun pengantinnya?” Ervina menelan ludah. “Dia mengingkari kesepakatan.”

“Syaratmu itu yang gila!”

“Tapi dia sudah sepakat!”

“Kamu permainkan perasaannya!”

“Memangnya kamu enggak?!”

“Aku nggak pernah mempermainkan perasaannya,” desis Rilo. “Pada siapa pun!”

“Kamu melakukannya padaku!”

“Siapa yang mulai?! Siapa yang berkhianat?! Siapa yang berselingkuh?! Bukan aku, Vin!”

Ervina terhenyak. Sia-sia ia mencari rasa sakit yang mungkin masih tersisa dalam tatapan Rilo. Ia tidak mendapatkannya setitik pun. Hanya ada bara kemarahan. Itu pun bukan tentang mereka, tapi seutuhnya tentang Berlian.

“Lo, kalau kamu benar mencintainya, kenapa untuk dinner denganku saja kamu nggak mau?” Ervina berusaha untuk mengalihkan topik.

Rilo mengerjapkan matanya. “Karena aku nggak mau menyakitinya.”

Ervina tersenyum mengejek. “Walaupun dia sangat menginginkan gaun pengantin itu?”

Rilo masih menatap tajam.

“Kamu egois, Lo,” Ervina menggelengkan kepala. “Sangat egois!”

“Apapun yang terjadi, jangan pernah mempermainkan perasaan Berlian! Aku nggak akan pernah memaafkanmu.”

“Kamu pikir gimana perasaanku mendesain gaun untuk calon istri mantanku?” airmata mulai menggenangi pelupuk mata Ervina. “Sakit, Lo!”

“Tapi itu profesimu kan?” Rilo menjawab lugas. Tetap dingin. “Kalau nggak sanggup kenapa nggak menolak?”

Ervina kehilangan kata-kata.

“Kamu memang nggak pernah berubah,” ucap Rilo dengan suara rendah, penuh tekanan. “Selalu mau menang sendiri. Selalu mencari cara untuk tetap kelihatan menang. Kamu sudah kalah, Vin. Kamu yang membuat dirimu sendiri kalah.”

Rilo kemudian berbalik. Meninggalkan Ervina yang pipinya mulai diguliri butir-butir airmata.

* * *

Egois? Rilo mengerjapkan mata.

Apa yang sebenarnya kupikirkan? Tak mau menyakiti Bri? Tapi apa yang sudah kulakukan? Aku sudah menyakiti Bri!

Rilo menghenyakkan punggungnya ke sandaran sofa. Ia merasa belum buta untuk melihat betapa Berlian membenci gaun pengantin ala Cinderellanya. Dan Berlian menginginkan yang lebih bagus untuk peristiwa bahagia sekali seumur hidup. Salahkah?

Perlahan Rilo menggelengkan kepala. Tapi berapa harga yang harus ditebusnya? Terlalu mahal hingga bisa membuat hati Berlian meretak kalau sampai itu terjadi. Dan ia sama sekali tak menginginkannya.

Berlian...

Pelan Rilo mengeja nama itu. Sesosok perempuan lembut hati yang lebih memikirkan orang lain daripada memikirkan dirinya sendiri. Sesosok perempuan yang langsung membuatnya jatuh hati tanpa syarat apapun.

Haruskah?

Rilo terus menimbang-nimbang sesuatu. Sampai akhirnya ia meraih ponselnya. Beberapa saat kemudian ia berucap lembut, terdengar ragu-ragu, “Bri, kamu masih menginginkan gaun itu?”

* * *

“Sebenarnya apa sih yang kami mau, Lo?” Berlian menatap lelah.

Rilo terdiam. Serba salah.

“Ya sudahlah kalau kamu nggak mau dinner sama Ervina,” lanjut Berlian. “Aku juga sudah gagal menebus gaun itu walaupun uangnya ada. Masih cukup waktu buat merombak gaun yang sudah ada. Entahlah mungkin rendanya sedikit dikurangi atau apa.”

Tanpa menyiagakan perasaannya pun Rilo seutuhnya bisa menangkap nada putus asa dalam suara Berlian. Dan itu membuatnya makin merasa bersalah.

“Bri, coba kita nego sama Ervina lagi ya?” ucap Rilo halus. “Kita berdua. Mau?”

Berlian menghela napas panjang. Masih ditatapnya Rilo.

“Besok sore pulang kerja kita ke sana ya? Aku antar kamu pagi, terus aku jemput sorenya. Mau ya?”

Mau tak mau Berlian tersenyum. Rilo yang sabar. Rilo yang selalu berusaha untuk mengerti. Pelan ia menganggukan kepala.

* * *



Enam


Hari itu berlalu sangat lambat bagi Berlian. Berkali-kali ia melirik arloji. Berkali-kali juga ia terpaksa menghela napas panjang. Sepertinya jarum pada arlojinya tak kunjung bergerak.

Ketika jam bubaran kantor, Berlian segera melesat keluar menuju lobby gedung perkantoran tempatnya bekerja. Ketika sebelah kakinya melangkah keluar dari dalam lift yang sudah sampai di lantai dasar, barulah ia tersadar. Bubaran jam kantor Rilo setengah jam lebih lambat daripada kantornya. Belum lagi perjalanan dari kantor Rilo ke sini. Lalu buat  apa juga ngebut menuju lobby? Diam-diam Berlian tersenyum masam, menyadari ketololannya.

Segera saja ia melangkah menuju ke coffee shop kecil di sudut lobby. Sejam. Dua jam. Berkali-kali ia menghubungi ponsel Rilo, berkali-kali pula langsung masuk mailbox. Dengan jengkel diselipkannya ponselnya ke dalam tas. Dan ia nyaris putus asa ketika jam digital besar di dinding lobby menunjukkan angka 18:55.

Pelan dikeluarkannya ponsel dari dalam tas. Ada 24 panggilan tak terjawab. Semuanya dari Alex, abang sulungnya. Sekali lagi Berlian mengutuki dirinya, lupa menonaktifkan silent mode pada ponselnya. Tak urung ia mengerutkan kening. Alex?

Beberapa detik kemudian ia menghubungi Alex. Pada panggilan kedua barulah Alex menjawabnya.

“Kamu ke mana aja sih, Bri?” suara Alex terdengar tak sabar.

“Iya, sorry ponselku silent. Tumben nelpon aku, Lex?” Berlian meringis sekejap.

“Kamu sekarang lagi di mana?”

“Masih di kantor, nunggu Rilo jemput. Nggak tahu nih, lama banget.”

“Sekarang kamu keluar, buruan cari taksi, langsung ke sini.”

“Ke mana? Ke rumahmu?”

“Aku masih dinas. Kamu ke sini, buruan.”

“Aku udah terlanjur janjian sama Rilo, Lex. Aku juga nggak bisa hubungi dia. Masak kutingggal ke tempatmu?”

“Rilo di sini.”

“Hah? Ngapain?”

“Sudahlah kamu buruan cari taksi, langsung ke sini.”

“Lex! Rilo ngapain di situ?”

“Mobilnya ketimpa truk yang terguling. Dia ada di dalam. Sudah dibawa ke sini. Lukanya nggak parah tapi dia belum sadar. Jadi sebaiknya kamu cepat ke sini.”

Berlian membeku di tempatnya duduk. Rilo? Ketimpa truk? Rilo? Kenapa? Ya Tuhan... Begitu menyadari apa yang terjadi Berlian segera berlari keluar dari gedung dan mencari taksi. Begitu mendapatkan taksi ia langsung menyebut nama rumah sakit tempat Alex berdinas sebagai dokter.

Perjalanan 30 menit menuju ke rumah sakit dirasanya sebagai perjalanan terlama sepanjang hidupnya. Tangannya gemetar mendekap tas. Hatinya tak henti-henti menyebut nama Tuhan dan Rilo.

Alex sudah menunggunya di dekat pintu masuk IRD. Ia segera meraih Berlian dan membawanya ke dalam pelukan. Tanpa bisa ditahan lagi tangis Berlian pecah dalam pelukan Alex.

“Dia gimana, Lex?” tanyanya terbata.

“Tadi sudah di-scan. Kepalanya kena benturan tapi nggak apa-apa. Selebihnya cuma lecet. Baru aja dia sadar.”

Berlian melangkah seperti melayang ketika ia mengikuti Alex menuju ke bed di ujung IRD. Ketika Alex menyibakkan tirai, Berlian langsung menghambur.

“Lo...”

“Hai!”

Tangis Berlian kembali tak terbendung ketika melihat Rilo melambaikan tangan kanannya dengan wajah dibuat seceria mungkin. Ia merangkum wajah Rilo dengan telapak tangan mungilnya.

“Lo, ini salahku... Salahku, Lo...,” Berlian tersedu.

“Hoi! Aku nggak apa-apa, Bri,” Rilo tersenyum lebar.

Berlian menghabiskan tangisnya dalam pelukan Rilo. Perwujudan rasa bersalah yang sepertinya tak mungkin ada habisnya. Semuanya karena keinginan konyolnya untuk mengenakan gaun pengantin yang cantik.

Dan hari ini, minus 10 hari sebelum tanggal pernikahan, Rilo malah mengalami kecelakaan yang sungguh tak terduga. Masihkah boleh mengatakan ‘untung’ karena sekilas Rilo terlihat seperti tak apa-apa?

“Lo, sudahlah aku nggak mau lagi gaun pengantin celaka itu,” bisik Berlian terbata. “Yang penting kamu sembuh, kita menikah, dan...”

“Kamu akan selalu jadi pengantinku yang paling cantik,” Rilo mengelus kepala Berlian.

Berlian tertawa di tengah derai airmatanya. Rilo selalu bisa membuatnya tertawa.

* * *

Berlian menatap gaun pengantin yang tergantung di dinding kamarnya. Terlihat jauh lebih baik setelah Garcia bekerja keras merombak gaun itu dengan mengurangi beberapa aksen renda yang tidak penting. Tidak pernah bisa menyamai kecantikan gaun rancangan Ervina, tentu saja. Tapi setidaknya sudah tak lagi membuatnya terlalu kelihatan seperti Cinderella kesasar.

Direbahkannya diri ke atas kasur sambil menghela napas panjang. Sungguh minggu terakhir yang melelahkan. Tapi setidaknya ia jadi punya waktu untuk lebih meyakinkan dirinya bahwa memang benar Rilo mencintainya.

“Aku nggak pernah menganggapmu sebagai pelarian, Bri,” ucapan lembut Rilo seakan menggema di ruangan itu. “Kamu dan Ervina berbeda. Dan makin mengenalmu, aku makin jatuh cinta padamu. You’re beyond compare. Terutama hatimu.”

Berlian mengerjapkan matanya.

Kalau berurusan dengan fisik, tentu Ervina menang sepuluh langkah di depan. Tapi hati, entah kenapa Berlian merasa menang mudah dari Ervina. Dan Rilo jatuh cinta pada hatinya. Lalu apa lagi yang harus dikhawatirkan?

Malam kian hening dan mata Berlian kian berat. Sebelum benar-benar memejamkan mata BB-nya berbunyi. Dengan malas Berlian meraihnya.

Tidur, Bri sayang... Sudah malam. Jadilah pengantinku yang paling indah besok lusa...

Berlian tersenyum. Rilo... selalu mengerti...

* * *




(Kalau mau ilustrasi musik, silakan klik video di bawah ini)




Tujuh



Rilo berkali-kali menghela napas panjang dan menghembuskannya keras-keras. Berusaha untuk mengurangi rasa mulas di perutnya. Menunggu adalah pekerjaan yang paling menyebalkan. Terutama menunggu pengantin cantiknya tiba di Gereja. Sekuat apapun ia berusaha untuk menenangkan hati, tak urung gelisah itu muncul juga.

Berlian dan Gracia, sahabat-pendamping pengantin-sekaligus periasnya, sudah terlambat hampir 20 menit lamanya dari jadwal kedatangan. Memang belum sampai  pada limit di mana upacara pemberkatan harus dimulai. Tapi tetap saja keadaan itu mengkhawatirkan bagi semuanya yang sudah terlanjur menunggu di situ, terutama keluarga besar Berlian sendiri. Menimbulkan sedikit kerusuhan bagai gumam seribu lebah di sekelilingnya.

Mendadak Rilo mengingat tiap detik yang terjadi selama ada tragedi gaun pengantin itu. Sesungguhnya ia sedih karena merasa gagal membahagiakan Berlian di awal perjalanan bersama mereka. Hanya sepotong gaun pengantin yang cantik, tapi Berlian kesayangannya gagal mendapatkan keinginannya itu. Sekarang yang bisa ia lakukan hanya berharap Berlian sudah berdamai dengan gaun Cinderela yang nyasar itu. Ia tak punya pilihan lain. Toh ia sudah terlanjur jatuh cinta pada hati Berlian, dengan atau tanpa gaun itu.

Ia tersentak ketika Luki menggamit tangannya. “Ayo, sudah waktunya kamu berdiri di depan altar, Lo. Berlian udah dekat. Gracia udah meneleponku.”

Bersamaan dengan langkah tegap Rilo untuk bersiap menuju ke depan altar, keluarga Berlian pun membentuk barisan di kedua sisi. Alex, abang sulung Berlian sudah menunggu di tempat parkir, siap menjadi pengganti Papa yang sudah tiada, untuk menyerahkan adik kesayangannya nanti pada Rilo.

Ketika calon pengantin perempuan itu turun dari mobil, Alex hanya bisa ternganga. Hampir ia tak mengenali adiknya sendiri. Berlian tampak sempurna dengan gaun yang sama sekali berbeda dengan yang diantarkan ke rumah beberapa hari yang lalu.

“Hai, Lex!” sapa Berlian jahil.

“Gaunmu...”

“Jangan rusak mood-ku dengan membicarakan gaun konyol itu,” hardik Berlian pelan dari balik veil-nya.

Alex mengulum senyum. Seutuhnya rona kebahagiaan itu memenuhi wajah Berlian. Sejujurnya, Alex merasa lega tidak harus melihat Berlian mengenakan gaun Cinderella itu.

Ia menyodorkan lengan dan Berlian menyambutnya seketika dengan penuh senyum. Gracia sempat merapikan gaun Berlian sebelum melangkah di  belakang abang-adik itu dengan membawa buket bunga berisi cincin kawin kedua mempelai.

Dan di depan altar Rilo menatap pengantinnya, nyaris tanpa bisa mengedipkan mata. Benarkah itu Berlian? Berliannya? Benar-benar Berlian ataukah malaikat yang mendadak jatuh dari langit? Bagaimana bisa gaunnya...?

Lalu semuanya mendadak jadi nyata ketika Berlian terus berjalan mendekat dan memberinya seulas senyum penuh seri di balik veil tipis menerawang yang menyelubungi wajah. Senyum yang tak akan pernah dilupakannya seumur hidup. Berlian datang bukan dalam balutan sebuah gaun yang terlalu repot dengan detail tumpukan renda yang menyebalkan, tapi sebuah gaun berbahan lace berwana putih, berpotongan empire, dan menampilkan siluet A line yang sempurna dengan ornamen berkilau karena barisan kristal swaroski.

Cantik... Sangat cantik... Selalu cantik...

Hanya itu yang bisa dibisikkan Rilo ketika Berlian sudah berada di sampingnya. Dan ia mendapatkan senyum malaikat itu lagi. Membuat hatinya makin runtuh. Membuatnya lebih dulu berjanji dalam hati untuk mencintai dan membahagiakan Berlian seumur hidupnya jauh sebelum ia harus mengucapkan janjinya itu dengan tangan berada tepat di atas kitab suci.

Dan upacara pemberkatan pernikahan pun dimulai...


* * *



Epilog


Ervina setengah tersedu menatap gaun yang masih tergantung apik di tengah ruangan studionya. Seandainya Rilo sampai lewat karena tertimpa truk itu maka ia tak akan pernah memaafkan dirinya. Apalagi ia tahu kecelakaan Rilo beberapa hari lalu terjadi karena perburuan gaun pengantin rancangannya itu.

Dan pada suatu sore tiga hari yang lalu, dengan mata kepalanya sendiri, dari kejauhan ia melihat betapa wajah Rilo begitu berseri menerima semua perlakuan Berlian. Laki-laki itu masih duduk di kursi roda dan Berlian duduk di depannya sambil menyuapinya sepotong brownies. Sesekali mereka bicara, tersenyum, dan tertawa sambil menikmati keasrian taman rumah sakit.

Ada yang terasa sakit jauh di dalam hatinya. Apalagi ketika menyadari bahwa selama ini setelah menjalani hubungan serius dengan Berlian, Rilo sama sekali tak pernah menoleh ke arahnya. Sekali pun. Sedetik pun. Dan ia cukup mengenal Rilo hingga sampai pada satu kesimpulan bahwa ia memang tak cukup layak untuk Rilo.

Sesungguhnya ia telah kalah. Telak. Dan haruskah melengkapi kekalahan itu dengan terus menatap gaun pengantin rancangannya untuk Berlian? Ervina menggeleng.

Ia sudah tak ada harganya di mata Rilo. Apapun yang akan dilakukannya. Barangkali benar bahwa Rilo sudah ditakdirkan untuk jadi pasangan Berlian, bukan pasangannya. Sangat menyakitkan, tapi mau tak mau ia harus menghadapi kenyataan itu.

Dihelanya napas panjang. Ia berdiri dan melangkah mendekati gaun itu. Pelan dilepaskannya gaun itu dari manekin. Diraihnya veil dan sebuah tas besar sebelum membawa gaun itu turun dengan hati-hati dan masuk ke dalam mobil. Sebelum menekan pedal gas diliriknya jam digital di dashboard. 7:15. Semoga masih cukup waktu, gumamnya dalam hati.

Ia sampai ke tempat tujuannya tepat ketika tiga buah sedan meluncur meninggalkan rumah itu, meninggalkan mobil keempat yang terlihat anggun dengan hiasan pita dan bunga-bunga. Dengan cepat ia masuk ke halaman dan mendapati seorang perempuan setengah baya menatapnya dengan bingung di depan pintu.

“Kamar Berlian mana?” ia mencoba tersenyum.

Perempuan itu menunjuk ke atas dan ia segera melesat ke sana. Hanya ada satu pintu kamar yang terbuka. Ketika ia melongokkan kepala, terlihat Berlian sudah berdiri tegak dengan mengenakan baju pengantin yang... Ya Tuhan..., ia hanya mampu menggumamkan itu.

“Lepas gaun itu, Bri...”

Berlian tersentak kaget dan menoleh cepat ke arah pintu. Ervina berdiri di sana dengan sehelai gaun pengantin indah berwarna putih.

“Ini gaunmu,” Ervina berucap nyaris berbisik.

“Maksudmu?” Berlian ternganga.

“Bri, maafkan aku,” Ervina melangkah mendekat. “Ini gaunmu. Yang kurancang dengan tanganku sendiri, untukmu. Kalau memang aku tak pernah memberi Rilo yang terbaik, ijinkan aku memberikan rancangan terbaikku buatmu. Karena kamu yang terbaik buat Rilo.”

“Aku...”

“Bri, pakai gaun ini.”

Berlian menoleh ke arah Gracia. Dan sahabatnya itu cuma bisa mengangkat bahu. Tapi akhirnya dilepaskannya juga gaun pengantin mengenaskan itu, dan ia berganti mengenakan gaun pengantin rancangan Ervina.


id.aliexpress.com


Dengan hati-hati Berlian menatap ke arah cermin. Sempurna. Tapi Ervina menggelengkan kepala. Ia menatap Berlian serius.

“Lepaskan dulu, Bri,” ucap Ervina tegas. “Kamu kelihatannya sedikit lebih kurus dari terakhir ketika kamu fitting baju ini. Coba kuperbaiki sebentar.”

Berlian melepaskan kembali gaun itu sementara Ervina mengeluarkan mesin jahit mini dari dalam tas besarnya. Berlian dan Garcia saling melemparkan tatapan masih-tak-mengerti ketika Ervina dengan cepat menjahit sedikit pinggang kanan dan kiri gaun itu.

“Oke, selesai. Pakai, Bri,” Ervina mengulurkan gaun itu.

Berlian kembali mengenakannya dan kali ini semuanya memang benar-benar telah sempurna. Ervina menatap gaun rancangannya yang melekat pada tubuh Berlian itu dengan puas.

“Berapa kami harus membayarnya?”

Ervina tersentak mendengar suara Gracia. Bergantian ia menatap Berlian dan Gracia. Terakhir tatapannya berlabuh pada Berlian.

“Kamu berhutang padaku seumur hidup,” jawab Ervina serius. “Bahagiakan Rilo. Bukan untukku, tapi untuk dirimu sendiri. Janji?”

Berlian mengerjapkan mata. “Kenapa?”

“Karena kamu yang terbaik buatnya,” jawab Ervina tegas..

“Bukan,” Berlian menggelengkan kepalanya. “Maksudku, kenapa kamu melakukan ini?”

Ervina mengangkat bahu, mencoba untuk mengulas senyum. “Bahkan terkadang nenek sihir yang paling jahat sekalipun masih punya hati, Bri.”

Berlian tertegun menatap Ervina. Beberapa detik kemudian ia mengerjapkan mata.

“Terima kasih,” bisiknya.

Ervina mengangguk. “Sama-sama. Kamu mengajarkan banyak hal padaku, tanpa kamu sadari. Berbahagialah bersama Rilo, Bri. Sampaikan salamku buatnya.”


“Kamu nggak menghadiri pernikahan kami?” Berlian mengerutkan kening. “Maaf, kami memang nggak mengundangmu, tapi setidaknya sekarang aku mengundangmu.”

Tapi Ervina menggeleng. “Pesawatku ke Singapura berangkat siang ini, Bri. Lanjut ke Paris. Aku harus belanja untuk kebutuhan studioku. Nggak cukup waktu untuk mengejar keberangkatanku kalau aku harus menghadiri pernikahan kalian. Setidaknya gaun itu sudah mewakiliku. Semoga kalian bahagia.”

Berlian masih tertegun-tegun hingga Ervina menghilang dari kamarnya. Ia kembali menatap cermin. Masih tak mempercayai penglihatannya. Gracia memegang veil bertiara dari Ervina. Dengan cepat ia mengganti tiara yang sudah terlanjur terpasang rapi pada sanggul Briana dan menggantinya dengan tiara yang baru.

Makin sempurna.

Gracia sempat memperbaiki sedikit riasan dan rambut Berlian sebelum menurunkan veil menutupi wajah Berlian. Ia melirik jam dinding dan segera berseru khawatir.

“Kita sudah terlambat 20 menit, Bri! Rilo bisa mencincangku kalau pernikahan kalian berantakan hanya gara-gara aku telat membawamu ke Gereja.”

Berlian mengulum senyum. Sekali lagi ia menatap cermin walau terhalang veil yang menutupi wajahnya. Lo, pengantinmu akan segera datang...

* * * * *

S.E.L.E.S.A.I

10 komentar:

  1. hihihih... seneng ga perlu nunggu sambungannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi... Iya, Ma, bablaaasss... Makasih mampirnya ya...

      Hapus
  2. Weheheh di sini lebih lengkap, langsung bablas abis satu kali tayang :D
    Keknya di sini juga ada tambahan ilustrasi yah tan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul, Mbak... Sempat merubah beberapa kalimat untuk menyesuaikan dengan ilustrasi. Makasih dah mampir, Mbak Putri...

      Hapus
  3. dibaca berkali-kali nggak bosan, nice stori mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak atas kunjungannya, Pak Subur...

      Hapus
  4. Yosh, pulang gawe, buka lappie, nggelar tiker, sama maem nasi pecel, sambil baca novelette TOPBGT.... Nuwus fiksinya mbak.... Bikin capek ama keselku ilang,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nuwus juga mampirnya... Semoga ceritanya nggak mengecewakan...

      Hapus
  5. Nice story mbak Lis. Rasanya senang baca kisah pernikahan, apalagi yg happy ending.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan-jangan bacanya sambil mengenang masa lalu sama nyonya nih, Mas Pical? Hihihi...
      Makasih mampirnya ya...

      Hapus