Selasa, 06 Juni 2017

[Bukan Fiksi] Saya Bangga Jadi Penulis Abal-abal








Hari ini tadi saya ketawa baca sederet kalimat yang intinya : 'penulis sejati itu nggak jual tulisan (jadi nggak apa-apa kalau tulisannya dicopas, dijiplak, dan sejenisnya)'. Hal ini mengingatkan saya pada posisi saya sebagai seorang penulis abal-abal yang masih merasa nggak rela kalau ada faktor peng-copas-an, penjiplakan, dan sejenisnya dari karya tulis saya.

Beberapa hari lalu saya menuliskan ini dalam akun facebook saya :
"Plagiarisme itu dari dulu wilayah abu-abu. Nggak ada rumus pastinya. Katanya sih, semua orang itu adalah pelaku plagiarisme. Plagiarisme atau imitasi? (Kalau imitasi sih dari bayi juga sifat manusia itu mengimitasi, terutama mengimitasi perbuatan dan ajaran orang tuanya - tambahan) (Nah, masalahnya - tambahan juga) Lalu kalau semua orang (dianggap) pernah melakukannya (nya = plagiarisme - tambahan lagi), apakah lantas menjadikan plagiarisme itu sebagai suatu hal yang benar?
Semua hal besar dimulai dari hal kecil. Kejujuran dan etika terkadang disingkirkan hanya karena 'sampul' kebaikan. Toh kebaikan bisa diciptakan tanpa mengabaikan hal yang benar-benar 'benar'. Kebaikan itu action. Dan action bisa dilakukan tanpa 'menipu'.
Perampokan besar-besaran dimulai dari pencurian kecil-kecilan. Korupsi gila-gilaan dimulai dari ngenthit hal-hal remeh. Preman-preman yang keleleran dimulai dari kenakalan sederhana yang terus-terusan dimaklumi.
Lalu inti status ini apa? Ya jelas nggak ada to... Wong cuma iseng karena ditanyain lagi mikir apa sama efbe πŸ˜‹πŸ˜‹πŸ˜‹
Merasa rugi baca status ini? Siapa suruh baca? πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ"

Beberapa hari lalu juga, seorang teman menyatakan bahwa dia tidak rela kalau tulisannya di-copas oleh orang lain. Saya sependapat. Nah, ini tadi, kutipan tulisan di alinea pertama artikel ini saya share ke dia. Kesimpulannya : 'kami ini memang masih dalam golongan penulis abal-abal', karena ya itu tadi, masih ada perasaan nggak rela. Kami ambil kesimpulan itu sambil ngakak.

Menjadi seorang penulis abal-abal membuat saya jadi berhati-hati dalam menulis. Prinsip saya, BERUSAHA TETAP JUJUR dan JAGA INTEGRITAS. Kalau terinspirasi, ya dari awal harus bilang terinspirasi. Kalau mau ambil referensi yang berhubungan dengan hal yang nggak boleh sembarangan (misalnya : dogma agama tertentu, ilmu pengetahuan, hukum-hukum khusus, dll.) sebaiknya juga mencantumkan sumbernya atau keterangan tambahan di catatan kaki. Walaupun itu cuma bentuk suatu fiksi, bukan karya ilmiah dan sejenisnya. Meskipun nggak mutu, asal jangan ngawur nemen-nemen lah... Wes abal-abal, nggak mutu, ngawur pula! Apa kata dunia? Lak amsiooong? 😝

Menjadi seorang penulis abal-abal membuat saya selalu merasa kemampuan saya masih kurang banyak banget. Di bawah standar. Makanya saya nggak pernah menganggap fiksi yang saya hasilkan itu bagus, karena 'bagus' itu relatif. Bagus menurut saya belum tentu bagus menurut orang lain. Kalau saya masih tetap ngotot, menganggap fiksi saya bagus, tapi nyatanya cuma njlΓͺkethek, lha lak amsiooong dobel? Yang saya bisa lakukan ya cuma berusaha menulis sebaik-baiknya semampu saya. Yang menilai hasil akhirnya ya orang lain.

Menjadi seorang penulis abal-abal membuat saya jadi menghargai sebuah proses menulis. Bagaimana ide di dalam pikiran dipadukan dengan imajinasi dan informasi, kemudian diwujudkan jadi sebuah karya fiksi. Saya pikir, penulis lain pun menjalani proses yang sama, melakukan hal yang sama, menemukan kesulitan yang sama, mengalami kemudahan yang sama, walaupun kadarmya bisa berbeda, jadi saya harus menghormati karya orang lain. Bagaimana caranya? DENGAN JUJUR mengatakan di awal kalau misalnya fiksi yang saya tulis itu terinspirasi dari sesuatu (ada salah satu cerpen saya di sini yang terinspirasi dari kisah di Chicken Soup for the Soul. Saya tuliskan di awal soal terinspirasi itu), atau TIDAK MELAKUKAN PLAGIARISME, atau setidaknya MENCANTUMKAN NAMA PENULIS AWAL tulisan yang menginspirasi itu. Bagi saya, itulah beberapa cara untuk menghormati penulis lain. Kalau cuma berupa ide, biarpun bagi saya tetep saja sesuatu yang mahal, output-nya bisa lain. Tapi kalau saya (entah orang lain), apabila saya akan menggarap ide dari orang lain, saya akan minta izin dulu, diizinkan, baru menggarap. Nggak terbolak-balik prosesnya. Atau disuruh nggarap sama yang punya ide, kalau saya klik, ya saya garap. Dengan mencantumkan nama si pemilik ide tentu saja (kecuali bila yang bersangkutan memang nggak mau disebut). Bagi saya, itu adalah salah satu cara untuk menghormati orang/penulis lain. Menempatkan sebuah karya pada posisi yang tepat untuk dihargai. 

Menjadi penulis abal-abal membuat saya jadi ingat untuk selalu belajar. Karena belajar itu berjalan seumur hidup, nggak ada batasan usia. Apalagi saya punya anak remaja yang masih harus disetir terus perkara dogma kejujuran, etis atau tidak, sopan atau tidak, pantas atau tidak, baik atau tidak. Kalau saya sebagai emak / orang tua punya etika dan kesopanan yang terjun bebas, lha gimana anak saya nanti?

Sekali lagi, plagiarisme adalah wilayah abu-abu. Batas hitam-putihnya nggak jelas, nggak kayak motif kulit zebra. Seseorang berpendapat bahwa 'bila A, maka itu sudah tergolong plagiarisme', sementara orang lain berpendapat 'tidak harus A, tapi B'. Nggak ada rumus pastinya. Yang pasti bila dirunut dari sejarahnya, gimana bisa muncul suatu hal dianggap sebagai  'pencurian terhadap sebagian atau seluruhnya dari karya orang lain', maka akan bisa terbaca konteksnya.

Saya lupa siapa yang bilang (maaf, ini bukan pendapat pribadi, tapi saya setuju sepenuhnya), bahwa 'yang membatasi plagiarisme itu cuma etika pribadi'. Bagaimana kita sebagai seorang manusia yang dikaruniai akal budi seharusnya bisa menggunakan akal budi itu untuk berpikir tentang hal yang etis dan tidak, bisa memisahkan antara yang benar dan tidak, bisa membudayakan hal jujur tanpa kebanyakan ngeles macem-macem kalau salah, bisa konsekuen dengan prinsip sendiri. Jika ada keraguan, mendingan TIDAK MELAKUKANNYA, bukannya malah mencari dalil-dalil pembenaran demi keuntungan pribadi. Begitu, kan? Itu yang membuat derajat manusia berbeda dengan jenis makhluk hidup lain (binatang dan tumbuhan).

Jadi kesimpulannya dari tulisan yang blas nggak jelas arahnya ini apa? Nah, ini! Saya cuma mau bilang : SAYA BANGGA JADI PENULIS ABAL-ABAL. Kalaupun karya penulis abal-abal ini sampai dicopas, dijiplak, dikerjain seenaknya, apa pelakunya nggak rugi? Wong nyontek kok tulisan abal-abal? Penulisnya nggak ridho pula. Sana, nyontek saja ke penulis sejati yang nggak keberatan karyanya 'dikerjain' orang lain, yang nggak menjual tulisanya. Barangkali memang nulisnya nggak pakai mikir, makanya diobral. Kalau saya sih, berhubung cuma abal-abal, mikirnya pasti lamaaa walaupun hasilnya cuma njlΓͺkethek dan saya nggak gratisan lho ng-upload di blog. Wong saya juga keluar modal kuota internet yang saya pakai buat ng-upload. Saya mbayar beli kuota-nya, nggak gratis, nggak nyolong. Yang baca juga pada mbayar kuota internet juga to? Saya jual (pakai modal), Anda beli (dengan membacanya).

Bila plagiarisme, nyontek, ngopas, njiplak, itu (katanya) pernah dilakukan oleh SEMUA orang, lantas apakah perbuatan itu jadi sesuatu yang harus dimaklumi dan dianggap 'benar'? Jawabannya tergantung dari prinsip etika yang dianut. Bagi saya, itu TETAPLAH BUKAN sesuatu yang bisa dibenarkan atau dimaklumi, apapun tujuannya.



Terima kasih kepada salah seorang teman mengobrol bisu yang jadi inspirasi artikel ini. 😊

Ilustrasi : www.pixabay.com

24 komentar:

  1. Balasan
    1. Makasih singgahnya, Mbak Maria Kristi... 😊

      Hapus
  2. Waiki! Mantep es! Super!
    Kape moco cerbung male batal. Mampir gek kene sek.
    Btw cerbungmu rodok abot seng iki nyah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awakmu nek komen nggenah ngene malah medeni, Nyut πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

      πŸ™ŒπŸ™ŒπŸ™Œ

      Hapus
    2. Papae Quin meneh6 Juni 2017 14.24

      Wkkkkkkkkkk biasae mbae sarap se yo

      Hapus
    3. Kenyut lek genah ngene biasane ndak suwe nduwe bayi neh haha..

      Hapus
    4. Papae Quin meneh6 Juni 2017 14.52

      Es dibumpeti Aaaaaal!!! Wkkkkkkkkk
      Ga'e iki artikel serius awak dewe komen mblebes ngene Al. Disatru seng duwe blog ngkok! Wkkkkkkk

      Hapus
    5. Ndak po2. Palingo sedilut mane diusir haha.. Siap2 Nyut! πŸ˜ƒ

      Hapus
    6. Penakno nek mertamu rek... Aku tak'nyingkrih ae... 😝😝😝

      Hapus
    7. Papae Quin meneh6 Juni 2017 15.09

      Ngusir kambek metu sungue wkkkkkkk

      Hapus
    8. Papae Quin meneh6 Juni 2017 15.12

      Lo ya sunguen temen wkkkkkkkk
      Moleh moleh

      Hapus
    9. Gemblung! πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜†

      Hapus
  3. Kalau saya sih lebih suka bala-bala daripada abal-abal. Uenak....πŸ˜€πŸ˜€

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga mau, Pak Boyke... 😁😁😁

      Hapus
  4. Abal2 sing penting Teopebegeteh..

    BalasHapus
  5. Aq setuju kambek komene mbak Thong Leeann.
    Pokoe pean jempol mb Lis.

    BalasHapus
  6. Kalau versi pelajar kayak saya itu rasanya sama seperti dicontekin diam-diam saat ulangan kali, ya?

    BalasHapus