Friday, November 25, 2016

[Cerbung] Déjà Vécu #6-2









* * *


Senin pagi-pagi sekali, beberapa belas menit sebelum pukul enam, Arinka sudah muncul di depan rumah Letta. Tersenyum manis ketika Letta membuka pintu. Letta sempat ternganga.

“Kamu ngelindur? Dini hari begini sudah nongol?” Letta membuka pintu rumahnya lebar-lebar.

“Dini hari?” Arinka melangkah masuk sambil tertawa ringan. “Sudah jam berapa ini, Bu Guru?”

Letta nyengir sambil mengangkat bahu. Arinka langsung duduk manis di depan meja makan. Letta membuat secangkir teh untuk Arinka.

“Itu di depan, mobil siapa?” telunjuk Arinka menunjuk ke arah depan rumah.

“Mobilku lah...,” Letta nyengir. “Punya Mbak Martia. Kubeli kemarin.”

“Wuidiiih...,” Arinka mengacungkan jempol.

Ia kemudian mengambil selembar roti tawar dan mengoleskan pasta coklat di atasnya. Berterima kasih dengan manis ketika Letta menyodorkan secangkir teh hangat.

“Buruan telepon Mas Lean,” ucap Arinka sambil mengunyah rotinya. “Bilang, pagi ini nggak usah antar jemput kamu.”

“Memang dua-tiga hari ini absen dulu mengantar jemput aku,” Letta duduk di depan Arinka. “Ada urusan bisnis di Serpong.”

“Oh...,” Arinka manggut-manggut.

“Memangnya kamu kerasukan jin mana, sampai sempat-sempatnya menjemputku pagi-pagi begini?”

Arinka meringis. “I need you.”

“Sudah kuduga,” dengus Letta.

“Hehehe... Please, nanti siang temani aku ketemuan lagi dengan Mas Dika.”

“Memangnya sendirian nggak berani?” Letta menyipitkan sebelah mata.

“Masih kurang nyaman saja, Let,” jawab Arinka. Serius. “Dia terlalu profesional sikapnya.”

Letta terbengong sejenak.

“Lho, hubungan kalian memang profesional, kan?” ucapnya setelah tersadar.

“Iya,” Arinka mengangguk. “Tapi nggak harus sekaku itu juga, ‘kali...”

“Ah, nanti kalau sudah kenal juga nggak sekaku itu, kok, dia...”

Arinka menghentikan kunyahannya. Ditatapnya Letta baik-baik. “Yakin?”

Letta mengangkat bahu dengan ringan.

“Tapi aku tetap butuh kamu,” Arinka berlagak keras kepala. “Dan sekarang sudah jam berapa, Bu Guru?” Arinka melihat ke arah arlojinya. “Ayo, berangkat! Nanti kamu bisa telat.”

* * *

Leander mengerjapkan mata ketika merasa tidurnya terusik. Telinganya menangkap suara tirai jendela yang dibuka pelan-pelan.

“Jam berapa ini?” erangnya.

“Hampir setengah tujuh,” jawab Serena.

“Ludy sudah berangkat?”

“Belum, sebentar lagi.”

Leander menguap. Pelan-pelan ia bangun dan duduk. Perutnya masih terasa sedikit begah dan kembung. Ulu hatinya juga masih sedikit nyeri. Tapi sudah jauh lebih baik daripada kemarin. Badannya juga terasa jauh lebih segar. Semalam ia bisa tidur cukup pulas. Serena mematikan pendingin ruangan dan membuka jendela lebar-lebar.

“Mendingan?” Serena duduk di tepi ranjang.

Leander mengangguk.

“Minum obat dulu, Mas,” Serena meraih blister-blister obat di atas nakas. Dengan cekatan, tangannya menyiapkan 3 macam obat untuk Leander. “Setelah itu mandi. Terus sarapan.”

Dengan patuh Leander meminum obat-obat itu dengan bantuan segelas air putih.

“Pusing?” tanya Serena sambil berdiri.

“Enggak,” Leander menggeleng.

Wajah Serena terlihat lega. Ia kemudian berjalan menuju ke pintu kamar. Ketika tangannya sudah meraih pegangan pintu, ia menoleh pada Leander.

“Sarapan Mas Lean sudah siap. Nanti biar kusuruh Bik Utin bawa ke sini. Aku pulang sebentar. Nanti aku ke sini lagi.”

Leander mengacungkan jempolnya.

“Eh, Ren...”

“Ya?” Serena berbalik.

“Kamu jangan terlalu capek.”

Serena tertawa ringan. “Tenang saja,” ia mengibaskan tangan, kemudian menghilang di balik pintu.

                                                                 * * *

“Mungkin memang sebaiknya kalian cepat menikah,” ucap Meiske sambil menyodorkan sepiring kecil potongan buah melon pada Leander, seusai Leander makan siang. “Supaya kamu ada yang mengurusi. Supaya hidupmu lebih teratur.”

“Masih banyak yang harus disiapkan, Mam,” Leander berusaha mengelak secara halus.

Tapi sejujurnya ia tak begitu berbohong dengan pernyataan itu. Ia dan Letta memang sudah sepakat untuk menjalani dulu kehidupan mereka seperti apa adanya walaupun sudah lebih dari dua tahun saling mengenal dan enam bulan bertunangan. Keduanya tahu masih banyak yang harus dikompromikan sebelum benar-benar berkomitmen untuk hidup bersama dalam sebuah ikatan pernikahan yang sah.

“Haish! Menunggu apa lagi, sih?” gerutu Meiske.

Leander hanya tersenyum mendengarnya. Percuma berkelit dan berkilah dalam situasi seperti ini. Because Mom is always right.

“Mam, makan siang dulu,” kepala Serena menyembul dari sela pintu yang terbuka. “Sudah ditunggu Papap, tuh!”

Meiske bangkit dari duduknya di tepi ranjang Leander. Sebelum melangkah pergi, ditatapnya Leander.

“Habiskan melonnya,” ucap Meiske tegas. “Dan ingat, ya, pembicaraan soal itu belum selesai.”

Leander meringis. Serena yang sudah masuk ke dalam kamar dengan lembut meremas bahu Meiske.

“Mam, tolonglah, jangan tambahi stress Mas Lean. Nanti asam lambungnya naik lagi. Nggak sembuh-sembuh, dia...”

“Hm...,” Meiske mencebikkan bibir sambil keluar dari kamar.

You’re my angel!” bibir Leander komat-kamit tanpa suara.

Serena yang menangkap maksud sang abang kontan mengerucutkan bibir. Dijangkaunya pegangan pintu sambil menggoyangkan sedikit bokongnya. Leander tersenyum lebar melihat tingkah lucu adiknya itu.

Menjelang siang tadi, ayah-ibunya datang tanpa diduga. Serena sudah bersumpah bahwa ia tidak membocorkan berita sakitnya sang abang pada siapa pun. Ternyata, pagi-pagi tadi ketika Serena sedang mengurusi Leander, Meiske menelepon ke ponsel Serena. Ponsel itu ditinggalkan Serena di rumah. Ludy mengangkatnya dan kelepasan bicara. Mengatakan bahwa Serena sedang di rumah Leander karena Leander sakit.

Alex dan Meiske, orang tua Leander dan Serena, memang sudah beberapa tahun ini tinggal di Sentul. Mencari suasana yang lebih nyaman dan tenang untuk menghabiskan hari tua bersama. Membiarkan Leander dan Serena hidup mandiri di rumah masing-masing.

Tapi sebawel apa pun Meiske, Letta tetaplah calon menantu yang sangat disayanginya. Perempuan berusia hampir 55 tahun yang masih kelihatan sangat cantik itu menyipitkan mata ketika Serena mengatakan bahwa Letta belum tahu Leander sakit.

“Dia harus tahu, Ren,” tegurnya halus, sambil menikmati makan siang. “Bukan untuk merepotkan atau membuatnya khawatir. Sekarang coba pikir, kalau kamu ada di posisi Letta. Ludy sakit, dan kamu tidak diberi tahu. Bagaimana perasaanmu?”

Serena tercenung mendengar teguran ibunya. Dalam hati, ia menyetujui pemikiran Meiske itu. Maka seusai makan siang, ia memutuskan untuk mengirim pesan melalui Whatsapp pada Letta. Dan ia memaklumi seutuhnya ketika pesan itu tidak juga terbalas, karena sekolah tempat Letta mengajar baru bubar pada pukul dua siang. Dan sebelum bel pulang berbunyi, Letta tak pernah mengaktifkan suara ponselnya.

“Sudah, Mam,” senyumnya.

Meiske mengangguk puas.

“Sekarang kamu pulang, istirahat,” ujar Meiske kemudian, tegas. “Biar Mamam yang jagain masmu. Papap juga istirahat,” Meiske menoleh ke arah Alex.

“Ayo, Pap,” Serena menggamit lengan Alex. “Istirahat di rumahku saja.”

“Ya,” Alex mengangguk sambil tersenyum lebar. “Sekalian Papap jagain kamu biar nggak pecicilan melulu.”

Bibir Serena seketika mengerucut mendengar godaan ayahnya.

* * *

Arinka sudah ada di dekat gerbang ketika Letta muncul. Tak butuh waktu lama, Arinka sudah meluncurkan mobilnya di sepanjang jalan yang mulai disiram hujan rintik.

“Jadwal lesmu mulai jam berapa, Let?’

“Oh, sore nanti libur. Anak-anak lesku minta dipindah besok karena hari ini tadi mereka ada jadwal berenang. Pulangnya agak sore,” jawab Letta sambil memeriksa ponselnya.

Ketika membaca pesan-pesan yang masuk, Letta tertegak dengan wajah kaget. Ia membaca sebuah pesan sekali lagi dan sekali lagi. Pesan dari Serena.

‘Maaf, Mbak Letta, bukan maksudku mau ganggu. Aku cuma mau kasih kabar kalau Mas Leander lagi tepar. Tapi hari ini sudah mendingan. Sama Mas Ludy dipaksa suruh bed rest sampai besok. Makasih...’

Astaga...

Letta menutup mulutnya. Ia menoleh cepat ke arah Arinka.

“Rin, maaf, aku nggak bisa temenin kamu, ya? Turunkan saja aku di depan situ. Aku naik taksi saja.”

“Lho? Hei! Hei! Let? Kenapa, Let?”

“Mas Lean sakit. Ini baru saja aku baca pesan dari adiknya.”

“Oh... Ya, sudah, aku antar kamu dulu,” putus Arinka.

“Tapi nanti kamu telat, Rin,” cegah Letta.

“Enggak,” tukas Arinka tegas. “Rumah Mas Lean sama kantor Mas Dika, kan, sejurusan. Nggak jauh juga jaraknya. Sudah, jangan protes lagi.”

Letta pun terpaksa diam. Ia menuruti ucapan Arinka. Membiarkan Arinka mengantarnya ke rumah Leander. Ketika ia mencoba menelepon laki-laki itu, usahanya gagal. Kelihatannya ponsel Leander sengaja dimatikan. Mungkin agar istirahatnya tidak terganggu.

* * *

Senyum hangat Meiske menyambut Letta. Dipeluknya Letta, sekaligus mendaratkan kecupan di kening gadis itu.

“Mamam sendirian?” Letta kemudian menggenggam tangan Meiske.

“Enggak...,” Meiske menggeleng. “Sama Papap. Tapi Papap lagi istirahat di rumah Rena. Kamu sehat? Baru pulang mengajar? Naik taksi ke sini?”

Letta tersenyum mendengar pertanyaan beruntun dari Meiske. Dijawabnya pertanyaan itu satu-satu dengan sabar.

“Iya, Mam, Letta sehat. Bubaran sekolah terus ke sini. Tadi diantar Arinka, teman Letta. Sebetulnya Arinka minta ditemani Letta untuk ketemuan sama rekan bisnisnya. Tapi keburu Letta baca pesan dari Rena. Makanya sama Arinka langsung diantar ke sini.”

“Oh... Di kamar Lean masih ada Mahmud,” Meiske menggamit lengan Letta. Mengajaknya ke ruang tengah. “Sengaja dipanggil ke sini, disuruh ngurusin proyek yang di Serpong itu. Eh, kamu sudah makan?”

Letta cepat-cepat mengangguk. Ia memang selalu menyempatkan diri makan siang saat jam istirahat kedua atau di sela-sela waktu mengajarnya. Meiske dan Letta kemudian mengobrol sambil menunggu urusan Leander dan Mahmud selesai.

“Maafkan Letta, Mam. Letta kurang perhatian sama Mas Lean,” sesal Letta dengan mata mengaca. “Sampai Mas Lean sakit begitu.”

“Enggaklah, Let...,” Meiske menepuk lembut punggung tangan Letta. “Seumuran Leander juga seharusnya bisa bertanggung jawab jaga kesehatan diri sendiri. Lagipula, mungkin memang sudah waktunya Lean turun mesin sejenak.”

Letta tersenyum mendengar istilah aneh Meiske.

“Mamam nggak istirahat dulu?”

Meiske sejenak menatap jam dinding. Beberapa belas menit sebelum pukul tiga siang. Sejujurnya, ia memang agak mengantuk. Ia kemudian mengangguk.

“Ya, sudah,” Meiske kemudian berdiri. “Mamam ke rumah Rena dulu, ya? Lumayan istirahat barang sejam.”

“Iya, Mam,” angguk Letta.

“Oh, ya, nanti jam 4, tolong, jangan lupa kasih Lean puding labu kuning. Ada di kulkas. Kamu juga ambil saja kalau mau.”

“Baik, Mam,” Letta mengangguk sekali lagi.

Sepeninggal Meiske, Letta duduk menunggu dengan sabar. Hatinya terasa sedikit lega karena kedengarannya Leander tidak apa-apa. Pelan, dihelanya napas panjang.

* * *

Selanjutnya

Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)

Silakan berkunjung juga ke tayangan selingan cerpen fantasi sebelum tayangan ini :


Empat Purnama Di Atas Catana

6 comments: