Monday, November 21, 2016

[Cerbung] Déjà Vécu #5-1










* * *


Lima


Letta membenahi mejanya begitu English Club berakhir. Setelah memberi salam, anak-anak berebutan keluar dari kelas. Ketika ia sampai di dekat gerbang, anak-anak 8D sudah berkumpul di sana. Siap untuk melanjutkan hari dengan berlatih drama di sanggar Mala.

Kejadian seperti minggu lalu terulang lagi. Mereka berjalan berombongan di sepanjang trotoar sambil saling melontarkan canda. Bedanya, kali ini tidak ada Leander yang menyusul dengan membawakan makanan dan minuman untuk mereka. Laki-laki itu sudah berpamitan pada Letta untuk menghadiri reuni dengan teman-teman SMP-nya.

Tapi Leander tidak melupakan ‘kewajibannya’. Ia sudah berpesan pada adiknya untuk mengantarkan makanan dan minuman anak-anak langsung ke sanggar. Sang adik menyanggupi. Dan dos-dos berisi makanan dan minuman itu sudah ada di gazebo ketika rombongan mereka datang. Dijaga oleh Kana dan...
               
Astaga... Dia lagi...

Letta langsung mengeluh dalam hati ketika melihat laki-laki itu tengah duduk di gazebo. Tampak serius menghadapi laptopnya. Sambil sesekali berbicara dengan Kana yang duduk berselonjor sambil membaca sebuah buku.

Mereka terpaksa saling menyapa, dan Letta kemudian menyibukkan diri bersama murid-muridnya di pendopo kecil yang terjauh dari gazebo. Beberapa menit kemudian, ia mencolek Mala.

“La, apa nggak sebaiknya makanan dan minumannya dipindah ke sini?” ucap Letta. “Biar nggak mengganggu Om dan adikmu.”

“Hm... Gitu, ya, Bu?”

“Iya. Biar kalau mereka mau masuk, nggak ketanggungan harus nungguin makanan dan minuman kita. Oh, ya, jangan lupa Om sama adikmu dikasih dulu. Buat Eyang juga disisihkan. Pasti lebih, kok, jumlahnya.”

“Baik, Bu.”

Mala beranjak sambil mencoleki beberapa teman laki-lakinya. Letta mengawasi kepergian murid-muridnya itu. Ia kemudian melihat Mala bicara pada Dika, mengambil makanan-minuman untuk Dika dan Kana, menyisihkan dua paket lagi, dan bersama teman-temannya mengangkat dos-dos itu untuk dibawa ke pendopo kecil.

Tepat saat itu tatapan mereka bersirobok. Letta tak sempat menghindar. Dika mengangkat kotak makanan dan jus buah. Letta bisa membaca gerak bibir Dika yang mengucapkan terima kasih. Ia menanggapinya dengan senyum tipis dan anggukan kepala. Kemudian ia berusaha keras sepanjang latihan itu agar pikirannya fokus. Tidak terbelah oleh keinginan untuk menoleh ke arah ‘sana’.

Dan Letta menghela napas lega ketika latihan itu usai. Ia tersenyum melihat betapa ‘anak-anak’-nya dengan senang hati membersihkan kembali pendopo kecil itu. Setelah semuanya rapi, satu demi satu anak-anak itu berpamitan. Ada yang berombongan kembali ke sekolah untuk naik angkot dari depan sekolah. Ada yang sudah dijemput langsung di sanggar.

Letta sendiri bersiap-siap untuk memesan taksi online. Mendung kelabu pekat sudah kelihatan menggantung begitu rendah. Seolah siap menumpahkan muatannya.

“Pak Lean nggak jemput, Bu?” celetuk Mala.

“Enggak,” Letta tersenyum sambil menggeleng. “Dia lagi ada acara reuni sama teman-temannya.”

“Oh...”

“Bu...”

Letta menoleh mendengar suara lembut itu. Sarita. Terpaksa sekali lagi ia membatalkan jemarinya menekan tombol konfirmasi.

“Ya, Bu?” ia menyahuti panggilan Sarita dengan sopan.

“Belum dijemput? Ayo, menunggu di dalam saja.”

“Oh... Memang nggak dijemput, kok, Bu,” senyum Letta. “Ini saya mau pesan taksi online.”

“Lho... Ndak usah pesan taksi, Bu!” cegah Sarita seketika. “Biar diantar omnya Mala saja.”

“Wah, nggak usah, Bu,” Letta buru-buru menolak. “Malah merepotkan saja.”

“Ndak merepotkan...,” bantah Sarita. “Tapi sebelum diantar pulang, ayo, kita makan siang dulu. Sudah saya siapkan. Ayo!”

Ada nada dan tatapan yang membuat Letta tak menemukan alasan yang tepat untuk kembali menolak. Maka, ia pasrah saja ketika Mala meraih tangannya, kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah utama.

* * *

Gempa itu kian kuat melanda hati Dika ketika melihat betapa sabarnya Letta menanggapi celotehan Kana dan Mala, terutama Kana. Gadis kecil itu tampak lebih cerewet daripada biasanya. Membuat acara makan siang mereka makin meriah.

“Kana kalau sudah buka mulut, hadeeeh... susah berhentinya,” Handoyo tertawa melihat kelakuan cucu terkecilnya itu.

“Keponakan saya juga begitu, Pak,” Letta tersenyum lebar.

“Vanda, ya, Bu?” Kana menyahut. “Sohib aku, tuh!”

“Jiaaah... Sohiiib...,” Mala meledek.

Semua tergelak karenanya.

Sesaat Letta seperti terseret pada sesuatu yang tak asing. Atmosfer itu serasa melingkupinya lagi. Bahwa ia sudah pernah ada di dalamnya. Bahwa akan ada yang istimewa setelah acara makan siang yang seperti ini.

Puding coklat koktail buah...

Tiba-tiba saja pikiran itu melintas dalam benaknya. Begitu saja. Dan ia sempat terperangah ketika seorang asisten rumah tangga datang membawa nampan berisi sebuah puding coklat dan semangkuk koktail buah. Keduanya dalam ukuran besar. Juga beberapa mangkuk kecil.

Puding coklat koktail buah?

Letta tercenung menatapnya. Dengan sebuah aliran dingin tiba-tiba saja terasa di sepanjang tulang belakangnya.

* * *

Diam-diam Sarita tercekat menatap ekspresi Letta ketika menyantap puding coklat koktail buah itu. Entah kenapa hatinya serasa diremas-remas hebat. Nyeri. Di bawah meja, tangannya bergerak mencari tangan Handoyo. Ketika tangan itu ditemukannya, sebuah genggaman erat menyambutnya.

Handoyo sendiri terseret suasana yang sama. Ia bisa merasakan getar halus pada tangan Sarita. Setelah menghela napas panjang, ia melepaskan tangan Sarita, dan kembali menumpukan tangannya di atas meja.

“Ngomong-ngomong, Bu Letta lahir dan besar di sini?” Handoyo memberanikan diri bertanya. Dengan nada sangat halus. “Di Jakarta?”

“Oh...,” Letta menggelengkan kepalanya. “Saya lahir dan besar di Surabaya, Pak. Baru ketika lulus SMP pindah ke sini. Ikut satu-satunya abang saya, Mas Dri. Waktu saya kelas 3 SMP, Papa dan Mama kami mengalami kecelakaan pesawat. Jatuh di selat Karimata. Jalur Surabaya-Singapura. Sampai sekarang puing dan jenazahnya tak pernah ketemu. Saya bertahan di Surabaya sampai lulus SMP. Kemudian Mas Dri membawa saya ke sini, karena kami cuma berdua saja. Waktu itu Mas Dri sudah bekerja. Dia membiayai hidup dan kuliah saya. Mengelola uang asuransi kami. Membelikan saya rumah. Buka usaha. Yah...,” Letta mengangkat bahu, “... begitulah.”

Handoyo menatap Letta dengan penuh simpati. Begitu juga Sarita.

“Kami paham rasanya,” gumam Handoyo. “Kami juga pernah mengalami kehilangan besar. Anak bungsu kami, adik Dika, hilang menjelang ulang tahun ketiganya.”

“Hilang?” Letta mengerutkan kening.

“Ya,” Sarita mengangguk. Mencoba untuk tersenyum. “Dibawa lari salah seorang asisten rumah tangga kami. Kami sudah berusaha mencarinya. Tapi...,” Sarita mengangkat bahu, “... sampai detik ini nihil. Hanya saja perasaan saya mengatakan, bahwa dia masih ada. Dia baik-baik saja. Entahlah,” Sarita menggelengkan kepala. “Saya berharap perasaan saya benar.”

Letta terdiam. Ia sungguh-sungguh tak tahu harus mengucapkan apa.

* * *

“Namanya Kara,” celetuk Dika tiba-tiba sambil mengemudikan mobilnya. Meluncur menembus derasnya hujan. Memecah keheningan.

“Maaf?” Letta menengok ke kanan.

Dika menoleh sekilas. “Adikku. Namanya Kara. Dan sejujurnya, aku pun punya perasaan sama seperti Ibu, bahwa dia masih ada. Entah di mana.”

“Oh...”

Lalu hening lagi. Hingga Dika menghentikan mobilnya tepat di depan pagar rumah mungil Letta. Ketika Dika mengantarnya hingga ke teras di bawah lindungan sebuah payung lebar, Letta menawarinya untuk masuk sejenak. Tapi Dika menggeleng. Ia langsung berpamitan. Meninggalkan Letta yang masih termangu di teras.

Kara?

Tiba-tiba saja Letta tersentak. Nama itu benar-benar terasa tak asing baginya.

Kara... Mungkinkah?

Letta makin terhenyak.

Apakah...

Letta buru-buru mencari ponsel di dalam tasnya. Dikirimkannya sebuah pesan pada Leander. Setelah itu barulah ia mengatur napasnya. Pelan-pelan ia menyandarkan punggungnya. Masih duduk termangu di teras. Menatap tempias air hujan yang begitu rapat tercurah dari langit.

* * *

Leander berlari kecil ke arah mobilnya di bawah siraman hujan rintik. Sudah hampir pukul tiga siang ketika Leander dan teman-temannya menyudahi acara mereka. Sebelum menghidupkan mesin mobil, Leander memeriksa ponselnya. Ada beberapa pesan yang masuk. Salah satunya dari Letta. Itulah yang paling menarik perhatiannya.

‘Mas, kalau acaranya sudah selesai, bisa mampir sebentar ke rumahku, nggak?’

Ia merasa tak perlu membalas pesan itu. Melainkan langsung meluncur saja ke rumah Letta setelah menelepon anak buahnya di bengkel, memberitahu sore nanti ia tak akan mampir ke bengkel lagi. Sebelum sampai ke rumah Letta, Leander sempat mampir ke sebuah kedai penjual martabak. Dipilihnya martabak manis nutella-keju kesukaan Letta.

Dan gadis itu ditemukannya tengah terlelap di atas sofa teras. Masih mengenakan busana yang dipakainya tadi pagi. Dari arah depan rumah, Letta memang tidak begitu kelihatan. Keberadaannya tersamarkan karena teras itu tertutup partisi terbuat dari kayu setinggi sekitar satu meter, yang disusun membentuk kotak-kotak berkisi. Bagian atasnya dihasi deretan pot berisi tanaman silver hair yang susunan daunnya menjuntai ke bawah.

Pelan-pelan, Leander mendekati Letta. Dengan lembut, dicobanya untuk membangunkan gadis itu.

“Let...,” sehalus mungkin ditepuk-tepuknya pipi Letta. “Letta, bangun, sayang. Let...”

Letta yang merasa terusik pelan-pelan membuka matanya. Sempat tergeragap ketika mendapati ia berada di mana, dan siapa yang membangunkannya. Buru-buru ia mengubah posisi. Kini ia duduk sambil mengerjapkan mata beberapa kali. Setelah kesadarannya pulih, barulah matanya terfokus pada Leander. Laki-laki itu tersenyum menatapnya.

“Kamu capek banget, ya?” ada bersit kekhawatiran dalam mata Leander.

Letta buru-buru menggeleng sambil meringis. “Hujan, bawaannya jadi mengantuk.”

Leander menarik napas lega mendengar jawaban Letta, dan menyambungnya dengan tawa ringan. Ia kemudian berdiri. Bermaksud mengambil minuman di dalam. Tapi pintu rumah Letta masih terkunci rapat.

“Let?” ia menoleh, menatap Letta, sedikit mengerutkan kening.

“Eh, iya,” Letta kembali meringis sambil mengaduk tasnya. “Aku tadi belum masuk.”

“Astaga...,” gumam Leander sambil menggelengkan kepala.

Letta segera membuka pintu rumah begitu kuncinya ketemu. Dengan cepat ia melangkah ke dapur dan membuat dua gelas besar teh hangat beraroma blackcurrant. Leander pun mengeluarkan kotak martabak dari dalam kantong plastik dan meletakkannya di atas meja makan.

“Baunya...,” Letta membaui aroma martabak manis itu sambil meletakkan gelas teh di dekat kotak martabak. “Mas, aku sekalian mandi dulu, ya?”

“Oke!” senyum Leander.

Beberapa menit kemudian Letta sudah muncul kembali dengan wajah segar. Ia tampak menarik dalam balutan kaos oblong longgar berwarna oranye yang dipadu dengan celana kapri coklat gelap. Rambut sepunggungnya diikat tinggi-tinggi sehingga leher jenjangnya terlihat jelas. Wajahnya polos tanpa make-up. Bahkan tanpa bedak. Tapi tetap terlihat cantik.

“Gimana tadi reuninya, Mas?” tanya Letta sambil mencomot sepotong martabak.

“Seru!” senyum Leander melebar. “Banyak yang nggak percaya aku sudah nggak begajulan lagi.”

Letta tertawa lepas mendengarnya. Mereka kemudian mengobrol tentang banyak hal, hingga tiba-tiba saja Letta teringat pada tujuannya mengirim pesan pada Leander tadi.

“Mas...,” suaranya terdengar begitu hati-hati dan mengandung keraguan. “Boleh aku tanya?”

“Ya?” Leander meneguk tehnya.

“Aku nggak bermaksud menguak luka lama, cuma...,” Letta mengerjapkan mata. “Asal usul Kara itu, bagaimana sebenarnya?”

Leander sempat menatap Letta. Dalam. Lama. Sampai akhirnya ia menjawab pertanyaan Letta dengan balik bertanya.

“Kenapa tiba-tiba saja kamu ingin tahu?”

Letta tercenung sejenak.

* * *

Pada suatu pagi, Kara ditemukan di depan pintu gerbang panti asuhan Sinar Kasih oleh salah seorang pengurus panti yang baru datang. Kondisinya menyedihkan. Kurus, kotor, sakit, dan tergeletak begitu saja hanya beralaskan kain kumal, dengan selembar kertas lusuh bertuliskan “Kara” diselipkan di belakang kepalanya.

Pengurus panti segera melarikannya ke rumah sakit. Dokter memperkirakan usianya sudah hampir empat tahun walaupun fisiknya lebih mirip anak yang berusia tiga tahun karena menderita kurang gizi. Ia sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit. Dan pelan-pelan ia mulai pulih dalam perawatan para pengurus panti.

Selanjutnya ia hidup di panti. Bersekolah atas bantuan para donatur hingga menyelesaikan SMA-nya. Kemudian ia bekerja membantu salah seorang donatur yang memiliki kantin di kampus tempat Leander kuliah.

Wajahnya yang polos dan cantik alami menjadi bahan godaan sempurna para mahasiswa jurusan teknik mesin yang 95% laki-laki. Meskipun begitu, tak ada yang bisa meruntuhkan hatinya, kecuali Leander. Walaupun untuk mencapai ‘prestasi’ itu bukanlah hal yang mudah bagi Leander.

“Kalau masih ada, kira-kira dia seumuranmu, Let,” gumam Leander dengan wajah diliputi mendung. Ditatapnya Letta dengan mata mengaca. “Aku sudah menceritakan apa yang kutahu tentang Kara. Sekarang, katakan padaku, kenapa kamu ingin tahu?”

Letta mengerjapkan matanya yang basah. Lalu ia menceritakan apa yang diketahuinya dari Sarita, Handoyo, dan Dika, siang tadi.

“Namanya Kara. Umurnya sekitar 2-3 tahun ketika dibawa lari,” suara Letta melirih di penghujung ucapannya.

Leander tertegun. Lama. Ia kemudian mengangkat wajahnya. Kembali menatap Letta.

“Let..,” ucapnya lirih, dengan nada terdengar sangat berhati-hati. “Apakah kamu tidak merasa sudah terlalu dalam mencampuri urusan keluarga mereka?”

Letta terhenyak.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)

6 comments:

  1. Oooo, ceritane apik tenan iki. Tapi hatiku mengatakan Ada sesuatu yang lain....... Tak simpen ae nang njero dhisik, khan sing duwe cerito mbak Lizz, dhuduk aku je....... Nuwus mbak.... 😍😊😘

    ReplyDelete
  2. Horeee rasanya lama bgt nunggu Kemaren 😂😂😂Good post

    ReplyDelete
  3. Saknoe Kara hik hik hik hik ......

    ReplyDelete
  4. Heu, Kara itu bukannya santan instan ya, Bude? *dikeplak puding cokelat ama Bude* :D

    ReplyDelete