Tuesday, November 15, 2016

[Cerbung] Déjà Vécu #3-2










* * *


Dengan seijin Martia dan Adrian, Leander membawa Letta dan anak-anak pulang ke rumahnya. Alih-alih anak-anak kecewa karena tidak jadi berjalan-jalan, keduanya justru bersorak gembira. Leander punya kolam renang di rumah. Dan tentu saja, mereka bisa berenang sepuasnya di sana.

“Adik jangan nakal,” pesan Martia sambil memasukkan perlengkapan mandi dan baju ganti ke dalam tas ransel kecil milik Rendy. “Nurut sama Tante Letta, Om Lean, dan Kakak.”

Rendy mengangguk patuh. Martia menoleh sekilas pada Vanda yang duduk menunggu di tepi ranjang Rendy. Gadis kecil itu sudah selesai berkemas.

“Kak, tolong jaga Adik, ya?” ucap Martia. “Jangan sampai bikin repot Tante sama Om.”

“Iya, Ma,” jawab Vanda dengan manisnya.

Setelah selesai, Martia berdiri. Begitu juga Vanda. Tanpa disuruh, Vanda meraih tas Rendy. Tapi tangan kecil Rendy menahan tas itu.

“Adik bawa sendiri, Kak,” celetuk Rendy.

Vanda pun melepaskan tas itu. Sebagai gantinya, Vanda merangkul bahu Rendy. Martia pun menggiring anak-anaknya keluar dari kamar Rendy. Letta dan Leander sudah menunggu di ruang tamu, sambil mengobrol dengan Adrian. Ketiganya menoleh ketika anak-anak muncul.

“Sudah siap?” tanya Letta dengan wajah ceria.

Serempak anak-anak mengangguk dengan mata berbinar. Mereka kemudian berpamitan. Dan menjelang pukul sembilan pagi, Leander sudah melajukan mobilnya meninggalkan rumah Adrian, diiringi lambaian tangan Adrian dan Martia.

* * *

Letta tersenyum lebar melihat betapa riangnya Vanda dan Rendy bermain air bersama Leander. Ia tidak ikut nyemplung karena tidak membawa baju ganti. Leander sebetulnya sudah menawarinya pulang dulu agar ia bisa mengambil baju ganti. Tapi Letta menolak. Sejujurnya, ia masih merasa rikuh untuk berenang bersama Leander walaupun ada anak-anak.

Maka tugas Letta adalah menyiapkan minuman dan cemilan yang mereka beli di sebuah minimarket dekat rumah Leander. Setelah itu ia duduk di sebuah kursi malas sambil mengawasi Vanda dan Rendy.

Menjelang pukul 11.30, Leander mengajak anak-anak keluar dari kolam. Sinar matahari mulai terasa menyengat, dan Rendy sudah mengeluh lapar. Ketiganya kemudian menikmati sampai habis cemilan dan minuman yang sudah disiapkan Letta, sekadar untuk menahan lapar.

“Ayo, sekarang kalian mandi dan keramas,” ujar Leander, sabar. “Setelah itu kita makan di luar, karena Om nggak punya makanan yang cocok untuk makan siang kita.”

“Asyik!” seru Rendy sambil mengacungkan kepalan tangannya ke atas.

Letta dan Leander tergelak melihat tingkah laku Rendy. Setelah meringkas piring dan gelas bekas pakai, Letta menggiring anak-anak ke kamar mandi di dekat kolam.

“Let, Vanda kamu bawa ke kamarku saja,” ujar Leander. “Biar mandi di dalam. Aku saja yang mengurusi Rendy.”

Letta mengangguk, kemudian menggandeng Vanda ke kamar Leander. Vanda sudah mulai menjadi seorang gadis kecil. Tentunya butuh tempat yang lebih pribadi.

Menjelang pukul satu siang, barulah Leander memarkir mobilnya di MOI. Memasuki mall, Vanda menggandeng erat-erat tangan Rendy, dengan Letta dan Leander mengiringi dengan ketat di belakang.

“Tante, Om, kita mau makan di mana, nih?” Vanda berhenti sejenak.

Leander menawarkan sebuah alternatif, yang segera disambut gembira oleh anak-anak. Laki-laki itu pun segera menggiring rombongan kecilnya ke resto tujuan. Meskipun resto sedang ramai, tapi mereka masih bisa mendapatkan meja untuk berempat.

“Vanda!”

Gadis kecil itu mengalihkan tatapan dari buku menu yang dibacanya. Segera wajah seriusnya berubah jadi girang.

“Kana!” balasnya sambil melambaikan tangan, melampaui jarak dua meja yang memisahkan mereka.

Letta turut menolehkan kepala. Dan matanya langsung bertemu dengan mata Dika. Hanya sedetik. Tapi seperti aliran listrik yang terasa menyengat hingga ke dalam sumsum tulangnya. Ia kemudian memaksa diri menatap ke arah lain, dan menemukan senyum serta lambaian tangan Mala. Ia membalas senyum dan lambaian tangan itu.

“Ooow... Dunia ini kecil, ternyata,” gumam Leander sambil mengembangkan senyum tulus ke arah meja tetangga.

Entah kenapa, gumaman Leander itu terasa menusuk hati Letta.

* * *

Ck! Ketemu lagi...

Susah payah Dika menelan seteguk minuman dingin yang baru saja disedotnya. Untunglah Mala mengajaknya membicarakan hal lain. Tapi sesekali tatapannya masih juga jatuh ke ‘sebelah sana’. Seolah dilakukannya tanpa sengaja sambil berusaha menanggapi dengan serius ucapan-ucapan Mala.

“Memangnya gurumu itu sudah menikah dan punya anak segede Kana?” tanya Dika pada sebuah jeda. Terkesan sambil lalu.

Sebetulnya ia sudah tahu jawabannya. Hanya saja ia berusaha ‘mengikuti arus’. Dalam pandangan banyak orang, Letta dan Leander kelihatan seperti sepasang ibu dan ayah yang berbahagia dari sepasang gadis dan perjaka kecil.

“Beluuum...,” Mala menggeleng. “Itu keponakannya, ‘kali.” Mala kemudian mencolek Kana. “Siapa temenmu itu? Vanda, ya?”

“Iya,” angguk Kana. “Kenapa?”

“Nggak apa-apa. Tanya doang.”

“Itu Bu Letta guru Mbak Mala, kan?” Kana menatap Mala. “Tantenya Vanda, tuh...”

“Oh...,” tanpa sadar Dika menjawab.

Dari obrolan Mala dan Kana kemudian, Dika tahu bahwa Kana sekelas dengan Vanda. Berteman baik, malahan.

“Om...,” bisik Mala tiba-tiba. “Seandainya Bu Letta belum punya tunangan, kayaknya asyik kalau dia jadi tante Kana sama Mala, ya?”

Dika hampir tersedak karenanya. Ditatapnya Mala dengan kening berkerut. Mala meringis.

“Kata Mama, Papa dulu seumuran Om, anaknya sudah dua,” lanjut Mala tanpa ampun.

Hadeeeh... Mbak Wulan! Anak segede piyik begini sudah diajak gosipan soal jodoh...

Dika menggeleng-gelengkan kepala. Mala meringis lagi. Sedangkan Kana tak peduli dengan percakapan itu. Ia asyik menyantap makanan yang baru saja terhidang di depan mereka.

“Enak?” tanya Dika.

Kana yang merasa pertanyaan itu ditujukan padanya, menoleh sekilas. Mengangguk sambil mulutnya terus mengunyah. Tiba-tiba saja Dika tertegun. Keningnya sedikit berkerut.

Wajah Kana sekilas berubah menjadi wajah lain. Tapi dengan ekspresi yang hampir sama. Menggemaskan. Seketika sudut hati Dika terasa diremas-remas. Nyeri.

Kara...

Dan senggolan di sikunya menyeretnya kembali ke alam nyata. Ia menoleh.

“Kok, malah melamun, sih, Om?” tegur Mala.

Dika menggeleng.

“Kalau ingin kayak mereka, ya, Om cari saja calon istri,” lanjut Mala dengan suara rendah.

Seketika Dika mendelik mendengar ucapan Mala. Gadis remaja itu segera terkekeh melihat ekspresi sang paman.

“Kenapa, Om?”

“Kamu lama-lama nyinyirnya mirip sama mamamu,” gerutu Dika.

“Lha, memang anaknya,” kilah Mala dengan wajah jahil.

Dika menjitak lembut kepala Mala.

“Dih!” Mala meleletkan lidahnya. Meledek lebih lanjut. “Nggak usah pasang muka sirik kayak gitu juga, ‘kali, Om...”

“Hiiih! Kamu ini!” tangan Dika segera terulur, memencet hidung Mala dengan gemas.

Gadis itu terkikik geli.

* * *

Letta berusaha keras mengikuti celoteh Rendy dan Vanda, yang sesekali ditimpali Leander. Saat ini, ia benar-benar memerlukan pengalih perhatian dari meja tetangga. Sesekali ditatapnya Leander. Sambil berpikir.

Apa yang kurang darinya?

Letta mengerjapkan mata. Berusaha ikut tersenyum ketika ketiga orang di sekitarnya mengumandangkan tawa. Walaupun ia tak sepenuhnya mengerti ada cerita lucu apa baru saja. Kembali ditatapnya Leander.

Kadang-kadang aku berpikir dirimu terlalu sempurna untukku.

Letta meraih gelas minumnya sambil mengalihkan tatapan.

Ia tahu masa lalu Leander. Mantan bad boy. Dengan segudang ‘prestasi’ kenakalan, segudang mantan pacar, segudang musuh, dan segudang perilaku buruk yang lain. Termasuk merokok, mabuk miras, balapan liar, dan sempat juga mencicipi narkoba walaupun tak sampai kecanduan. Semua lengkap dilakoninya saat masih SMA – yang nyaris tidak lulus – dan tahun-tahun awal masa kuliahnya.

Sampai Leander mengenal sosok seorang gadis bernama Kara. Kekasihnya yang terakhir sebelum ia mengenal Letta. Ia masih Leander yang sama. Tapi ia mulai mengenal apa itu cinta.

Pengalamannya berkencan dengan belasan gadis tak pernah ada yang menyamai pengalamannya bersama Kara. Kara tak pernah menuntut apa-apa. Tak pernah rewel dengan semua tabiat buruk Leander. Tapi setiap tatapan berlumur kesedihan milik Kara perlahan menyurutkan ke-‘gatal’-an Leander untuk berbuat onar.

Pelan-pelan ia berubah. Menjadi seorang pemuda yang lebih baik. Sayangnya, Kara tak pernah melihat hasilnya. Kara pergi ketika Leander masih berjuang. Kepergian yang menjungkirbalikkan dunia Leander hingga ia hampir saja kembali ke kehidupannya yang lama. Kalau saja ucapan lemah Kara di saat-saat terakhir itu tak terus terngiang di telinganya.

“Kamu jadi orang baik, itu juga untuk dirimu sendiri, Lean. Dan kalau kamu bisa berubah, duniamu akan jauh lebih indah. Percayalah!”

Letta menggelengkan kepala. Samar.

Semua itu pernah diceritakan Leander padanya. Bahkan Leander pernah mengajaknya mengunjungi makam Kara. Seorang gadis yatim-piatu yang selama ini hidup di panti asuhan. Yang dikenal Leander karena gadis itu menjadi asisten salah seorang pemilik kantin di kampusnya.

Satu penyesalan Leander yang terbesar adalah ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri dalam mengagumi dan mencintai Kara, tanpa pernah benar-benar berusaha mengenal gadis itu. Hingga ia tak pernah tahu bahwa Kara menyembunyikan penyakit kanker otak di balik keceriaannya. Dan semua sudah terlalu terlambat ketika ia mengetahuinya. Yang bisa ia lakukan hanyalah berusaha menebus kesalahan itu dengan berubah menjadi orang baik. Persis seperti keinginan sesungguhnya Kara.

“Kamu kecapekan, ya?”

Letta tersentak mendengar suara rendah itu. Ia mengangkat wajah dan tatapannya bertemu dengan manik mata Leander. Letta menghela napas panjang sebelum memutuskan untuk mengangguk. Karena ia tak punya alasan yang pantas untuk mengelak dari perilaku diamnya siang ini.

“Rendy masih mau putar-putar, katanya,” ucap Leander lagi. “Bagaimana?”

Letta mengalihkan tatapannya pada Rendy.

“Rendy mau ke mana lagi?” tanyanya sabar.

“Ya... Jalan putar-putar pakai mobil saja, Tante. Kata Om boleh.”

“Oh... Ya, sudah, kalau Om Lean mau,” senyum Letta. “Nanti Rendy di duduk di depan, ya? Tukar tempat sama Tante. Tante ngantuk banget.”

Rendy menatap Leander. Leander mengangguk sambil tersenyum. Sejujurnya, ia tahu bahwa Letta berbohong. Letta tak semudah itu merasa lelah dan mengantuk di siang bolong seperti ini. Tapi apa alasannya, sepertinya Leander belum akan menanyakannya dalam waktu dekat ini.

Ia tak mau mendesak. Keyakinannya masih penuh, bahwa Letta akan bicara padanya pada saat yang tepat. Kapan? Ia tak mau mengira-ira.

* * *

Kara...

Dika berbaring telentang menatap langit-langit di tengah keremangan suasana kamarnya.

Di mana kamu?

Entah kenapa akhir-akhir ini pikiran tentang Kara sering sekali muncul dalam benaknya. Dari luar kelihatannya Dika sudah ‘sembuh’, tapi goresan luka itu tetap ada. Jauh di dalam hati. Masih terasa sangat perih dan nyeri ketika tersentuh. Goresan luka yang timbul dari sebuah kehilangan besar.

Sekali lagi Dika mendesah dalam keheningan malam. Ia menggulingkan badannya. Menenggelamkan wajahnya pada bantal. Membiarkan bantal itu menyerap habis lelehan air matanya.

Kara, Mas Dika kangen padamu...

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)


5 comments:

  1. Isuk" sukses nyolong wektu moco iki.
    Maju jalan terus es mb Liiiisssss .......

    ReplyDelete
  2. Weh kok ahli bngt bikin yg baca jd penasaran dik? Sayang part selanjutnya Kamis, nda bsk. 😣

    ReplyDelete
  3. Kok aku yg takut ya hiks leander

    Tapi suka dika juga heheh

    ReplyDelete