Monday, November 14, 2016

[Cerbung] Déjà Vécu #3-1








Sebelumnya  



* * *


Tiga


“Bobok sana kalau sudah mengantuk, Ndhuk...,” tegur Handoyo dengan suara lembut ketika melihat Mala menguap entah untuk yang ke berapa kalinya.

Gadis itu mengalihkan tatapan dari layar televisi ke arah sang kakek sambil meringis. Handoyo tersenyum lebar melihatnya. Mala kemudian pindah duduk ke sebelah Handoyo. Menyandarkan kepalanya pada lengan sang kakek. Tangan Handoyo segera merengkuh bahunya.

“Kenapa? Kangen sama mama-papamu?” Handoyo mengelus kepala Mala.

“Biasa saja, Yang,” jawab Mala. “Sudah sering ditinggal ini.”

“La, Kana ke mana? Sudah tidur?” Sarita muncul dari belakang. Membawa segelas besar air jahe hangat.

“Belum kayaknya, Yang. Tadi sama Om Dika di pendopo.”

“Oh...,” Sarita meletakkan gelas yang dibawanya di atas meja, kemudian duduk di sebelah Mala.

Bertepatan dengan itu muncul Dika. Menggendong Kana yang sudah terlelap. Mala segera bergegas membuka pintu kamar yang dulu ditempati mama mereka semasa gadis. Dika membawa Kana masuk ke sana, kemudian dengan hati-hati membaringkan gadis kecil itu di atas ranjang. Setelah itu, Dika bergabung dengan ayah, ibu, dan keponakannya di ruang tengah rumah utama.

“Eh, Dik,” celetuk Handoyo sambil meraih gelas jahe hangatnya. “Anak teman Bapak ada yang mau bangun rumah bandar khusus lansia. Kantormu kira-kira bisa menangani desainnya, nggak? Kalau bisa, nanti Bapak rekomendasikan.”

“Bisa saja, sih, Pak,” Dika mencomot sepotong sukun kukus. “Boleh kasih nomor kontakku.”

“Iya, nanti Bapak hubungi Pak Wiyoko,” angguk Handoyo.

Sekali lagi Mala menguap. Sambil melirik jam dinding, ia kemudian berdiri. Sudah hampir pukul sebelas malam.

“Yang, Om, bener-bener nggak kuat nahan kantuk, aku,” ucapnya. “Bobok dulu, ya?”

“Iya,” sahut ketiganya serempak.

“Eh, Om,” Mala menghentikan langkahnya sambil berbalik, menatap Dika. “Besok jadi jalan, nggak?”

“Jadilah...,” jawab Dika. “Tapi nggak usah pagi-pagi juga. Santai saja.”

Mala mengacungkan jempol, kemudian meneruskan langkahnya. Masuk ke dalam kamar. Menyusul Kana.

“Dik...”

“Ya, Bu?”

“Bener kata bapakmu tadi pagi?”

“Hah?” Dika terbengong. “Yang mana?”

“Lagi jatuh cinta,” sambar Handoyo.

“Hadeeeh... Itu lagi,” gerutu Dika sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Nggak ada topik menarik lain, apa?”

Handoyo seketika terkekeh.

“Nunggu apa lagi, to, Dik?” gumam Sarita dengan nada prihatin.

Dika tercenung. Tentu saja ia masih ingat akan nazarnya. Dan ia masih tetap memegang teguh nazar itu. Walaupun kepercayaan dalam hatinya mulai menipis, tapi sisa harapan itu sepertinya masih ada.

Mengungkapkan nazarku secara terbuka?

Dika menggeleng samar.

Lantas menguak luka lama?

Ia sungguh-sungguh tak ingin membuka luka itu lagi. Luka yang sepertinya tak akan sembuh tanpa menimbulkan bekas yang masih menyisakan pedih dan nyeri dalam hati.

Ia tahu seberapa besar usaha ibu dan ayahnya untuk berusaha pulih. Agar tetap kuat untuknya dan Wulan, kakaknya. Ketika kehilangan itu begitu besar, abadi, dan nyaris tak pernah termaafkan. Lebih aktif mengembangkan sanggar tari tradisional Pancarwengi dan mempelajari yoga adalah cara yang ditempuh Handoyo dan Sarita untuk keluar dari kubangan luka dan duka itu.

Semuanya karena sebuah nama. Hastungkara. Nama yang masih sanggup membuat mata mengaca walau hanya sekadar mengingatnya.

“Ngomong-ngomong, anak teman Bapak yang mau bangun rumah bandar itu cewek, lho, Dik,” celetuk Handoyo, membuat Dika sedikit tersentak.

“Ndak ada salahnya menjalin relasi, kan, Dik,” senyum Sarita. “Ibu tahu, kok, kamu masih laki-laki normal yang menyukai lawan jenis.”

Mau tak mau Dika tersenyum masam.

“Jadi... Siapa perempuan yang sudah membuatmu aneh begini?” Handoyo menatap Dika dengan sorot mata penuh senyum.

Hadeeeh... Ujungnya ke situ lagi...

Pelan Dika menghela napas panjang. Sesungguhnya ia enggan menceritakan apa yang saat ini berkecamuk dalam hatinya. Tapi ia tak tahu harus mengelak dengan cara apa. Lagipula ia tahu, ayah-ibunya menaruh harapan besar agar ia segera melepaskan masa lajangnya.

“Hm...,” Dika tampak ragu-ragu. Tapi tatapan kedua orang tua yang jatuh padanya itu membuat ia harus melanjutkan ucapannya. “Beberapa hari yang lalu, Rabu sore, aku bertemu dengannya di kafe. Bapak dan Ibu ingat, kan, aku pulang terlambat karena Mas Rico mengajak kami semua syukuran di kafe?”

“Ya... Ya...,” Handoyo manggut-manggut.

“Nah... Itulah...,” Dika tertunduk. “Rasanya dahsyat. Aku pernah dilanda badai cinta monyet waktu SMP dulu. Tapi rasanya nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan ini. Tapi...”

“Kalian berkenalan?” tanya Sarita dengan nada hati-hati, setelah Dika terdiam beberapa belas detik lamanya.

Dika menggeleng lemah. “Dia sudah ada yang punya.”

“Ah...,” desah Sarita tanpa bisa menahan.

“Dan...,” Dika mengangkat wajahnya, “... Bapak dan Ibu mengenalnya.”

“Maksudmu?” seketika Handoyo mengerutkan kening.

“Dia... guru Mala... yang siang tadi... datang... ke sini...”

Bisikan terbata Dika itu benar-benar berhasil membuat Handoyo dan Sarita terhenyak.

* * *

Handoyo duduk bersandar di atas ranjang. Kedua lengannya merengkuh Sarita. Erat. Malam melarut dan menghening di sekeliling mereka.

“Dia memang istimewa,” gumam Sarita. “Setidaknya perasaanku mengatakan begitu. Seolah dia punya daya magis yang membuat siapa pun yang melihatnya merasa tertarik untuk mengenalnya lebih dekat. Dia cepat mengakrabkan diri. Dan aku seolah sudah lama sekali mengenalnya.”

“Tunangannya juga pemuda yang baik,” timpal Handoyo. “Dia setahun lebih muda daripada Dika.”

“Aku melihat mereka sudah sangat cocok,” Sarita setengah mendesah.

“Dika harus tetap diingatkan, Bu. Supaya ndak menyeberang pagar. Walaupun belum resmi saling memiliki, tapi Bu Letta dan Mas Leander itu sudah setengah terikat.”

“Iya...”

“Anak-anak kelihatan nyaman sekali bersamanya,” senyum Handoyo.

“Pantas, Pak. Guru favorit selama beberapa tahun, kata Mala. Makanya, kan, Mala girang sekali waktu tahun ajaran baru kemarin. Karena wali kelasnya adalah Bu Letta itu.”

“Iya...,” jawab Handoyo sambil menguap. “Ya, sudah. Ayo, tidur, Bu.”

“Ya,” Sarita pun mengubah posisinya, kemudian menarik selimut hingga menutupi mereka berdua yang berbaring bersisian tanpa jarak.

Selalu ada kehangatan walau malam menuju pagi kian dingin. Dengan cara saling mendekat seperti itulah mereka bertahan. Berusaha tetap berdiri tegak ketika harus melampaui kepedihan sangat besar yang pernah mereka sekeluarga alami. Dan tak lupa tetap memelihara harapan agar suatu saat kerinduan itu mencapai tepinya.

* * *

Pagi-pagi sekali Letta sudah muncul dengan wajah cerah di depan rumah Adrian. Martia, kakak iparnya, menyambut dengan senyum lebar. Setelah cipika-cipiki sejenak, Martia segera menarik tangan Letta. Membawanya masuk ke dalam rumah.

“Anak-anak belum bangun?” tanya Letta sambil duduk di kursi makan.

“Sudah," Martia mengangguk. "Lagi pada mandi.”

“Oh... Mas Dri mana?”

“Sama, lagi mandi,” Martia menyodorkan secangkir teh hangat pada Letta. “Baru saja pulang dari main tenis.”

“Makasih, Mbak.”

“Kamu nggak apa-apa, bawa anak-anak jalan tanpa Lean?” Martia menatap Letta.

Letta menyesap tehnya sambil menggeleng pelan. Ia kemudian meletakkan kembali cangkir yang dipegangnya. Ditatapnya Martia.

“Ya, enggaklah...,” Letta tersenyum. “Vanda sama Rendy anak-anak manis begitu.”

Martia menarik napas lega.

“Terserah kamu mau bawa mobilku atau mobil Mas Dri, Let.”

“Mobil Mbak Tia saja. Mungil, enak setirannya.”

Martia kembali tersenyum.

Hari Minggu ini, menjelang siang nanti, Adrian dan Martia harus menghadiri undangan resepsi pernikahan putri atasan Martia. Sehari-harinya, bila Martia bekerja, anak-anak sudah biasa berada di bawah asuhan Adrian, yang punya waktu lebih longgar. Karena harus pergi berdua, Adrian dan Martia pun memutuskan untuk menitipkan Vanda dan Rendy pada Letta.

Letta sendiri menerima tugas itu dengan senang hati. Tak perlu dipertanyakan dan diragukan lagi betapa ia menyukai anak-anak. Terutama Vanda dan Rendy, keponakannya sendiri. Sayangnya Leander hari ini sedang tak bisa mengawalnya.

Adrian muncul tak lama kemudian dengan wajah segar. Dikecupnya puncak kepala Letta seperti biasa kalau mereka bertemu. Vanda dan Rendy menyusul di belakang Adrian. Bergantian keduanya memberikan pelukan hangat pada Letta, sang tante kesayangan. Kelimanya kemudian mengobrol sambil menikmati sarapan.

Di tengah obrolan itu, terdengar dua kali bunyi bel. Martia segera berdiri untuk membuka pintu depan. Sejenak kemudian terdengar Martia bercakap dengan seseorang. Suaranya kian dekat. Letta mengerutkan kening ketika mengenali suara seseorang itu.

“Selamat pagi...”

Leander muncul di belakang Martia dengan senyum lebarnya.

“Om Lean!” seru Vanda dan Rendy serempak dengan suara gembira.

Leander kemudian bergantian menerima salam dari Vanda dan Rendy.

“Lho, katanya ada kumpul-kumpul sama teman-teman?” Letta mengangkat alisnya.

“Ditunda Sabtu depan,” jawab Leander.

“Ayo, sarapan dulu,” Adrian melambaikan tangannya.

Leander pun duduk di seberang Letta.

“Aku tadi ke rumahmu,” Leander menatap Letta. “Mau jemput, bikin kejutan, malah terkejut sendiri. Kamu sudah berangkat.”

Semua terkekeh mendengar ‘kesialan’ Leander. Letta sendiri meleletkan lidahnya dengan mimik geli.

Obrolan mereka pun berlanjut dengan lebih meriah.

* * *

Dika tersenyum simpul ketika melihat kedua keponakannya sudah berdandan cantik menjelang siang itu. Mengajak Mala dan Kana keluar berjalan-jalan selalu memberikan sensasi yang menggelitik di hatinya. Ia sungguh merasakan kegembiraan itu. Walaupun tak pernah sepenuhnya berhasil menindas pikiran ‘seandainya Kara masih ada’ yang kerap kali muncul tanpa permisi.

“Sudah siap?” Dika berdiri dari duduknya.

Mala dan Kana serempak mengangguk dengan wajah ceria. Setelah berpamitan, maka ketiganya segera berangkat.

“Kita mau ke mana, nih, Om?” tanya Kana sambil melompat masuk ke dalam mobil.

“Lha, kalian maunya ke mana?” Dika balik bertanya sambil menempatkan diri di belakang kemudi.

“Aku sebenernya lagi butuh cari kado ultah buat Icha, sih, Om,” celetuk Mala dari jok belakang.

“Ya, sudah, sekalian saja,” Dika mulai menekan pedal gas. “Kana, maunya gimana?” Dika menoleh sekilas ke arah Kana yang duduk di jok sebelahnya.

“Ke mana sajalah, Om. Asal jalan-jalan,” sahut Kana manis.

“Oh. Kalau gitu Kana turunin di depan saja, tuh, Om,” Mala mencondongkan badannya ke sela dua jok depan. Tangannya menunjuk ke satu arah. “Biar dia jalaaan saja sampai puas,” Mala kemudian terkikik.

“Mbak Mala, dih!” Kana mengerucutkan bibirnya.

Dika tergelak melihat tingkah laku kedua keponakannya itu.

Beberapa puluh menit kemudian ia sudah membelokkan mobilnya masuk ke area parkir MOI. Setelah memarkir dan mengunci mobilnya baik-baik, Dika menggandeng erat Kana dan Mala di tangan kiri dan kanannya.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)

7 comments:

  1. Lope" full ......
    Aq gamau nebak".
    Nikmati ae mb Lis.
    Jempol soro pean !
    Isok ae ngaduk" perasaane sing baca.

    ReplyDelete
  2. Makan siang sendirian. Temannya fiksi Lizz. Ceritanya halus. Apik tenan. Makannya jd nambah.
    😳

    ReplyDelete
  3. Mangkin asik hehe

    Sudah baca dari pagi tapi mlm baca lagi berasa nonton film

    ReplyDelete