Senin, 20 Juni 2016

[Cerbung] Miss Cempluk #9







* * *


Sembilan


Irvan dan aku mengantarkan Ale dan Lucia hingga ke tempat parkir. Berkali-kali Ale dan Lucia mengucapkan terima kasih atas undangan makan malam dari Irvan. Ketika mobil yang dikemudikan Ale itu meluncur pergi, aku menghela napas panjang. Lega.

Lucia Forlani. Perempuan cantik berambut kemerahan itu tadi bersikap sangat ramah padaku. Aku tak tahu apa yang dikatakan Ale padanya. Tapi kukira Ale secara terbuka sudah menyampaikan bahwa aku sama sekali bukanlah ‘ancaman’ bagi hubungan istimewanya dengan Ale. Wajah Ale juga terlihat lega karena sikap positif Lucia.

“Hm... Pasangan yang cocok.”

Aku mendongak sedikit ketika mendengar gumaman Irvan itu. Sedetik kemudian ia menarik tanganku dengan begitu lembutnya hingga aku melangkah di sampingnya untuk kembali ke dalam restoran.

“Tak cocok denganku, ya?” usikku.

Irvan tergelak ringan. Lalu jawabnya, “Nggak usah memaksa.”

Aku pun terseret dalam gelak ringan itu. Sungguh, hatiku tergelitik mendengar jawaban Irvan.

“Mau jahe hangat, Ri?”

Aku mengangguk sambil duduk kembali. Irvan menghilang sejenak. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan nampan berisi dua cangkir jahe hangat. Diletakkannya satu cangkir di depanku. Ia mengangguk dan tersenyum ketika aku mengucapkan terima kasih.

“Aku belum diusir pulang, kan?” aku nyengir.

Irvan kembali tergelak sambil menggeleng. Entah kenapa, aku senang sekali melihat ekspresinya yang seperti itu. Dan kelihatannya mudah sekali membuatnya tersenyum dan tertawa. Beberapa detik kemudian aku menyesap jahe hangat dalam cangkir. Hm... Terasa sekali nikmatnya!

“Enak?”

Aku mengangguk. “Benar-benar pas rasanya. Siapa yang buat?”

“Aku sendiri, dong...,” matanya terlihat begitu berbinar.

Aku tertunduk sedikit. Malu. Kemampuan memasakku sepertinya memang betul-betul tiarap bila dibandingkan dengan Irvan.

“Kenapa, Ri?”

“Nggak apa-apa,” aku meringis. “Hanya sedikit minder berhadapan dengan orang yang kemampuan memasaknya level top.”

“Kenapa harus minder?” Irvan menyesap sedikit jahe hangat dari cangkirnya. “Nggak ada orang yang sempurna di dunia ini, Ri. Memang sudah seharusnya seperti itu, supaya bisa hidup saling melengkapi.”

Seketika aku tertegun.

“Menurutmu, apakah seorang perempuan harus bisa memasak?”

Pertanyaan itu menyentakkan kesadaranku. Irvan masih menatapku. Dengan sorot mata begitu serius. Menunggu jawaban, walaupun sama sekali tak terlihat menuntut.

“Menurutku tidak harus,” jawabku kemudian, jujur. “Tapi paling tidak, sebaiknya bisalah membedakan ketumbar dengan merica, masak air nggak gosong, masak mie instan nggak jadi bubur, bikin teh nggak keliru pakai garam. Gitu-gitulah. Sebaiknya, ya, bukan harus.”

“Hm...,” Irvan manggut-manggut.

“Menurut Mas Irvan sendiri?”

“Aku sendiri setuju dengan pendapatmu, Ri.”

“Seandainya Mas Irvan nggak bisa memasak, apakah masih tetap berpendapat sama?”

Irvan mengangkat bahu. “Mungkin tidak. Tapi mungkin juga tetap sama. Karena setiap kondisi yang berbeda bisa menghasilkan kerangka berpikir yang berbeda juga.”

Ganti aku yang manggut-manggut.

Sejam kemudian, sambil mengemudikan mobil dalam perjalanan pulang, aku memikirkan kembali semua pembicaraanku dengan Irvan. Betapa semuanya berjalan seolah kami adalah dua orang yang sudah berteman sangat lama. Akrab. Aku juga menemukan rasa nyaman itu. Rasa diterima dan bisa menjadi diriku sendiri. Begitu juga kulihat Irvan.

Hm... Ada apa ini?

* * *

Hari Sabtu berikutnya, begitu rumah sebelah kosong, Kakung segera mengajakku untuk memeriksanya. Bagaimanapun, rumah itu rumahku juga. Dan karena aku sudah berada di sini, maka tanggung jawabkulah untuk mengurusnya. Beberapa waktu lalu aku sudah menerima mandat dari Papa dan Mama, bahwa sebaiknya rumah kami disewakan saja lagi karena tugas Papa di Spanyol kelihatannya masih cukup lama, dan sebaiknya aku tetap tinggal di rumah Eyang.

Rumah itu dalam kondisi bersih dan rapi. Tidak sepenuhnya kosong karena walaupun tidak fully furnished, ada beberapa perabot pokok milik kami yang termasuk dalam paket penyewaan. Ketika kuperiksa dengan teliti, sama sekali tak ada kerusakan di dalamnya. Semuanya masih dalam kondisi siap pakai dan siap huni.

“Papamu beberapa waktu lalu bilang sama Kakung supaya rumah ini dicat lagi, Pluk,” celetuk Kakung. “Bagaimana menurutmu?”

“Hm...,” aku berpikir sambil melihat-lihat kondisi dinding. “Boleh juga, Kung. Mungkin sebaiknya bagian luarnya dulu. Sudah agak pudar.”

“Sekalian yang ada weathershield-nya saja, ya?”

Aku mengangguk.

“Ya, sudah,” Kakung merengkuh bahuku. “Nanti biar Wahid yang mengurus. Kamu tentukan saja warnanya.”

“Baik, Kung.”

* * *

Dan minggu-minggu berikutnya, kesibukanku benar-benar luar biasa. Bersamaan dengan harus pindahnya Mbak Jani ke Eternal Beverage, aku pun dimintanya ikut serta. Dan Mbak Jani jauuuh lebih perfeksionis daripada Mas Hasto. Setengah mati aku mengikuti ritme kerja Mbak Jani. Aku memang cukup mampu menerjemahkan keinginan Mbak Jani, hanya saja harus berusaha lebih keras untuk mengimbangi energinya.

Kantorku sekarang letaknya lebih dekat rumah. Tapi tiap hari kerja aku harus sudah berada di kantor sebelum pukul 7.30 dan sampai rumah lagi ketika hari sudah gelap. Kalau belum pukul 7 sore, aku belum ada di rumah. Sampai di rumah pun sudah loyo. Datang, mandi, makan, ngobrol sebentar dengan Kakung dan Uti, kemudian tidur. Bahkan tak jarang aku sudah ketiduran di sofa di tengah-tengah obrolan.

Lantas aku mengeluh? Sama sekali tidak. Setidaknya, aku berusaha untuk tidak mengeluh. Bukankah semua ini sudah jadi pilihanku? Kalau menengok lagi ke belakang, semua yang kuhadapi saat ini sepertinya belum ada apa-apanya dengan setiap kesulitan yang kuhadapi setiap kali harus menyesuaikan diri di negeri asing. Kalau kemarin-kemarin aku bisa menjalaninya, kenapa sekarang tidak?

Selain itu, aku juga tak mau membuat Kakung dan Uti risau. Selelah apa pun aku, kuusahakan untuk pulang dengan wajah ceria. Bukan juga kamuflase, karena sesungguhnya aku selalu menemukan sisi-sisi menarik dari setiap hari yang kulalui. Apalagi hari ini, setelah Mbak Jani memanggilku ke dalam ruangan kantornya.

“Duduk, Ri.”

Kulihat senyum terbit di wajah Mbak Jani. Aku duduk di seberangnya.

“Sudah mulai betah di sini?”

Aku mengangguk, “Sudah, Mbak.”

“Ada kesulitan mengikuti ritme kerjaku?”

“Awalnya iya,” aku mengangguk lagi, “tapi makin ke sini sudah makin terbiasa. Nggak ada masalah.”

“Bagus!” Mbak Jani mengacungkan jempolnya. “Aku berbuat begini tentu ada maksudnya, Ri. Perusahaan ini memang milik kita. Milik keluarga kita. Sudah sedemikian rupa didirikan oleh Kakung dan dibesarkan oleh Om Nor. Tugas kita untuk mempertahankannya. Dan mempertahankan sesuatu itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Kupikir, kamu pun sudah tahu hal itu.”

“Ya, Mbak,” senyumku. “Kakung sudah menatarku soal itu. Dan soal kesulitan-kesulitan untuk beradaptasi seperti yang selama ini sering kualami, sedikit-banyak sudah melatihku untuk bisa tetap bertahan menghadapi dan menjalaninya.”

“Aku tahu, Ri,” Mbak Jani membalas senyumku. “Kamu bukan gadis sembarangan. Sudah ditempa dengan sangat baik. Dan aku puas dengan kerjamu. Pertahankan dan tingkatkan, ya, Ri?”

Aku mengacungkan kedua jempolku.

“Oh, ya, long weekend besok ini kamu ada rencana ke mana?”

Aku menggeleng. “Di rumah saja, Mbak.”

“Aku mau ke Anyer. Ikut, yuk!”

Aku menggeleng lagi. “Terima kasih, Mbak. Tapi beberapa waktu belakangan ini rasanya aku cuma mampir makan dan tidur saja di rumah. Aku mau di rumah saja sama Kakung dan Uti.

“Oh... Oke, deh! Senin depan kita siap bertempur lagi, ya?”

“Siap, Mbak!” jawabku sigap.

* * *

Long weekend yang dimulai pada hari Kamis itu akhirnya tiba juga. Setelah aku puas tidur dan bangun sesiang-siangnya, Uti mengajakku ke sebelah. Rumahku sudah selesai dicat. Sekarang terlihat lebih baru dan segar. Demikian juga bagian dalamnya. Lebih terang dan cerah. Siapa pun yang akan menempatinya dalam waktu dekat ini, semoga bisa menjaganya dengan baik.

“Kemarin Uti dapat telepon dari Kedubes Spanyol, Pluk,” ujar Uti. “Mereka bertanya apakah rumahmu sudah kosong. Bagaimana, mau disewakan lagi? Mereka minta jawaban secepatnya.”

“Hm... Menurut Papa, sih, sebaiknya begitu, Ti. Kalaupun nanti Papa dan Mama pulang sebelum rumah sebelah kosong, bisa sementara tinggal di apartemen sewaan. Cuma Papa dan Mama ini, nggak terlalu ribet harus ada rumah buat anak-anak di bawah umur.”

“Baik, kalau begitu Uti hubungi mereka sekarang juga. Supaya bisa lihat-lihat dulu.”

“Sip, Ti!” aku mengacungkan kedua jempolku.

Menjelang sore, salah seorang staf dari Kedubes Spanyol datang. Rupanya rumah kami cukup sesuai dengan spesifikasi yang mereka inginkan. Dan Kakung bisa menangani masalah sewa-menyewa itu dengan baik karena sudah terbiasa. Menurut informasi, keluarga penyewa akan datang sekitar dua hingga tiga minggu lagi. Staf baru di Kedubes Spanyol, yang membawa serta istri dan bayinya yang berusia sekitar setahun.

Baru saja aku menutup pintu pagar setelah staf dari Kedubes Spanyol itu berlalu, sebuah motor sport 600 cc berhenti di depanku. Aku mengenali motor itu. Segera saja kubuka kembali pintu pagar.

“Sore, Ri,” sapanya setelah melepaskan helm. Tanpa lupa mengembangkan senyum hangatnya. “Apa kabar?”

“Baik, Mas,” sambutku. “Masuk, yuk!”

“Terima kasih,” Irvan menuntun motornya masuk ke carport.

Setelah menyapa dan menyalami Kakung dan Uti yang duduk bersantai lagi di teras depan setelah tamu dari Kedubes Spanyol pulang, Irvan mengikutiku untuk masuk melalui garasi. Langsung ke teras belakang.

“Kata Hasto, kamu pindah kantor?” tanyanya sambil duduk.

“Iya, Mas,” anggukku. “Sudah beberapa minggu ini aku ngantor di Eternal Beverage. Dekat sini.”

Ia manggut-manggut.

Memang sejak aku pindah kantor, kami sama sekali tak pernah bertemu. Aku masih aktif di Kopimusik, tapi Irvan tidak. Kata Pak Satmoko, Irvan memang sudah pamitan untuk sementara undur diri sejenak dari komunitas. Restorannya sedang membutuhkan perhatian lebih karena grafik pengunjung mulai naik. Membuatnya jadi lebih sibuk daripada biasanya.

“Aku kangen kamu, Ri.”

Ucapannya itu seketika membuatku kehilangan kata. Aku menatap Irvan. Dan tatapan polos itu seperti memenjarakan aku dalam rasa yang belakangan ini pelan-pelan mulai kutemukan lagi. Rasa yang menimbulkan getar bagai sayap kupu-kupu yang menggelitik hatiku. Rasa yang menyenangkan. Rasa yang aku tak ingin kehilangannya lagi.

“Aku... juga...”

Akhirnya harus kuakui rasa yang satu ini. Rasa yang kuharap sama persis dengan rasa yang ia miliki. Dan melihat binar di matanya, aku tak lagi ragu bahwa rasa rindu kami adalah rasa rindu yang sama.

“Mau ke taman bersamaku, Ri?”

“Mas Irvan nggak sibuk?” aku mengerutkan kening. “Yang aku dengar, restoran mulai ramai sekarang.”

“Iya, betul,” Irvan mengangguk. “Makanya minggu-minggu kemarin aku jungkir balik menyiapkannya. Aku punya dua orang lagi asisten baru. Nah, kemarin itu aku habis-habisan menyiapkan mereka. Tapi dasarnya mereka sudah bagus, kok. Mental sama kemampuannya bagus. Mau memahami dan menerjemahkan standar dengan baik. Jadi bisalah aku tinggal-tinggal sebentar.”

“Oh... Ya, sudah. Ayo! Jalan kaki saja, ya?”

Irvan mengangguk dengan wajah cerah.

* * *

Ternyata taman ramai juga sore-sore begini. Mungkin karena menjelang long weekend. Yang jelas, ada para pedagang makanan yang terlokalisir sehingga taman terlihat tetap bersih dan rapi.

“Mau bakso, Ri?” Irvan menoleh ke arahku.

Aku mengangguk.

“Yang enak bakso Arema itu. Kalau yang di ujung sana bakso Solo, kuahnya lebih kental dan variasi isinya nggak banyak. Kamu mau yang mana?”

“Hm... Yang Arema saja coba, Mas.”

Irvan mengangguk dan langsung menggandeng tanganku mendekati gerobak bakso Arema. Ia memesan dua mangkuk dengan isian komplit.

“Pakai lontong nggak, Mas?” tanya penjualnya, kemudian Irvan meneruskannya padaku.

Sejenak aku mengerutkan kening. Bakso pakai lontong?

“Enak, lho, Ri!” senyum Irvan. “Nanti kalau kamu nggak suka, pindahkan saja ke mangkukku.”

Hm... Solusi mudah. Membuatku mengangguk. Sejenak kemudian kami sudah menikmati bakso sambil duduk di atas sebuah bangku beton. Ternyata enak juga bakso dimakan dengan lontong. Apalagi aku menemukan ada yang unik dalam semangkuk bakso ini. Mie kuning dan putihnya dibentuk bulat seperti gulungan benang. Cukup dibelah dengan sendok, maka mi kuning dan putih itu akan terburai. Rasanya? Enak! Apalagi isinya cukup lengkap. Ada bakso halus, bakso kasar, bulatan mie kuning dan putih, siomay goreng, siomay basah, tahu bakso, ditambah lontong. Kuahnya bening segar dengan rasa ringan. Ditambah saus tomat, sambal, dan sedikit kecap manis, lengkaplah rasa lezatnya.

“Enak, Mas,” gumamku.

“Lontongnya nggak jadi dipindah ke sini?” goda Irvan.

Aku nyengir malu. Untuk ukuran cewek, makanku terlihat cukup ‘meyakinkan’ rakusnya.

“Aku sukanya bakso Arema yang ini karena mie putihnya bukan soun, tapi bihun,” ucap Irvan.

Jujur, aku nol besar soal membedakan dua jenis mie putih yang mungkin ada dalam semangkuk bakso.

“Lagipula, yang membuatnya khas dan lain adalah irisan daun hijaunya ini,” lanjut Irvan. “Ini bawang daun, bukan seledri, bukan daun bawang prei, bukan pula kucai. Aromanya pas sekali untuk kuah bakso.”

“Hm...,” aku hanya bisa manggut-manggut. Menutupi ketololanku.

Sungguh, aku tak menangkap sedikit pun nada menggurui dalam ucapan Irvan. Semua dituturkannya dengan begitu santai seolah obrolan biasa, padahal – menurutku – ada ilmu juga yang terkandung di dalamnya.

“Pokoknya enak, deh!” ucapku kemudian. Menyerah pada kelezatan semangkuk bakso gerobakan yang belum pernah kucicipi sebelumnya.

Irvan tergelak ringan mendengar tanggapanku.

Lalu tak cuma berhenti pada semangkuk bakso. Petualangan lidah kami menyangkut pada dua bungkus berondong jagung rasa karamel dan dua botol minuman yang ada bulir jeruknya. Kami menikmatinya sambil bicara tentang banyak hal.

“Kamu tahu, Ri, bertemu lagi denganmu itu seolah dream comes true,” gumamnya pada suatu detik. “Pada saat aku sudah tak lagi berharap, kamu muncul begitu saja.”

“Hm... Buatku, Mas Irvan itu puzzle yang potongannya kutemukan satu demi satu,” ujarku kemudian. Lirih. “Puzzle yang aku memang berharap bisa menemukan tiap potongannya hingga lengkap. Aku tak tahu kenapa.”

Tiba-tiba saja tangan kananku sudah berada dalam genggamannya. Terasa hangat.

“Lalu apakah puzzle itu sudah lengkap?” tanyanya, halus.

“Masih banyak potongan yang belum kutemukan,” aku menggeleng. “Tapi aku masih berharap bisa melengkapinya.”

“Merasa terpaksa?”

“Sama sekali tidak,” aku menggeleng lagi.

“Kamu tahu, Ri,” tangannya makin erat menggenggam tanganku. “Selama ini aku merasa bahwa diriku hanya setengah penuh. Puzzle-ku masih belum genap. Kurang setengah bagian lagi. Tapi ketika aku bertemu lagi denganmu, aku merasa diriku mulai utuh. Tergenapi sedikit-sedikit. Aku berharap semuanya akan penuh. Utuh. Genap. Maukah kamu, Ri? Menggenapiku? Menjadikan aku utuh?”

Angin berhembus dan membawa harumnya aroma karamel berondong jagung yang sedang dimasak tak jauh dari tempat kami duduk. Bahkan suara letupannya pun sampai ke telingaku. Tak butuh waktu lama bagiku untuk merasa tenggelam dalam segunung berondong jagung.

Manis. Wangi. Hangat.

Bersama Irvan.

* * *

10 komentar:

  1. Balasan
    1. Hehehe... Makasih, Mbak Fid...
      Aku belum sempat mampir lagi ke blog Mbak 😑

      Hapus
  2. Ouch .......
    To twiiiiiiit ....... ��

    BalasHapus
  3. Bu, tolong kirimkan alamat Godhong Gedhang, dong... Kali-kali mau mampir ke sana. Pengen ketemu keluarga kecil Chef Irvan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... 'Kali asyik yak kalo ada beneran 😁

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. Bangeeeeet. Mungkin visualisasi Godhong Gedhang itu semacam restoran kelas internasional super mewah bernuansa Jawa tapi tetap keren, kali, ya? *mungkin...*

      Hapus