Senin, 09 November 2015

[Cerbung] Ruang Ketiga #7







Episode sebelumnya :  Ruang Ketiga #6


* * *


Tujuh


Waktu terus berputar dan seluruh rangkaian acara pernikahan Seruni dan Hazel terus mendekat. Segala urusan perawatan calon mempelai perempuan sudah diambil alih sang dhukun manten, membuat Dahlia bisa mengalihkan perhatiannya pada hal lain.

Tugasnya dan Swandito kali ini adalah mengurus segala keperluan keluarga besar Hazel yang datang dari Jakarta. Jauh hari, rumah pribadi Dahlia yang terletak di sebelah salonnya sudah dipersiapkan untuk menerima rombongan itu. Untuk sementara, Mbok Saminten, Karsiman, dan Rami – istri Karsiman – diperbantukan di sana untuk melayani tamu.

Tak ada waktu untuk membiarkan selintas bayangan Rengga masuk ke dalam benak Dahlia. Persiapan pernikahan pamungkas dalam keluarga Priyo Harjono itu seolah menyedot semua tenaga yang ia miliki, walaupun sebagian besar urusan sudah didelegasikan pada sebuah wedding organizer yang sudah terbiasa mengurus acara pernikahan kerabat keraton.

Sesuai kesepakatan bersama, inti rangkaian acara pernikahan Seruni dan Hazel yang hendak berlangsung, pada pokoknya adalah prosesi siraman1) yang didahului pemasangan berbagai piranti lambang sedang diadakannya prosesi nikah (bleketepe2), tarub3), kembar mayang4), tuwuhan5)), kemudian dilanjutkan dengan dodol dhawet6), seserahan peningset7) yang dijadikan satu dengan malam midodareni8), akad nikah, panggih9), dan diakhiri dengan acara resepsi pernikahan. Cukup banyak acara yang harus dilewatkan demi kepraktisan, dan tentu saja tak mengurangi makna dari prosesi adat itu sendiri.

Dahlia dan Swandito selalu menyempatkan diri untuk berbincang ringan sambil terkapar kelelahan di atas ranjang setiap malam selama kesibukan persiapan acara itu. Tapi momen itu selalu diakhiri dengan salah satu dari mereka berdua jatuh terlelap duluan. Membuat hari makin cepat berlalu, hingga seolah tiba-tiba saja acara siraman menjelang malam midodareni sudah ada di depan mata.

Satu hal yang membuat hati Dahlia bergetar adalah ketika melihat wajah ayah dan ibunya yang begitu ceria. Lain benar dengan saat pernikahannya dengan Pradipta dulu. Juga ketika ia menjalani pernikahan kedua dengan Swandito, yang dilangsungkan secara lebih sederhana. Terlihat bahagia, tapi hanya secukupnya. Tak bisa lepas seperti saat ini.

Irikah?

Dahlia menggeleng tegas.

Semuanya sudah terbayar lunas ketika melihat keceriaan keluarga ini kembali utuh. Juga rona berseri yang sempurna di wajah Eyang...

Dan Dahlia memutuskan untuk turut larut di dalamnya. Tanpa pamrih. Tanpa syarat. Wajah cantiknya menebarkan senyum yang terlihat mempesona dari sisi manapun. Swandito yang selalu berada di sisi Dahlia juga ikut terhanyut dalam kebahagiaan itu. Menjadikan mereka berdua tampil sebagai sosok yang begitu serasi, dan menjadikan Swandito seolah pahlawan yang berhasil membawa kembali seluruh keceriaan Dahlia.

* * *

Seruni duduk diam di kursinya, masih di depan cermin, di dalam kamar. Cahaya kebahagiaan tampak terpancar pada wajahnya yang sudah terias sempurna, dengan busana pengantin gaya Solo basahan10). Penampilannya benar-benar manglingi. Membuat nyawa Bu Sasongko terselamatkan karena tak perlu gantung diri.

Seolah memiliki pikiran yang sama, Seruni dan Dahlia bertatapan melalui cermin. Keduanya kemudian tersenyum tertahan. Mengingat lelucon di antara mereka yang sempat terlontar tentang Bu Sasongko. Tak urung Dahlia menangkap semburat resah di wajah Seruni. Dengan tenang ia pindah duduk ke dekat Seruni.

“Kenapa, Ndhuk?” bisiknya.

Ndak apa-apa, Mbak,” gumam Seruni. “Cuma deg-degan.”

Dahlia tersenyum simpul.

Saat ini sedang dilaksanakan ijab kabul di luar. Di pendopo luas rumah joglo besar itu. Dan Dahlia menangkupkan kedua tangannya di depan dada ketika mendengar getar yang kental dalam suara ayahnya melalui pengeras suara, saat menikahkan mempelai laki-laki dengan adik bungsunya. Keharuan terasa menyesak. Membuat airmatanya mengembang. Sesaat setelah mengerjapkan mata, dilihatnya Bu Sasongko tengah menghapus dengan lembut telaga bening yang juga mengembang di mata Seruni.

Wis sah, Mbak Runi...,” senyum Bu Sasongko.

Seruni tampak tersipu.

* * *

Tapi nama yang dihindari Dahlia itu pada akhirnya harus menyelinap masuk juga ke dalam hatinya. Dari kejauhan, Dahlia menangkap sosok Rengga tengah berjalan menggandeng putri kecilnya dalam busana sarimbit batik berwarna merah bata berprada emas, hendak antri menyalami sepasang pengantin baru yang berbahagia itu. Dahlia mengalihkan tatapannya, sekaligus menyingkir ke sebuah sudut dekat sebuah gubuk makanan. Di sana sudah ada Kusrini yang berdiri berdampingan dengan Haryo, tengah menikmati puding.

“Anak-anak mana?”

“Sama Swandito tadi,” sahut Haryo. “Entah hilang ke mana.”

“Sudah makan, Dik?” tanya Kusrini. “Sana makan dulu.”

“Lha aku ini cari Mas Swan dari tadi. Mau kuajak makan,” Dahlia berlagak melihat berkeliling.

“Nah, itu!” Haryo melambaikan tangannya ke satu arah.

Dalam sekejap Swandito sudah muncul di depan mereka dengan Bintang dan Candra menggayuti kedua lengannya. Wajah mereka tampak ceria dengan masih bertabur sisa-sisa tawa.

“Biar Paklik11) sama Bulik12) makan dulu to, Nak...,” Kusrini menegur dengan halus.

Swandito menatap Dahlia, “Dari mana saja tadi? Aku cari-cari.”

Dahlia balas menatap Swandito, “Bukanya panjenengan yang hilang digondol thuyul?”

Swandito terkekeh karenanya. Buru-buru digamitnya lengan Dahlia sambil berpamitan pada Haryo dan Kusrini.

“Aku dari tadi sudah ngincer13) thengkleng14),” bisik Swandito dengan nada jahil. “Mumpung belum sesi foto-foto.”

Dahlia tertawa mendengarnya. Sesaat kemudian keduanya sudah asyik hendak memilih makanan yang tersedia berlimpah. Tapi keasyikan itu terganggu ketika telinganya mendengar suara kecil yang terus mendekat.

“Tante! Tante Dahlia!”

Dahlia menoleh dan mendapati seorang gadis kecil berlari ke arahnya. Sejenak Dahlia merasa tercekat. Apalagi ketika sudut matanya menangkap ada sosok tinggi besar yang mengikuti langkah gadis kecil itu di tengah keramaian.

“Lho! Kok masih bisa kenal Tante sih?” ucap Dahlia, berusaha meredakan debar di dadanya.

Lili menatap Dahlia yang saat ini terlihat begitu cantik dengan kebaya dan jarik15)  yang membalut tubuhnya, dan riasan wajah dengan sanggul tekuk yang terlihat pas, menambah cantik penampilannya.

“Kenal dong!” Lili tertawa kecil. “Kan Tante yang paling cantik di sini.”

“Apa kabar, sayang?” Dahlia menjabat tangan Lili.

“Baik, Tante,” Lili mencium punggung tangan Dahlia.

“Halo! Siapa ini?” Swandito tersenyum di sebelah Dahlia.

“Namanya Dahlia juga, Om,” sahut Dahlia, menoleh ke arah Swandito. “Salah satu customer salon.”

Swandito membungkuk sedikit. Mengulurkan tangannya.

“Lili, Om,” Lili pun berlaku sama terhadap tangan Swandito. “Om siapa?”

“Panggil saja Om Swan,” jawab Swandito sabar. “Lili sudah makan?”

Lili menggeleng.

“Makan, yuk!”

Kali ini Lili mengangguk. Membiarkan tangan Swandito menggandengnya untuk memilih makanan yang ia suka.

Dahlia masih tegak di tempatnya berdiri. Berdekatan dengan Rengga yang juga berdiri diam. Sesaat kemudian Dahlia tersadar. Pelan ia kembali meletakkan piringnya yang masih kosong ke atas meja. Ia mengarahkan jempolnya ke arah hidangan di atas meja.

Monggo,” ucapnya datar, menatap Rengga sekilas. “Selamat menikmati.” Dan ia langsung berbalik. Melangkah pergi.

“Jeng...”

Tak dipedulikannya suara berat Rengga yang memanggilnya. Ia terus melangkah. Berharap bumi merekah dan menelan seluruh tubuhnya saat itu juga.

* * *

Swandito menemukan Dahlia sedang duduk di selasar samping ruang resepsi. Dahlia sesekali menyuapkan sesendok serbat lidah buaya ke dalam mulutnya. Terlihat setengah melamun.

“Jeng...”

Dahlia bergeming. Swandito melangkah pelan mendekatinya. Sesaat kemudian ia sudah berlutut di depan Dahlia.

“Kenapa ndak jadi makan?” tanyanya halus.

Tatapan Dahlia masih tetap pada satu titik fokus yang sama.

“Jeng...,” Swandito menyentuh lembut punggung tangan Dahlia.

Kini Dahlia menatapnya. Kelam. Membuat Swandito hampir menahan napasnya.

“Siapa yang mengundangnya?”

Swandito paham sepenuhnya ke mana arah bicara Dahlia.

“Dik Runi,” jawab Swandito, lirih.

Panjenengan tahu?” tatapan Dahlia terlihat menusuk.

Swandito tak punya pilihan lain kecuali mengangguk.

“Kenapa panjenengan ndak bilang?”

Sebelum Swandito bisa menjawab, terdengar panggilan untuk memulai sesi foto. Dahlia pun mendengarnya. Diletakkannya gelas ke meja di dekatnya sebelum berdiri. Swandito pun terpaksa berdiri juga.

Dengan luwes Dahlia membenahi posisi jarik dan kebayanya. Memegang sejenak sanggul tekuknya untuk memastikan letaknya masih benar. Dan tanpa mengatakan apapun, perempuan itu melangkah tegak memasuki gedung resepsi.

Di dekat pelaminan, sudah menunggu tim perias yang membenahi sejenak dandanannya dan Swandito. Saat itu tengah dilakukan sesi foto pengantin bersama kedua pasang orang tua. Dahlia menunggu dalam diamnya. Swandito berdiri di sampingnya. Juga dalam diam.

Sepertinya, tidak bersuara adalah hal yang paling baik dilakukan untuk saat ini.

* * *

Swandito terhenyak. Dahlia marah. Sebuah luapan emosi yang dinyatakan dalam diam. Membuat Swandito merasa serba salah.

Hingga beberapa hari lamanya keadaan itu berlangsung. Mereka masih tinggal di bawah atap yang sama. Masih makan pagi di meja yang sama. Masih berbagi kamar mandi dan ranjang yang sama. Tapi semuanya berlalu dalam hening.

Ketika Swandito mencoba untuk bersuara, Dahlia bergeming. Mungkin mendengar, tapi tak mau mendengarkan. Menatap sekilas pun tidak. Seolah sedang berdiri di dunianya sendiri yang tak terjangkau oleh Swandito.

Dahlia berangkat ke salon lebih pagi dan pulang lebih malam daripada biasanya. Membuat Swandito menyimpan kekhawatiran tersendiri akan kesehatan Dahlia.  Tapi benar-benar tak tahu harus berbuat apa. Ia ingin melakukan sesuatu, tapi takut Dahlia akan bertambah marah dan malah berpotensi menyakiti diri sendiri.

Perjalanan dari rumah mereka ke rumah keluarga Priyo Harjono pada suatu Jumat sore pun berlangsung sunyi. Akan diadakan acara pembubaran panitia pernikahan Seruni dan Hazel yang sudah berlalu sekitar dua minggu yang lalu. Kedua mempelai pun sudah kembali dari acara bulan madu.

* * *

Seruni bukannya tak menyadari keheningan Dahlia. Tapi ia tak ingin membuka pertempuran dengan bertanya langsung pada Dahlia. Dan jawaban pun didapatnya dari Swandito. Ketika Dahlia menyibukkan diri ikut menyiapkan cemilan berupa aneka kue basah mini di dapur.

“Jadi, bagaimana?” Seruni menatap Swandito dengan prihatin.

“Aku ndak menyangka mbakyumu bisa semarah itu, Dik...,” desah Swandito.

Seruni menghela napas panjang. Merasa sangat bersalah.

Nyuwun ngapunten nggih, Mas...,” ucap Seruni, lirih. Menyiratkan penyesalan yang begitu dalam.

Ndak apa-apa,” Swandito mencoba untuk tersenyum. “Mungkin memang harus seperti ini jalannya. Jeng Dahlia memang berhak untuk marah. Padaku.”

“Dia sudah tahu?” Seruni mengangkat alisnya. “Soal keinginan panjenengan?”

Swandito menggeleng. “Bagaimana mau bicara soal itu kalau aku panggil saja dia hanya diam?”

Gusti...,” Seruni menutup mulutnya dengan telapak tangan kanan.

Ketika tertangkap oleh matanya sosok Dahlia yang tengah berbincang dengan Kusrini, Seruni tercenung sejenak. Sesuatu yang sudah dimulai harus diakhiri.

Tapi bagaimana harus mengakhiri semua ini?

Seruni mendesah ketika kepalanya mulai terasa pening.

* * *

Acara pembubaran panitia itu berlangsung gayeng16). Dititikberatkan pada acara santai dan menikmati makan malam setelah kepanitiaan resmi ditutup dengan diiringi ucapan terima kasih dari seluruh keluarga besar Priyo Harjono.

Dahlia duduk di dekat Kusrini dan ibunya. Sesekali ia melayani celoteh Bintang yang duduk di belakangnya. Swandito duduk di seberang sana. Terlihat tenang dan diam. Sesekali ia terlihat bercakap dengan Hazel yang duduk di sebelahnya.

Dalam dengung berbagai obrolan itu Dahlia merasa asing dan sepi. Entah kenapa ia seolah kehilangan seluruh keinginannya untuk bicara. Ia juga sebetulnya tak tahu ingin diam karena apa. Tatapannya menerawang jauh, sehingga tak tahu Swandito sudah berdiri di dekatnya.

“Jeng, ayo makan dulu,” ucap Swandito lembut. Diulurkannya tangan pada Dahlia.

Tanpa bersuara sedikitpun, Dahlia kemudian berdiri dan melangkah ke dalam. Mengabaikan uluran tangan Swandito yang buru-buru mengikuti langkahnya dari belakang. Ketika hendak meraih piring pada tumpukannya di sebuah meja, sebuah tangan terasa menarik sikunya. Ia menoleh.

“Sebentar, ikut aku,” ucap Eyang Murti tegas. Tak terbantah.

* * *

Perempuan sepuh itu menarik Dahlia masuk ke kamar Dahlia semasa gadisnya. Didudukkannya Dahlia di tepi ranjang. Ia sendiri kemudian menarik kursi hingga duduk tepat berhadapan dengan Dahlia.

“Sedang bertengkar dengan Swan?” tanya Eyang Murti. Langsung. Sama sekali tanpa pendahuluan.

Dahlia tertunduk.

“Jangan tanyakan bagaimana aku tahu,” gerutu Eyang Murti. “Aku memang sudah tua, tapi mataku belum lamur17), Ndhuk. Aku masih bisa melihat dengan jelas kalian tidak seperti biasanya. Saling menjauh. Hm... Salah! Lebih tepatnya, kau yang berusaha menjauh. Ada apa? Soal undangan itu? Undangan buat Rengga?”

Dahlia tengadah sedetik, kemudian tertunduk lagi.

“Seruni mengirimkan undangan itu atas sepengetahuanku, romomu, dan ibumu. Kalau mau marah, marahlah padaku, jangan pada adikmu, jangan pada garwamu. Mereka ndak salah apa-apa. Seruni dan Hazel kenal dengan Rengga karena suwargi istri Rengga itu dulu pelanggan butik Seruni. Seruni dan Rengga pernah bertemu di sini, dan Rengga tahu Seruni hendak menikah. Ndak enak kalau kita ndak mengundang. Seruni minta tolong pada garwamu untuk mengirimkan undangan itu sebagai tanda penghormatan.”

“Dan orang paling bodoh sedunia ini adalah saya karena sama sekali ndak tahu apa-apa soal undangan itu,” entah kenapa rasa marah itu muncul tiba-tiba dalam ucapan Dahlia.

Ndhuk,” Eyang Murti mengelus bahu Dahlia dengan lembut, berusaha menyurutkan kemarahan Dahlia, “seandainya kau tahu, lantas kenapa? Apa lantas hendak memboikot pernikahan Seruni? Ndak mau hadir?”

Dahlia terdiam.

Ya, kalau aku tahu, so what?

Dihelanya napas panjang. Makin kehilangan kata.

“Saranku, minta maaflah pada garwamu. Tapi kalau kalian sudah ndak bisa lagi mempertahankan pernikahan itu, semua terserah padamu, Ndhuk. Toh Wulansari sudah ndak ada. Perjanjian yang mengikat sudah ndak ada lagi.”

Dahlia tercekat.

Mengakhiri pernikahan? Semudah itukah?

“Swandito hanya ingin berusaha menyatukanmu kembali dengan Rengga,” suara halus Eyang Murti menggema lagi.

Sampai sejauh itu?

“Tapi semuanya tergantung padamu...”

Dahlia memejamkan matanya.

* * *

Swandito mulai menekan pedal gas pelan-pelan. Malam sudah mulai larut ketika ia dan Dahlia meninggalkan rumah joglo Priyo Harjono. Badan dan pikirannya pun meletih.

“Aku minta maaf,” suara itu tiba-tiba memecah keheningan, membuat Swandito sedikit terperanjat.

“Soal apa?” gumam Swandito, halus.

“Semuanya. Kemarahanku. Diamku. Semuanya,” Dahlia menghela napas, terdengar begitu berat. “Dan juga pernikahan ini.”

Swandito menelan ludah.

Suwargi ibu panjenengan sudah ndak ada lagi,” suara Dahlia terdengar seolah berasal dari tempat yang jauh. “Ikatan di antara kita sudah ndak ada benang merahnya. Kalau panjenengan bertanya apakah aku bahagia, ya, aku bahagia. Tapi kalau semua ini menyiksa panjenengan, buat apa diteruskan?”

Swandito makin kehilangan kata. Setengah mati ia berusaha agar tidak kehilangan konsentrasi untuk menyetir.

“Aku tahu, ada keinginan panjenengan untuk menyatukan aku dan Mas Rengga kembali. Aku ndak tahu apakah masih bisa. Tapi kalau itu sudah jadi dhawuh18) panjenengan, ya sudah.”

Untuk kesekian kalinya, Swandito merasa jiwanya sudah hilang separuh. Tapi ia menyadari bahwa sebagian besar dari kesalahan itu adalah keinginannya pula.

Pelan ia mengucap, akhirnya, “Aku juga minta maaf, Jeng. Atas nama suwargi Ibu dan seluruh keluarga besarku, atas semua yang terjadi pada panjenengan dan keluarga panjenengan. Sebaiknya kita cooling down dulu. Setelah peringatan 40 harinya suwargi Ibu, aku ke Jogja. Untuk sementara aku akan kembali tinggal di sana. Mencoba memikirkan apa yang terbaik buat kita.”

“Tolong, kembalilah paling lambat empat minggu lagi,” bisik Dahlia, patah. “Masih ada sisa acara ngundhuh mantu19) di Jakarta.”

“Ya, aku ingat itu,” Swandito mengangguk. “Aku akan kembali untuk mendampingi panjenengan. Sementara itu, cobalah untuk menjalin pertemanan lagi dengan Mas Rengga.”

Dahlia tercenung. Benar-benar tak tahu harus mengangguk ataukah menggeleng.

* * *

Bersambung ke episode berikutnya :  Ruang Ketiga #8


Catatan :

1. Siraman = memandikan calon pengantin sebagai simbol pembersihan diri agar suci dan murni.
2. Bleketepe = anyaman daun kelapa sebagai simbol atap / peneduh saat prosesi pernikahan berlangsung.
3. Tarub = upacara pemasangan bleketepe yang dilakukan secara berkerja sama oleh kedua orang tua calon pengantin (perempuan).
4. Kembar mayang = sepasang hiasan dekoratif yang tersusun dari bunga, buah, dan anyaman janur, dirangkai pada batang (gedebog) pisang.
5. Tuwuhan = rangkaian berbagai tumbuhan dan buah yang dipasang di depan pintu masuk rumah yang punya hajat.
6. Dodol dhawet = upacara menjual dhawet (cendol) pada kerabat dan para tamu yang ‘membeli’ dengan menggunakan ‘uang’ berupa pecahan genting.
7. Peningset = ‘pengikat’ yang dihantarkan oleh pihak calon mempelai pria sebagai tanda bahwa kedua pihak telah sepakat untuk melanjutkan hubungan ke tahap pernikahan. Biasanya berupa benda yang dipakai calon mempelai perempuan dari ujung rambut sampai ujung kaki, seperti beberapa perangkat pakaian, seperangkat perhiasan, kosmetik, tas, sandal, sepatu.
8. Midodareni = malam menjelang akad nikah dan panggih.
9. Panggih = prosesi dipertemukannya kedua mempelai setelah resmi menjadi suami-istri (setelah akad nikah)
10. Solo basahan = pengantin mengenakan kemben sebagai penutup dada dan kain dodot dengan berbagai perlengkapannya, tidak memakai baju di bagian atas.
11. Paklik = paman (adik laki-laki dari ayah atau ibu)
12. Bulik = bibi (adik perempuan dari ayah atau ibu)
13. Ngincer = mengincar
14. Thengkleng = sejenis sup dengan bahan utamanya daging, jeroan, dan tulang kambing.
15. Jarik = kain panjang batik.
16. Gayeng = suasana yang menyenangkan dan menggembirakan karena penuh dengan gelak canda dan keakraban / kekeluargaan
17. Lamur = rabun.
18. Dhawuh = ucapan yang merupakan keinginan (dari orang yang lebih dihormati).
19. Ngundhuh mantu = acara / resepsi pernikahan yang diadakan oleh orang tua mempelai pria di rumahnya.



21 komentar:

  1. Jadi tahu adat Jawa lebih dalam nih mbak, apik banget. Senin kamis, tak enteni ambek gregetan, kok suwe men..... Salim mbak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Iki wes kemis lho... hayo absen sik!
      Suwun mampire yo...

      Hapus
  2. Nunggu lanjutannya aja sambil nithili turahane thengkleng....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekalian nyuci pancinya ya? Hihihi...
      Nuwus mampire, Mbak...

      Hapus
  3. Mbak dyah rina kok kasian...
    Ini lho mbak tengklengnya masih ada sepanci..njenengan kerso po ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halah...kok ya dibahas lho...#nutup muka pakai tampah

      Hapus
    2. Halaaah... padune njaluk tulung diumbahno pisan pancineee...

      Hapus
  4. sampai menahan nafas...bacanya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jangan kebablasan ya, Mbak, hehehe...
      Makasih dah mampir...

      Hapus
  5. Bookmark sik ngenteni tamat :) ketoke bacaan berat iki

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... nek perlu tak'emailno edisi lengkape. Tapi engkooo nek wis tamat :P
      Matur nuwun rawuhipun...

      Hapus
  6. Jadi paham adat jawa.dan salut banget lihat.keluarga kerakton bisa marah secaraw elegan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cuma nyenggol sedikit kok, Bu...
      Makasih mampirnya ya...

      Hapus
  7. Paklik ada, Pak Dhe hadir belakangan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih singgahnya...
      Mohon maaf, ini Pakde Sakimun apa bukan sih? Maaf kalau salah/bukan...
      Salam...

      Hapus
  8. Suwargi = almarhum / almarhumah
    cooling down = hehehe...kuwi dudu basa Jawa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kata 'suwargi' sudah ada catatan kakinya pada episode #1, jadi di episode ini sengaja nggak saya cantumkan lagi di catatan. Terima kasih...

      Hapus
  9. Balasan
    1. Kalo nggak gitu nggak ada ceritanya, Fris, hehehe...
      Makasih mampirnya ya...

      Hapus