Monday, October 2, 2017

[Cerbung] Rahasia Enam Hati #9









* * *


Sembilan


Dengan semangat membara, sore itu Sander meluncurkan city car-nya dari arah Kuningan menuju ke Tebet. Pesan yang masuk ke ponselnya dari Anindya siang tadi masih diingatnya di luar kepala.

‘Jangan lupa jam 7 sore ini di Kedai Kopi Om James (yang tempat kita ketemuan kapan itu di Tebet).’

Dan, di sinilah ia sekarang, Kedai Kopi Om James, menjelang pukul enam. Masih lama, tapi Sander benar-benar tak ingin kelihatan tidak ‘profesional’ dengan ngaret. Begitu sudah duduk di depan sebuah meja di sudut lantai atas, Sander segera mengirimkan pesan pada Anindya.

‘Nin, aku sudah di kedai. Di lantai dua, pojok kanan dekat jendela.’

Balasannya datang tak lama kemudian, ‘Oke, aku sudah di jalan, sudah dekat, bareng Mia sama Andez. Nanti ketemuan sama Danny di sana.’

Secangkir kopi hitam Kintamani dengan jejak aroma jeruk dan sepiring aneka kue basah menemani Sander. Ia menunggu sambil membuka berbagai situs berita melalui ponselnya. Tapi ia menghentikannya pada laman Instagram milik Sisi. Ada unggahan terbaru siang tadi. Gadis itu berfoto bersama seorang perempuan muda berwajah manis berkacamata yang duduk di kursi roda, dan dua orang pemuda berusia awal dua puluhan. Keempatnya tersenyum ceria. Ada tulisan di bawah foto itu. ‘Tim riweuh yang selalu ceria dalam berusaha memenuhi kepuasan setiap pelanggan.’

Mau tak mau Sander tersenyum tipis. Sorot semangat yang terpancar keluar dari dalam mata bening Sisi terasa menularinya. Ia memang sekilas sudah mengenal Sisi, tapi tetap saja ada rasa ingin tahu sisi lain gadis itu. Sisi lain yang mungkin dapat diungkapkan sang sahabat. Ketika mengingat pertemuan-tak-sengaja-nya dengan Sisi semalam, hatinya mendadak saja terasa hangat.



“Sisi Adiatma?!” panggilnya dengan suara lebih keras.

Napas Sander tertahan di leher begitu gadis itu menghentikan langkahnya, berbalik, dan mengalunkan suara yang terdengar begitu merdu di telinga.

“Ya?”

Waktu seolah membeku di sekitar Sander. Gadis itu masih berdiri tegak di sisi mobil, menatapnya dengan mata bulat yang terlihat begitu bening dan berkilau dalam siraman cahaya lampu area parkir yang terang benderang.

Ya? Sander mendegut ludah, kemudian melepaskan helaan napasnya. Lalu apa?

“Ya?” ulang gadis itu. “Ada yang saya bisa bantu?”

Sander tergagap. Ia kembali menelan ludah sebelum berucap dengan suara seolah tercekik di leher.

“Ng... Nggak, Mbak... Euh... Mbak Sisi, kan? Sisi Adiatma?”

“Iya...,” tatapan gadis itu mulai berlumur keraguan. “Maaf, kita pernah kenal di mana, ya?”

“Maaf,” Sander mengulurkan tangannya. “Saya Sander. Saya sering komen di Instagram Mbak. Akun saya @sandermichael.”

“Oh...,” seketika ada sorot mengenali dalam mata Sisi. Gadis itu membalas jabat tangan Sander. “Sisi Adiatma.”

Sander mengangguk. Sisi tersenyum.

“Maaf, sudah mengganggu Mbak seperti ini,” ucap Sander, tulus.

“Oh, nggak apa-apa,” Sisi menggeleng ringan. Senyum masih tersungging di bibirnya yang menggemaskan. “Mm... Tapi maaf, sudah malam, saya harus pulang.”

“Oh, ya,” Sander mengangguk. “Senang bisa berkenalan dengan Mbak. Saya berharap kapan-kapan kita bisa ngobrol dalam suasana yang lebih baik.”

Sisi mengangguk. Ia kemudian mohon diri dan segera menghilang ke dalam mobilnya. Sander masih berdiri mengawasi hingga mobil mungil itu meninggalkan pelataran parkir EuropeSky.



Ngelamun!”

Sebuah tepukan lembut di bahu kiri Sander membuyarkan lamunan laki-laki itu. Ia menoleh dan menemukan senyum Anindya terulas untuknya. Buru-buru ia berdiri, menyalami Anindya dan dua orang yang ada bersama gadis itu.

“Hai, Nin! Apa kabar?” senyum Sander.

“Baik,” ucap Anindya dengan wajah cerah. “Eh, kenalin, ini Mia adikku, dan ini Andez calon suaminya.”

Segera saja mereka saling bersalaman dengan mengucap nama masing-masing.

“Danny lagi jalan,” ujar Andez. “Kita tunggu aja, ya.”

Sander mengangguk. Sambil duduk bersama, mereka mengobrol tentang banyak hal. Andez bercerita sedikit tentang persahabatan adiknya dengan Sisi. Sander menanggapinya dengan antusias.

“Mm... sebenarnya kemarin sore aku sudah berkenalan dengan Sisi,” ucap Sander pada satu titik.

Ketiga orang yang lain menatapnya dengan sedikit terkejut. Sander segera menyadari arti tatapan itu.

“Cuma sekadar kenalan,” Sander menjelaskan, “nggak bisa ngobrol lebih banyak karena sudah malam. Aku lagi di EuropeSky Kemang sama temen-temenku pas lihat dia ada di sana juga dengan temen-temennya. Pas dia balik, aku beranikan diri kejar dia. Cuma kenalan, salaman. Udah.”

Seketika Anindya tersenyum simpul. Sander meringis.

“Kamu beneran serius kayaknya, ya?” gumam Anindya.

Sander mengangkat bahu. “Jujur, aku belum pernah kayak gini.”

It’s OK,” Anindya menepuk lembut punggung tangan Sander. “Setelah kamu kenal sama Danny, udah, deh, kamu korek sendiri infonya.”

Sander mengangguk. “Makasih banyak, ya, guys. Maaf, aku bikin repot.”

“Tenang aja, Mas,” senyum Mia.

Saat itu, ada seorang laki-laki bertubuh tinggi ramping mendekati mereka. Dengan halus ditepuknya bahu Andez. Segera saja terjadi percakapan singkat. Rupanya laki-laki bernama Wisanggeni itu abang sepupu Andez yang hendak dikenalkan dengan Anindya.

Anindya kemudian berpamitan untuk pindah ke meja lain, sementara Andez dan Mia masih menemani Sander menunggu Danny. Sekilas Sander melihat Anindya meleletkan lidah ke arahnya ketika ia duduk bersama Wisanggeni. Sander tersenyum lebar. Wisanggeni cukup good looking. Wajahnya terlihat serius dan sikapnya sopan. Entah bagaimana nasib obrolannya dengan Anindya nanti.

“Mas...”

“Ya?” Sander mengalihkan tatapannya pada Andez.

“Kalau memang serius sama Sisi, Mas sudah siap menghadapi para bodyguard-nya?” Andez tersenyum geli.

Sander tergelak ringan. Sejujurnya, ia sama sekali belum memikirkan hal itu. Antusiasme hendak mengenal lebih dekat lagi seorang Sisi Adiatma membuat logikanya sedikit tumpul.

“Lihat nanti sajalah...”

“Aku nggak menakut-nakuti,” geleng Andez. “Tapi Mas perlu paham dulu seperti apa persahabatan Sisi, adikku, dan anak-anak lainnya itu. Pesanku, soal yang satu ini, soal persahabatan itu, jangan pernah diusik.”

Sander mengangguk. “Akan kuingat itu. Makasih warning-nya.”

Andez mengacungkan jempol. Sejenak kemudian perhatiannya teralihkan agak jauh ke arah belakang punggung Sander.

“Nah, itu dia! Danny datang,” ucapnya sambail melambaikan tangan.

Sander memutar punggung. Entah kenapa, seketika Sander merasa mulas. Danny tidak datang sendirian. Pemuda itu melangkah yakin, mendekat bersama ‘pasukan’-nya.

* * *

Sejujurnya Danny bersyukur. Setelah semalam mengontak Dion, ia mengontak pula sahabat-sahabatnya yang lain. Minus Sisi, tentu saja. ‘Ada yang mau kenalan sama Sisi,’ begitu berita dari Danny. Kalau berurusan dengan Sisi, mereka segera saja kompak menyediakan waktu. Apalagi ini masalah super penting. COWOK. Tak ada secuil pun cowok yang boleh main-main dengan Sisi. Dan mereka akan menghadapinya bersama, tak cuma Danny seorang.

Dan di sinilah mereka sekarang. Duduk memenuhi mini MPV Marco. Meluncur menuju ke Kedai Kopi Om James.

“Pokoknya kalau Sisi sampai kenapa-napa, gasak!” Jonggi mengepalkan tinjunya.

Seketika ada ledakan tawa dalam mini MPV itu.

“Belum apa-apa juga, Jong,” Marco sekilas melirik ke arah belakang melalui spion tengah.

“Gue udah bilang sama Sisi,” celetuk Danny. “Pokoknya kalau cowok ini kita nilai nggak layak, statusnya bakalan kita gantung.”

“Adil lah gitu,” timpal Reza.

“Oh, iya, semalem gue lupa tanya sama lu, Yon,” Danny yang duduk di jok depan, sebelah Marco, memutar punggungnya. Menatap Dion. “Lu ngapain ajak-ajak kita kumpulan?”

“Sisi nggak bilang?” Dion mengerutkan kening.

Danny menggeleng.

“Mm... ini... gue mau kenalin cewek gue ke geng,” lirih suara Dion. Terkesan ragu-ragu. “Cuma... please lah jangan pada kaget. Dia lebih tua daripada kita.”

“Asal bisa nyambung sama kita aja, Yon,” Marco menanggapi dengan bijak. “Seandainya kagak, ya, bukan masalah besar, sih. Asal lu cocok aja sama dia.”

Dion mengangguk.

“Hari Minggu besok ini, gimana?” Danny memberi tawaran.

Tanpa banyak pernik, kelimanya akur.

“Soal tempatnya, nanti coba gue nego sama Sisi,” pungkas Dion.

Semuanya setuju. Bersamaan dengan itu, Marco membelokkan mobilnya masuk ke area parkir kedai.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)


Catatan :

1. PO IV novel “Eternal Forseti” dibuka kembali mulai hari Senin, 25 September 2017. Akan ditutup pada tanggal 10 Oktober 2017 pukul 23.59 (konfirmasi masuknya pembayaran). Silakan bagi para pengunjung FiksiLizz yang masih berkenan untuk memesannya. Hayuuuk diorder... Caranya masih sama, silakan intip di SINI.

2. Kepada yang sudah memesan dan membayar lunas novel “Eternal Forseti”, dan sudah mendapat konfirmasi nomor resi pengiriman, mohon ‘melaporkan’ kepada Penerbit JP ataupun saya, apakah sudah menerima paket atau belum. Supaya kalau memang belum menerima, agar bisa secepatnya dilacak keberadaan paketnya. Bagi yang belum menerima pemberitahuan nomor resi, harap segera memberi tahu juga, agar bisa dilakukan hal serupa (pelacakan kiriman). Terima kasih.

3. Bagi yang sudah menerima novel “Eternal Forseti”, boleh dong selfie sama novelnya... Siapa tahu nanti ada kejutan bagi yang selfie-nya paling tsyanteeek atau guanteeeng.... Foto bisa diupload ke medsos dengan me-mention Penerbit JP atau saya, atau bisa juga kirim melalui alamat email saya, nanti saya unggah ke akun medsos saya. Hayuuuk selfie sama novel “Eternal Forseti”...

4. Pesan khusus untuk Mbak Uphie : Mbaaak... Mohon maaf WA-ku lagi kolaps.



2 comments: