Monday, October 23, 2017

[Cerbung] Rahasia Enam Hati #15










* * *


Lima Belas


“Jangan lupa, latihan dan briefing terakhir Rabu depan jam enam sore, ya!” Wulan, pemimpin Sanggar Tari Pancarwengi, memungkasi arahannya, tepat pukul enam Minggu sore itu.

Nyaris serempak dengan kawan-kawannya yang lain, Sisi mengangguk sembari memeriksa kembali bundel dokumen perjalanan yang sudah dibagikan. Semuanya sudah lengkap dan sudah sesuai dengan identitasnya. Dihelanya napas lega. Sejenak kemudian ia ikut arus para anggota sanggar yang mulai meninggalkan tempat itu. Saat mengangkat wajah, ia tersenyum. Mobil ayahnya sudah ada di area parkir.

“Sudah selesai?” Himawan keluar dari dalam mobil.

Sisi mengangguk. “Bunda mana?”

“Tuh, lagi teleponan sama bulik-mu.”

Sisi diam-diam masuk ke dalam mobil, duduk manis di jok belakang. Lauren mengangkat tangan, tanda menyambut kehadiran putri tunggalnya. Sisi tersenyum simpul. Memang, bundanya kalau sudah mengobrol dengan sang adik, susah untuk berhenti. Hingga hampir lima menit lamanya Himawan meluncurkan mobil, barulah Lauren menyudahi obrolannya dengan sang adik. Setelah menyimpan ponselnya di dalam tas, barulah ia menengok ke belakang seraya mengulurkan tangan.

“Apa kabar, anak Bunda?” ucapnya dengan nada hangat.

Sisi terkikik geli. “Kayak nggak ketemu setahun aja, Bun...” Tapi disambutnya juga uluran tangan Lauren dengan ciuman hangat di pipi.

Tadi, setelah mengantarkan Sisi ke Sanggar Tari Pancarwengi untuk latihan dan pembagian dokumen perjalanan, Himawan memang langsung menjemput Lauren yang baru turun dari Cipanas. Setelah itu, barulah keduanya kembali menjemput Sisi.

“Makan dulu, ya?” celetuk Himawan. “Ayah lapar banget.”

Baik Lauren maupun Sisi menyambut gembira usulan itu. Himawan kemudian meluncurkan mobilnya ke sebuah resto chinese food terdekat.

* * *

Sander memeluk sebuket besar bunga mawar sambil melangkah kembali ke mobilnya. Bibirnya mengulum senyum.

Mawar merah tanda cinta yang membara...

Selintas pikiran itu membuatnya salah tingkah sendiri. Sungguh, ia belum pernah kasmaran sedemikian rupa. Rasa-rasanya ia jadi layaknya ABG alay yang lebay dalam menyatakan perasaannya.

Teenager jaman now. Halaaah...

Senyum itu masih terkulum hingga ia makin jauh melajukan mobil. Seisi kabin serasa surga bunga mawar yang harum mewangi.

Sisi, I’m coming...

Tapi semangatnya mengempis setelah ia mengetuk pintu rumah tanpa pagar bercat broken white bernomor 17 itu.

“Mbak Sisi pergi,” begitu ucap perempuan berusia 30-an yang membukakan pintu.

“Pulangnya jam berapa, ya?” tanya Sander halus.

“Wah, nggak tahu, Mas. Kalau berangkat latihan sendirian, sih, habis latihan langsung pulang. Tapi ini tadi diantar Bapak. Sekalian Bapak jemput Ibu pulang dari Cipanas. Biasanya kalau keluar bertiga suka sampai malam baru pulang.”

“Oh...,” bahu Sander turun.

“Atau mau saya teleponkan Mbak Sisi?”

Sander berpikir sejenak sebelum memutuskan, “Nggak usah, deh, Mbak. Titip ini saja buat Sisi.”

Dengan setengah hati, Sander menyerahkan buket bunga mawar merah yang dibawanya ke tangan perempuan itu.

“Dari siapa ini, ya, Mas?” senyum perempuan itu.

“Bilang saja dari Sander, Mbak. Makasih, ya. Saya permisi dulu.”

“Iya, Mas, iya...”

Sander berbalik. Tapi sebelum telapak kakinya menjejak tepi teras, ia berbalik lagi.

“Maaf, Mbak. Tadi Mbak bilang Sisi latihan? Latihan apa, ya?”

“Oh... Latihan nari, Mas.”

Ooo... Bibir Sander membundar tanpa suara. Ia kemudian mengangguk dan kembali berpamitan. Tanpa menoleh lagi, ia menghampiri mobilnya, masuk, menyalakan mesin, dan meluncur meninggalkan tempat itu.

* * *

“Ada cerita apa, nih, selama Bunda retreat?” Lauren menatap Himawan dan Sisi bergantian dengan mata berbinar.

“Ada yang gagal kencan, Bun,” Himawan mulai melancarkan bully-annya.

“Ih! Ayah apa, sih?” Sisi merengut sambil mencubit lengan Himawan.

Laki-laki itu tergelak, sementara Lauren menanggapinya dengan serius.

“Gagal kencan gimana?” ditatapnya Sisi lekat-lekat.

“Halaaah... Si Ayah didengerin,” gerutu Sisi. “Cuma salah jadwal aja, sih, Bun.”

“Salah jadwal gimana?” Lauren masih mengejar terus.

“Ya... Tadinya dia ajak Sisi keluar. Harusnya kemarin. Tapi dia lupa ada jadwal penting di kampusnya, nggak bisa ditinggal. Jadi ditunda dulu lah...”

“Memangnya dia dosen? Atau mahasiswa abadi?”

Himawan tertawa mendengar nada interogasi yang begitu sarat dalam suara Lauren. Sementara, Sisi tersenyum simpul.

“Enggak, Bun...,” jawabnya sabar. “Dia ambil kuliah lagi. Magister. Jadwal kuliahnya cuma weekend karena dia, kan, orang kantoran.”

“Oh...,” Lauren manggut-manggut, walaupun jelas sekali masih ada rasa tak puas yang terpancar dari wajahnya.

Himawan menatap Lauren. Dalam. Perempuan itu jelas menangkap pesan sang suami. Bun... kamu sudah berlebihan... Sedetik kemudian ia terpekur.

Ya, barangkali aku memang berlebihan. Tapi... bagaimanapun pemuda itu anak Erlanda. Aku yakin dia anak Erlanda!

“Bun...”

Lauren tersentak. Ditatapnya Sisi yang baru saja menggemakan panggilan lembut itu.

“Ya?”

“Bunda kenapa, sih? Kok, kayaknya nggak suka aku kenalan sama Sander ini?”

Lauren terdiam. Benar-benar tak tahu harus menjawab apa, dan bagaimana menjelaskannya.

* * *

Sander sudah nyaris terlelap ketika telinganya menangkap denting notifikasi WhatsApp dari ponselnya. Sambil menguap, ia meraba-raba samping bantal. Dikerjapkannya mata beberapa kali sebelum membaca barisan huruf yang tertera di layar. Pesan dari Alfons. Menjawab pesan yang sudah dikirimkannya sekitar dua jam yang lalu, ‘Fons, memangnya Sisi penari, ya?’

‘Iya, Sisi memang penari tradisional. Ikut sanggar apa gitu. Kenapa memangnya?’

Segera Sander mengetikkan balasannya. ‘Gpp. Tadi gue ke rumahnya pulang kuliah. Tapi dianya nggak ada. Kata yang jaga rumah, Sisi lagi latihan. Latihan nari.’

‘Ooo... Gagal maning, San? Hehehe...’

Sander tersenyum masam. Setelah mengetikkan balasan pamungkas, ia memutuskan untuk sekalian saja memeriksa semua pesan yang masuk. Dan salah satu di antaranya seketika membuat ia terduduk dengan mata bulat.

Dari Sisi!

Masuk ke ponselnya sekitar sejam yang lalu.

* * *

Bully-an dari sang ayah kembali diterima Sisi ketika Miatun menyerahkan sebuket besar mawar merah yang begitu wangi padanya.

“Dari Mas Sander, Mbak,” begitu ucap Miatun.

“Hiyaaa... Sudah ada yang berani datang sambil bawa bunga...,” ledek Himawan. “Yakin itu buat Sisi? Bukan buat bundanya?”

Lauren menggelengkan kepala sambil melangkah ke kamar. Sementara Sisi tersenyum malu-malu memeluk buket itu.

“Sudaaah... Kelonin dulu, sana!” Himawan mendorong lembut bahu putrinya.

Sisi terkekeh sambil menyelinap masuk ke dalam kamar. Sudah hampir pukul sepuluh. Ia memutuskan untuk saat itu juga mengirimkan ucapan terima kasih melalui aplikasi WhatsApp.

* * *

‘Buket mawarnya bagus banget, Mas Sander. Makasiiih...’

Seketika semua kekecewaan yang bersemayam di hati Sander meluruh. Dengan cepat dibalasnya pesan itu.

‘Maaf, Si, aku ketiduran. Sama-sama... Semoga kamu suka.’

Ketika hendak meletakkan ponsel karena disangkanya Sisi sudah tidur selarut itu, mendadak benda itu berbunyi pendek. Notifikasi pesan WhatsApp. Sander serasa ingin berjumpalitan ketika membaca isinya.

‘Oh, ya, Mas Sander tadi ada perlu apa, ya? Kok, sampai belain datang ke rumah?’

‘Ini, Si, sebetulnya tadi aku ingin ngomong langsung sama kamu. Hari Minggu depan, salah seorang sohibku nikahan. Sisi mau nggak, kuajak datang ke pemberkatan sama resepsinya?’

‘Mm... Hari Minggu, ya? Gimana kalau besok Mas Sander ke sini lagi? Kita obrolin baik-baik di rumahku.’

‘Boleh, Si?’

‘Ya, boleh lah... Btw, dapat alamatku dari Mas Alfons, ya?’

‘Iya, hehehe... Gpp, kan?’

‘Iya, nggak apa-apa. Oke, besok Sisi tunggu, ya?’

‘Pulang kantor aku langsung ke rumahmu, Si. Jam enam lah kayaknya bisa sampai.’

‘Oke. Selamat tidur, Mas Sander.’

‘Selamat tidur, Si. Mimpi indah, ya...’

Sander berbaring kembali sambil memeluk ponselnya. Susah sekali menghilangkan senyum yang terus-menerus terkembang di bibir. Semua hal tentang ia dan Sisi sepertinya serba tak terduga. Ia seolah terjebak petualangan di taman ria yang penuh dengan berbagai permainan seru. Sebuah perasaan yang ia belum pernah mengalami bersama perempuan mana pun yang pernah singgah dalam kehidupannya.

* * *


Ilustrasi : www.pixabay.com (dengan modifikasi)

3 comments:

  1. mbak, kok malah ngguyu ngono. kemekelen. lha kok mas sander gagal maning ketemuan ama sisi...... oalah mas, mas gagal maning yo.....

    ReplyDelete
  2. Leh !
    Gasido ketemu kambek cabunmer iq mb Lis ?

    ReplyDelete