Thursday, May 18, 2017

[Cerbung] Caramel Flan for Ronan #8

Delapan


“Pak Ronan, jadi tukar jadwal, gak?”

Ronan mengalihkan tatapan dari sebundel proposal yang tengah dibacanya. Inna duduk di depannya, dibatasi meja. Menatapnya penuh harap.

“Ya,” angguk Ronan.

“Jadi lu bebas dekati dia,” lanjut Inna, berbisik.

Ronan tersenyum. Tapi sejenak kemudian ia tercenung. Beberapa detik tatapannya tampak kosong, sebelum kembali terfokus pada Inna.

“Dari mana gue harus mulai?” gumamnya.

Tatapan Inna berkeliling cepat. Mereka tidak sendirian berada di ruangan kantor bersama itu. Ada beberapa dosen lainnya di sana. Tampak sibuk dengan urusan masing-masing Ada juga seorang mahasiswa yang tengah menghadap dosen wali. Situasi yang sama sekali ‘tidak aman’ untuk bicara tentang Ronan dan ‘dia’. Perempuan itu kemudian berdiri.

“Nanti sore mampirlah ke rumah,” Inna mulai berlalu, masih dengan suara lirihnya. “Kita bicarakan sambil makan.”

Ronan mengangguk walaupun Inna tak melihatnya.

Masa kuliah matrikulasi sudah memasuki bulan ketiga dan akan segera berakhir. Setelah berhari-hari berpikir tentang Sasya, ia sampai pada sebuah gambaran, bahwa sebaiknya ia melepaskan perkuliahan kelas reguler yang berlangsung pagi hari pada semester ganjil yang akan datang. Gadis itu ada di ‘sana’.

Tidak ada larangan seorang dosen memacari mahasiswinya sendiri. Tapi ia tidak mau gegabah. Tak mau kehilangan sikap obyektif. Oleh karena itu, ia berpikir untuk tidak lagi mengajar kelas reguler, dan beralih ke kelas sore, untuk mengurangi interaksi formalnya dengan Sasya. Kebetulan Inna juga sedang mencari celah untuk mengajar pagi saja. Perempuan itu sedang hamil muda. Lagipula disertasi pun butuh diurusi.

Ronan serius ingin mendekati Sasya. Karena sebuah ‘rasa’ yang kembali muncul ke permukaan setelah akhir-akhir ini ia lebih memperhatikan kehadiran gadis itu. Setelah ia meraba kembali hatinya. Dan menemukan bahwa Sasya adalah gadis yang unik dan patut diperjuangkan.

Dulu, ia sudah merasa tertarik pada Sasya saat gadis itu pertama kali muncul sebagai mahasiswi baru di kampus. Saat itu hubungannya dengan Yuke sudah cukup lama berakhir. Jadi ia tidak berkhianat. Sayangnya, hanya dua semester saja ia mengajar Sasya. Selanjutnya, ia hanya berani menatap gadis itu dari kejauhan. Membiarkan ‘rasa’-nya meraba-raba dalam gelap untuk mencari arahnya sendiri. Dan rasa itu makin kuat menariknya pada satu arah. Satu nama, yang bahkan desir-desir dalam hatinya jauh lebih liar daripada ketika ia dulu berhadapan dengan Valina ataupun Yuke.

Kalau saja...

Ronan kembali tercenung. Menggelang samar.

Sudah bukan saatnya untuk terperosok lagi dalam perasaan menyesal. Yang ada sekarang adalah kesempatan yang tampak terbuka begitu lebar, dan mungkin tidak akan datang untuk kedua kalinya. Ia tak akan tahu apakah memang kesempatan itu untuknya kalau tidak mulai melangkah maju.

Tapi dari mana? Kenapa rasanya akan jauh lebih sulit daripada ketika harus melangkah bersama Yuke dulu?

Tidak! Ia tak pernah membandingkan ketiganya. Valina adalah Valina. Yuke adalah Yuke. Dan kini, Sasya adalah Sasya. Mereka adalah milik diri mereka sendiri dengan segala keistimewaan dan kekurangan yang mereka miliki. Sama sekali tidak bisa dan tidak boleh dibandingkan.

Tapi...

Kembali lagi, harus mulai dari mana?

* * *

Sudah hampir waktunya pulang.

Sasya menggeliat sambil menguap. Jam dinding di seberangnya sudah menunjukkan sekian belas menit sebelum pukul enam pada hari Kamis sore itu. Hal berikutnya yang ia lakukan adalah melemaskan leher. Saat akan menguap lagi, pesawat telepon di mejanya berbunyi. Ia segera mengangkatnya.

“Ya, Sasya di sini,” ucapnya sambil berusaha menahan gerakan mulutnya.

“Mbak Sya, ini Devan. Mbak Sya sudah mau pulang?”

“Iya, Chef. Ada problemkah?”

“Oh, enggak, Mbak. Cuma mau nawarin Mbak Sya makan malam. Mumpung agak longgar ini.”

“Mm...,” Sasya berpikir sejenak. Perutnya memang terasa agak lapar. Hingga akhirnya ia memutuskan, “Sebentar, aku ke situ.”

Seusai menutup telepon, Sasya berdiri dan keluar dari kantor. Sebelum melangkah ke dapur, ia menyempatkan diri menengok ke ruangan resto. Cukup penuh, dengan sebagian besar pengunjung sudah menghadapi makanan dan  minumannya masing-masing.

Sepanjang siang hingga menjelang sore tadi resto sungguh ramai. Pesanan layan-antar hampir tak pernah berhenti mengalir. Begitu juga para pengunjung. Membuat resto penuh selama berjam-jam tanpa ada tempat kosong. Sejak datang pada pukul dua belas tengah hari hingga dua jam yang lalu, Sasya sendiri sibuk turun tangan langsung melayani sekian meja yang ditempati turis dan ekspatriat.

Ketka ia sampai di dapur, suasana pun tidak sesibuk biasanya. Beberapa asisten chef tengah melakukan platting. Ia pun segera menyisih ke sebuah sudut. Ada meja kecil agak tinggi di sana, lengkap dengan sebuah kursi bar. Chef Devan segera menghampirinya.

“Mau makan apa, Mbak Sya?” senyumnya.

“Biasa, deh, Chef,” Sasya mengedipkan sebelah mata.

Devan mengacungkan jempol. Menu ‘biasa’ yang diminta Sasya memang benar-benar biasa dan sederhana. Hanya kartoffelsalat, sauerkraut, dan bratwurst. Tak butuh waktu lama bagi Devan untuk menyiapkan menu dari Jerman itu. Hanya salad kentang, acar kubis, dan sosis panggang, didampingi teh tawar hangat. Sasya sangat menyukai paduan makanan itu. Apalagi kartoffelsalat buatan Devan sangat khas. Potongan daging rebus yang dicampurkan di dalamnya diganti dengan daging asap yang dipanaskan sebentar sebelum diiris, sehingga aromanya sungguh menggoda.

Tak sampai sepuluh menit, makanan dan minuman itu sudah terhidang di depan Sasya. Mata gadis itu langsung berbinar-binar. Apalagi dua sosis panggang berukuran jumbo itu aromanya benar-benar memabukkan. Dengan manis diucapkannya terima kasih pada Devan.

Tak butuh waktu lama juga untuk menghabiskan makanan itu. Setelah meletakkan piring dan gelasnya di bak cuci, Sasya berpamitan pada Devan.

Chef, aku setelah ini langsung pulang, ya,” ucapnya. “Titip resto. Jangan sampai pada telat makan.”

“Siap, Mbak!” senyum Devan. “Selagi agak senggang begini, bakal saya suruh anak-anak giliran makan.”

Sasya mengangguk, kemudian keluar dari area dapur.

* * *

“Sering-seringlah pulang ke rumah bokap-nyokap lu.”

Ronan berhenti mengunyah. Ia mendongak sedikit. Menatap Inna yang sibuk menambahkan ini-itu ke piring Leo setelah menyeletuk.

“Mulailah PDKT,” lanjut Inna. “Cari celah. Lu mau manfaatkan Pak Giyo juga bisa. Banyak cara.”

Inna kemudian duduk di sebelah Leo, di seberang Ronan.

“Gue nggak bisa sembarangan, In,” Ronan menggeleng pasrah. “Statusnya masih mahasiswi gue.”

“Sebentar lagi enggak,” sambar Inna, mulai tak sabar.

Sejujurnya perempuan itu heran. Kandidat doktor seusia Ronan, belum mencapai 30 tahun, dengan karir gemilang sebagai pemilik lebih dari sebuah bidang usaha, dengan otak cemerlang, dosen pula, tapi...

... Kenapa tolol banget untuk urusan seorang Sasya?

Dihelanya napas panjang. Memang ada alasan tertentu yang sepertinya menghambat Ronan untuk melangkah maju, tapi...

... Tetap saja tolol, celanya dalam hati.

“Gue bakal minta bantuan Gaby,” gumam Ronan kemudian. “Atau Mama.”

“Mamamu lebih ampuh!” angguk Inna. “Paling tidak, lu tahu dulu kebiasaannya, atau jadwalnya. Kalau sudah jelas, lu tinggal masuk.”

Hm... Ronan manggut-manggut. Bicara dengan Inna jelas-jelas sudah berhasil membuka wawasannya untuk hal lain. Di samping itu...

“Masakan lu tambah mantep aja, In,” puji Ronan, setulus-tulusnya.

Inna tergelak, sementara Leo tersenyum lebar.

“Dia ngidamnya belajar masak, Ron,” ujar Leo. “Boro-boro nggak doyan makan. Dia, sih, ajaib!”

Ronan tergelak mendengarnya. Ada sebersit rasa iri ketika melihat rona bahagia memancar dari wajah Inna dan Leo. Sejenak tatapannya bertemu dengan Inna. Ada sinyal yang berhasil ditangkapnya dari dalam mata Inna.

Lu bisa, Ron. Lu pasti bisa!

Ronan mengangguk samar.

* * *

Ketika Sasya menutup pintu pagar, sebuah city car berwarna gelap melintas dan mengambil ancang-ancang untuk menyeberang. Ia cukup mengenali mobil itu. Benar! Mobil itu hendak masuk ke rumah di sebelah kanan.

Tumben, belum weekend sudah pulang?

Benaknya sempat menggelinding jahil. Sejenak kemudian ia kembali ke atas skuternya dan meluncur ke garasi yang pintunya sudah terbuka separuh. Mendengar derum motor itu, Marsih buru-buru menyambut.

“Kok, nggak bunyiin klakson, sih, Mbak?” perempuan berusia pertengahan 30-an itu memprotes.

“Halah... Cuma buka pintu pagar saja, lho,” Sasya melepaskan helm dari kepala.

Senyum Yuliani dan Fritz yang tengah duduk sambil menonton televisi di ruang tengah menyambut Sasya. Seketika kelelahan gadis itu meluruh setengahnya. Ia menjatuhkan diri di sebelah Yuliani. Perempuan itu menunjuk ke arah coffee table.

“Tuh, Mama sudah lama janji mau bikinkan kamu putu ayu. Itu tadi Mama bikinkan untukmu.”

Mata Sasya langsung membulat. Ia membungkuk untuk mengambil piring berisi enam buah kue putu ayu, kemudian duduk memangku piring itu sambil menikmati isinya. Marsih muncul sambil membawa segelas coklat hangat.

“Minum dulu, Mbak.”

“Hooo... Makasih, Yu,” Sasya menyambutnya dengan gembira. Gadis itu kemudian menoleh ke arah Yuliani. “Dikit banget bikinnya, Ma?”

“Ya, cuma segitu itu sisanya,” Yuliani tergelak. “Tadi jadi dua puluh. Marsih sama Mama paling makan cuma dua-tiga potong. Lainnya...,” Yuliani melirik Fritz.

Laki-laki itu meringis malu. Sasya terbahak seketika. Apalagi ketika laki-laki berbadan besar itu berlagak sok imut dengan menyembunyikan wajahnya di balik bahu Yuliani.

“Mandi dulu...,” tangan Yuliani mengelus lembut kepala Sasya. “Besok pagi kamu ke kampus?”

“Enggak,” geleng Sasya. “Langsung ke resto aja shift sore.”

“Ikut Mama, yuk!”

“Ke mana?”

“Kan, sie sosial gereja mau adakan bakti sosial ke panti asuhan,” Yuliani menjelaskan. “Ternyata Jeng Wanda itu punya panti asuhan, didirikan bersama beberapa temannya. Nah, belakangan ini, kan, butuh perluasan. Makanya mereka pindah ke sini, karena rumah lama dipakai untuk perluasan itu. Besok, Mama mau survey ke sana, lihat kebutuhannya apa saja. Nanti hari Minggu biar Mama sampaikan ke rapat.”

“Oh...,” Sasya manggut-manggut. “Boleh... Sama Papa juga?”

“Enggak,” Yuliani menggeleng. Tersenyum. “Papa bagian menutup kekurangan saja, dan nanti jadi kuli saat hari H.”

Sasya terkekeh. Berapa pun waktu, tenaga, dan materi yang orang tuanya serahkan untuk kegiatan sosial, entah kenapa mereka tak pernah kekurangan hal-hal itu untuk diri sendiri. Sesibuk apa pun Fritz di restoran dan Yuliani di beberapa kegiatan sosialnya, keduanya selalu punya waktu dan tenaga untuk keempat buah hati tercinta. Begitu pula dengan soal materi. Dan mereka ‘membuang’ semua itu tanpa pernah mengharapkan balasan ataupun ‘kembalian’. Semua mengalir dan tercurah begitu saja.

“Oke, deh! Jam berapa mau berangkat?”

“Jam sembilan atau sepuluh. Santai saja, Sas.”

“Kalau memang selesainya sampai sore, tidak apa-apa kalau kamu datang terlambat,” tambah Fritz.

Sasya mengangguk. Ia kemudian berdiri dan menyodorkan piring yang masih menyisakan dua buah kue putu ayu pada Fritz.

“Aku mau mandi dulu. Ini buat Papa,” ucapnya manis.

Nee, schat,” Fritz menggeleng dengan ekspresi menyerah. “Kamu lihat perut Papa sudah buncit begini.”

“Kebanyakan bir,” cela Sasya, disusul gelak tawanya.

Yuliani terkikik geli. Digelitiknya perut Fritz.

“Mama hamil Runa dan Era saja dulu nggak segede ini ukurannya,” ledeknya.

Sasya meninggalkan gema tawanya saat menghilang dari ruangan itu.

* * *


Ilustrasi : pixabay.com (dengan modifikasi)

8 comments: