Senin, 15 Mei 2017

[Cerbung] Caramel Flan for Ronan #7

Tujuh


Begitu Sasya melangkah masuk ke garasi setelah selesai mencuci motornya di carport, tercium olehnya aroma khas karamel yang begitu wangi dan selalu menimbulkan sensasi yang menyenangkan dalam hatinya. Ia segera menghampiri dapur dan mendapati Fritz tengah sibuk menuangkan karamel yang masih mengepul ke dalam dua puluh mangkuk aluminium kecil yang dijajar rapi dalam dua baris memanjang di atas island. Gadis itu kemudian duduk di seberang Fritz.

“Bikin flan lagi, Pa?” usiknya.

Ja,” angguk Fritz. “Nanti Papa minta tolong kamu yang masak pudingnya, ya?”

“Lho, aku, kan, mau pergi.”

“Jam berapa?” tanya Fritz tanpa mengalihkan tatapan dari pan dan mangkuk-mangkuk aluminiumnya.

“Jam sebelas.”

“Ini masih jam berapa?” tanya Fritz lagi, sabar.

“Belum genap jam tujuh.”

“Nah, cukup waktu, kan?”

“Banyak banget?” Sasya mengitung jumlah mangkuk di atas island.

“Mama belum katakan padamu kalau sore nanti kita mengundang keluarga Pradana untuk makan malam?”

“Hah?” Sasya mendongak. “Nee,” gelengnya. “Mama nggak bilang apa-apa.”

Bersamaan dengan itu, Yuliani menyahut dari arah depan kompor, “Sorry, Mama lupa.” Perempuan itu tengah sibuk memasak mongolian beef1) yang dimodifikasi dengan tambahan potongan buncis dan irisan buah nanas segar untuk sarapan mereka. “Sas, tolong, siapkan nasinya, ya?”

Sasya mengangguk sambil dengan cekatan mengambil empat mangkuk saji keramik, dan mengisinya dengan nasi panas. Fritz kemudian meminta agar Sasya tidak pulang terlalu malam. Gadis itu berjanji untuk sampai di rumah lagi sekitar pukul tiga atau empat sore. Fritz berpesan pula agar Sasya sekalian menjemput chef Abraham dan seorang asisten dari resto ke rumah.

“Oh, mau pakai Om Bram?” Sasya memastikan.

Ja. Masa ada tamu, Papa malah sibuk sendiri di dapur?”

Sasya tersenyum menanggapinya. Yuliani mematikan kompor dan memindahkan mongolian beef ke atas nasi dalam empat mangkuk keramik itu. Tak lupa ia menaburkan wijen sangrai di atasnya. Sasya segera memanggil Marsih. Fritz dan Yuliani lebih senang menikmati sarapan berupa ricebowl itu dengan santai di teras belakang. Sedangkan Sasya memilih untuk sarapan bersama Marsih di dapur, sambil ngerumpi.

* * *

Dengan hati-hati Gaby membawa semangkuk bubur ayam hangat ke kamar abangnya. Ketika ia masuk, abangnya terlihat masih berbaring di ranjang dengan kepala disangga dua buah bantal. Tampak sibuk dengan ponselnya. Laki-laki itu menoleh ketika pintu terbuka. Wanda mengikuti di belakang Gaby, membawa segelas besar air putih hangat dan secangkir besar air seduhan jahe geprek yang masih mengepulkan asap tipis. Pelan-pelan Ronan bangun.

“Masih pusing?” Wanda duduk di tepi ranjang.

“Masih,” suara Ronan terdengar serak.

“Makan dulu,” Wanda meraih mangkuk bubur yang diletakkan Gaby di atas nakas. “Setelah itu minum obat. Terus mandi, biar Bik Omi ganti spreimu. Setelah itu mau rebahan lagi, terserah.”

Ronan mengangguk sedikit. Dengan cekatan Gaby naik ke atas ranjang, menumpuk dua bantal dan satu guling agar Ronan bersandar dengan nyaman. Setelah itu ia beringsut dan mulai memijat kaki Ronan dengan lembut. Walaupun sering menjadi obyek bully-an si abang tunggal, tapi hati Gaby luluh juga melihat abangnya tepar tak berdaya seperti ini.

“Kamu ini jarang sakit,” gumam Wanda sambil menyuapi Ronan. “Tapi begitu dihajar flu, kok, ya, langsung parah begini, to, Ron. Sama persis kayak Papa.”

Laki-laki itu hanya bisa meringis tak jelas.

Tuyang tatih tayang itu, Ma,” sahut Gaby dengan wajah disetel sok imut.

“Hah?” Wanda menoleh cepat. “Apa itu?”

Gaby tergelak seketika. Ronan menggeleng samar. Tambah pusing mendengar celoteh ngawur adiknya.

“Kurang kasih sayang, Mamaaa...,” jelas Gaby. “Abang, kan, masih jomlo.”

“Oh, hehehe...” Tapi sedetik kemudian wajah Wanda berubah jadi serius lagi. “Padahal nanti sore kita diundang makan malam sama tetangga sebelah,” Wanda melanjutkan gumamannya.

Ronan tersedak seketika.

“Makan sudah pelan-pelan begini, kok, ya, bisa sampai keselek iki piye, to?” gerutu Wanda sembari meraih gelas berisi air putih hangat.

“Lha, iya, keselek,” sahut Gaby, melihat celah untuk terus mem-bully abangnya. “Dengar kata ‘tetangga sebelah’ aja Abang sudah klepek-klepek dag dig dug dueeerrr!”

Wanda terkekeh seketika, sementara yang digoda hanya bisa melebarkan sedikit tatapan sayunya. Gaby meleletkan lidah dengan wajah luar biasa jahil sebelum meloncat dari atas ranjang dan keluar dari kamar itu. Pelan-pelan Ronan meneguk isi gelas yang disodorkan Wanda. Ketika Wanda menyodorkan lagi sesendok bubur ayam ke depan mulut, Ronan menghindar dengan berpaling sedikit.

“Sudah, Ma.”

“Lagi,” tegas Wanda.

“Sudah, Ma. Kenyang. Mana aku mual begini.”

Wanda menyerah. Daripada makanan yang sudah masuk itu ‘keluar’ lagi, maka ia memilih untuk menuruti ucapan anak sulungnya itu. Diraihnya kantong kertas kecil berisi obat di atas nakas. Dengan telaten disiapkannya masing-masing sebutir dari tiga macam obat itu, kemudian diminumkannya pada Ronan. Laki-laki itu menyandarkan kepala ke belakang sambil memejamkan mata ketika kepalanya berdenyut lagi. Demamnya memang sudah turun walaupun badannya masih terasa pegal di sana-sini. Tapi secara keseluruhan kondisinya sudah jauh lebih baik daripada kemarin.

“Benar yang dibilang Gaby?” selidik Wanda.

“Hah?” Ronan membuka mata dan mengangkat sedikit kepalanya. Gerutunya, “Gaby didengerin.”

Wanda menghela napas panjang. Ditatapnya si anak sulung. Perempuan itu sepertinya kesulitan untuk merangkai kata. Dalam tatapan yang meredup itu, Ronan masih dapat menemukan bersit-bersit luka melompat keluar begitu saja, meskipun ia tahu Wanda selalu menyembunyikannya rapat-rapat. Semua itu adalah tentang ia dan Yuke.

Ronan susah payah mendegut ludah. Terasa nyeri. Wanda mengerjapkan mata. Ia mengalihkan tatapan dengan menyibukkan diri meringkas mangkuk dan gelas bekas sarapan Ronan. Ketika hendak beranjak, suara lirih dan serak Ronan membuat gerakannya terhenti.

“Maafkan aku, Ma...”

Wanda kembali mengerjap. Kali ini berusaha mengusir telaga bening yang sudah menggenang dalam matanya. Ia kemudian menggeleng lemah.

“Sudah, tidak apa-apa,” bisiknya. “Apa pun yang terjadi, kamu tetap anak Mama.”

Tanpa menunggu tanggapan Ronan, Wanda berdiri dari duduknya dan cepat-cepat keluar dari kamar itu. Ronan menatapnya dengan dada terasa sedikit sesak.

Omi muncul dengan membawa seperangkat sprei bersih ketika Ronan pelan-pelan menurunkan kakinya dari atas ranjang. Laki-laki itu duduk diam sejenak untuk mengurangi rasa pusing. Ia kemudian berdiri dan melangkah ke kamar mandi dengan perasaan agak melayang.

* * *

Selesai sarapan, Sasya mulai menyiapkan semua bahan untuk membuat flan. Fritz menemaninya. Sementara Sasya sibuk menakar bahan, Fritz menata semua mangkuk aluminium yang karamelnya sudah mulai mengeras ke dalam dua buah pinggan lebar. Masing-masing pinggan berisi sepuluh mangkuk.

“Sasya, nanti langsung kamu tuang ke sini saja setelah adonannya agak dingin, ya,” gumamnya.

Sasya mengangguk sambil mulai menyiapkan milk pan. Untuk dua puluh mangkuk, ia memilih untuk dua kali memasak adonan puding. Supaya takaran dan rasanya tetap terjaga.

Dengan cekatan ia mengocok telur dan gula di dalam sebuah baskom kecil hingga tercampur rata. Setelah itu, ia mulai memanaskan campuran susu, krim, sejumput garam, dan beberapa tetes ekstrak vanila. Diaduknya pelan-pelan. Ketika campuran itu mulai berbuih, ia menuangkan sedikit susu ke baskom telur dan mengaduknya hingga benar-benar tercampur rata. Kemudian dituangkannya campuran telur ke dalam panci berisi susu, diaduknya sambil dipanaskan hingga matang.

Fritz menyiapkan sebuah panci bertangkai lainnya yang sudah dipasanginya saringan sebelum meninggalkan putri bungsunya itu sibuk sendirian di dapur. Ia sempat berpesan, “Nanti kalau sudah siap masuk ke oven, kamu panggil Papa. Biar Papa yang menyelesaikannya. Kamu siap-siap saja untuk pergi.”

Setelah mematikan kompor, Sasya mencicipi sedikit adonan puding panas itu. Keningnya segera mengernyit. Terasa ada yang kurang.

Kurang gurih... Nggak seperti bikinan Papa. Hadeeeh! Gassswaaat!

Otaknya kemudian berputar. Lalu ia menemukan sesuatu. Diputuskannya untuk menambahkan bahan lain setelah menyaring adonan panas itu. Sambil menunggu adonan kloter pertama menjadi hangat, ia mengulangi lagi proses yang sama pada kloter kedua. Termasuk menambahkan bahan lain itu.

Ia kemudian mulai menuangkan dengan hati-hati adonan puding hangat ke dalam mangkuk-mangkuk aluminium berisi karamel yang sudah benar-benar mengeras. Sepuluh menit kemudian semuanya siap. Ia segera memanggil ayahnya.

“Rapi!” puji Fritz sambil memanaskan sepanci air.

Ketika air dalam panci itu sudah mulai mengeluarkan asap, dengan hati-hati Fritz menuangkan air hangat itu ke dalam kedua pinggan. Ia kemudian mengangkat pinggan dan memasukkannya ke dalam oven. Puding itu masih harus menjalani proses lebih lanjut. Dipanggang dengan cara au bain marie. Lebih sederhananya, ditim di dalam oven. Lamanya sekitar 45 menit sebelum mangkuk-mangkuk itu dikeluarkan dari oven, didinginkan, dan disimpan di dalam kulkas.

* * *

Setelah mandi, tubuh Ronan terasa sedikit lebih segar. Sprei ranjangnya sudah diganti. Pelan-pelan Ronan duduk di tepi ranjang. Akhirnya ia mendapat kamar juga di rumah baru. Tidak sebesar kamarnya di rumah lama, tapi cukuplah untuk beristirahat tiap akhir pekan.

Kepalanya masih terasa pening. Ia kembali membaringkan tubuhnya dan meraih ponsel. Dengan berbaring miring dan kepala bertumpu pada dua buah bantal yang ditumpuk jadi satu, ia mulai sibuk dengan ponselnya.

‘In, lu kasih tahu Yuke kalau gue sakit?’ tulisnya melalui aplikasi Whatsapp.

Balasannya muncul di layar tak lama kemudian. ‘Iya. Dia hubungin lu?’

‘Ya, tapi WA-nya belum gue bales.’

‘Lu udah mendingan?’

‘Lumayanlah.’

“Sorry, gue juga cerita ke Yuke soal Sasya. Ternyata dia udah tahu. Lu udah pernah cerita sama dia?’

‘Udah. Yuke juga udah tahu Sasya. Awal-awal Sasya masuk kuliah dulu, kan, Yuke belum lulus. Tapi waktu itu Yuke sama gue udah bubaran. Dia udah suruh gue deketin tuh cewek. Tapi gue masih perang batin.’

Cukup lama Ronan menunggu balasan dari Inna sebelum akhirnya muncul juga di layar ponselnya. ‘Beneran, Ron, gue gak mau lihat lu gagal kali ini. Semua udah pas di tempatnya. Yuke udah lepasin lu. Tinggal lu-nya aja yang kudu berani melangkah maju. Kudu jujur juga.’

Jujur...

Ronan mengerjapkan mata. Ya, ia harus jujur tentang Valina dan Yuke. Harus siap menanggung risiko apa pun. Termasuk risiko kehilangan gadis yang dicintainya kelak.

Tapi bisakah aku kehilangan Sasya?

Ronan menggeleng samar. Ia bahkan belum memulainya. Dihelanya napas panjang.

‘Ya, In. Gue coba begitu gue siap.’

‘Ya, udah. Istirahat, Ron, biar lu cepet pulih. Sampai ketemu Senin.’

‘Thanks, In.’

Ronan berpikir sejenak sebelum kembali mengarahkan tatapannya pada layar ponsel. Dibalasnya pesan Yuke semalam.

‘Halo, Ke. Sorry, baru bales. Iya, aku sakit. Cuma flu sama radang tenggorokan aja, kok. Kamu baik-baik di sana ya...’

Setelah itu ia memindahkan ponselnya ke mode pesawat dan menggeletakkannya di atas nakas. Obat yang ditelannya kira-kira sejam lalu membuatnya mengantuk. Ditariknya salah satu bantal dan disingkirkannya ke belakang punggung. Lalu ia mulai memejamkan mata. Memberi kesempatan pada tubuhnya untuk memulihkan diri.

* * *

Ini awalan...

Ronan memaksakan diri untuk ikut menghadiri undangan makan malam santai itu. Kepalanya masih terasa berat, tapi selebihnya ia tidak apa-apa. Masih terlihat sangat lesu, hingga Pradana menatapnya dengan khawatir.

“Kamu kuat?”

Ronan mengangguk sambil menyandarkan kepalanya di punggung sofa ruang tengah. Ia sudah siap. Memakai kemeja lengan pendek warna hitam polos yang dipadu dengan celana jeans biru pudar. Pradana sendiri mengenakan kemeja berwarna merah marun yang lengan panjangnya dilipat hingga siku, dan celana jeans yang hampir sama dengan yang dikenakan Ronan. Keduanya duduk menunggu dengan sabar hingga Wanda selesai berdandan. Lagipula, undangannya masih setengah jam lagi. Hanya perlu waktu sekian detik untuk mencapai rumah sebelah.

Gaby muncul tak lama kemudian dan duduk di sebelah abangnya. Gadis remaja itu tampak ringkas dan nyaman dalam balutan celana jeans dan kaus berpayet berlengan pendek warna oranye pastel. Rambut sebahunya dikucir tinggi dan dihiasi karet rambut sewarna kausnya. Diulurkannya tangan. Meraba kening Ronan.

“Masih anget,” gumamnya.

Ronan tersenyum sedikit, tanpa membuka mata.

“Ron, minum obat dulu biar nggak kelihatan terlalu teler begitu,” celetuk Wanda yang sudah selesai berdandan.

Perempuan itu tampak cantik dalam balutan gaun terusan berwarna merah marun polos, sewarna dengan kemeja Pradana. Lehernya dihiasi kalung kristal berwarna hitam yang panjangnya hingga ke dada. Seperangkat dengan antingnya. Rambutnya digelung rapi. Terlihat sangat pantas untuk bertamu.

“By, tolong, ambil biskuit buat abangmu. Sekalian minta dibikinin teh hangat sama Bik Omi atau Bik Sanah,” ujar Wanda lagi.

“Air putih hangat saja, By,“ tukas Ronan sambil membuka mata dan mengangkat kepalanya.

Gaby menurut tanpa kata. Sejenak kemudian muncul lagi membawa sebungkus crackers manis dan segelas air putih hangat. Tanpa disuruh, gadis remaja pun berinisiatif mengambil obat Ronan di kamar.

“Yakin kamu kuat?” Wanda menatap jejaka sulungnya lekat-lekat.

“Ya, kalau bener-bener nggak kuat, aku pulang duluan saja, Ma,” gumamnya.

Wanda mengangguk.

* * *

Acara makan malam bersama itu berlangsung dalam suasana santai, penuh aroma kekeluargaan, dan sangat menyenangkan. Mereka bertujuh duduk mengelilingi meja bundar besar di ruang makan keluarga Voorhoof yang terasa begitu intim dan hangat. Dinding ruangan itu cukup penuh dengan pigura berisi foto-foto keluarga yang diambil di berbagai tempat, dalam berbagai ekspresi dan posisi, dalam berbagai usia, yang disusun secara berurutan dari foto paling kuno hingga paling baru.

Diam-diam Ronan mengamati foto-foto itu, dan menemukan bahwa sepertinya Sasya Voorhoof adalah gadis yang paling berbahagia sedunia sejak bayi hingga sedewasa ini. Diam-diam pula ia mengamati Sasya yang sore itu tampak begitu cantik dalam balutan blus berlengan pendek warna biru tua dengan motif bola-bola warna putih, dipadu dengan rok jeans span pendek berwarna biru pudar. Memperlihatkan kakinya yang mulus dan jenjang. Rambut gadis itu seperti biasa, dikucir tinggi. Dan keseluruhan penampilan sederhana Sasya itu membuat hati Ronan berdesir hebat tanpa bisa dicegah.

Ketika Pradana menanyakan sejarah foto-foto itu sambil menikmati makanan pembuka berupa kroket makaroni dengan mayonaise, Fritz menjelaskannya dengan senang hati. Menceritakan putra pertama bersama menantu dan cucunya, kemudian tentang putra kembarnya dan tunangan mereka masing-masing, dan terakhir tentang putri bungsunya.

“Jarak Sasya dengan si kembar cukup jauh,” Yuliani menambahkan dengan senyum lebar. “Sekitar tujuh tahun. Makanya Sasya jadi kesayangan papanya. Dari awal sudah ingin anak perempuan.”

“Sama, Bu,” timpal Wanda. “Jarak Ronan dengan Gaby malah lebih kacau lagi. Empat belas tahun. Selama itu blong, saya nggak ‘isi’ sama sekali.”

“Sudah siap punya anak tunggal, eh... nongol Gaby,” sambung Pradana, tertawa.

Bersamaan dengan itu, hidangan pembuka mereka licin tandas. Sasya segera berdiri untuk mengambil hidangan berikutnya. Sup krim brokoli. Wanda sampai tak bisa berkata-kata ketika lidahnya mencecap kelezatan sup itu. Bahkan Gaby yang biasanya ngeles melulu kalau disuruh makan brokoli, kali ini sama sekali tidak terlihat bahwa ia membenci sayuran yang satu itu. Malah tampak sangat menikmati. Diam-diam Wanda mengulum senyum melihatnya.

Yang terhidang berikutnya sebagai makanan utama adalah beef bourguignon2) yang disajikan bersama kentang panggang merekah dengan keju meleleh dan taburan peterseli yang terlihat luar biasa melaparkan mata. Pujian di sana-sini kembali bertaburan. Aroma dan rasa beef bourguignon maupun kentang panggangnya benar-benar juara.

“Pak Fritz, kenapa tidak buka kelas memasak?” celetuk Wanda.

Fritz tersenyum. “Mungkin nanti, kalau saya sudah bisa lepas EuropeSky Kemang, Bu Wanda. Tapi kalau Ibu mau belajar, dengan mamanya Sasya juga bisa,” Fritz menatap Yuliani dengan sorot mata memuja. “Dia sudah pegang semua rahasia memasak saya.”

“Ahahaha...,” Yuliani sedikit tersipu. “Mungkin benar rahasianya sudah saya pegang, tapi hasil rasanya tetap lain.”

Mereka tertawa ringan. Dan kembali mengobrol tentang banyak hal. Ketika dilihatnya makanan utama itu sudah hampir habis, Sasya minta diri lagi untuk kembali ke dapur demi menyiapkan hidangan penutup.

“Wuuuh!” Iman berseru tertahan ketika membalikkan sebuah flan di atas piring saji. “Perfecto!

Abraham menoleh sekilas dan ia membenarkan pendapat asistennya. Flan itu tampak menggunung mulus di atas piring saji. Lapisan tipis karamelnya terlihat sempurna.

“Itu aku, lho, yang bikin,” Sasya menyombongkan diri sambil nyengir “Flan-nya. Kalau karamelnya, sih, Papa. Coba, deh, icipin dulu.”

Kedua laki-laki itu saling berpandangan begitu memasukkan sesendok flan ke dalam mulut masing-masing. Rasa yang tidak biasa, tapi...

“Enak!” seru Abraham dan Iman berbarengan.

“Serius?” Sasya ternganga.

Abraham mengangguk mantap, sementara Iman menyendok lagi flan itu.

“Beneran enak?” Sasya masih tidak percaya.

“Bener, Mbak!” Iman mengangguk. “Masa bohong? Lain dari flan bikinan Bapak, tapi ini enak. Banget!”

Abraham tersenyum simpul. Lidahnya merasakan jejak tambahan bahan tertentu yang dikenalnya. Bukan hal yang biasa ditambahkan dalam flan, tapi tetap saja menarik dan enak.

You did it, Mbak Sya,” Abraham mengacungkan jempol. “Great job!

Sasya tertawa senang.

Caramel flan itu menjadi penutup yang sempurna bagi acara makan malam mereka. Lembut, manis, dan gurihnya puding dingin itu berpadu dengan rasa asam-manis yang berasal dari tambahan berbagai jenis buah beri. Fritz segera mengenali ‘kelainan’ rasa caramel flan itu. Samar ia menggelengkan kepala. Anak bungsunya ini benar-benar jahil.

Yuliani menawarkan lagi flan di piring kedua, yang segera disambut dengan anggukan penuh harap dari para tamu. Kali ini Abraham sengaja membuat variasi lain dengan menambahkan anggur hijau, anggur merah, dan jeruk mandarin.

Dan Ronan serasa tak ingin pulang, walaupun mereka sudah menikmati flan tambahan. Ingin ia menikmati flan itu lagi dan lagi hingga entah kapan. Rasa berat di kepalanya masih sangat terasa, tapi ia mengabaikannya. Ia bisa tetap bertahan hingga acara itu berakhir menjelang pukul sepuluh malam. Membawa kesan mendalam atas petualangan rasa yang baru saja mereka selesaikan.

“Sudah kubilang, dokternya nggak jauh-jauh,” ujar Gaby dengan nada jahil sambil mendorong pintu pagar rumah mereka.

Ronan menjitak lembut kepala Gaby. Wanda dan Pradana tergelak ringan.

“Kalau yang itu, Mama setuju,” bisik Wanda di telinga Ronan ketika laki-laki itu menutup pintu pagar.

Ronan kemudian menjajari langkah Wanda menuju ke arah rumah.

“Dia mahasiswiku, Ma,” gumamnya.

“Mama yakin kamu tahu apa yang harus kamu lakukan,” Wanda mengelus bahu perjaka sulungnya itu. “Jangan pikirkan Mama, Papa, atau Gaby. Pikirkan saja dirimu sendiri. Mama yakin kamu tidak akan pernah mengecewakan dirimu sendiri. Hanya saja kamu harus jujur. Lakukan itu di awal. Mungkin memang benar kamu bukan orang yang sempurna, tapi kamu bukan penipu, Ronan.”

Laki-laki itu tercenung. Sekali lagi pesan tentang kejujuran.

Apakah aku bisa?

Kepalanya terasa berdenyut lagi.

“Ma, aku istirahat dulu, ya?” ujarnya begitu sudah masuk ke dalam rumah. “Kepalaku pusing lagi.”

Wanda mengangguk.

* * *


Catatan :

1) Mongolian beef adalah irisan-irisan tipis daging sapi (biasanya bagian has dalam) yang di-marinade (dibumbui dengan cara dicampur dan direndam) dalam campuran saus hoisin, kecap asin, kecap manis, dan gula pasir selama 30 menit, kemudian ditumis dengan bawang putih, bawang bombay, dan paprika (dan/atau cabai merah), ditambah bumbu lain berupa lada bubuk, garam, minyak wijen, dan irisan daun bawang.

2) Beef bourguignon (dibaca : biif buerginyon, huruf ‘n’ terakhir dibaca setengah ‘ny’ setengah ‘ng’) adalah irisan-irisan daging sapi yang dimasak dengan red wine, kaldu sapi, bawang putih, dan bawang bombay. Bahan pearl onion, bouquet garni, dan jamur ditambahkan menjelang akhir proses pemasakan.
Pearl onion adalah sejenis bawang-bawangan dengan nama latin Allium ampeloprasum. Di Inggris dikenal sebagai baby onion atau button.
Bouquet garni adalah sekumpulan rempah-rempah herbal yang disatukan dan diikat dengan benang katun (benang kasur). Tidak ada aturan baku rempah herbal apa saja yang diikat jadi satu. Dalam resep masakan Perancis, bouquet garni biasanya terdiri dari thyme, bay leaf, dan parsley. Tergantung pada resepnya, bouquet garni bisa juga berisi basil, burnet, chervil, rosemary, peppercorns, savory, sage, dan tarragon.


Ilustrasi : pixabay.com (dengan modifikasi)

13 komentar:

  1. Bouquet garnie, kl diriku pake bwg bombay, thyme, bay leaf, ama cengkeh. Benangnya mst pk benang kasur.... udah pakem dr sananya. Suwun mbak, apiikkkk tenan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soal benang kasur, tak'tambahkan ke keterangan ya. Makasiiih... 😘😘😘

      Hapus
  2. Sumprit judul menue nyikso!!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wakakak... Lha ngunu kok yo sek mampir ae 😝😝😝

      Hapus
  3. Koment apa ya.....

    Kebetulan lapernya jd agak kenyang mbayangin makan malam bersama.


    Btw, si Ronan kenapa ya??? Ada sesuatu kah????

    #kepo

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Just stay tune, Mbak... 😘😘😘

      Hapus
  4. Baca cerita ini serasa ikut kursus masak. Bagus banget mbak Liz... ga sabar nunggu lanjutannya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih singgahnya ya, Mbak... 😊😊😊

      Hapus
  5. Sambil baca berasa laper perutku keroncongan 😂

    Good post

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuuuk maem dulu, Sylla 🍮🍮🍮

      Hapus
  6. Mbak cantik, mau Flan-mu juga, dong...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bikin sendiri, Neng... 😁😁😁

      Hapus
    2. Oke, OTW Europesky. (Padahal nggak tau alamatnya)

      Hapus