Selasa, 16 Mei 2017

[Bukan Fiksi] Secuil Cerita Di Balik "Caramel Flan for Ronan"





Menjelang selesai menulis "Affogato" (yang ternyata kepanjangan dan belum 'tamat' itu), saya sudah binun mau nulis apa lagi buat ngisi blog ini. Ide sudah mentok. Sementara mau langsung bablas lanjutin "Affogato" kok mblenger alias eneg. Butuh penyegaran. Butuh sesuatu yang ringan-ringan saja.

Ngembat ide atau fiksi orang lain? Oh, BIG NO! 😀😀😀 Mendingan saya libur dulu nggak ngisi blog daripada mengotori integritas blog ini (halaaah...) dengan aib hina-dina seperti itu. 😝 Makanya saya jadi ngulik lagi, cerita lama mana yang kira-kira masih bisa di-'rusak'. Mau dirusak kayak apa juga kalau itu cerita yang ditulis sendiri kan siapa yang bakalan protes? πŸ’ƒAkhirnya ketemulah cerita ringan "Infal". Di situ ceritanya Sasya sudah 'jadian' sama Ronan. Tapi proses jadiannya itu kayak gimana, kan belum diulik. Nah, itu yang akhirnya saya ambil untuk dijadikan cerbung baru.

Jujur, menulis "Affogato" itu bener-bener menguras esmosih jiwah. Lha nggak menguras esmosih gimana wong aura ceritanya saja nyungsep melulu? πŸ˜₯ Makanya, cerbung berikutnya setelah "Affogato" mau saya bikin yang ringan-ringan saja. Nggak terlalu banyak pernik. Itu maunya saya. Tapi ternyata...

Prediksi saya meleset! 😷

Sudah telanjur ada latar belakang Belgia sebagai asal dari ayah tokoh Sasya, mau nggak mau kali ini harus terekspos juga. Kejadian (penggarapan) cerbung "Ruang Ketiga" terulang lagi. Sama persis. Cerita sampingan yang saya kira bakal (minimal) sama ringan dengan cerita aslinya ternyata malah lebih berat. Itu karena saya serakah. πŸ™ˆ Nggak mau nanggung dalam menulis cerita, walaupun 'cuma' untuk konsumsi blog yang notabene bisa dibaca gratisan. Jadinya ya terpaksa sinau (belajar) lagi, browsing lagi, baca referensi bejibun lagi, ngerecokin temen lagi (untuk urusan bahasa asing), dll., dsb., dkk.

Untuk urusan satu point catatan tambahan yang berhubungan dengan menu makanan yang harus dijelaskan, saya bisa jejerin sekaligus 6 resep masakan (makanan yang sama) untuk mencari mana yang 'paling otentik' dan paling sesuai dengan deskripsi. Mudah? Mbahmu kiper, rek! Resep dan deskripsinya kebanyakan pakai bahasa Inggris, apa nggak modyar saianyah??? 😡 Belum lagi harus belajar juga soal bir. 🍺🍻 Bahkan sampai menghubungi kenalan (asli kenalan, wong cuma kenal-kenal doang. Lebih tepatnya, saya 'merasa' mengenal beliau, tapi ternyata beliau juga tahu saya) yang tinggal di 'Mbelgi' (Belgia) karena saya bermaksud mencuplik artikel beliau untuk saya masukkan di catatan. Kan etikanya, saya harus minta izin dulu, diizinkan, dan menjaga amanah soal perizinan itu (ini ngomong apa sih?). Belum lagi printhilan-printhilan lainnya. Kecil-kecil tapi banyak, dan posisi pentingnya bener-bener ngegemesin, alias nggak bisa diawur boi. 😱

Dan untuk cerita yang satu ini, saya terpaksa memasukkan sedikit unsur / latar belakang religi tertentu agar nggak rancu dengan gaya hidup keluarga tokoh (yang salah satu budayanya adalah nge-bir). Selain itu ada juga kondisi Ronan yang penjelasannya hanya bisa saya pahami dan saya jabarkan dari sudut pandang religi yang saya anut itu. Serius, untuk yang satu ini saya sama sekali nggak mau gegabah. Nah, kondisi Ronan yang bagaimanakah itu? Simak saja episode-episode berikutnya. πŸ˜‹

Saat ini, keseluruhan cerita "Caramel Flan for Ronan" sudah selesai saya tulis. Per episode-nya sudah nangkring manis di draft blog. Tinggal tunggu jadwal tanggal 'penungulannya' saja. Yang jelas nggak akan sepanjang cerbung "Affogato", dan nggak ada sambungannya lagi alias bener-bener tamat.

Oke, nggedabrusnya segini aja dulu. Saya kasih iming-iming episode tamatnya dalam gambar di bawah ini yak? 😁
😘😘😘

(Mu'un ma'ap, tamatnya pada episode berapa dan tayang terakhir tanggal berapa, masih er-ha-es 😁)




12 komentar:

  1. Pemirsah yang terhormat, silakan sabar menanti.
    Penulis yang katanya nggedabrus.... salut marang sampeyan mbak. Dedikasi sampeyan bikin tulisan, patut diacungin jempol banyak. Jempollll, mana jempol yg laenn..... nuwus mbak

    BalasHapus
  2. Tapi kualitasnya nggak gratisan kok. Wong dah jungkir-balik ngos-ngosan sampai tersaji dengan apik. Yang penting terus berkarya aja, Bu Lis buat meningkatkan kualitas hasil dan kepuasan batin penulis dan pembacanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiiih... 😊😊😊

      Hapus
  3. salam kenal mbak Lis...
    sya termasuk silent reader blog nya njenengan nih...
    tetep keren dan mangtafff...
    oh yaa, saya nunggu Eternal Forsetinya yaa... gimana cara pemesanan nya nih...
    matur nuwun...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam kenal kembali, Mbak Tiest 😊😊😊
      Makasih banyak atas kunjungan Mbak ke blog ini. Info selanjutnya tentang novel EF nanti akan saya artikelkan lagi di sini, menunggu kejelasan soal harga dsb. dari pihak penerbit. Sabar ya... ☕☕☕

      Hapus
  4. Bikin cerita itu susah2 gampang yaaaa....

    Suka duka nya buanyak banget...

    Q mau bikin ae kendala ketelatenan dan waktu..
    Akhirnya terbelangkai
    Sifat pelupa muncul lagi..
    Ide hilang dlm sekejap waktu..


    Opo rahasiane tho mbak lizz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau takut lupa, tiap kepikiran detail dicatat saja dulu, Mbak. Nanti kalau ada waktu baru coba dikerjakan. Yang jelas, kalau mau konsisten memang harus menyisihkan waktu. Saya cukup lama berhenti nulis. Dari awal punya baby (tahun 2003) sampai mulai nulis lagi saat si baby sudah jadi little boy (tahun 2012). Mulai dari nol lagi.
      Tetep semangaaattt, Mbak... πŸ™ŒπŸ™ŒπŸ™Œ

      Hapus
  5. Mba, cerita ringan infal itu yang mana ya...Haduuuhhh koq belom kebayang nih, kudu baca deh kayaknya saiyah...:-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada di bawah label stripping, Mbak. Ini link-nya dari episode 1 :

      http://fiksilizz.blogspot.co.id/2015/07/cerpen-stripping-infal-1.html

      Hapus

  6. Lek crito"e pean wis garagu mutue mb Lis.
    Gatau asal"an nulise.
    Jadi yg baca jugak gabosen.
    Masio ta cerpen ringan mesti onok isie.
    Jempol es !

    BalasHapus
  7. Luar biasa tenan. Pantesan keren abis hasilnya... Top

    BalasHapus