Rabu, 09 Desember 2015

[Cerpen Stripping] My Journey #8









Part Eight


Blue, And The Dream Comes True


Canopus...

Dengan cepat kami saling mengenal satu sama lain. Seolah sudah berkawan sejak jaman batu. Entahlah... Mungkin ini namanya jodoh. Yang (bagiku) seolah begitu saja jatuh dari langit.

Kami sama-sama merasa cocok dalam segala hal. Bahkan segera saja pembicaraan kami begitu cair hingga mengalir ke rencana pernikahan. Konsepnya pun seolah begitu sejalan dan bukan jadi masalah untuk dipertentangkan detilnya.

Pada intinya, kami hanya ingin sebuah pemberkatan yang meriah, dan perayaan yang sederhana. Sesederhana bentuk perasaan dan hubungan kami, yang seolah terdiri dari dua puzzle yang menemukan belahan yang pas.

Ia dewasa. Sangat. Bisa mengimbangi aku yang terkadang meledak-ledak seolah kanak-kanak yang selalu bersemangat ketika menemukan banyak hal baru. Secara usia, ia memang tiga tahun lebih tua daripada aku. Cukup ngemong dan memberiku perasaan aman dan nyaman. Soal mapan, kuanggap itu sebagai bonus.

Padanya, entah kenapa juga aku menemukan kembali impian masa kanak-kanakku. Menemukan pangeranku di kedalaman warna cerah biru langit. Tanpa harpa kecil, tentu saja. Diganti oleh petikan gitar dan denting pianonya. Jauh melampaui mimpi indahku.

Soal masa lalu, siapa sih yang tak memilikinya? Ia punya, aku juga. Bedanya, aku kecewa setelah lebih dulu mengecewakan, sedangkan ia memang pernah dikecewakan. Semua itu jadi hal yang terbuka untuk kami ceritakan satu sama lain. Bahkan semua hal jelek dari diri kami masing-masing pun kami usahakan untuk dibuka aibnya di depan daripada menyesal belakangan.

Dan tentang warna biru itu... Perlukah aku menyiarkan pada dunia bahwa biru adalah warna kesukaan kami? Tapi pada kenyataannya memang seperti itu.

Blue... And the dream comes true...

* * *

Lalu, apakah jadi gaun biru itu yang kukenakan untuk acara pernikahanku? Hm... Tidak. Mengenal Canopus membuat sisi nenek sihirku meluntur hebat, sehingga pada suatu sore aku menelepon Dinta, menceritakan tentang sejarah gaun biru itu, dan menawarinya untuk menukar gaun berwarna peach-nya dengan gaun biru itu.

Dinta datang ke studioku dalam hitungan menit sejak aku meneleponnya. Begitu kami bertemu, ia memelukku erat-erat.

“Sebetulnya aku nggak sreg dengan gaun peach itu, Mbak,” ucapnya dengan mata mengaca. “Makanya aku tawarkan pada sepupuku kemarin. Pernikahan kami hanya selisih seminggu, tiga bulan lagi. Maksudku, besok aku mau ke sini. Aku ingin Mbak Ervina membuatkan gaun pengantin berwarna biru untukku. Ternyata...”

Aku melebarkan senyumku. Rasanya memang betul-betul ikut bahagia bisa melihat kebahagiaan customer-ku. Aku segera memanggil Inke untuk membantu Dinta fitting. Untuk sementara, ukurannya sudah pas. Tapi bisa jadi mendekati hari H pernikahan, calon pengantin sedikit lebih kurus karena terlalu banyak berpikir soal ini-itu.

“Jadi, gaun ini sudah pasti sold ke aku, Mbak?” Dinta masih menatapku dengan sorot mata tak percaya.

Aku mengangguk. Dinta kelihatan sekali menahan diri dan tidak melakukan salto  saat itu juga saking senangnya, hehehe...  Apalagi ketika kukatakan bahwa gaun itu kuberikan secara gratis padanya.

“Yang bener?”

Aku mengangguk.

“Yang bener, Mbak?”

Aku kembali mengangguk sambil tertawa lebar melihat ekspresinya yang seperti mendapat lotre satu milyar rupiah. Tapi sejenak kemudian ia seperti terpekur.

“Seandainya...,” gumamnya, lebih pada dirinya sendiri, “... aku berikan saja uang itu untuk orang-orang yang membutuhkan,” ia menatapku, “bagaimana, Mbak?”

Aku tak tahan untuk tidak memeluknya. Dan ia membalas pelukanku sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih.

* * *

Setelah upacara pemberkatan yang meriah karena kami menikah di Katedral, dengan dua orang pastor yang masing-masing merupakan abangnya dan sepupuku, dan tepat selusin putra-putri altar yang merupakan para sepupu dan keponakan kami sendiri, aku pun berganti gaun dibantu Inke dan Lorena. Aku mengenakan gaun berwarna off-white  untuk pemberkatan tadi. Senada dengan setelan jas yang dikenakan Canopus. Di mataku, ia betul-betul mirip dewa yang turun dari langit. Gantengnya minta ampun!

Dan kini, aku sudah mengenakan sehelai gaun biru langit dengan desain baru.  Sama seperti gaun off-white-ku yang benar-benar kudesain khusus sesuai bayangan, selera, dan keinginanku.

Gaun itu bagiku lumayan sederhana. Sesederhana perayaan pernikahan kami yang hanya mengundang keluarga besar dan teman-teman dekat, dan dilaksanakan di... Di mana lagi kalau bukan di The Journey?

Ketika aku bertanya kenapa Canopus agak ngotot untuk mengadakan perayaan sederhana di The Journey, barulah ia berterus terang bahwa semuanya untuk menekan budget agar kelebihan budget kami bisa disalurkan pada orang lain yang lebih membutuhkan.

“Lagipula...,” ia menatapku dengan senyum dan kejora di mata beningnya, “The Journey itu milik kita.”

Sebuah kenyataan yang sama sekali melampaui bayanganku bahwa tempat bersejarah itu ternyata sebuah properti pribadi Canopus! Aku harus berkomentar apa lagi, coba?

Dan ia menggenggam tanganku dengan erat ketika turun dari mobil pengantin dan masuk ke dalam The Journey. Sekilas aku melihat genangan bening dalam mata Papa. Hm... Aku jadi ingat wejangannya semalam.

“Papa senang kamu sudah menemukan belahan jiwamu,” ucap Papa dengan suara bergetar. “Yang harus kamu ingat, pernikahan bukanlah akhir dari perjalananmu menemukan cinta yang seutuhnya, tapi baru awal sebuah perjalanan panjang. Kalian harus bisa memupuk, menyirami, memelihara, dan memperbarui cinta itu setiap saat seumur hidup kalian. Harus kalian berdua yang melakukannya. Tidak bisa kalau hanya salah satu. Tapi jangan khawatir, Vin. Papa sudah membicarakan ini dengan Canopus minggu lalu. Dia paham sepenuhnya, dan sudah berjanji pada Papa untuk menjagamu seumur hidup, tanpa ragu.”

Aku menatap Canopus yang terlihat begitu memukau. Sejak awal aku tak menemukan sedikit pun keraguan itu dalam hatiku. Aku merasa hangat dan aman, dan bersenang-senang menikmati perayaan pernikahan sepanjang hari itu.

Pernikahanku. Sebuah awal. Dari perjalanan panjangku. Bersama Canopus.

* * * * *

T.H.E   E.N.D


Catatan :
Setelah tayangan cerpen stripping ini, blog FiksiLizz akan libur selama sebelas hari untuk mempersiapkan cerbung recycle yang belum pernah tayang di blog ini. Tidak tertutup kemungkinan akan ada tayangan baru berupa cerpen untuk mengisi kekosongan (tapi nggak janji juga sih...).
Cerbung baru akan mulai tayang Senin depannya lagi, seperti biasa setiap Senin dan Kamis.
Terima kasih...

25 komentar:

  1. Cihhuuuyyyy.. Akhirnyaaaaaa..
    Selalu suka sama cerita yg hepi ending setelah melalui masalah ini itu..
    Fiuuuh, Abang Canopus mah tajir yee ternyate.. Begitulah buah dr kesabaran dr Ervina, dapetnya gak tanggung tanggung.. Ehhehehehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha... namanya juga pengarang, menjual mimpi...
      Makasih mampirnya, Mbak Tanti...

      Hapus
    2. Hehehehehe..
      Iya Mbak, akhirnya bs ngepos komentar setelah sekian lama di pehape sama hape ini.. Wkwkwkwkwk..

      Hapus
    3. Lha... Emang hp-nya kenapa, Mbak?

      Hapus
    4. Mungkin akunya kali yg kudet ya Mbak.. Nggak tau kenapa, tiap kali komen trus klik post nggak pernah bs muncul kalo lewat hape.. Aah sudahlaah.. Hehehehe..

      Hapus
    5. Bai de wei, Canopus itu nama bintang ya Mbak?

      Hapus
  2. Welcome to the jugle Ervina and Canopus...happily ever after eeaa...

    BalasHapus
  3. eh Papanya Ervina dan Canopus tu kok familiar banget ya...

    kayak pernah kenal di manaaaa... gitu.

    #GR

    BalasHapus
  4. Waaah akhirnya si empus & vina nikaaah... Horeee happy ending.. semoga langgeng & bahagia selaluuh yaa..
    Bu lis, tararengkyu cerbungnya :-*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mbak Indah... Makasih juga karena Mbak rajin mampir ke sini...

      Hapus
  5. Selamat menempuh hidup baru ya ErCan... Semoga dikaruniai banyak anak & langgeng sampe kakek nenek... *ucapan standar* ;)

    BalasHapus
  6. Suka dengan endingnya. Top markotop.

    BalasHapus
  7. Balasan
    1. Nggak usah ngoyo. Yang penting jaga kesehatan. :)
      Nuwus mampire, Sam...

      Hapus
  8. Aq meleleh
    Sayange ada sing mau libur :"(
    Sepi lak an mba ?

    BalasHapus
  9. Puas endingnya. Puas jalinan ceritanya. Puas segalanya kcli liburnya sang author :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penulis pun butuh liburan, Mbak... Hehehe...
      Makasih mampinya ya...

      Hapus