Minggu, 28 April 2013

[Novelet] L i f t






Untuk kesekian kalinya Renata hanya berdua saja dengan laki-laki itu di dalam lift. Sudah hampir sebulan. Mau tak mau Renata nyaris hafal lekuk liku wajah laki-laki itu. Bersih, tampan, tampak profesional dengan kacamata yang bertengger di puncak hidung mancungnya.

Siapa dia? Renata tidak tahu. Bahkan seujung nama pun tidak. Di lantai berapa laki-laki itu bekerja? Renata pun terpaksa geleng kepala. Dia selalu keluar dari lift di lantai 11, sebelum laki-laki itu keluar. Tanpa sadar Renata mendesah. Dan dia melihat pantulan bayangan di pintu lift, laki-laki itu menoleh sekilas ke arahnya. Renata langsung pura-pura melihat arlojinya. Selalu angka yang hampir sama, sekitar pukul 7 pagi.

Dan selalu pula melewati 3 kejadian yang hampir sama. Yang pertama, mereka berbarengan menunggu sejenak di depan lift yang sama. Yang kedua, Renata muncul belakangan saat laki-laki itu sudah berada di dalam lift dan laki-laki itu menahan tombol open untuk Renata. Yang ketiga, adalah kebalikan dari kejadian kedua. Dan sesudahnya hanya ada pertukaran ucapan ‘terima kasih’ dan ’sama-sama’, singkat dan sopan.

Ting!

Pintu lift terbuka di lantai 11. Renata keluar. Tapi sebelummya sempat menoleh sekilas pada laki-laki itu.

“Mari,” ucap Renata sambil tersenyum dan melangkah.

“Silakan,” jawab laki-laki itu, tersenyum singkat.

Hanya itu. Membuat Renata gemas sendiri.

* * *

Rafael hampir melupakan Sarah setelah dia melirik arlojinya. Hampir pukul 7! Masih bisakah dia masuk ke lift yang sama seperti biasanya?

Lift itu tidak istimewa. Hanya lift biasa. Tapi siapa yang biasa berada dalam lift itu yang istimewa.

Seorang perempuan bertubuh mungil, manis, dan kelihatan penuh semangat. Buktinya dia sudah sampai di gedung perkantoran itu tiap pukul 7 pagi, padahal kantor-kantor di situ rata-rata baru beroperasi pukul 8.

Siapa nama perempuan itu? Rafael menggeleng pelan. Dia ingin bertanya, tapi cincin belah rotan di jari manis tangan kanan perempuan itu berhasil membuatnya bungkam.

“Pa!”

Rafael tersentak. Sarah! Oh, dia sudah melupakan gadis kecilnya itu!

“Iya, Sayang?”

“Papa buru-buru amat sih? Katanya janjiannya jam 8. Ini jam berapa?”

Rafael terhenyak sejenak. Ini hari Sabtu, bukan hari kerja resmi. Ah, perempuan itu pasti tidak ada, gumamnya dalam hati.

Digandengnya Sarah keluar dari basement. Mereka pun berjalan santai menuju ke lift. Tapi di dalam lift, ketika hendak berbalik untuk menekan tombol close, Rafael mendengar teriakan itu.

“Tunggu!”

Demi melihat siapa yang berteriak, otomatis tangan Rafael menekan tombol open.

* * *

Renata hampir berlari menuju ke lift. Oh gee… Laki-laki itu ada di sana! Di hari Sabtu? Renata sudah tak mau berpikir lagi.

“Tunggu!” teriaknya.

Dilihatnya laki-laki itu berbalik. Dan pintu lift pun tertahan untuknya. Renata bergegas masuk sambil mengucapkan terima kasih.

Huufft… Diam-diam Renata menghembuskan napas… Lega? Entahlah!

“Hari Sabtu enggak libur?”

Renata tersentak. Dia menoleh ke arah laki-laki itu. “Maaf?” ucapnya bego.

“Mbak hari Sabtu gini enggak libur?” ulang laki-laki itu sambil tersenyum.

Renata limbung sesaat. Tapi dia segera tersadar. “Oh, ada janji dengan klien, Pak.”

“Dari kantor apa Mbak?”

“Savannah And Co.”

“Desain interior?” laki-laki itu melebarkan matanya dengan antusias.

Renata menelan ludah. “Iya,” jawabnya dengan suara terjepit.

“Oo…,” ucap laki-laki itu tanpa suara.

Renata kembali berdiri diam. Baru disadarinya ada satu lagi pantulan bayangan di dinding lift. Serta merta dia menoleh.

“Putrinya, Pak?”

Laki-laki itu tersenyum dan mengangguk.

“Cantik sekali…,” guman Renata tulus.

Ting! Lantai 11. Mau tak mau Renata harus keluar.

“Mari, Pak…”

“Silahkan, Mbak…”

* * *

Jadi namanya Lily, gumam Rafael dalam hati. Dialah klien yang harus ditemui interior designer dari Savannah & Co itu. Dan perempuan mungil manis itulah yang akan menemuinya. Lily.

Ting! Lantai 15.

Rafael menggandeng Sarah keluar. Mereka ke kantor Rafael sebelum bertemu dengan interior designer rumah baru mereka.

Sarah kelihatan senang. Dia sudah lama memimpikan kamar ala Princess. Dan papanya yang baik hati itu sudah membeli rumah baru dengan kamar yang boleh dihias sesuka hatinya.

“Entar kamarku kayak apa ya, Pa?” Sarah menerka-nerka.

Rafael menatap putri semata wayangnya. Tersenyum melihat binar di mata Sarah.

“Nanti perancang kamarmu akan membawa banyak gambar. Kamu boleh memilih yang maaana saja.”

Sarah memeluk papanya sambil mengucapkan terima kasih. Dia kemudian duduk manis di sofa, menghadap ke dinding kaca. Rafael menatapnya dengan hati berdarah.

Steve, kau lihat anakmu? Cantik seperti Anna. Suatu saat dia harus mengenalmu. Tapi tidak sekarang.

Rafael menghela napas panjang. Mengerjapkan matanya yang mendadak mengaca. Lalu dia meraih telepon di meja kerjanya.

Pada dengung yang keempat, terdengar suara ramah dari seberang sana.

“Selamat pagi… Savannah & Co di sini, ada yang bisa dibantu?”

“Selamat pagi… Bisa minta tolong disambungkan dengan Ibu Lily?”

“Oh, Ibu Lily masih dirawat di RS, Pak. Maaf dengan Bapak siapa?”

“Saya Rafael, sudah janji mau melihat presentasi desain Ibu Lily. Saya tidak mendapat pemberitahuan soal ini. Ibu Lily kenapa?”

“Mohon maaf sebelumnya Pak Rafael, Ibu Lily ditabrak motor 2 minggu yang lalu. Untuk sementara tugas Bu Lily beralih pada saya. Kami dari Savannah & Co tidak akan mengecewakan Bapak. Saya siap untuk presentasi di hadapan Bapak hari ini.”

“Oh… Begitu…,” Rafael mengangguk-angguk. “Kalau begitu saya tunggu kedatangan Ibu di kantor saya jam 8 ya?”

“Baik Pak, saya siap menuju ke kantor Bapak.”

“Oke… Oke… Eh, maaf, dengan Ibu siapa ya?”

“Renata, Pak.”

* * *

“Anda?” Renata menatap Rafael dengan takjub.

Rafael mengulurkan tangannya sambil tersenyum. “Senang bertemu lagi dengan Anda, Mbak Renata… Mari masuk!”

Di belakang punggung Rafael menyembul sebentuk wajah mungil.

“Hai, Cantik!” sapa Renata ramah. “Rupanya ini Princess yang punya pesanan khusus?”

Sarah mengulurkan tangannya, tersenyum manis. “Hai Tante… Aku Sarah.”

“Halo Sarah! Senang berkenalan denganmu.”

Gadis kecil itu tidak melepaskan tangan Renata. Dia menggandeng Renata ke arah sofa.

“Jadi, kamarku nanti seperti apa?” tanya Sarah ceria.

“Sarah…,” tegur Rafael lembut. “Tante Renata biar duduk dulu. Ditawarin minum. Yang sopan dong…”

Renata tertawa. “Nggak apa-apa, Pak.”

Dan tak lama kemudian mereka sudah asyik membicarakan rancangan Renata. Ketika Renata membuka file kamar Ariel si Putri Duyung, Sarah segera berteriak antusias.

“Aku mau yang ini, Pa!”

“Ya nanti kita bikin yang seperti ini ya?”

Ada yang bergetar dalam hati Renata mendengar kelembutan Rafael bertutur. Ayah yang hebat, guman Renata. Alangkah bahagia istrinya…

“Untuk kamar utama, saya ingin hitam dan putih saja, Mbak Renata. Simpel. Nggak terlalu ribet.”

Renata mengangkat wajahnya. Ditatapnya Rafael sejenak.

“Maaf, apa ini sudah mengakomodasi keinginan Ibu?” tanya Renata.

“Oh… Ibu saya lebih senang warna krem. Sudah kita bicarakan tadi kan?”

Renata terbengong sejenak. “Eh, maksud saya Ibu, istri Anda, Pak…”

“Oh… Mama Sarah sudah meninggal Mbak. Kami hanya tinggal bertiga. Sarah, ibu saya, dan saya. Ya berlimalah, dengan asisten RT.”

“Ooo…,” Renata tak bersuara.

Kembali hatinya bergetar hebat.

* * *

Rafael tak hentinya menatap wajah manis itu. Ada yang berdetak kencang di dadanya ketika Renata melayani celotehan Sarah dengan sabar.

Betapa cepat akrabnya!

Renata mengangguk ketika Sarah mengajukan perpaduan warna yang aneh. Dan ketika contoh paduan warna itu muncul di layar laptop Renata, tawa mereka pun meledak. Dengan ringan Sarah pun menyetujui warna awal yang sudah dibuat Renata, melupakan paduan warna aneh pilihannya sendiri

Rafael melirik arlojinya. Ah, cepat sekali waktu berlalu. Sudah lewat pukul 11.

“Sarah,” tegurnya halus. “Sudah siang. Kita ajak Tante Renata makan yuk!”

“Tak usah repot-repot, Pak,” tolak Renata.

“Ayolah, Tante…,” Sarah menyandarkan tubuhnya dengan manja pada Renata. “Tante baiiik banget mau bikinin aku kamar yang bagus. Sekarang kita traktir Tante makan ya? Ya?”

Renata menatap Rafael. Laki-laki itu mengangkat alis sambil tersenyum lebar. Renata pun menyerah.

Sebelum turun ke basement, mereka mampir ke kantor Renata di lantai 11. Setelah mengambil semua barang Renata, mereka pun menuju ke parkiran mobil.

“Pakai mobil saya saja, Mbak Renata. Nanti Mbak saya antar lagi ke sini. Gimana?”

Setelah bimbang sejenak, Renata pun merasa tak punya pilihan lain kecuali menyetujui usulan Rafael. Dia pun menggangguk.

* * *

“Pa, aku boleh main di sana ya?” Sarah menunjuk ke area bermain di seberang resto.

Rafael mengangguk. Dia berdiri, menoleh ke arah Renata.

“Mbak, saya antar Sarah bentar ya?”

Renata mengangguk. Dia menunjuk ke arah bangku kayu di dekat area bermain.

“Saya tunggu di sana ya?”

“Oke!” Rafael menatap Sarah. “Papa bayar dulu makanannya ya?”

Sarah mengangguk.

Renata melangkah menuju bangku kayu agak di sudut mall itu. Sambil duduk bersandar dia menatap Sarah. Ada perih yang perlahan menggigit hatinya. Pasti sudah sebesar dia sekarang, gumam Renata dalam hati, pilu.

“Melamun?"

Renata tersentak. Rafael duduk di sebelahnya. Renata mengerjapkan matanya yang sedikit basah. Dia menggeleng pelan.

“Suami Mbak kerja di mana?” tanya Rafael sopan.

Renata tercenung sejenak. Tanpa sadar diamatinya cincin belah rotan di jari manis tangan kanannya. Beberapa detik kemudian dia tersadar.

“Ini ya?” sekilas disodorkannya tangan kanan ke arah Rafael, mencoba untuk tersenyum. “Saya belum menikah. Hampir iya, tapi belum.”

“Ooo…,” ucap Rafael tanpa bersuara. Entah kenapa ada denyar-denyar kelegaan meloncat-loncat dalam hatinya.

“Hampir?”

Renata mengangguk. “Dia meninggal dua minggu sebelum pernikahan kami.”

“Sakit?”

Renata menggeleng. “Pesawatnya jatuh di Kalimantan. Dia pilot pesawat kecil. Sewaan.”

“Maaf Mbak, saya turut berduka,” ucap Rafael tulus.

“Tidak apa-apa Pak, sudah terlalu lama. Hampir delapan tahun. Saya sendiri sudah lupa rasanya seperti apa.”

Nada suara itu terdengar begitu datar, tapi Rafael dapat menangkap luka yang sarat di sana. Tanpa sadar digenggamnya hangat tangan Renata.

“Tuhan akan memberi gantinya Mbak, semoga yang jauh lebih baik,” ucapnya lembut.

“Ya,” desah Renata. “Semoga….”

* * *

Rafael tersenyum sambil meluncurkan mobilnya di belakang sebuah Estilo mungil berwarna pink. Beriringan kedua mobil itu masuk ke basement.

Tak lama kemudian Renata keluar dari mobil mungilnya sambil menenteng tas laptop dan tas kerjanya.

“Pagi, Mbak Renata…”

Renata menoleh. Dia mengulas senyum manis.

“Pak Rafael, selamat pagi…,” sahutnya ramah.

“Selalu pada jam yang hampir sama,” Rafael tertawa.

Renata mengangguk ringan. “Malas macetnya kalau lebih siang lagi, Pak.”

Bersama-sama mereka menuju ke lift. Rafael menekan tombol, dan pintu lift terbuka. Dia membentangkan tangannya kanannya. Renata tertawa sambil melangkah masuk duluan.

“Terima kasih, Pak.”

Mereka berdiri berdampingan dalam lift. Rafael dapat mencium bau wangi segar rambut Renata. Renata sendiri hampir terbuai membaui wangi maskulin cologne Rafael.

“Mbak Renata biasanya makan siang di mana?”

“Nggak tentu juga sih, Pak. Kadang-kadang di food court sebelah. Kadang-kadang sama klien. Kadang-kadang ya di mana aja di pinggir jalan kalau lagi keluar,” jawab Renata panjang lebar.

Rafael mengangguk. “Nanti siang bisa kita makan bareng?”

“Oooh… Kebetulan saya mau ke Kebon Jeruk, Pak. Finishing SOHO klien. Kayaknya bakal seharian di sana.”

“Ooo…,” ada sedikit nada kecewa dalam suara Rafael.

Renata merasa tidak enak. “Mungkin besok bisa, Pak,” ucapnya kemudian.

Rafael tertawa masam. “Saya besok harus ke Bogor.”

Renata ikut tertawa, menetralkan suasana. “Ya sudah, kapan-kapan saja, Pak. Bapak sudah punya nomor ponsel saya kan?”

“Ya, ya, nanti saya hubungi lagi.”

Ting! Pintu lift terbuka. Renata harus keluar.

“Mari, Pak…”

“Silahkan, Mbak…”

* * *

“Ren…”

Renata mengangkat wajahnya, menatap Donny, bossnya. “Iya, Mas?”

“Proyek di rumah Pak Rafael kapan mulai?”

“Besok lusa, Mas.”

“Mmm… Udah ketemu orangnya kan?”

“Udah, Sabtu kemaren.”

“Eh, Lily gimana, bed rest lama banget ya?”

“Ya biar pulih dululah, Mas. Urusan kerjaan juga udah dibagi tiga.”

“Ya kalau ada kesulitan cepet bilang aku, biar aku bantuin handling.”

“Iya, Mas. Eh Mas, saya mau ke Kebon Jeruk, SOHO-nya Pak Iwan. Sampai sore kayaknya. Dari sana langsung pulang ya? Nggak usah mampir kantor lagi.”

“Ya udah situ, atur sendiri. Kemarin Bu Iwan telepon aku, katanya puas banget sama hasil kerjamu,” Donny tersenyum senang.
Renata ikut tersenyum senang, campur bangga.

* * *

Satya melajukan mobil Renata pelan-pelan. Renata sendiri sibuk menengok ke kanan dan kiri.

“Itu ‘kali Sat,” tunjuk Renata. “Kayaknya urutannya dari sini jatuh di situ.”

Satya menghentikan mobil Renata di depan sebuah rumah baru bercat putih. Ada sebuah CRV terparkir di carport rumah itu.

“Bener Sat, tuh mobilnya!”

Ketika mereka keluar dari mobil, Rafael keluar dari rumah itu.

“Halo, Mbak Renata!” sapanya akrab.

Renata menyambut jabat tangan Rafael.

“Apa kabar Pak?” Renata berusaha keras menutupi getar nada rindu dalam suaranya.

Sudah dua pagi mereka tak bertemu. Kemarin pagi Rafael tidak ke kantor, langsung meluncur ke Bogor. Dan pagi ini tadi, rupanya dia langsung ke rumah barunya ini.

“Kabar baik, Mbak.”

“Oh iya Pak, kenalkan ini Satya, partner kerja saya,” Renata memperkenalkan Satya.

“Cuma asisten kok Pak, belum partner,” ralat Satya, membuat Rafael tertawa.

“Ayo masuk!”

Renata dan Satya mengikuti langkah Rafael. Di dalam, seorang perempuan setengah baya sudah menunggu.

“Ma, ini Mbak Renata dan Mas Satya dari Savannah. Mama temenin ya? Aku harus ke kantor sekarang. Nanti kalau sudah selesai, Mama tinggal telepon aku, nanti aku jemput.”

Perempuan itu menggangguk sambil tersenyum.

“Selamat pagi, Ibu, saya Renata. Dan ini partner saya, Satya,” Renata menyalami perempuan berwajah cantik dan kelihatan ramah itu.

“Iya Mbak, saya Lea, omanya Sarah.”

“Oke, Mbak, Mas, saya tinggal dulu ya? Nitip Mama dan rumah,” senyum Rafael.

“Iya Pak…,” Renata menoleh ke arah Satya. “Mobil kita menghalangi. Pindahin dulu, Sat.”

“Mari Mbak Renata, mau keliling dulu?” ucap Bu Lea ramah.

Renata mengangguk.

Bu Lea membawa Renata berkeliling di dalam rumah kosong itu. Satya bergabung tak lama kemudian.

Benak Renata sudah dipenuhi bayangan bentuk ‘jadi’ ruangan-ruangan dalam rumah itu. Satya sesekali mencatat dalam notesnya. Sesekali pula mereka berdiskusi ringan, dan kembali meneruskan langkah.

Hampir 2 jam mereka menyusuri rumah itu dari sudut ke sudut. Renata pun memutuskan untuk mengakhiri kunjungannya.

“Ibu,” Renata menatap Bu Lea. “Untuk sementara kami sudah selesai. Ibu bisa menelepon Pak Rafael untuk dijemput. Kami bisa temani Ibu sampai Bapak datang.”

“Oooh…,” Bu Lea tampak memikirkan sesuatu. “Begini, Mbak, ini seandainya lho ya, saya numpang Mbak sama Mas sampai kantor Rafael gimana? Satu gedung sama Rafael kan?”

“Bisa Bu, boleh,” jawab Renata tulus. “Tapi saya harus antar Satya dulu ke Radio Dalam. Hanya nge-drop saja kok, Bu. Nggak apa-apa?”

“Oh, nggak apa-apa Mbak! Sudah untung boleh numpang,” Bu Lea tersenyum malu.

Renata tertawa ringan. Digamitnya lengan Bu Lea. Satya mengunci semua ruangan dan pintu depan. Tak lama kemudian mereka meluncur ke daerah Radio Dalam.

Setelah menurunkan Satya, Renata pindah dari jok belakang ke belakang kemudi. Saat itu ponsel Bu Lea berbunyi. Renata melajukan mobilnya.

“Ya, Raf, ada apa?”

… … … …

“Udah… Ini Mama ikut Mbak Renata, mau ke kantormu.”

… … … …

“Ya… Gimana? Udah terlanjur.”

… … … …

“Iya, iya. Ya udah, tunggu Mama.”

Bu Lea menutup pembicaraannya. Dia menoleh ke arah Renata, tersenyum malu.

“Rafael agak marah,” ucap Bu Lea pelan. “Maaf ya Mbak Ren, saya merepotkan Mbak.”

“Ibu… Nggak usah dipikirinlah… Saya nggak apa-apa kok Ibu nebeng. Toh tujuan kita sama. Nanti kalau Bapak masih marah, biar saya yang bilang.”

“Makasih banyak ya Mbak Ren? Mbak Ren memang baik. Pantesan Sarah nggak berhenti menceritakan Tante Renata,” Bu Lea tersenyum lebar.

“Pak Rafael pasti sedih banget ya Bu, ditinggal mamanya Sarah?” Renata bertanya iseng.

Terdengar helaan napas dari sebelah Renata. Mendadak Renata merasa tak enak sendiri atas sikap keponya.

“Anna namanya,” ucap Bu Lea lirih. “Dia mamanya Sarah, tapi bukan istri Rafael.”

Renata tertegun. Pengemudi di belakang sampai harus membunyikan klakson karena lampu lalu lintas sudah hijau tapi Estilo pink itu belum bergerak.

* * *

“Sudah malam, Raf,” tegur Bu Lea lembut. “Istirahatlah dulu.”

Rafael menerima uluran secangkir teh hangat sambil menggumamkan terima kasih. Sambil meneguk tehnya, dia mematikan laptop.

“Dia baik sekali ya?” Bu Lea tersenyum simpul.

Sekilas Rafael menatap mamanya. “Siapa?”

“Kamu tahu siapa yang Mama maksud,” gerutu Bu Lea.

Rafael tertawa. Direngkuhnya bahu mamanya itu.

“Mama mau aku gimana?” goda Rafael.

“Kamu sudah bukan abege lagi, Raf. Umurmu sudah hampir tiga empat. Kamu berhak menggapai hidupmu sendiri,” ucap Bu Lea tegas.

Rafael menutup tirai ruang kerjanya. Sejenak kemudian dia berbalik, berdiri bersandar, menatap mamanya serius.

“Aku harus memikirkan Sarah juga, Ma. Satu-satunya ayah yang dia kenal cuma aku. Dia masih terlalu kecil untuk paham jalan hidupnya. Umurnya baru 7 tahun.”

“Mama paham, sepenuhnya, Raf. Tapi kamu juga butuh pendamping. Perasaan Mama jarang salah. Ada sesuatu yang istimewa dalam relasi kalian, kamu dan Renata.”

“Renata… Dia berhak untuk dapat perjaka tanpa anak, Ma. Dia perempuan baik.”

“Dan kamu perjaka tanpa anak!” tegas Bu Lea. “Dia sudah tahu. Mama sudah katakan padanya.”

“Ma??”

Rafael terhenyak. Tak mampu berpikir apa-apa.

* * *

Renata masuk ke lift dengan lelah. Klien cerewet seperti Nyonya Hanggoro betul-betul menguras kesabarannya. Disandarkannya tubuh ke dinding lift sambil memejamkan mata. Pintu lift terbuka di lantai 9. Renata tak peduli. Toh di sudah berdiri menyempil di pojokan lift kosong itu.

“Lho! Mbak Renata?”

Renata langsung membuka matanya. Rafael sudah ada di dalam lift itu. Baru masuk dari lantai 9.

“Mbak Renata baru pulang?”

“Iya, Pak, over time. Bapak dari mana?”

“Ketemu klien. Sudah makan?”

Renata menggeleng. Jujur.

“Kita makan bareng ya?” tawar Rafael tulus.

“Nggak usah repot-repot, Pak,” tolak Renata cepat. “Terima kasih.”

“Ayolah… Anggap saja ucapan terima kasih karena Mbak sudah bersedia membawa Mama ke sini beberapa hari yang lalu,” senyum Rafael.

Renata bimbang. Sebenarnya dia lelah sekali. Ingin segera berendam air hangat di bath-up mungilnya. Tapi tawaran makan malam itu terdengar menggoda.

“Gimana? Oke?”

Renata menatap Rafael. Dan senyum itu membuatnya luluh. Tanpa sadar ia menggangguk.

* * *

Suasana tenang bistro itu perlahan mengurangi kepenatan Renata. Rafael bukan orang yang cerewet. Bahkan cenderung pendiam. Begitu juga Renata. Tapi entah kenapa pembicaraan mereka mengalir begitu lancar.

“Jadi Sarah bukan putri Mas?”

“Bukan, Ren,” Rafael menggeleng.

Bahkan panggilan itu pun sudah berubah. Bukan lagi ‘Pak’ dan ‘Mbak’.

“Tapi sampai kapan pun dia tetap putriku. Dia tahunya ya akulah ayahnya. Dia kan bisa melihat dari foto pernikahan Steve dan Anna yang kami simpan. Wajahku dan Steve sama, Ren, karena kami kembar identik. Sarah tidak bisa membedakannya. Suatu saat dia memang harus tahu, tapi tidak sekarang.”

Renata menatap Rafael lama. Di dalam mata Rafael hanya ada sorot kelembutan seorang ayah. Membuat hatinya bergetar hebat. Ketika tatapan Rafael mendadak menyapu wajahnya, Renata langsung tertunduk.

Rafael menatap sosok mungil di hadapannya itu. Yang sedang menunduk menekuni makanan di piringnya. Wajah manis itu masih tampak lelah.

“Ren, maaf ya sudah memaksamu ke sini,” ucap Rafael halus. “Kamu kelihatan capek banget.”

Renata mengangkat wajahnya. Ada sorot kelembutan yang lain dalam mata Rafael. Bukan tatapan seorang ayah pada anaknya. Tapi sesuatu yang lain. Begitu berpendar. Begitu menenangkan. Begitu indah.

* * *

Pengerjaan interior rumah Rafael hampir selesai. Selama dua minggu perhatian Renata tercurah untuk proyek itu. Sesekali dia bertemu Bu Lea. Sesekali dia bertemu Sarah. Dan hampir tiap pagi pula dia bertemu Rafael.

Kadang-kadang Rafael tidak langsung ke kantor. Sesekali dia turun langsung mengawasi pembangunan gudang barunya di Bogor. Saat ini usahanya sedang berkembang pesat. Banyak klinik dan rumah sakit baru yang membutuhkan pasokan alat kesehatan. Sebagai pemain lama sejak perusahaan dipegang almarhum ayahnya, reputasi perusahaan Rafael sebagai pemasok alat-alat kesehatan sudah cukup teruji.

Ada kerinduan yang menyesakkan dada Rafael tiap kali tidak bisa menemui senyum Renata. Walau hanya sekejap pertemuan di dalam lift, itu sudah cukup baginya.

Renata sendiri merasakan hal yang sama. Untuk menghindari terlalu sering memikirkan Rafael, dia memilih untuk menghabiskan waktunya dengan bekerja.

Renata menggeliat di kursi kantornya. Setelah menguap dia menengok jam dinding. Sudah hampir pukul enam sore. Dia pun bersiap untuk pulang.

Ponselnya berbunyi ketika Renata mengambil segelas air putih. Diraihnya ponsel itu. Rafael? Renata buru-buru menjawabnya.

“Halo! Sore, Mas,” sapanya.

“Sore, Ren. Masih di kantor? Aku lihat mobilmu masih di basement.”

“Iya, Mas, tapi aku sudah mau pulang ini…”

“Oooh… Kita makan bareng ya?”

“Mmm… Boleh deh!”

“Ya udah, kutunggu di bawah ya?”

* * *

Rafael melajukan mobilnya dengan santai di tengah kemacetan. Renata duduk manis disebelahnya. Estilo pink kesayangannya sudah aman di basement, berada di bawah pengawasan sekuriti gedung.

“Rumah kita tinggal finishing aja ya, Ren?”

Renata tergagap sejenak. Rumah kita? Dia berdehem sebelum menjawab.

“Ehm! Dua hari ke depan selesailah, Mas. Sebelum deadline kan?”

Rafael tersenyum. “Kerja kalian memuaskan, Ren. Sangat memuaskan!”

“Ouwh! Makasih…,” Renata tertawa kecil.

Cukup lama ada keheningan di antara mereka. Entah kenapa, tapi keheningan itu mengguratkan kedamaian tersendiri dalam hati.

“Ren,” suara Rafael lembut memecahkan kebekuan. “Kalau boleh kutahu, usiamu berapa sekarang? Eh, nggak sopan ya? Hehe…”

Renata tertawa ringan. “Mas sendiri?”

“Aku tiga empat.”

“Tiga satu.”

“Belum kepingin nikah?”

“Mmm… Males nyari,” Renata meringis. “Mas sendiri? Mau menghuni rumah baru bersama calon istrikah?”

Rafael tertawa. “Mauku sih… Tapi semuanya mundur begitu tahu aku bermaksud tetap mempertahankan Sarah. Bisa sih Sarah kutinggalkan pada Mama. Tapi mana aku tega, Ren?”

“Ya janganlah, Mas… Kasihan Sarah. Masak dia harus kehilangan ayah untuk kedua kalinya?”

Rafael menghela napas panjang. “Nggak gampang untuk mencari perempuan yang mau ikut merawat dan menyayangi Sarah, Ren. Aku nggak cuma cari calon istri, tapi juga ibu buat Sarah.”

“Nggak gampang bukan berarti nggak ada kan?” senyum Renata.

Ada getar hebat di dalam dada Rafael mendengar suara lembut itu. Impulsnya bekerja kilat.

“Kalau begitu kamu mau, Ren?”

Rafael menepikan mobil dan menghentikannya di depan sebuah rumah. Ditatapnya Renata. Hati Renata bagai hilang. Apa tadi katanya?

“Kamukah malaikat yang dikirimkan Tuhan untuk menemani kami, Ren?” Rafael makin dalam menatap Renata.

Renata jadi salah tingkah sendiri.

“Aku… Aku… Eh… Maksudku… Kenapa tidak tanyakan dulu pada Sarah?” Renata tertawa gugup.

Rafael tertawa lebar.

“Kalau itu yang kamu mau, ayo kita turun! Di dalam ada banyak makanan untuk kita berempat.”

Renata menoleh ke arah kirinya. Dia menunjuk sambil menoleh ke arah Rafael.

“Ini…”

“Ya,” Rafael mengangguk. “Ini rumah yang akan segera kami tinggalkan. Kita makan malam di sini saja ya? Ada Mama dan Sarah di dalam.”

Renata melongo.

* * *

“Oma! Papa pulang!” Sarah berteriak girang. Dan dia lebih girang lagi melihat siapa yang datang bersama papanya.

“Tante Renata!” Sarah berjingkrak riang.

Bu Lea menyambut Renata dengan hangat. Renata agak kikuk. Tapi setelah merasakan ketulusan itu, pelan-pelan semuanya mencair.

Betapa hati Renata meleleh ketika Sarah berceloteh sambil memamerkan album foto pernikahan papa dan mamanya. Mereka sudah selesai makan dan kini pindah ke ruang duduk. Bu Lea menyelinap pergi ke ruang belakang.

“Lihat Tante, ini mamaku. Cantik nggak, Tante?” Sarah mendongak ke arah Renata.

“Cantik! Cantik banget, tapi masih cantikan Sarah dooong…”

Sarah tertawa lucu. “Tante, Papa ganteng ya?” bisik Sarah.

“Iya,” jawab Renata, berbisik juga. “Tapi jangan bilang Papa ya? Nanti Papa ge-er.”

Mereka terkikik berdua.

“Hayo, bisik-bisik apa?” Rafael nimbrung.

“Enggaaaak…” Sarah dan Renata menjawab berbarengan.

“Tante punya mama nggak?” Sarah menatap Renata polos.

“Punya.”

“Tante pernah nggak dipeluk mamanya Tante? Rasanya gimana sih, Tan?”

Renata hampir menangis.

“Sarah pernah nggak dipeluk Oma atau Papa?”

Sarah mengangguk.

“Gimana rasanya?”

“Enak,” senyum Renata.

“Ya seperti itulah dipeluk Mama.”

Sarah menunduk lagi. Mengamati foto-foto di pangkuannya.

“Semua teman Sarah punya Mama,” gumam Sarah. “Cuma Sarah yang enggak. Ah! Sarah ngantuk, ah!”

Renata tertegun ketika melihat ada tetesan bening jatuh di atas album foto. Diraihnya wajah Sarah. Mata gadis kecil itu merah dan berair. Renata memeluknya.

“Kok Sarah nangis?” ucap Renata lembut. “Tante peluk Sarah ya?”

“Tante… Mau nggak nemenin Sarah bobok? Sekaliii aja Tante ya?”

Renata pun menuntun Sarah ke kamarnya. Sekilas Renata melihat ada butir bening meluncur dari mata Rafael yang duduk diam di sofa.

Selesai menyelimuti Sarah, Renata duduk bersimpuh di atas karpet di depan bed pendek itu. Dibelainya rambut Sarah dengan sayang.

“Tante,” Sarah berucap lirih. “Mau nggak Tante jadi Mama Sarah?”

Renata memeluk gadis kecil itu erat.

* * *

EPILOG

Sarah membawa tangan mungil yang menggenggam erat jari telunjuknya itu ke pipinya. Dia tertawa ketika si pemilik tangan mungil itu menguap.

“Sarah, ayo bobok dulu. Tadi kita udah berdoa kan?” tegur Renata lembut.

“Dedek Steve, Kakak bobok dulu ya…” Sarah mencium pipi gembul bayi di depannya itu dengan sayang. “Besok kita main lagi ya…”

Rafael mencium kening Sarah di kamarnya. Setelah menyelimuti Sarah, dia pun berdiri.

Renata masuk ke kamar Sarah sambil menggendong baby Steve. Diserahkannya tubuh mungil itu pada Rafael.

Renata duduk di tepi bed Sarah. Sarah segera meringkuk nyaman dalam pelukan Renata.

“Ma…,” bisik Sarah.

“Ya, sayang?” Renata juga berbisik.

“Aku sayang Mama…”

Renata mempererat pelukannya
  

* * * * *

10 komentar:

  1. ini kedua...yang terbaca..! nice.....**jd iri sama Renata**..hiks.......lanjuuut ah..:D

    BalasHapus
  2. Lanjutan rru ya mbak

    BalasHapus
  3. Ini lanjutannya cerbung rinai rinjai ungu ya ,,,, tp steve sm ana kemana ya ????

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak, ini lanjutan RRU. Steve sama Anna nanti akan diceritakan di judul tersendiri, tapi mungkin nggak dipublikasikan di sini atau di blog saya yang lain ;)
      Makasih kunjungannya... :D

      Hapus
  4. Mbak liz ,, klo ada blog yg lain bagi alamatnya dong
    Biar sy bisa menikmati artikelnya mbak liz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dear Mbak Ema Wijayanti,
      Mohon maaf baru balas komentar Mbak sekarang karena blog ini baru saja aktif kembali. Untuk selanjutnya blog ini akan aktif terus dengan penambahan berbagai fiksi baru.
      Silakan berkunjung kembali, terima kasih...

      Hapus
  5. Mbak Liz,,, boleh minta tolong utk cerbung Rinai Rinjani Ungu di upload disini juga dong. Saya belum baca cerita awalnya si Rafael. Terima kasih sebelum dan sesudahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siap, Mbak... Nanti saya re-edit dulu sebelum tayang ya? Mungkin baru bisa 1 atau 2 minggu lagi soalnya saya masih punya banyak tanggungan, hehehe... *kayak orang penting aja*
      Makasih atensinya, salam kenal...

      Hapus