Senin, 11 November 2013

[Cermin] Pahlawan Di Lorong Waktu





Sam.

Aku mengenalnya pada tahun pertama kuliahku. Bahkan aku pun bisa mengatakan dia gadis yang ayu. Walaupun rambutnya tak pernah panjang. Walaupun tak pernah tampil feminin. Walaupun dia lebih suka dipanggil Sam daripada Samantha, nama panjangnya yang indah.

Dan aku mengenalnya lebih dalam. Ketika aku butuh teman untuk menumpahkan isi hatiku. Tentang rasa sakit. Tentang himpitan yang memasungku. Tentang sebuah keinginan yang tak akan pernah terpenuhi.


"Kau membebani pikiranmu sendiri, Mei," ucapnya selalu. "Lakukan saja apa yang bisa kau lakukan. Tak perlu memikirkan segala sesuatu yang salah."

Segala sesuatu yang salah.

Segala sesuatu yang salah itu adalah diriku. Wujudku. Wajahku. Tubuhku.

* * *

Namaku Meidianto. Tapi aku lebih suka dipanggil Mei daripada Anto. Nama Anto terlalu maskulin bagiku. Sementara jiwa Hawaku terperangkap dalam raga seorang Adam. Semua itu kebalikan dari Sam. Jiwa Adamnya terkungkung dalam raga seorang Hawa.

Lalu apakah dia menyesal? Seperti aku?

Tidak. Tidak pernah.

Ayahnya adalah seorang ayah yang bangga pada keistimewaan anaknya. Sedangkan ayahku? Ibuku? Kakak-kakakku? Semuanya merasa malu karena aku 'tidak normal' sebagai laki-laki.

Aku merasa sendirian. Selalu merasa sendirian. Sampai akhirnya aku bertemu Sam.

Lalu apakah semua cibiran itu hilang begitu saja?

Tidak. Tidak pernah.

Kedekatanku dengan Sam membuat cibiran itu jadi makananku sehari-hari. Kata-kata menyakitkan itu sudah jadi hal biasa yang bertebaran di sekitarku dan Sam.

Dua orang aneh. Dua orang banci. Itulah sebutan mereka untuk Sam dan aku.

Lalu apakah kalau kami benar banci, lantas kami bukan lagi manusia? Lantas kami tak berhak untuk mengecap sedikit kehidupan normal?

"Kehidupan normal itu seperti apa, Mei?" Sam tergelak menertawakan aku. "Ketika kita.diberi kehidupan, harus kita sendiri yang mengolahnya. Betul ataukah salah bentuk kita, inilah kita."

Aku hanya bisa menelan ludah. Terasa pahit. Dan kepahitan itu akan terus kutelan mentah-mentah kalau saja aku menjauhi Sam. Untungnya tidak.

* * *

Siapakah Sam?

Orang boleh memandangnya sebelah mata. Tapi tahukah kau, Sam dilimpahi tatapan bening para malaikat yang ada di sekitarnya. Di sebuah lingkungan kumuh. Tempat segala bentuk kehidupan yang tak layak buat anak-anak tak pernah tersentuh oleh tangan-tangan yang seharusnya memelihara mereka.

Dan aku terpaku melihatnya.

Belasan 'banci' tampak tekun membersihkan tubuh anak-anak itu. Memotong kukunya. Merapikan rambutnya. Mengajari membaca. Mengajari berhitung. Berdoa. Bernyanyi. Semuanya.

Membuatku menangis. Membuatku luruh bersimpuh dalam rasa malu yang mendalam. Rasa malu karena aku terlalu memikirkan tubuhku. Terlalu malas untuk keluar dari tameng tempurungku yang diserbu pendapat orang lain.

"Bergabunglah dengan kami, Mei," bisik Sam lembut. "Benahi hati kita. Buka cakrawala pikir kita. Masih banyak yang harus kita lakukan, yang lebih penting daripada sekedar.memikirkan siapa kita. Kemarin, sekarang, esok, lusa, kita tetap menyimpan kesalahan yang tak pernah kita kehendaki itu. Apakah bila fisik kita berubah maka masalah akan selesai? Tidak, Mei. Akan selalu timbul masalah baru. Lalu kita akan kehilangan waktu karena kita hanya sibuk dengan diri kita sendiri."

Ada sesuatu yang hangat mengalir masuk ke dalam hatiku. Tak ada yang salah dalam ucapan panjang Sam. Dan semuanya makin terasa hangat ketika mereka menerimaku dengan tangan terbuka. Membimbingku untuk menemukan jalanku sendiri.

Lalu aku merasa bebas. Jiwaku lepas dari semua kungkungan tak berguna itu. Sam tertawa senang ketika aku bisa berdiri tegak dengan segala keunikanku.

Ketika semua orang sibuk mencari patron dan pahlawan buat dirinya sendiri, aku sudah menemukannya. Tidak terlalu jauh dari jangkauan. Tertinggal dalam sebuah lorong waktu yang jarang diperhitungkan. Hanya Sam. Samantha.

Mungkin buatmu dia cuma seorang banci salah tubuh. Tapi bagiku dia pahlawan. Dengan perbuatan kecil yang dilakukannya dengan cinta yang besar. Pada anak-anak tak beruntung itu. Pada belasan manusia yang 'terpaksa' terlahir dengan kondisi 'salah kostum'.

Jadi... Kau sudah bertemu pahlawanmu? Jangan menerawang terlalu jauh. Lihat saja orang-orang di sekitarmu. Bisa jadi salah seorang terdekatmu adalah pahlawanmu. Yang sudah memenangkan tiap pertempuran melawan keterbatasan dirinya sendiri. Yang sudah menyentuh lorong waktu yang tersembunyi dalam hidupmu. Dan membagikan cahaya bening hatinya untuk orang-orang tak sempurna seperti kita. Seperti kau. Seperti aku.


* * * * *

Tidak ada komentar:

Posting Komentar