Selasa, 01 September 2020

[Cerbung] Wings for You #10-1











* * *


Sepuluh


Serva terbangun ketika mendengar keributan di luar kamarnya. Terdengar dengung-dengung tak jelas bercampur suara televisi. Ia mengerjapkan mata dan melirik ke arah jam dinding yang tergantung di atas kusen kamarnya. Masih pukul lima pagi. Ia mengerang perlahan. Tidurnya terasa baru sedetik. Ia memang baru menyudahi diskusi pekerjaan dengan atasannya menjelang pukul dua dini har tadii. Namun, kehebohan di luar sana menarik perhatiannya.


Begitu ia membuka pintu kamar yang langsung berhadapan dengan ruang tengah, empat pasang mata menatapnya. Ayah, ibu, dan kedua adiknya. Ia mengerutkan kening dan mengirimkan sinyal ‘ada apa?’ melalui sorot matanya.

“Nuansa Ayu semalam kebakaran, Mas,” ucap Sandrine, adiknya.

Seketika mata Serva terbuka lebar. Ia mengarahkan tatapannya ke televisi yang tengah menyiarkan breaking news. Benar, ada berita salah satu gudang Nuansa Ayu ikut terdampak ledakan yang terjadi di gudang tetangganya, PT. Lumenichem. Tampaknya siaran langsung semalam tengah diputar ulang.

Ia terduduk di sebelah ayahnya. Matanya tak teralih dari layar televisi. Gambar berganti-ganti menyoroti kondisi di Lumenichem dan Nuansa Ayu. Sekilas Serva melihat ada sosok yang dikenalnya betul.

“Eh, Mbak Mia! Mbak Mia!” seru Sofie, si bungsu, sambil menunjuk layar televisi.

“Astaga.... Pasti dia tadi langsung ke Cikarang,” timpal Sandrine. “Lihat bajunya!”

Di bawah siraman tempias hujan pada salah satu emperan bangunan, Namya tampak berusaha melayani para awak media yang melakukan wawancara. Penampilannya betul-betul seadanya.

“Saya belum bisa kasih pernyataan apa-apa,” tegas Namya. “Yang jelas, kami terkena imbas ledakan dari gudang perusahaan sebelah. Selanjutnya, biar ditangani pihak berwajib dulu. Yang jelas, ya, salah satu gudang kami ikut terbakar.”

Ketika para awak media hendak merangsek lagi dengan pertanyaan lain, tampak pihak keamanan pabrik segera mengambil alih keadaan. Para awak media dihalau dengan halus, kemudian gambar segera berpindah ke area Lumenichem.

Serva terhenyak.

* * *

Pukul enam pagi, Serva sudah mendapatkan kembali mobilnya. Sepeninggal Binar yang membawa kembali mobil operasional SKA, Serva segera meluncur ke rumah Namya. Tadi, sambil menunggu kedatangan Binar, beberapa kali ia mencoba menelepon Namya. Tersambung, tapi tak diangkat oleh gadis itu.

Ketika sampai di depan rumah Namya, pintu pagar tampak terbuka lebar, dengan mobil yang dikenalnya sebagai mobil Bimbim dan Rika siap untuk meluncur keluar. Serva memberi jalan, dan keluar dari mobilnya, tapi mobil itu malah berhenti. Jendela kanan depan terbuka. Bimbim menyapanya.

“Mia masih di Cikarang, Ser,” ucap Bimbim begitu Serva membalas sapaannya. “Salah satu gudang pabrik kebakaran semalam, Mia menginap di sana.”

“Iya, Mas, aku tahu beritanya tad, makanya saya cepat-cepat ke sini. Mas mau ke mana ini?” tanyanya.

“Aku mau ke sana, ini sama Rika.”

“Aku ikut, Om!” serunya. “Pakai mobilku saja.”

Hanya perlu sekian detik bagi Bimbim untuk memutuskan menerima tawaran Serva. Bersama Rika, ia meninggalkan mobilnya begitu saja di carport, menyerahkan kunci kepada salah satu ART, kemudian pindah ke mobil Serva yang terparkir di tepi jalan.

Serva segera meluncurkan mobilnya kembali. Dalam perjalanan itu, Bimbim dan Rika bergantian menceritakan kejadian semalam, seperti yang diceritakan Owen dan Kencana pada mereka. Sekejap-sekejap Serva tercenung.

“Aku tadi coba menelepon Mia, tapi nggak diangkat,” celetuknya, suatu ketika.

“Ini ponsel Mia ada sama aku, Ser,” jawab Rika. “Semalam keburu berangkat, nggak bawa apa-apa, cuma baju yang lekat di badan. Makanya ini, Mama suruh aku bawakan baju ganti buat dia.”

Ucapan Rika membuat Serva teringat seperti apa penampilan Namya yang sempat dilihatnya di televisi. Benar-benar seadanya.

Mendung pekat yang menggantung begitu rendah akhirnya menumpahkan muatannya begitu mereka sampai di perbatasan Jakarta-Bekasi. Hujan makin deras ketika mereka mendekati lokasi pabrik Nuansa Ayu.

Mereka sempat terhenti sejenak di bawah kanopi yang menaungi bagian depan pos keamanan pabrik. Ketika wajah Rika menyembul dari balik kaca kiri belakang mobil, satpam yang bertugas segera memberi hormat dan membuka lebar-lebar pintu pagar, membiarkan mereka lewat.

Di halaman depan kompleks Nuansa Ayu, masih ada jajaran beberapa mobil milik para awak media. Rupanya mereka belum puas melakukan liputan. Rika mengarahkan Serva agar langsung menuju ke gedung parkir khusus staf kantor di basement.

* * *

Sambil menunggu kedatangan ‘orang rumah’ untuk membawakan semua perlengkapannya, Namya meninjau kembali sisa-sisa kebakaran. Di bawah lindungan payung lebar, ia bersama Stefan dan Andri – kepala gudang – memeriksa gudang enam dari jarak terdekat yang masih bisa mereka jangkau dengan aman. Stefan dan Andri sudah rapi, sedangkan Namya masih tetap mengenakan busana daruratnya semalam.

Agak jauh di belakang mereka, para awak media masih juga mengambil gambar ini-itu. Namya membiarkan saja. Toh, sudah ada beberapa petugas keamanan pabrik yang menjaga dan memberikan batas tegas.

Posisi gudang enam berada paling belakang di kompleks pabrik Nuansa Ayu. Bukan gudang terbesar, tetapi cukup penting karena berisi stok terbaru bahan kimia yang tentunya sangat mudah terbakar. Letaknya memang berada paling dekat dengan salah satu gudang pabrik cat PT. Lumenichem, yang slotnya tepat beradu punggung dengan slot PT. Nuansa Ayu. Terpisah oleh pagar beton setinggi tiga meter dan jarak lurus sekitar lima puluh meter.

Ledakan hebat dari gudang Lumenichem ada yang mengenai pagar beton itu dan menghancurkannya sebagian. Ada pula yang sampai menyeberang ke gudang enam Nuansa Ayu. Menyebabkan api langsung melalap isi gudang enam tanpa ampun.



Api di gudang enam masih berkobar ketika Namya dan kedua orang tuanya sampai di sana semalam. Angin dingin segera menyergap begitu Namya keluar dari mobil. Sekilas ia melihat bahwa sudah ada mobil polisi di dekatnya memarkir mobil. Juga jajaran mobil para awak media yang tengah meliput.

Ia sedikit menggigil karena desiran angin. Tak terpikir untuk ganti baju lebih dulu sebelum berangkat. Ia hanya mengenakan sehelai kaus oblong katun lengan pendek berwarna abu-abu dan celana kolor katun selutut bermotif kotak-kotak hitam-putih. Kakinya pun hanya dialasi sandal jepit karet yang sehari-harinya ia pakai di rumah. Tapi ia tak peduli. Ia segera berlari ke arah gudang enam. Tak mengacuhkan kelompok-kelompok wartawan yang berusaha mendekatinya tapi segera dihalangi beberapa petugas keamanan pabrik. Menyeruak kerumunan karyawan yang sedang shift malam.

Ditemukannya Stefan sedang berdiri terpaku di depan gudang tujuh, area terdekat yang masih boleh dijangkau, bersama beberapa penyelia yang sedang shift malam. Ada Andri juga di sana. Namya pun diam-diam berdiri di sebelah Stefan. Menyaksikan petugas PMK menyiram juga dinding gudang delapan yang terdekat dengan gudang enam. Hanya terpisah jarak kurang dari sepuluh meter. Laki-laki berusia menjelang lima puluh tahun itu menoleh dan menggumamkan permintaan maaf. Namya menggeleng.

“Apa yang bisa kita lakukan, coba, untuk mencegah ledakan dari gudang pabrik lain?” ucap Namya, lirih. “Pukul berapa kejadiannya?”

“Saya dikabari satpam tadi pukul setengah sebelas, Bu,” jawab Stefan dengan suara terdengar patah. “Saya langsung ke sini dan hubungi Ibu. Sudah ada PMK. Tadi apinya dua kali lipat ini, Bu. Tinggi banget. Ini sudah bisa dilokalisir, jadi nggak merembet ke gudang delapan. Tapi habislah isinya.”

Namya kembali menatap kobaran api yang masih menjilat-jilat gudang enam dengan rakus. Dengan cepat otaknya membuat kalkulasi. Isi gudang enam tak kurang dari empat-lima milyar rupiah nilainya. Belum lagi bangunan yang rusak. Terlalu dini rasanya memikirkan apakah pihak asuransi nanti bersedia membayar klaim atau tidak. Namya menggeleng samar.

“Pak....” Kembali ditatapnya Stefan. “Yang shift produksi malam ini disuruh masuk lagi saja. Biar PMK menjalankan tugasnya.”

Stefan mengangguk dan segera berkoordinasi dengan para penyelia produksi yang tengah berdinas. Kelompok-kelompok karyawan yang menonton kebakaran itu berangsur kembali ke tempat kerjanya masing-masing. Hanya tertinggal Namya yang tengah berbincang dengan petugas kepolisian, Stefan, Andri, beberapa satpam, dan kedua orang tua Namya, selain para petugas PMK yang masih terus berjuang.

Angin kembali berembus, membuat Namya kembali menggigil. Owen melepaskan jaket yang ia kenakan, dan menyelimutkannya ke sekeliling bahu Namya. Kencana juga tercenung di sebelah kiri putrinya. Ada kesedihan tergambar dalam wajahnya.

“Everything will be OK, Ma,” bisik Namya, melingkarkan tangan kiri ke sekeliling bahu Kencana. “Akan aku urus besok. Papa sama Mama balik saja ke Jakarta. Malam ini aku tidur di sini.”

Sejam kemudian, karena tak ada hal lain yang bisa dilakukan, Kencana dan Owen pun kembali ke Jakarta. Beberapa belas menit setelah mobil Kencana yang dikemudian Owen meluncur pergi, hujan mulai turun.

Dengan lembut Stefan menarik lengan Namya, mengajaknya berlindung dari terpaan hujan. Mereka berdiri merapat di emperan gudang tujuh yang cukup lebar.

“Bu, para wartawan ingin wawancara, gimana?” bisik salah seorang satpam.

Setelah berpikir sejenak, ia pun mengangguk. Wawancara berlangsung singkat karena ia memang hanya ingin membuat pernyataan sekadarnya. Tidak banyak yang bisa ia pikirkan saat ini. Lalu mereka menyaksikan bagaimana api perlahan mulai padam di tengah hujan. Sisa bara terakhir tak terlihat lagi menjelang pukul dua dini hari.



Dan, pagi ini, tampak jelaslah semuanya. Reruntuhan bangunan gedung enam seluas enam ratus meter persegi itu tampak menghitam. Sudah tak ada lagi asap mengepul. Pun, Namya bisa melihat dengan jelas kondisi tembok pembatas yang jebol sebagian dan kini sudah berupa puing. Dihelanya napas panjang, dan tercenung lagi.

Namya sedikit tersentak mendengar suara halus Stefan yang baru saja selesai menerima telepon, “Bu, sudah ditunggu Bu Rika di kantor Ibu.”

Ia pun mengajak Stefan dan Andri beranjak dari tempat itu. Sambil berjalan menuju ke gedung kantor, ketiganya berkoordinasi untuk mengambil langkah selanjutnya. Beberapa puluh menit lalu, ia sudah mengirimkan pesan melalui jaringan komputer perusahaan kepada para staf dengan jabatan penyelia ke atas untuk bersiap mengadakan rapat pada pukul sepuluh pagi ini.

* * *

Bersambung HARI KAMIS

Ilustrasi : www.pixabay.com, dengan modifikasi


1 komentar: